
Di dalam rumah, Bu Astri dan Pak Junedi saling menatap saat dia mendengar teriakan Shakira.
"Sebenarnya, siapa itu yang datang Pak. Kenapa Shakira teriak-teriak," ucap Bu Astri.
"Kita keluar Bu. Kita lihat siapa yang datang," ucap Pak Hendro.
Pak Junedi dan Bu Astri kemudian keluar dari rumahnya. Mereka terkejut saat melihat Rama.
"Kurang ajar, kamu masih berani menginjakan kaki kamu lagi di rumah ini hah...!" Pak Junedi melotot ke arah Rama.
Pak Junedi buru-buru menghampiri Rama. Sejak kemarin, Pak Junedi selalu emosi saat melihat menantunya. Pak Junedi tidak tinggal diam saat Rama masih mengganggu putrinya.
Bugh...
Akhirnya satu pukulan mendarat di perut Rama.
"Auh..." Pekik Rama.
"Pak, saya datang ke sini dengan maksud baik. Saya ingin meminta maaf sama Shakira," ucap Rama yang masih memegangi perut yang sakit.
Meski Rama bisa melawan dan memukul balik Pak Junedi, namun dia tidak pernah mau menyerang balik mertuanya. Karena dia bukan menantu yang kurang ajar.
"Tidak ada kata maaf, untuk seorang lelaki bejat macam kamu. Pergi kamu dari sini dan jangan injakan kaki kamu lagi di rumah ini. Mulai saat ini dan seterusnya saya tidak akan membolehkan Shakira untuk berhubungan lagi dengan mu. Gara-gara kamu Safia pergi dari rumah. Kamu sudah menghancurkan kehidupan Safia...!" ucap Pak Junedi dengan nada tinggi.
Pak Junedi sudah melayangkan tangannya dan akan memukul Rama kembali. Namun buru-buru Bu Astri dan Shakira menghalanginya.
"Pak sudah Pak. Biarkan saja dia. Kita masuk saja dan tidak usah ladenin dia," ucap Bu Astri sembari memegang lengan suaminya.
"Iya Pak. Udah malam. Nggak enak sama tetangga. Bagaimana kalau mereka dengar ada orang berantem di sini. Mereka pasti akan berbondong-bondong datang ke sini. Malu Pak, kalau ada orang yang lihat," ucap Shakira.
Pak Junedi mengangguk.
"Iya Shakira. Ayo kita masuk ke dalam!" ajak Pak Junedi.
Pak Junedi merangkul istrinya dan masuk ke dalam rumah
__ADS_1
Pak Junedi, Shakira dan Bu Astri kemudian masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Rama di luar rumah.
****
"Keterlaluan kamu Rama...!" Pak Hendro murka saat tahu apa yang sudah Rama lakukan pada Safia adik kandung Shakira.
Rama yang melihat kemurkaan ayahnya hanya bisa menundukan kepalanya. Dia tampak menyesal dengan semua perbuatan yang sudah dia lakukan pada Safia.
"Kamu itu sudah mempermalukan keluarga kita Rama...!" ucap Pak Hendro sembari mengepalkan tangannya geram. Rahangnya juga sudah mulai mengeras. Pak Hendro sudah melayangkan tangannya di depan Rama.Namun ibu Rama buru-buru menghalangi suaminya agar dia tidak memukul Rama.
"Pak sudah Pak. Jangan pukul Rama. Kasihan dia."
Pak Hendro menatap Bu Lina istrinya.
"Ibu mau belain anak yang tidak tahu diri ini. Dia sudah menodai adiknya Shakira dan sudah membuat adiknya Shakira pergi dari rumah."
"Tapi ini bukan semua kesalahan Rama Pak. Bapak dengar sendiri kan penjelasan Rama tadi, kalau Rama khilaf dan dia tidak sengaja melakukan itu. Karena malam itu dia dalam keadaan mabuk."
"Apapun alasannya, dia sudah mencoreng nama baik keluarga kita Bu. Seharusnya dia itu tidak usah mabuk dan berhenti untuk mabuk-mabukan. Dia nggak malu, mabuk-mabukan terus sampai dia sudah punya istri. Anak macam apa kamu Rama. Dari dulu sampai sekarang kamu tidak pernah berubah." Geram Pak Hendro.
Ya, selama ini Rama memang sudah menjadi anak nakal dan susah di atur. Mungkin karena salah dalam bergaul, membuat Rama menjadi tukang mabuk.
