
"Om kan sengaja ke sini untuk ketemu Anna. Karena Om kangen sama Anna. Semalam Om nggak bisa tidur mikirin Anna. Om takut, nggak akan bisa ketemu Anna lagi."
"Om, kita jangan bicara di sini. Nanti kalau bundanya Anna tahu bisa gawat Om. Mending kita cari tempat lagi untuk ngobrol-ngobrol," ucap Aura mengusulkan.
"Oh iya. Aryo teman kalian ke mana? nggak ikut?" tanya Rama menatap sekeliling..
"Biarin aja si Aryo. Dia juga nggak ikut ke sini," ucap Aura.
"Ya udah, kalian berdua sekarang masuk ke mobil ya. Nanti kita cari tempat yang nyaman aja untuk ngobrol."
"Iya Om." Anna dan Aura mengangguk.
Rama membuka pintu mobilnya. Setelah itu dia menyuruh ke dua anak itu masuk ke dalam mobil.
"Anna duduk di depan ya, sama Om."
"Iya Om."
Setelah ke dua anak itu masuk ke dalam mobil, Rama juga ikut masuk ke dalam mobil. Setelah itu Rama meluncur pergi meninggalkan tempat itu.
"Kita sekarang mau ke mana ya?" tanya Rama pada ke dua anak kecil itu.
Anna tampak berfikir.
"Aku pengin beli sesuatu Om," ucap Anna tiba-tiba.
"Beli apa sayang?" tanya Rama sembari sesekali menatap Anna.
"Di depan situ kan ada taman kecil, biasanya kalau jam segini ramai anak-anak main. Dan banyak juga, orang jualan ice cream. Kita ke sana aja ya Om," ucap Anna mengusulkan.
"Iya Om. Kita ke taman aja," Aura menimpali.
"Kalian pengin main ke taman?" tanya Rama.
"Pengin Om..." ucap Aura dan Anna bersamaan.
Sesampainya di depan taman, Aura dan Anna buru-buru turun dari mobil. Setelah itu mereka berdua berlarian masuk ke dalam taman.
"Andai aku ngajak Liza juga main ke sini, Liza pasti seneng bisa main dengan Anna dan Aura. Mereka anak-anak yang baik," ucap Rama. Dia kemudian turun dari mobilnya. Setelah itu dia melangkah menyusul ke dua anak itu.
"Aura...! Anna...! Om duduk di sini ya. Kalau kalian mau main, main aja," seru Rama.
Beberapa saat Aura dan Anna main di taman. Setelah cukup lama mereka main, Anna menghampiri dan mendekat ke arah Rama. Dia kemudian duduk di dekat Anna.
"Om, Om nggak mau ikut main?" tanya Anna.
__ADS_1
"Om ikut main? ikut main apa sayang? Om capek baru pulang kerja. Kamu aja yang main."
"Nggak ah. Aku juga capek. Aku ingin temani Om di sini."
Rama tersenyum.
Sebenernya, Anna ini anak siapa sih. Waktu itu Safia pernah bilang, kalau dia belum pernah menikah dengan siapapun. Tapi kenapa dia bisa punya anak. Aku yakin, pasti ada yang Safia sembunyikan dari aku. Dia pasti pernah punya suami. Tapi kenapa Anna nggak tahu seperti apa ayahnya.
"Anna. Om boleh tanya sesuatu nggak?"
"Tanya apa Om?"
"Kata Anna waktu itu, ayah Anna sudah meninggal di kampung. Kalau Om boleh tahu, siapa nama ayah Anna?" tanya Rama yang membuat Anna diam.
"Aku nggak tahu siapa nama ayah aku Om. Karena kalau aku tanya soal ayah, bunda pasti marah sama aku."
"Kamu juga nggak pernah lihat foto ayah kamu?"
Anna menggeleng.
"Aku nggak pernah lihat wajah ayah walau itu dalam foto."
Nggak mungkin dong, Safia nggak nyimpen foto ayahnya Anna. Ada apa sebenarnya dengan Safia. Aku jadi penasaran dengan ayahnya Anna. Nggak mungkin Safia punya anak, kalau dia nggak pernah punya hubungan dengan lelaki. Tapi kenapa waktu itu dia bilang, dia belum pernah menikah. Aku harus selidiki apa yang sedang Safia sembunyikan.
