
Setelah beberapa saat Safia pingsan, dia mengerjapkan matanya. Safia menatap sekeliling ruangan.
"Apakah aku masih ada di rumah sakit," ucap Safia saat melihat infus yang ada di sampingnya.
Tatapan Safia kemudian terfokus pada seorang lelaki yang berada di pintu ruangannya.
"Robi..." ucap Safia dengan nada lemah.
Robi tersenyum saat melihat Safia. Dia kemudian mendekat ke arah Safia.
"Safia. Akhirnya kamu bangun juga," ucap Robi yang masih mengulas senyum.
"Robi, aku masih ada di rumah sakit ya?" tanya Safia menatap Robi lekat.
"Iya Safia. Kamu belum diperbolehkan pulang dulu oleh dokter. Karena kondisi kamu masih lemah."
Safia mencoba beringsut duduk. Namun dia merasakan sakit kembali di bagian perutnya.
"Auh..." Safia memegangi perutnya.
Robi buru-buru memegangi Safia. Dia sangat mengkhawatirkan kondisi sahabatnya itu.
"Safia. Jangan duduk dulu. Kamu masih lemah Safia. Istirahat saja dulu," ucap Robi.
Robi membantu Safia untuk kembali berbaring. Setelah itu Safia pun kembali berbaring.
"Mana Bu Maryam?" tanya Safia pada Robi.
"Bu Maryam lagi keluar sebentar. Lagi beli minum," jawab Robi.
Beberapa saat kemudian, Bu Maryam muncul dari balik pintu. Dia tersenyum saat melihat Safia.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga Safia. Sudah lama kamu pingsan lho," ucap Bu Maryam.
Bu Maryam mendekat ke arah Safia sembari membawa dua botol air mineral dan dua bungkus nasi.
"Ini makanan dan air untuk Robi. Kasihan dia, belum makan sejak tadi siang." Bu Maryam meletakan air mineral dan dua bungkus nasi itu di atas meja.
__ADS_1
"Kamu nggak balik lagi ke laundry Rob?" tanya Safia.
"Nggak. Bu Windi meminta aku untuk tetap di sini. Dia meminta aku untuk menemani kamu dan Bu Maryam. Bu Windi sangat khawatir sama kondisi kamu," jelas Robi.
"Safia. Hampir saja kamu kehilangan anak yang ada di dalam kandungan kamu. Untunglah tadi kami membawa kamu tepat waktu. Kalau tidak, mungkin janin yang ada di dalam kandungan kamu, nggak akan bisa diselamatkan," ucap Bu Maryam yang membuat Safia terkejut.
Safia diam.
Kenapa aku tidak keguguran saja tadi. Kenapa anak ini harus hidup. Jika anak ini lahir, dia pasti akan membuat banyak masalah di kehidupan aku. Karena dia lahir tanpa seorang ayah. Dan kalau dia sudah besar, dia pasti akan bertanya siapa ayah kandungnya. Apa yang harus aku lakukan sekarang.
"Safia, suami kamu dikampung pasti senang mendengar ini. Kamu itu sekarang lagi hamil," ucap Bu Maryam.
Safia menatap Bu Maryam lekat.
Oh, jadi selama ini, Bu Maryam mikirnya aku ini sudah punya suami di kampung. Iya aku lupa, sejak aku kenal Bu Maryam, aku belum pernah menceritakan apa-apa tentang masalahku pada Bu Maryam.
"Safia, kenapa kamu seperti tidak bahagia begitu?" tanya Bu Maryam.
Bu Maryam sejak tadi tidak melihat senyuman yang terukir di bibir manis Safia. Sejak tadi, Safia masih tampak murung dan dia jadi lebih banyak diam.
Safia menatap Bu Maryam lekat dan dia mulai bicara.
Akhirnya dia bisa mengarang cerita untuk menutupi aibnya yang sebenarnya. Dan untunglah Safia bertemu dengan orang-orang baik seperti Bu Maryam dan Bu Windi.
