Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Menjemput Safia


__ADS_3

Shakira, Rio, Bu Astri dan Rama saat ini masih berada di ruang tunggu UGD. Bu Astri menatap Shakira lekat.


"Nak, kita kan lagi nggak punya uang? bagaimana kalau kita nggak bisa membayar biaya rumah sakit? uang hasil jual sawah juga sudah menipis." Bu Astri sedih. Bu Astri takut kalau dia tidak akan bisa membayar biaya rumah sakit suaminya.


"Bu, jangan fikirin masalah biaya. Nanti Shakira yang akan bayar biaya rumah sakit bapak. Shakira kan sekarang udah kerja. Dan mungkin satu minggu lagi Shakira udah gajian. Dan kalau uang hasil jual sawah kemarin kan masih ada Bu."


Samar-samar Rama mendengar percakapan Shakira dan Bu Astri. Dia kemudian mendekat ke arah mereka.


"Shakira, Bu Astri, kalian nggak usah khawatir. Biar aku nanti yang akan membayar semua biaya rumah sakit Pak Junedi."


Shakira dan Bu Astri menatap Rama bersamaan.


"Mas Rama, kamu yakin dengan ucapan kamu?" tanya Shakira.


"Iya. Aku yakin. Biar aku saja yang membayar biaya rumah sakit Pak Junedi." Kembali Rama menegaskan.


"Nak Rama, nggak usah repot-repot Nak Rama. Kami bisa membayarnya sendiri."


Rama tersenyum pada Bu Astri.


"Bu, nggak apa-apa Bu. Saya ikhlas kok menolong kalian."


"Lalu, bagaimana dengan Bu Vika? apa dia tahu kalau kamu ada di sini sama aku Mas?" Shakira takut, kalau kedekatannya dengan Rama akan membuat Vika murka.


Shakira tidak mau macam-macam dengan Vika. Karena dia takut di pecat dari pekerjaannya. Jika Shakira sampai dipecat dari rumah Vika, Shakira bingung, dia mau kerja apa lagi. Karena mencari kerjaan sekarang sangat susah.


"Vika sudah tahu. Aku sudah pamitan sama Vika tadi waktu aku mau ke sini."


"Oh. Bu Vika nggak marah?"


Rama menggeleng.


Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruang ICU. Bu Astri dan Shakira mendekat ke arah dokter.


"Dokter, bagaimana kondisi bapak saya Dok?" tanya Shakira pada dokter.


"Pak Junedi masih kritis. Kalian doakan saja untuk kesembuhannya."


"Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk suami saya Dok!" pinta Bu Astri.


"Pak Junedi harus segera di operasi. Kalau tidak, penyakitnya akan semakin memburuk," ucap Dokter.


Rama mendekat ke arah dokter.


"Dokter, lakukan operasinya sekarang Dok. Biar biayanya saya yang akan tanggung."


Dokter menatap Rama.


"Iya Pak. Tapi kami sedang menunggu kondisi Pak Junedi stabil. Untuk saat ini dia masih kritis. Dan kita berdoa saja, semoga Pak Junedi bisa melewati masa kritisnya dan besok bisa segera melakukan operasi."


"Iya Dok."


Dokter kemudian pergi meninggalkan Rama, Shakira dan Bu Astri.

__ADS_1


Hiks...hiks...


Shakira kembali menangis. Saat ini dia benar-benar sangat sedih. Dia takut kehilangan ayahnya. Tiba-tiba saja Shakira teringat dengan Safia.


"Bapak pernah pesan sama aku. Dia ingin ketemu dengan Safia untuk yang terakhir kalinya. Dan sampai bapak kritis, dia belum ketemu dengan Safia," ucap Shakira sembari mengusap-usap air matanya.


"Kalian tenang saja. Aku akan ke rumah Safia sekarang. Aku akan jemput dia dan anaknya sekarang."


"Nak Rama, tolong bawa Safia dan cucu saya ke sini. Saya juga sudah sangat merindukan mereka."


"Iya Bu. Sekarang saya akan ke sana. Saya pergi dulu ya Bu, Shakira."


"Iya Mas. Hati-hati ya Mas."