"Om, aku capek Om. Kita pulang yuk!" ajak Anna pada Rama.
"Iya Om, aku juga capek. Kita pulang yuk!" Aura menimpali.
"Ya udah, ayo. Kalian ngga mau beli jajan dulu?" tanya Rama pada mereka berdua.
"Kan kita udah jajan Om," ucap Anna.
"Ya udah. Ayo kita pulang."
Rama kemudian mengantar ke dua anak itu pulang.
****
Setelah mengantar ke dua anak itu pulang ke rumahnya, Rama kemudian mengendarai mobilnya sampai di depan rumahnya. Dia menghentikan laju mobilnya setelah dia sampai di garasi.
Rama menatap Shakira yang saat ini sedang menyiram bunga-bunga di depan rumahnya.
"Kenapa dunia ini sempit banget. Kenapa Shakira harus kerja di sini.Aku memang sudah nggak punya rasa apa-apa lagi pada Shakira. Tapi, apa aku akan sanggup melihat wanita yang pernah aku cintai berada di tengah-tengah kehidupan aku dan Vika. Bagaimana perasaan Vika jika sampai dia tahu, kalau ternyata wanita yang dia pekerjakan di sini adalah mantan istri suaminya," gumam Rama sebelum turun dari mobilnya.
Rama turun dari mobilnya. Setelah itu dia melangkah menghampiri Shakira.
__ADS_1
"Shakira, mobil Vika nggak ada. Dia ke mana?" tanya Rama.
"Oh, Bu Shakira pergi dari tadi siang Pak. Dia kan lagi ngantar Non Liza les."
"Oh. Bik Ijah mana?"
"Dia ada di halaman belakang rumah Pak."
"Jadi kamu sendiri di sini?"
"Iya Pak."
"Shakira, sebenarnya ada hal penting yang ingin aku tanyakan sama kamu," ucap Rama
Shakira mengernyitkan alisnya
"Hal penting apa Mas, yang mau kamu tanyakan sama aku?"
"Ini tentang Safia adik kamu."
"Kenapa emang dengan Safia. Kamu mau membahas masalah hubungan satu malam kamu itu dengan adik aku? Itu sudah berlalu Mas. Lagian, adik aku aja nggak tahu sekarang ada di mana."
"Bukan itu, aku cuma mau tanya, apa Safia pernah menikah dengan seorang lelaki?"
Shakira tersenyum.
"Mas, mana aku tahu soal itu. Sampai detik ini aja aku dan orang tuaku nggak pernah tahu di mana keberadaan Safia. Sejak kepergian Safia waktu itu, dia belum pernah kembali lagi kampung."
"Jadi Safia belum kembali ke kampung."
"Iya. Dia sepertinya sudah lupa dengan orang tuanya yang sudah merawat dan membesarkannya."
Kok aneh ya. Kata Anna, ayahnya itu ada di kampung. Dan sudah meninggal. Kalau Safia pernah nikah dengan seorang lelaki di kampung, harusnya Shakira tahu dong masalah ini. Tidak mungkin Safia menikah tanpa sepengetahuan orang tuanya. Apa Safia menikah di kampung suaminya. Setelah itu mereka bercerai karena sebuah masalah. Dan Safia membawa Anna ke Jakarta.
"Mas, kenapa kamu malah bengong. Emang apa yang lagi kamu fikirkan?" tanya Shakira.
"Ah, sudahlah, lupakan saja ucapan aku tadi."
Sebenarnya, Shakira bingung dengan pertanyaan Rama. Kenapa tiba-tiba saja dia bertanya soal Safia.
Namun untuk saat ini, Shakira tidak mau terlalu banyak bertanya pada Rama. Karena posisi Shakira saat ini hanya seorang pembantu. Sementara Rama adalah bos besarnya. Dan Shakira juga masih baru kerja di tempat Rama.
"Oh iya Shakira. Tolong bawakan tas aku masuk ke dalam ya."
"Iya Pak."
__ADS_1