
Sore ini, Shakira masih berada di ruang tamu rumah kontrakannya. Dia masih tampak ngobrol-ngobrol dengan Yuli sahabatnya.
"Shakira, ada kabar gembira buat kamu," ucap Yuli.
"Kabar gembira apa?" tanya Shakira.
"Shakira, ada kerjaan bagus untuk kamu." Yuli menuturkan.
"Kerjaan bagus apa?"
"Jadi pembantu pulang pergi, apa kamu mau?"
"Apa! pembantu? duh, kenapa harus pembantu sih. Emang nggak ada kerjaan lain apa selain pembantu?"
"Ya, kalau bukan pembantu kamu mau kerja apa? usia kamu itu sudah tiga puluh lima lebih. Jarang ada perusahaan yang mau menerima karyawan seusia kamu."
"Tapi aku kan punya pengalaman kerja."
"Iya. Tapi itu udah nggak berlaku, kalau usia kamu itu sudah lebih dari tiga puluh lima. Mungkin, kalau Safia adik kamu itu masih bisa kerja di perusahaan. Tapi kalau untuk kamu, sulit karena kendala usia."
"Masa sih..." Shakira masih tidak percaya.
"Percaya deh sama aku. Jarang ada perusahaan yang mau nerima karyawan seusia kamu. Ada sih, tapi jarang."
Shakira tampak sedih saat mendengar ucapan sahabatnya itu.
Setelah menjual salah satu sawah orang tuanya di kampung, Shakira kemudian memboyong ke dua orang tuanya dan anaknya ke kota.
Mereka memang sengaja ke kota, karena mereka punya tujuan. Pertama Shakira ingin cari kerja, Bu Astri dan Pak Junedi ingin mencari Safia, dan yang terakhir, Pak Junedi mau berobat ke kota.
Saat-saat ini, mencari pekerjaan di kampung juga susah. Bu Astri juga bingung karena jualannya di kampung selalu sepi. Sementara dia masih butuh banyak biaya untuk pengobatan Pak Junedi.
Shakira masih diam. Selama hidupnya, dia belum pernah menjadi seorang pembantu. Dan sekarang sahabatnya menawarinya kerjaan sebagai pembantu.
Shakira benar-benar bingung. Dia gengsi dong, kalau harus jadi pembantu. Karena bagi Shakira menjadi pembantu adalah pekerjaan yang paling rendah di antara semua pekerjaan.
Masa aku harus jadi pembantu sih. Iya sih, gaji pembantu itu lumayan, tapi masa iya sih aku jadi pembantu. Aku kan nggak pernah jadi pembantu. Nggak pantas aja kalau aku jadi pembantu." batin Shakira.
Shakira masih tampak berfikir.
"Kir. Gimana? kamu mau nggak? lumayan lho, gajinya ini," ucap Yuli.
"Tapi aku nggak mau jadi pembantu. Kerjaan yang lain aja kalau ada."
"Iya. Tapi susah nyari kerjaan lain. Kebanyakan lowongan di sini itu ART."
__ADS_1
Di sela-sela Shakira dan Yuli ngobrol, Bu Astri muncul dengan membawa dua gelas teh manis hangat.
"Ini, ibu buatin teh hangat buat kalian," ucap Bu Astri sembari meletakan dua gelas teh manis hangat itu di atas meja.
"Makasih ya Bu," ucap Yuli.
"Iya. Sama-sama. Ayo di minum Nak Yuli."
"Iya Bu. Nanti saya minum. Ini soalnya masih panas."
Bu Astri kemudian duduk di dekat Shakira.
"Gimana? apa Nak Yuli sudah mendapatkan informasi lowongan kerjaan untuk Shakira anak saya? " tanya Bu Astri.
"Ada sih Bu. Tapi adanya cuma lowongan ART. Asisten rumah tangga Bu. Nggak tahu Shakira mau atau nggak," ucap Yuli.
"Oh... Art? Kamu mau jadi Art Shakira?" tanya Bu Astri pada Shakira.
Shakira mengedikan bahunya.
"Nggak tahu. Aku bingung Bu. Selama ini aku nggak pernah jadi pembantu. Masa aku harus jadi pembantu sih."
"Ya nggak apa-apa. Kerjaan mah, apa saja yang penting halal. Iya kan Nak Yuli?"
