
Pagi ini, Shakira masih berada di dalam rumahnya. Seharusnya dia sudah pergi ke tempat kerjanya. Namun Shakira hari ini mau minta cuti dulu pada majikannya, karena dia mau mengajak ibu dan anaknya ke alamat rumah Safia yang dikasihkan Rama kemarin.
"Aku harus telpon Bu Vika," ucap Shakira.
Shakira mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Setelah itu dia menekan nomer Vika.
"Halo..." Suara Vika sudah terdengar dari balik telpon.
"Halo Bu..."
"Halo Mbak. Ada apa Mbak?"
"Bu Vika, saya hari ini mau minta cuti Bu. Saya ada keperluan sedikit dengan keluarga."
"Oh, kamu mau cuti berapa hari?"
"Cuma hari ini aja kok Bu. Soalnya hari ini saya mau mengantar ibu saya pergi."
"Oh... begitu. Ya udah kalau kamu mau cuti. Nggak apa-apa kok."
"Makasih banyak ya Bu."
"Iya."
Setelah menelpon Vika, Shakira kemudian mendekat ke arah ibunya yang saat ini masih duduk di ruang tengah sembari menyuapi Rio makan.
"Bagaimana Kir? majikan kamu udah ngizinin kamu cuti?" tanya Bu Astri menatap Shakira lekat.
"Iya. Dia sudah mengizinkan aku cuti kok hari ini," jawab Shakira sembari menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Syukurlah. Berarti, kita bisa ke rumah Safia hari ini," ucap Bu Astri lagi.
"Iya Bu."
"Kita mau naik apa ke sananya Kir?" tanya Bu Astri.
"Naik taksi aja Bu. Ibu dan Rio juga kan mau ikut. Jadi kita naik taksi aja. Biar lebih enak."
"Iya."
Setelah menyuapi Rio, Bu Astri bangkit dari duduknya.
"Ibu mau siap-siap dulu Kir."
"Iya Bu. Ibu duluan aja yang siap-siap. Nanti aku dan Rio juga mau siap-siap."
Bu Astri kemudian melangkah ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Beberapa saat kemudian, Bu Astri, Shakira, dan Rio sudah siap untuk pergi.
"Bu, bapak gimana kalau kita tinggal sendiri? dia nggak apa-apa emang?" tanya Shakira.
"Nggak apa-apa. Bapak kamu sudah bisa jalan sendiri kok. Dia sudah mendingan. Kalau kamu kerja, dia juga sering jalan-jalan keluar. Dia sudah bisa apa-apa sendiri." Bu Astri menuturkan.
"Oh... begitu. Ya udah, kita pamit dulu sama bapak."
"Iya."
__ADS_1
Shakira dan Bu Astri melangkah ke kamar di mana Pak Junedi berada.
"Pak, aku mau ke rumahnya Safia sama ibu. Kalau bapak aku tinggal sendiri di sini nggak apa-apa Pak?" tanya Shakira yang tampak khawatir dengan ayahnya.
Pak Junedi menatap Shakira dan Bu Astri bergantian.
"Apa bapak boleh ikut ke rumahnya Safia?" tanya Pak Junedi.
"Pak, bapak tunggu di rumah saja. Nanti kami akan bawa Safia ke sini. Bapak kan masih sakit. Nggak boleh pergi kemana-mana dulu," ucap Bu Astri.
"Ya udah, terserah kalian saja. Yang penting kalian harus bawa Safia dan anaknya ke sini. Bapak sudah sangat merindukan mereka."
Bu Astri tersenyum.
"Emang, cuma bapak yang rindu pada Safia. Ibu juga Pak. Apalagi ibu dengar kalau Safia itu sekarang sudah punya anak."
"Aku juga penasaran dengan cerita Mas Rama. Apa mungkin, selama ini Safia itu sudah menikah dengan seseorang. Tapi dia tidak memberi tahu keluarga," ucap Shakira.