Setelah berpamitan pada Bu Astri dan Shakira, Rama kemudian keluar dari rumah sakit. Dia menuju ke parkiran mobil untuk mengambil mobilnya. Setelah itu Rama pun meluncur pergi meninggalkan rumah sakit dengan mobilnya.


****


Safia dan Anna sudah terlelap di atas tempat tidurnya. Beberapa saat kemudian, suara ketukan dari luar rumah terdengar.


Safia dan Anna yang merasa terganggu dengan suara ketukan itu, terbangun. Safia dan Anna saling menatap.


"Bun, seperti ada orang yang ngetuk pintu." Anna menatap bundanya lekat.


"Iya. Jam berapa ini." Safia melihat jam dinding. Waktu saat ini sudah menunjukan jam 12 malam.


Sudah jam dua belas malam. Siapa sih, orang yang malam-malam begini bertamu.


"Tunggu di sini ya sayang. Bunda mau lihat dulu ke depan."


"Iya Bun."


Safia terkejut saat melihat Rama sudah berdiri di depan pintu.


"Mas Rama. Mau ngapain kamu malam-malam ke sini?" tanya Safia menatap tajam ke arah Rama.


"Safia. Aku ke sini mau jemput kamu dan Anna. Bapak kamu lagi kritis di rumah sakit."


Safia terkejut saat mendengar ucapan Rama.


"Apa! bapak aku kritis?"


"Iya Safia."


"Ya udah Mas. Antar aku ke rumah sakit ya. Aku akan siap-siap dulu sama Anna."


"Aku tunggu di luar saja ya Safia."


"Iya Mas."


Safia kembali masuk ke dalam rumahnya. Setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya.


"Anna, kita harus siap-siap Anna."

__ADS_1


"Siap-siap? emang kita mau ke mana."


"Kita mau ke rumah sakit An."


"Mau ngapain ke rumah sakit? emang siapa yang sakit."


"Anna, jangan banyak tanya. Ayo turun dan pakai jaket kamu. Om Rama sudah menunggu di luar."


Tanpa banyak bertanya, Anna turun dari ranjangnya. Setelah itu dia mengambil jaketnya dan memakainya.


"Anna kamu keluar dulu ya. Temui Om Rama dulu di luar. Bunda mau ganti baju dulu."


"Iya Bun."


Anna yang masih bingung, bergegas untuk keluar rumah dan menemui Rama di luar.


"Om Rama, Om Rama ngapain malam-malam ke sini?" Anna masih belum mengerti apa tujuan Rama sayang ke rumahnya malam-malam.


"Kamu sudah siap An?"


"Udah Om. Emang kita mau ke mana sih? kenapa buru-buru banget?"


"Bunda kamu nggak cerita tadi kita mau ke mana?"


Anna menggeleng.


"Nggak. Bunda nggak cerita apa-apa. Dia cuma bilang kalau kita mau ke rumah sakit"


"Iya. Kita mau jengukin kakek kamu."


Anna terkejut.


"Apa! jadi kita mau jengukin kakek aku? kakek aku yang mana?" Anna sama sekali tidak tahu tentang kakeknya. Karena Safia juga tidak pernah cerita apa-apa tentang keluarganya pada Anna.


"Kakek kamu, ayahnya Bunda kamu dari kampung."


"Oh... jadi kakek aku ada di sini."


"Iya. Tapi dia lagi sakit."


Beberapa saat kemudian, Safia menghampiri Anna dan Rama yang ada di teras depan rumahnya.


"Kamu sudah siap Saf?" Rama menatap Safia lekat.


Safia mengangguk.


"Tunggu ya. Aku mau kunci pintu dulu."


"Iya. Aku dan Anna ke mobil dulu ya."


"Iya."


Rama merangkul bahu Anna dan mengajak Anna masuk ke dalam mobilnya. Sementara Safia mengunci pintu rumahnya.

__ADS_1


Setelah Safia mengunci pintu, dia kemudian menyusul Anna dan Rama masuk ke dalam mobil. Setelah mereka semua masuk, Rama pun akhirnya meluncur pergi meninggalkan rumah kontrakan Anna.


__ADS_2