Yuli mengangguk. "Iya Bu. Benar."
Shakira diam dan tampak mencerna semua ucapan ibunya.
"Awal tujuan kita ke sini kan mau merubah nasib. Kamu ingat kan, kamu membawa kami ke sini karena kamu mau cari kerja dan ibu yang kamu suruh untuk jagain anak kamu."
"Tapi nggak harus jadi pembantu juga kali Bu,"
"Tapi ini kan nggak nginep Kir. Bisa pulang pergi. Kamu masih bisa lihat anak kamu," ucap Yuli.
"Shakira, apa yang lagi kamu fikirkan. Terima aja kerjaan itu." Bu Astri sejak tadi masih membujuk anaknya agar mau menerima kerjaan dari Yuli.
"Kalau menurut aku ya Bu, untuk sementara Shakira itu kerja dulu jadi ART. Nanti kalau sudah ada lowongan kerjaan yang cocok untuk Shakira, baru dia bisa tinggalkan pekerjaan ART nya itu."
Shakira tampak berfikir. Yang dikatakan ibunya memang ada benarnya. Kerjaan mah, apa saja yang penting halal. Tujuan pertama Shakira ke kota juga karena dia ingin mencari kerja, mencari Safia dan mengobati penyakit ayahnya.
"Ya udahlah. Aku mau. Terus kapan kerjanya?" tanya Shakira yang akhirnya menerima juga pekerjaan tawaran dari sahabatnya.
"Kalau waktunya saya kurang tahu. Tapi nanti saya telpon lagi deh bosnya."
"Iya."
__ADS_1
***
Pagi ini, Rama sudah tampak rapi. Dia masih berdiri di depan cermin sembari menatap pantulan dirinya di depan cermin. Vika tersenyum saat melihat Rama. Dia kemudian mendekat ke arah Rama.
"Mas Rama, kamu mau ke mana? tumben pagi-pagi gini udah rapi. Ini kan hari minggu. Kamu mau ngajakin aku dan Liza jalan ya, kenapa nggak bilang dulu, sih. Kan kita bisa siap-siap," ucap Vika.
Rama memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Vika.
"Sayang, aku lagi ada keperluan sebentar di luar. Aku lagi ada janji sama teman."
"Janji sama siapa? teman cowok apa cewek?" tanya Vika menatap Rama curiga.
"Aku ada janji sama Anna. Hari ini aku janjian sama dia, mau main ke rumah dia."
Vika mengernyitkan alisnya.
"Anna?"
"Iya. Kamu mau ikut juga ke rumah Anna?"
Vika tampak berfikir.
Anna ? sebenarnya siapa sih Anna. Benarkah kalau itu selingkuhan Mas Rama. Tapi kalau Anna itu selingkuhan Mas Rama, kenapa dia mau ngajakin aku ke rumah Anna. Mungkin benar yang dikatakan Mas Rama, kalau Anna itu cuma anak perempuan kecil sepantaran Liza. Aku harus berfikir positif aja sama Mas Rama.
"Hei, kenapa kamu malah bengong? kamu mau ikut juga ke rumah Anna?" tanya Rama sekali lagi pada istrinya.
"Nggak Mas. Kamu aja sana yang ke rumah Anna."
"Ya udah, nanti kapan-kapan, aku akan ajak Anna main ke sini. Biar kamu dan Liza kenal dengan Anna. Anna itu anak baik dan anak yang berprestasi. Dia lahir dari keluarga yang tidak mampu, ayahnya juga sudah meninggal. Dia itu anak yatim."
Vika manggut-manggut mengerti.
"Iya Mas. Kamu mau langsung pergi? atau mau sarapan dulu?"
"Nggak usah. Aku mau langsung ke rumah Anna saja."
Vika mengangguk. Sebelum Rama pergi, Vika mencium punggung tangan Rama.
"Aku pergi dulu ya sayang," ucap Rama. Setelah itu dia mengecup kening istrinya.
Rama kemudian melangkah keluar dari rumahnya diikuti Vika dibelakangnya.
"Mas Rama, hati-hati ya."
"Iya sayang. Liza masih tidur kan?"
__ADS_1
"Iya. Liza masih tidur."
Rama kemudian masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dia pun meluncur pergi meninggalkan rumahnya. Sementara Vika masuk kembali ke dalam rumahnya.