
Malam ini, Vika masih berada di jalan raya. Vika masih menangis di kesendiriannya. Setelah lama dia nongkrong di bar sendiri, dia pulang dalam keadaan mabuk.
Vika saat ini dalam dilema setelah dia tahu kalau semua harta ayahnya jatuh ke tangan suaminya. Vika saat ini bingung untuk memilih diantara bercerai atau hidup di madu.
Rama sudah memberikan pilihan yang sangat sulit untuk Vika. Jika Vika menggugat cerai Rama, Vika akan terusir dari rumahnya sendiri tanpa mendapatkan harta gono gini dari Rama.
Tapi jika Vika bertahan menjadi istri Rama, dia pun tidak sanggup hidup di madu dengan Safia. Karena Rama tidak mau menceraikan Vika dan dia juga tidak mau melepaskan Safia.
Vika sekarang juga sudah tahu semuanya , kalau Anna adalah anak kandung Rama.
Dan Rama menikahi Safia karena Anna.
Vika juga tahu, kalau Rama sudah membelikan Safia dan Anna rumah baru yang bagus. Rama sekarang sudah mulai terbuka pada istri pertamanya. Sudah tidak ada yang Rama tutup-tutupi lagi sekarang dari Vika.
"Aku tidak akan menceraikan kamu Vika, karena aku sudah berjanji sama ayah kamu, aku akan menjaga kamu dan ibu kamu sampai akhir hayatku."
"Aku juga tidak akan mengusir kamu karena rumah ini adalah rumah kamu dan ibu kamu. Namun, jika kamu memaksa aku untuk berpisah dari Safia, itu pun aku tidak bisa karena aku mencintai Safia dan Anna."
"Sekarang, aku bebaskan kamu untuk memilih. Terserah kamu Vika, kamu mau bertahan dengan pernikahan kita yang seperti ini, atau kamu akan pergi dari kehidupan aku dengan menggugat cerai aku."
Kata-kata Rama itulah yang selalu terngiang-ngiang dalam fikiran Vika. Membuat Vika jadi dilema dan bingung untuk memilih dan mengambil keputusan. Jujur Vika sudah tidak kuat harus hidup berbagi suami dengan Safia. Apalagi Rama tidak mau berlaku adil pada ke dua istrinya.
Sejak pertengkarannya satu bulan yang lalu dengan Rama, Vika seperti orang gila. Dia hidup seperti tidak punya tujuan.
Malam ini, langit sudah mulai gelap karena diselimuti awan yang tebal. Vika masih menapaki jalanan yang gelap.
Tetes gerimis mulai membasahi tubuh mulus Vika. Hingga akhirnya, hujan pun turun mengguyur tubuh Vika.
Vika merasakan hawa dingin yang menusuk sampai ke relung hatinya. Vika tidak tahu sekarang dia mau kemana.
Tubuhnya sudah basah kuyup. Di rumah pun, Rama tidak pernah sekali pun menyentuhnya. Wanita mana yang sanggup hidup tanpa nafkah batin dari suaminya.
Saat ini, Rama hanya menomor satukan Safia. Tanpa menganggap Vika itu ada.
Chiiiiiitttt....
Sebuah mobil berhenti tepat di sisi Vika. Vika hanya menatap sekilas mobil itu dan berjalan kembali ke depan.
__ADS_1
"Vika," ucap Bram saat melihat Vika.
Bram buru-buru turun dari mobilnya dengan membawa payung. Dia kemudian memayungi tubuh Vika.
Dalam derasnya hujan, Vika menatap Bram lekat.
"Bram," ucap Vika yang tampak masih mengenali Bram walau dia saat ini dalam keadaan mabuk.
"Vika, kamu mau ke mana?" tanya Bram.
Hiks...hiks...hiks ..
Bram terkejut saat melihat Vika menangis. Vika tiba-tiba saja menangis saat bertemu Bram. Bram tidak tahu apa yang membuat Vika menangis.
"Vika, kenapa kamu nangis?" tanya Bram.
"Aku nggak tahu aku mau kemana Bram. Aku udah nggak punya tempat tinggal lagi sekarang. Suami aku, sudah merampas semua harta aku. Ternyata selama ini dia itu lelaki yang licik. Dan aku sangat benci sekali sama dia."
