
Safia memungut tes pack itu dan membawanya keluar dari kamar mandi. Setelah itu dia membuang tes pack itu ke tong sampah yang ada di belakang rumahnya.
Safia melangkah ke ruang tamu. Setelah itu dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Safia masih syok dan masih belum percaya dengan hasil tes pack itu.
"Seandainya aku masih ada di kampung, Ibu bapak dan Mbak Shakira pasti akan menanggung malu dengan aib ini. Semua orang pasti akan tahu dengan kehamilan aku," gumam Safia sembari memegang perutnya yang rata.
"Kalau aku hamil di luar nikah tanpa seorang suami, pasti aku akan jadi bahan gunjingan orang sekampung," ucap Safia.
Hiks...hiks...hiks...
"Kenapa nasib aku jadi seperti ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku tidak mungkin membuat dosa lagi dengan menggugurkan kandungan aku ini, hiks...hiks..." ucap Safia di sela-sela tangisannya.
Di sisi lain, Bu Maryam masih berada di ruang makan bersama Resti anaknya. Setelah selesai makan malam, Bu Maryam menatap makanan yang ada di atas meja.
"Sisa makanannya masih banyak banget begini Resti. Sayang kalau di buang," ucap Bu Maryam.
"Ibu kasihkan saja ke Mbak Safia. Biasanya juga gitu kan."
"Oh iya. Ibu kan dari kemarin belum ke rumah Safia. Ya udah, Ibu ambil rantang dulu ya. Ibu mau kasih makanan ini ke Safia. Dia pasti ada di rumah. Siapa tahu, dia kan belum makan."
"Iya Bu."
Bu Maryam kemudian buru-buru melangkah ke dapur untuk mengambil rantang. Setelah itu dia kembali ke ruang makan dengan membawa rantang itu.
Bu Maryam kemudian mencedokan nasi dan lauk pauk dan memasukannya ke dalam rantang. Setelah itu dia menatap anaknya.
"Ibu pergi dulu ya Res," ucap Bu Maryam.
"Ibu mau ke rumah Mbak Safia? boleh aku ikut?" tanya Resti.
"Boleh," jawab Bu Maryam
Bu Maryam dan Resti kemudian keluar dari rumah untuk ke rumah kontrakan Safia. Karena jarak rumah kontrakan Safia dengan rumah Bu Maryam cukup dekat, jadi Bu Maryam dan Resti hanya cukup jalan kaki saja untuk sampai ke sana.
"Waktu terakhir ibu ke rumah Safia, dia lagi sakit. Dia muntah-muntah dan katanya dia nggak enak makan. Entahlah sekarang. Dia sudah sembuh atau belum sakitnya," ucap Bu Maryam di sela-sela perjalanannya ke rumah kontrakan Safia.
"Emang Mbak Safia sakit apa Bu?" Tanya Resti.
"Ibu juga nggak tahu. Tapi kemarin yang ibu lihat wajah Safia pucat. Sepertinya dia masuk angin atau mungkin dia kelelahan kerja di loundry."
"Kerjaan Mbak Safia di sana cuma nyetrika doang kan Bu. Nggak kerja yang berat-berat."
"Iya. Nyetrika juga pekerjaan berat Resti. Capek dan panas. Beda kalau kerja di kantoran yang ber AC. Cuma pegang komputer aja. Makanya kamu sekolah yang benar, biar sampai kuliah dan bisa kerja di kantor. Jangan kayak ibu yang bisanya cuma jualan nasi aja di pinggir jalan. Karena pendidikan ibu rendah. Jadi ibu nggak bisa kerja di kantor."
__ADS_1
"Iya Bu. Nggak apa-apa menjadi pedagang. Yang penting kan kerjaan itu halal."
"Iya. Tapi ibu kepengin anak-anak ibu itu bisa jadi orang sukses semua."
Setelah menempuh lima menit perjalanan untuk sampai ke rumah kontrakan Safia, akhirnya Resti dan Bu Maryam sampai juga di depan rumah Safia.
Hiks...hiks...hiks...
Bu Maryam dan resti menghentikan langkahnya saat mereka mendengar suara tangisan dari dalam rumah kontrakan Safia.
"Bu, tunggu deh. Seperti ada orang yang nangis di dalam. Apa itu Mbak Safia ya yang nangis."
Bu Maryam mengedikan bahunya.
"Entahlah ibu nggak tahu."
