
Malam ini Safia sudah berjalan pergi meninggalkan cafe. Dia berjalan menuju ke rumahnya. Sesampainya di depan rumahnya, dia terkejut saat melihat ada sebuah mobil yang terparkir di depan rumahnya.
"Ini mobil Mas Rama kan. Apa Mas Rama ada di dalam," ucap Safia.
Safia berjalan ke teras depan rumahnya. Dia kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam. Dan benar saja, kalau ternyata Rama sudah ada di dalam rumahnya.
"Ngapain Mas Rama tidur di sini. Dia nggak lagi mabuk lagi kan," ucap Safia.
Safia kemudian mendekat dan duduk di sisi Rama.
"Mas Rama... Mas Rama..." ucap Safia sembari menepuk-nepuk pipi Rama.
Beberapa saat kemudian, Rama mengerjapkan matanya. Dia terbangun dan lantas menatap Safia lekat.
Safia tersenyum.
"Mas, kamu kok di sini? kamu nggak lagi mabuk lagi kan? sejak kapan kamu di sini?" tanya Safia.
Rama beringsut duduk. Dia kemudian mengucek matanya.
"Jam berapa ini?" tanya Rama menatap sekeliling.
"Jam sembilan Mas," jawab Safia singkat.
"Kamu baru pulang?" Rama menatap Safia lekat.
Safia mengangguk.
"Kamu pulang malam terus?"
"Iya Mas. Yah, mau gimana lagi Mas. Namanya juga orang kerja. Kamu sudah dari tadi di sini?"
"Iya Safia. Aku sudah sejak sore di sini."
"Anna mana?" tanya Safia menatap sekeliling.
"Tadi barusan aku suruh dia masuk kamar dan tidur. Tapi nggak tahu sekarang dia sudah tidur atau belum."
"Em, Mas. Tunggu di sini ya, aku mau ganti baju dulu."
"Iya Safia."
Safia bangkit berdiri. Dia kemudian pergi ke kamarnya untuk ganti baju. Selesai itu, dia kembali ke ruang tamu untuk menemui Rama.
Safia duduk di dekat Rama.
"Mas, udah malam. Mendingan kamu pulang aja Mas. Aku nggak enak sama tetangga. Mobil kamu juga ada di luar. Aku ngga mau tetangga mikir macam-macam tentang kita."
"Safia, ini masih sore. Aku juga belum ketemu kamu. Aku ingin bicara sama kamu. Sebentar aja Safia."
"Ya udah, kamu mau bicara apa?"
"Aku udah beliin kamu hape Safia. Dan hapenya udah di simpan Anna. "
"Hape? untuk apa kamu beliin aku hape."
"Katanya kamu nggak punya hape. Hape kamu rusak kan?"
Safia tersenyum.
__ADS_1
"Ya ampun Mas. Aku udah punya hape. Aku udah beli baru malahan. Kok kamu malah beliin lagi."
"Jadi kamu udah punya hape. Kenapa kamu nggak bilang sama aku."
"Kenapa aku harus bilang sama kamu."
"Kan aku pengin tahu nomer kamu. Biar kalau aku kangen sama kamu, aku bisa nelepon kamu?"
Safia terkejut saat mendengar ucapan Rama.
"Apa! kangen?"
"Em, maksud aku. Kangen sama Anna. Nggak apa-apa kan, kalau aku menganggap anak kamu seperti anak aku sendiri?"
"Iya. Nggak apa-apa Mas."
Anna juga anak kamu Mas. Darah daging kamu. Aku nggak mau egois lagi sekarang. Jika waktunya sudah tepat, aku akan ceritakan sama kamu, tentang siapa Anna, batin Safia.
Sejak tadi Safia masih diam. Entah apa yang sedang dia fikirkan saat ini. Sementara Rama sejak tadi masih menatap Safia lekat. Rama dan Safia masih larut dalam fikirannya masing-masing.
Aku benar-benar nggak nyangka, kalau ternyata Anna adalah anak kandung aku. Maafkan aku Safia, karena aku sudah menelantarkan kamu dan Anna. Andai waktu bisa di ulang, andai aku tahu kalau waktu itu kamu hamil anak aku, aku tidak akan mungkin mau menikahi Vika. Mungkin aku akan mencari kamu dan akan menikahi kamu, batin Rama.
Safia terkejut saat tiba-tiba saja Rama memeluknya dengan erat.
"Safia, maafin aku Saf. Maafin aku..."