"Nah... Ini nih yang membuat anak ini ngelunjak. Rama seperti ini itu karena ibu. Ibu yang sudah memanjakan Rama dan menjadikan Rama seperti ini."
Bu Lina menatap Pak Hendro.
"Kok bapak malah nyalahin ibu sih? apa salah ibu."
"Salah ibu banyak. Ibu itu sudah memanjakan Rama dan selalu membela dia kalau dia salah. Itu yang membuat Rama semakin ngelunjak dan tidak mau berubah."
"Pak, wajar dong kalau ibu membela Rama. Karena Rama lahir juga dari rahim ibu. Dan seorang ibu itu pasti akan membela anaknya. Dan ibu tidak pernah membenarkan apa yang sudah Rama perbuat. Tapi setidaknya bapak jangan main pukul. Dengan memukul Rama apa bisa untuk mengembalikan semuanya. Tidak kan pak."
Rama bangkit berdiri.
"Cukup! kalian tidak usah bertengkar di depan aku. Karena aku muak melihatnya."
__ADS_1
Rama melangkah untuk ke kamarnya. Rama mengambil ranselnya dan mengeluarkan semua baju-baju yang ada di lemari. Dia memasukkan semua baju-baju itu ke dalam tas ranselnya. Rama kemudian pergi keluar dari kamarnya dengan membawa tasnya itu.
"Rama, kamu mau ke mana?" tanya Bu Lina.
"Aku mau pergi Bu. Aku mau pergi yang jauh. Aku sudah tidak betah tinggal di sini. Shakira wanita yang aku cintai sudah menggugat cerai aku. Dia sudah tidak mau mempertahankan pernikahannya dengan aku. Dan aku ingin pergi yang jauh untuk melupakan semua kenangan buruk itu."
Bu Lina mendekat ke arah Rama.
"Rama, kamu mau pergi ke mana Nak? ibu mohon kamu jangan pergi tinggalin ibu Nak."
"Aku mau pergi. Aku mau cari Safia. Aku mau minta maaf sama dia. Aku tidak akan tenang sebelum aku minta maaf sama dia."
"Apa! tapi kamu mau cari Safia ke mana? Kamu saja tidak tahu keberadaan Safia saat ini."
"Bu, biarkan saja Rama pergi. Biar dia bisa merasakan bagaimana jauh dari orang tua. Biar dia merasakan bagaimana kerasnya kehidupan di luar sana," ucap Pak Hendro.
Dia bangkit berdiri dan melangkah mendekat ke arah istrinya yang saat ini sudah berada di dekat pintu depan.
Rama akan melangkah pergi. Namun dengan sigap, Bu Lina langsung mencekal tangan Rama. Dia masih belum merelakan Rama pergi jauh darinya.
Rama menatap ibunya lekat.
"Bu, biarkan aku pergi. Aku ingin membuktikan sama kalian, kalau aku bisa berubah seperti apa yang ibu dan bapak harapkan. Percaya sama aku Bu. Tidak akan terjadi apa-apa sama aku. Aku bisa jaga diri aku Bu."
"Tapi kamu mau pergi ke mana?"
"Aku kan sudah bilang Bu. Aku mau cari Safia. Aku kasihan sama dia. Dia sudah pergi karena aku. Lagian, untuk apa aku di sini, kalau Shakira saja sudah tidak mengharapkan aku lagi. Dia sudah menggugat cerai aku."
Bu Lina sudah tidak bisa menghalangi Rama lagi. Karena sejak tadi Rama masih ngotot ingin pergi meninggalkan rumah. Dia ingin mencari Safia dan entah dia akan mencari Safia ke mana. Mungkinkah dia juga akan pergi ke kota, seperti apa yang sudah Safia lakukan.
"Rama jangan pergi Nak. Hiks...hiks..."
Tanpa menghiraukan tangisan ibunya lagi, Rama pun pergi meninggalkan rumah.
"Sudah Bu. Biarkan saja dia. Dia itu sudah dewasa, sudah punya istri. Biar dia berlatih mandiri. Pasti dia bisa menentukan jalan hidupnya sendiri."
__ADS_1
"Kenapa rumah tangga Rama dan Shakira harus berantakan seperti ini Pak, padahal mereka saling mencintai."
"Itulah jodoh Bu. Tidak ada yang tahu. Hanya Tuhan yang tahu jodoh manusia. Mungkin Rama dan Shakira itu jodohnya cuma sampai di sini," ucap Pak Hendro.