Bu Maryam diam. Dia kemudian mencoba mendengar dengan seksama suara siapa yang sedang menangis itu.
"Iya, itu seperti suara Safia. Tapi kenapa ya dia nangis," ucap Bu Maryam.
"Mungkin dia lagi ada masalah Bu. Atau dia lagi teringat dengan keluarganya di kampung." ucap Resti.
"Mungkin ya Res."
***
Safia menghentikan tangisannya dan mengusap air matanya saat dia mendengar ketukan pintu dari luar rumahnya.
Safia yang sejak tadi masih duduk di ruang tamu, segera bangkit berdiri dan melangkah untuk membuka pintu depan.
Safia terkejut saat melihat kedatangan Bu Maryam dan Resti.
Bu Maryam dan Resti menatap Safia lekat sekaligus mereka bertanya-tanya dalam hati. Apa yang membuat Safia menangis.
"Bu Maryam, Resti," ucap Safia.
"Safia. Kamu kenapa? mata kamu sembab, apa kamu habis nangis?" tanya Bu Resti.
"Oh, nggak kok Bu. Aku nggak apa-apa," ucap Safia sembari mengusap kembali sisa-sisa air matanya.
"Ayo masuk Bu, Res!" Safia mempersilahkan Bu Maryam dan Resti masuk ke dalam rumahnya.
Bu Maryam dan Resti kemudian masuk ke dalam rumah Safia setelah Safia mempersilahkan mereka masuk ke dalam.
__ADS_1
Bu Maryam meletakan rantang di atas meja ruang tamu. Setelah itu dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Begitu juga Resti yang mengikuti ibunya duduk.
Safia akan melangkah masuk ke dalam.
"Safia. Kamu mau ke mana?" tanya Bu Maryam.
"Aku mau buat minum untuk kalian," jawab Safia.
"Tidak usah Safia. Lagian, kita juga mau sebentar kok. Ayo duduk Safia."
"Iya Bu."
Safia kemudian duduk berbaur bersama Bu Maryam dan Resti.
"Ini, ibu bawakan makanan untuk kamu. Siapa tahu kamu belum makan."
"Makanan lagi ya Bu. Makanan kemarin aja masih ada. Aku taruh di kulkas."
"Ya udah. Buang aja makanan kemarin kalau udah nggak di makan. Ini ibu bawakan yang baru."
"Duh, aku jadi nggak enak kalau ibu sering ke sini selalu bawain aku makanan."
"Itu kan makanan dari warung ibu. Akhir-akhir ini, jualan ibu sepi. Sisanya banyak terus. Jadi ibu bawa pulang deh sisanya. Sayang kalau di buang. Makanya ibu sering bawa makanan ke sini untuk kamu."
"Makasih banyak ya Bu."
Resti menatap Safia lekat.
"Katanya Mbak Safia itu sedang sakit? apa Mbak masih sakit?" tanya Resti.
"Oh, Mbak udah mendingan kok Res. Tumben Res kamu malam-malam ikut main ke rumah Mbak."
"Iya Mbak. Di rumah terus aku juga suntuk. Aku pengin ikut ibu main ke sini."
"Oh. Begitu..." Safia tersenyum setelah itu dia diam.
"Safia, kamu lagi ada masalah?" tanya Bu Maryam yang melihat ada yang berbeda dari diri Safia.
Safia tidak seperti biasanya. Biasanya dia banyak bicara dan banyak tersenyum. Dan sekarang dia malah banyak bengong dan sering menampakkan wajah murung.
"Oh, aku nggak apa-apa kok Bu. Aku nggak lagi ada masalah "
"Kalau kamu lagi ada masalah apa-apa jangan sungkan-sungkan ya untuk bilang ke ibu. Anggap saja ibu ini ibu kandung kamu sendiri. Siapa tahu nanti ibu bisa bantu masalah kamu."
__ADS_1
"Iya Bu."
Aku nggak tahu, bagaimana nanti reaksi Bu Maryam kalau dia tahu aku hamil. Bisa-bisa semua orang yang ada di sekitar sini, bisa tahu kalau aku hamil di luar nikah. Bagaimana kalau aku di usir dari sini oleh ibu kontrakan. Aku harus memberi alasan apa jika mereka sampai mempertanyakan siapa ayah dari bayi yang sedang aku kandung saat ini. Jika aku di usir dari sini, aku mau tinggal di mana lagi.