Bram sejak tadi hanya diam. Mendengar Vika merancau tak karuan di depannya. Bram mencium bau alkohol yang sangat menyengat dari tubuh Vika.
Vika tidak menjawab. Dia malah menangis dan bicara yang tidak karuan. Bram sudah tidak mau berlama-lama lagi berada di tempat itu. Karena tubuhnya pun sekarang sudah mulai kedinginan.
"Sekarang, kamu ikut aku Vik. Bahaya kamu jalan sendirian di sini malam-malam. Bagaimana kalau ada orang jahat yang menjahati kamu."
Bram merangkul bahu Vika dan menyuruh Vika masuk ke dalam mobilnya. Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Bram pun meluncur pergi meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di depan rumah, Bram mengetuk pintu rumahnya. Seorang wanita membuka pintu rumah itu. Wanita itu terkejut saat melihat Bram sudah menggendong seorang wanita yang tubuhnya basah kuyup.
"Pak Bram. Wanita siapa yang kamu bawa?" tanya Mbak Asih pada majikannya.
"Dia teman aku. Namanya Vika. Tadi dia kehujanan di jalan dan sepertinya dia dalam keadaan mabuk," jelas Bram singkat.
Bram kemudian masuk ke dalam rumahnya dengan membawa tubuh Vika masuk.
"Cepat tutup pintunya dan bantuin saya!" seru Bram.
"Iya Pak Bram."
__ADS_1
Mbak Asih menutup pintu dan masuk mengikuti Bram sampai ke kamar tamu.
Sesampainya di kamar tamu, Bram meletakan tubuh Vika di atas ranjang. Dia kemudian menatap Mbak Asih lekat.
"Tolong bantu saya. Gantikan baju wanita ini, terus kamu balurkan minyak angin agar tubuhnya hangat."
"Terus baju gantinya mana Pak?"
"Pakai nanya lagi. Kamu kan punya baju ganti. Masa harus pakai baju saya." Bram sudah melotot ke arah Mbak Asih.
"Oh iya Pak. Mau pinjam baju sama saya ya pak "
"Ya iyalah. Saya juga basah. Saya mau ke kamar dulu. Saya juga mau ganti baju."
"Iya Pak."
Bram kemudian keluar dari kamar tamu meninggalkan Vika bersama Mbak Asih. Dia menuju ke kamarnya untuk mengganti bajunya yang sama-sama basah karena tadi dia mengendong Vika.
Sesampainya di depan kamarnya , Bram membuka pintu kamarnya. Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya kembali.
"Duh, kenapa ya Vika. Aku melihat kondisinya saat ini sangat memprihatikan. Apa yang sudah sebenarnya terjadi pada Vika selama aku pergi. Apa yang sudah Rama lakukan pada Vika."
Bram mengambil handuk. Setelah itu dia berjalan untuk ke kamar mandi. Selesai mandi, Bram mengambil bajunya dan ganti baju. Setelah itu, dia menggosok-gosokan rambutnya yang basah dengan handuk.
Bram menghempaskan tubuhnya di atas sofa kamarnya. Dia diam dan tampak berfikir.
"Kenapa ya Vika bisa sampai mabuk dan hujan-hujanan. Aku yakin, Vika lagi punya masalah yang besar dengan suaminya. Tapi apa...."
Sudah satu bulan Bram tidak bertemu Vika. Karena dia harus ke Bali untuk mengurus perusahaannya yang ada di sana.
Dan selama itu, Bram pun tidak pernah berhubungan lewat telpon dengan Vika. Mereka hilang kontak selama satu bulan.
Karena Vika yang selalu berusaha menjauh dan menghindar dari Bram. Dia tidak mau membalas chat Bram dan tidak mau mengangkat panggilan dari Bram. Membuat Bram akhirnya malas untuk menghubungi Vika lagi. Namun Bram terkejut saat melihat kondisi Vika yang memprihatikan seperti saat ini.
"Aku harus temui Vika. Mungkin dia sudah ganti baju," ucap Bram.
Bram kemudian melangkah pergi keluar dari kamarnya untuk ke kamar tamu di mana Vika berada.
__ADS_1