
"Jadi maksud kedatangan kalian ke sini, ingin saya meresmikan hubungan saya dengan Safia dengan cara menikah begitu?" tanya Rama menatap ustadz Zaki dan Pak Burhan bergantian.
Ustadz Zaki dan Pak Burhan saling menatap. Mereka kemudian menatap Safia dan Rama bersamaan.
Pak Burhan dan ustadz Zaki tersenyum.
"Alangkah baiknya seperti itu. Kalau kalian sudah merasa cocok, menikah saja. Supaya terhindar dari yang namanya fitnah. Dan nama baik kalian, akan terjaga. Dan kalian bebas melakukan apapun, jika kalian sudah halal," ucap Ustadz Zaki.
Rama tersenyum.
Rama merasa kedatangan ustadz Zaki dan Pak Burhan membawa keberuntungan sendiri untuk Rama. Karena selama ini Safia selalu menolak Rama. Semoga, dengan kedatangan Pak RT dan Pak Ustadz akan merubah keputusan Safia. Rama harap setelah ini, Safia mau menikah dengannya.
"Yah, sebenarnya itu memang rencana saya Pak Ustadz. Jika Safia mau, saya pun sudah siap untuk menikahinya sekarang. Saya sudah siap, menafkahi Safia lahir batin," ucap Rama mantap.
"Alhamdulillah," ucap Pak Burhan dan ustadz Zaki bersamaan.
Safia sudah tidak bisa bicara apapun di depan Pak RT dan Pak Ustadz. Dia merasa sudah terpojok dan tidak bisa menolak.
Safia baru tahu, kalau ternyata selama ini kedekatannya dengan Rama sudah menjadi sorotan dan perbincangan hangat warga sekitarnya tinggal.
"Terus, rencananya kapan kalian akan melangsungkan pernikahan? saya harap sih, secepatnya ya," ucap Pak Burhan
"Iya. Saya akan mempercepat pernikahan kami," ucap Rama lagi.
"Saya belum bisa Pak RT, memastikan kapan tepatnya tanggal pernikahan kami. Karena saya juga belum bilang ini ke orang tua saya. Saya masih punya keluarga dan orang tua. Saya harus musyawarahkan dulu semua ini dengan keluarga saya," ucap Safia panjang lebar.
"Baiklah, kami akan tunggu Mbak Safia. Karena jika kalian berdua sudah menikah, tidak akan membuat kami semua resah. Karena saya berharap, dilingkungan kami itu bersih dari segala dosa. Apalagi dosa perzinahan," ucap ustadz Zaki.
"Iya Pak RT, Pak Ustadz. Saya janji, mulai sekarang saya akan jaga jarak dengan Safia sampai pernikahan kami dilangsungkan. Saya janji saya tidak akan pulang malam, apalagi menginap di sini."
"Baguslah kalau begitu. Terimakasih atas pengertiannya."
Setelah lama Pak RT dan Pak Ustadz berbincang bersama Safia dan Rama, mereka akhirnya pamit untuk pulang.
Setelah berpamitan pada Safia dan Rama, Pak RT dan Pak Ustadz kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
Safia sejak tadi hanya diam. Dia masih menundukan kepalanya. Safia tampak bingung.
"Safia, kamu kenapa?" tanya Rama.
Safia menatap Rama lekat.
"Mas, apa kamu yakin mau nikahin aku?"
"Yakin banget dong Safia."
"Tapi menurut aku ini terlalu cepat Mas."
__ADS_1
"Kamu nggak dengar tadi Pak ustadz ngomong apa? lebih cepat lebih baik. Untuk menjaga diri kita dari fitnah."
"Tapi istri kamu?"
"Nggak usah mikirin istri aku."
"Bukankah kalau poligami itu harus atas persetujuan istri pertama."
"Ya udah, kita nikah siri aja. Biar nggak ribet. Nikah resminya kan bisa menyusul. Yang penting kita halal dulu. Sama aja kan, yang penting kita nikah. Aku bisa bebas tidur di sini kapan pun aku mau."
"Tapi..."
"Kamu mau bicara apa lagi? soal nafkah? kamu tenang saja. Aku sudah siap menafkahi kamu lahir batin. Bila perlu, aku bisa belikan kamu rumah atau pun mobil sekarang juga."