Mereka tidak pernah mau tahu menahu urusan orang dan tidak pernah mau banyak tanya dengan kehidupan pribadi orang lain. Mereka percaya, dengan apa saja yang dikatakan oleh Safia.
Bu Maryam dan Robi saling menatap.
"Safia, jadi suami kamu sudah menyia-nyiakan kamu?" tanya Robi menatap iba Safia.
Safia hanya mengangguk.
"Kasihan banget kamu Safia. Terus bagaimana dengan ke dua orang tua kamu?" tanya Robi lagi.
"Mereka juga nggak perduli sama aku. Makanya aku pergi dari rumah karena di rumah tidak ada yang peduli padaku," ucap Safia.
Bu Maryam mengusap-usap rambut Safia."Sabar ya Nak. Kamu nggak usah khawatir. Karena ibu akan jagain kamu di sini, dan akan selalu ada buat kamu."
__ADS_1
"Makasih ya Bu Maryam. Ibu memang wanita yang sangat baik," ucap Safia.
Semoga saja, Bu Maryam dan orang-orang yang dekat denganku, tidak mempertanyakan siapa ayah kandung dari bayi yang sedang aku kandung. Sampai kapanpun aku akan menutup rapat-rapat aibku.
"Bu Windi katanya nanti malam akan datang ke sini Safia. Dia mau melihat kondisi kamu," ucap Robi menuturkan.
Safia tersenyum.
"Maafin aku ya, karena aku sudah merepotkan kalian semua," ucap Safia sembari menatap Robi dan Bu Maryam bergantian.
"Nggak apa-apa Safia. Aku ikhlas kok, membantu kamu. Apalagi, aku kasihan melihat wanita yang sudah di sia-siakan suaminya," ucap Robi.
"Iya Safia. Nggak usah mikirin macam-macam ya. Kamu fokus saja dengan kehamilan kamu. Jaga kandungan kamu baik-baik. Biar saja ,suami kamu itu dapat karma karena telah menelantarkan kamu," ucap Bu Maryam.
Maafkan aku ya Bu Maryam. Aku harus membohongi ibu. Sebenarnya aku belum punya suami. Karena anak ini, adalah anak haram hasil zina. Dan sebenarnya anak ini tidak pantas untuk hidup.
Setetes air mata Safia mengalir dari pelupuk matanya. Safia tidak sanggup untuk menahan tangisannya.
Dia tidak menginginkan calon bayinya hidup. Karena Safia yakin, jika anak itu lahir, pasti anak itu akan menjadi masalah di kehidupan Safia ke depan.
"Kenapa kamu nangis Safia. Apa kamu lagi mikirin suami kamu?" tanya Bu Maryam.
Safia menggeleng.
"Aku nggak lagi mikirin suami aku. Tapi aku lagi mikir, kalau aku lama-lama berada di rumah sakit, aku nggak punya uang untuk biaya rumah sakit di sini."
Robi tersenyum.
"Kamu nggak perlu khawatir tentang itu. Karena Bu Windi yang akan membayar biaya rumah sakit kamu," jelas Robi.
"Benarkah?" ucap Safia sembari mengusap air mata yang ada di pipinya.
"Iya. Kamu tenang saja. Bu Windi itu orang berduit. Dia juga orang yang sangat baik. Dia pasti akan membantu semua karyawannya yang lagi kesulitan."
Safia tersenyum.
"Safia, kamu itu sekarang lagi hamil muda. Orang hamil itu, nggak boleh sampai stres. Dan kamu juga jangan banyak mengangkat yang berat-berat dulu Safia. Nanti kamu pendarahan lagi."
__ADS_1
"Iya Safia. Benar apa kata Bu Maryam. Kamu nggak usah mikirin keluarga kamu yang ada di kampung lagi. Mereka saja sudah tidak ada yang perduli padamu," ucap Robi. Dia sangat percaya dengan cerita Safia.
"Iya Rob."