Safia yang merasa risih, mencoba untuk melepaskan pelukan Rama.
"Mas, tolong lepaskan aku Mas. Jangan seperti ini. Kalau ada orang yang lihat, mereka bisa salah paham sama kita," ucap Safia.
Rama kemudian melepaskan pelukannya.
"Kamu kenapa sih Mas. Aneh banget tahu nggak. Untuk apa kamu minta maaf sama aku? emang kamu punya salah sama aku?"
Rama menghela nafas dalam.
"Maaf Safia. Aku nggak sengaja peluk kamu. Aku cuma lagi sedih aja. Sebenarnya aku cuma pengin punya teman curhat."
Safia mengernyitkan alisnya.
"Sedih kenapa?"
"Dari kemarin anak aku sakit. Dia demam Safia. Dari kemarin juga, aku nggak ke kantor."
"Liza sakit apa? kamu udah bawa dia ke dokter?"
"Iya. Udah. Tapi dia masih sama aja. Nggak ada perubahan."
"Istri kamu belum pulang?"
"Sudah tadi siang. Makanya aku bisa ke sini."
"Sabar ya Mas. Tapi hubungan kamu dengan istri kamu masih baik kan?" tanya Safia.
"Nggak tahulah Safia. Nggak usah bahas dia saat kita sedang berdua. Karena aku nggak suka."
"Baiklah, aku nggak akan bahas dia."
"Safia, aku boleh kan minta nomer hape kamu?"
__ADS_1
"Boleh Mas. Sebentar ya, aku ambil hape aku dulu."
Safia bangkit dari duduknya. Dia kemudian mengambil ponselnya yang ada di kamarnya. Setelah itu dia kembali dengan membawa hapenya.
Rama bahagia, akhirnya sekarang Safia sudah mau baik sama dia. Walau Rama saat ini sedang sakit hati karena istrinya, namun dia masih punya obat penawar untuk hatinya yang terluka.
Ya, Safia. Rama harap Safia bisa menjadi pengobat hatinya yang terluka.
"Makasih ya Safia untuk nomernya."
"Iya Mas."
"Oh ya. Aku pulang dulu ya. Aku nggak enak main sampai malam di sini. Nanti tetangga kamu mikirnya macam-macam lagi. Besok aku ke sini lagi deh. Kalau pagi, kamu di rumah kan?"
"Iya Mas. Aku kan masih shift siang."
"Oke."
Rama bangkit berdiri. Setelah itu dia berjalan keluar dari rumah Safia. Safia mengikuti Rama sampai di depan pintu.
Sebelum pergi, Rama menatap Safia dan melambaikan tangannya.
"Hati-hati ya Mas."
Rama kemudian masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan rumah Safia.
****
"Lho, Pak Rama kok tidur di ruang tengah. Kenapa dia nggak tidur di kamarnya," ucap Bik Ijah.
Bik Ijah mendekat ke arah Rama dan membangunkannya.
Rama mengerjapkan matanya dan beringsut duduk.
"Eh, Bik. Ada apa?"
"Kenapa Pak Rama tidur di sini? Pak Rama nggak tidur di kamar?" tanya Bik Ijah.
"Semalam aku pulang kemalaman. Kamar udah di kunci sama istriku," jawab Rama.
"Apa! siapa yang ngunci kamar Mas," ucap Vika yang tiba-tiba menyahut.
Vika menghampiri suaminya.
"Kamu suka banget mengada-ada. Semalam aku malah nungguin kamu sampai jam sepuluh malam. Tapi kamu nggak datang-datang ke kamar. Kamu kemana aja sih Mas tadi malam?" tanya Vika menatap Rama tajam.
Bik Ijah pergi meninggalkan Rama dan Vika. Dia tidak enak, jika berada di tengah-tengah suami istri itu.
Sebenarnya Rama malas untuk meladeni Vika.
"Aku nggak kemana-mana. Aku cuma pusing aja di rumah."
"Pusing? pusing kenapa?" tanya Vika. Dia sama sekali tidak mengerti dengan perubahan sikap Rama yang dingin.
Rama tidak menjawab pertanyaan dari istrinya. Dia lebih memilih pergi untuk meninggalkan Vika.
"Kenapa sih, dengan Mas Rama. Setelah aku pulang dari Bali dia jadi berubah. Nggak mungkin kan dia tahu kalau aku di Bali bersama Bram."
"
__ADS_1