Safia menghela nafas dalam. Sebenarnya dia nggak mau menikah dan jadi istri ke duanya Rama, walaupun Rama tampaknya sudah memantapkan keinginannya untuk menikahi Safia.
Karena Safia tahu kalau Rama masih punya istri dan anak. Tapi Pak RT dan Pak Ustadz sudah mendesak Safia dan Rama untuk menghalalkan hubungan mereka. Terpaksa akhirnya Safia menerima Rama menjadi suaminya.
"Baiklah Mas. Tapi aku butuh waktu untuk bicara dengan ibu dan bapak, juga Mbak Shakira untuk masalah ini."
"Iya. Itu harus dong. Kan kamu juga butuh bapak kamu untuk menjadi wali nikah kita."
"Iya Mas."
Rama menatap jam tangannya. Waktu saat ini sudah menunjukkan ke angka delapan.
"Duh, ternyata udah jam delapan Safia. Aku pergi ke kantor dulu ya.
"Iya Mas."
"Apa?" tanya Safia.
Rama tersenyum.
"Sebagai istri yang baik, kalau aku mau berangkat ke kantor, dan pulang kantor, kamu harus cium dulu tangan aku," ucap Rama.
"Harus ya? tapi kan aku belum jadi istri."
"Tapi kamu kan calon istri. Jadi kamu harus dong, belajar melayani dan membahagiakan suami kamu. Mulai dari sekarang."
"Baiklah."
Safia kemudian mengulurkan tangannya dan mencium tangan Rama.
Setelah berpamitan pada Safia, Rama pun kemudian pergi meninggalkan rumah Safia.
Sejak tadi Rama masih senyam-senyum sendiri di sela-sela menyetirnya. Dia tampak bahagia karena sekarang Safia sudah mau menerima Rama menjadi suaminya.
__ADS_1
Itu semua karena kedatangan Pak Ustadz dan Pak RT. Mereka sudah mendesak Safia agar dia mau meresmikan hubungannya dengan Rama.
"Akhirnya, Safia mau juga menerima aku. Sebentar lagi, aku akan menikah dengan Safia. Aku nggak sabar deh, pengin cepat-cepat halalin Safia. Agar aku bisa bebas, keluar masuk ke rumah kontrakannya Safia."
****
Sore ini, Safia sudah bersiap-siap untuk ke rumah orang tuanya. Dia juga akan mengajak Anna untuk main ke rumah kakek dan neneknya.
"Bunda, tumben bunda ngajak aku main ke rumah nenek dan kakek. Ada angin apa bunda. Biasanya setiap aku ajak bunda ke sana, bunda selalu nolak, dengan alasan sibuk lah, capek lah."
"Bunda cuma pengin main aja ke sana. Bunda ada sedikit keperluan dengan mereka."
"Keperluan apa?"
"Sudahlah, ini urusan orang dewasa."
"Ih bunda kok gitu. Sebentar lagi aku juga dewasa."
"Sudah, nggak usah banyak tanya dan nggak usah banyak bicara. Sekarang kamu siap-siap. Bunda tunggu di ruang tamu ya."
"Iya bunda."
Setelah Safia rapi, Safia kemudian pergi ke ruang tamu untuk menunggu Anna. Beberapa saat kemudian, Anna keluar dari kamarnya dan menghampiri Safia di ruang tamu.
"Bunda, aku sudah siap."
Safia tersenyum.
"Wah, anak bunda cakep banget pakai baju itu."
"Ini kan baju yang dibeliin ayah kemarin Bun. Nggak apa-apa kan kalau aku pakai?"
"Nggak apa-apa sayang. Ayah kamu itu memang pintar milih baju."
"Hehe.. iya. Ternyata aku punya ayah yang sayang banget sama aku. Aku bahagia banget Bun."
Safia bangkit dari duduknya. Setelah itu dia merangkul Anna dan mengajak Anna keluar dari rumahnya.
Sebelum pergi, Safia mengunci pintu rumah kontrakannya.
"Ayo sayang. Kita tunggu taksi di sana saja."
"Iya Bun."
Safia dan Anna kemudian berjalan ke arah jalan raya untuk menunggu taksi. Beberapa saat kemudian, sebuah taksi berhenti tepat di depan mereka.
"Ayo sayang!" ajak Safia.
__ADS_1
Safia dan Anna kemudian masuk ke dalam taksi. Setelah itu mereka pun meluncur pergi untuk ke rumah Shakira.
***