"Entahlah. Ibu juga ngga tahu Kir. Kalau Safia memang sudah menikah dan sudah punya anak. Berarti dia tega banget sama orang tua. Menikah diam-diam tanpa memberi tahu orang tua."
Setelah berpamitan pada Pak Junedi, Safia, Bu Astri dan Rio kemudian melangkah keluar rumah. Mereka kemudian pergi ke jalan raya untuk menunggu taksi di sana. Setelah taksi datang, mereka naik ke dalam taksi dan meluncur pergi untuk ke alamat rumah Safia.
"Pak, kita ke alamat ini ya Pak," ucap Shakira sembari menunjukan sobekan kertas kecil pada sopir taksi.
"Baik Bu."
Rio menatap ibunya lekat.
"Sebenarnya kita mau ke mana Ma?" tanya Rio pada Shakira.
Shakira tersenyum.
Rio mengernyitkan alisnya.
"Tante siapa?" tanya Rio.
"Tantenya Rio. Adiknya mama. Namanya Tante Safia," jawab Shakira.
"Emang Rio punya Tante?"
"Iya. Punya sayang. Udah lama Tantenya Rio itu tinggal di sini."
"Kok Tante Safia nggak pernah pulang kampung? kenapa?"
"Mungkin dia di sini selalu sibuk sayang, makanya dia ngga pernah pulang kampung."
Beberapa saat kemudian, taksi itu berhenti tepat di alamat rumah kontrakan lama Safia.
"Ini benar alamat rumahnya Pak?" tanya Shakira.
"Iya Bu," jawab sopir taksi.
"Ya udah, aku turun dulu ya Pak sebentar. Mau tanya-tanya dulu."
Sebelum turun, Shakira menatap Rio dan ibunya. "Kalian berdua tunggu di sini dulu. Saya mau tanya-tanya dulu."
Shakira kemudian turun sendiri untuk bertanya rumah Safia pada orang yang ada di sekitar.
__ADS_1
"Bu, permisi. Apa ibu kenal dengan wanita ini?" tanya Shakira sembari menunjukan foto Safia pada seorang wanita yang kebetulan lewat di dekatnya.
"Ini Safia kan," ucap Bu Nunung setelah mengenali foto yang Shakira pegang.
"Iya Bu. Betul. Ini Safia, adik saya."
Bu Nunung terkejut saat mendengar ucapan Shakira.
"Apa! kamu kakaknya Safia?" tanya Bu Nunung.
"Iya Bu. Ibu kenal dengan adik saya?"
"Kok, Safia nggak pernah cerita ya, kalau dia punya Kakak perempuan."
"Ibu udah kenal lama ya dengan adik saya?"
"Iya Mbak. Safia udah lama tinggal di sini. Udah sebelas tahun lebih dia ngontrak di sini."
Shakira tersenyum. Dia tampak bahagia saat ternyata ada orang yang mengenal adiknya.
"Oh ya. Terus, di mana Bu rumah kontrakan Safia?" tanya Shakira.
Bu Nunung diam.
"Duh, tapi sayangnya Safia sudah nggak ngontrak di sini lagi. Dia sudah pindah kontrakan kemarin," ucap Bu Nunung.
Shakira terkejut saat mendengar ucapan Bu Nunung. Sudah jauh-jauh dia mendatangi alamat rumah kontrakan Safia, namun ternyata Safianya sudah pindah rumah.
"Ja-jadi... Safia sudah pindah kontrakan? ibu tahu nggak di mana Safia pindah?" tanya Shakira.
Bu Nunung menggeleng.
"Saya tidak tahu ke mana Safia pindah. Safia tidak pamit dulu sama saya."
"Oh... begitu ya. Emang tadinya rumah kontrakan Safia itu di mana?"
"Masuk gang ini Mbak."
"Oh. Jadi dia sudah sebelas tahun tinggal di sini ya?"
"Iya Mbak. Jadi Mbak ini kakak kandungnya Safia dari kampung?"
"Iya. Sebelas tahun yang lalu ada sebuah kejadian yang membuat adik saya pergi dan tidak pernah kembali ke kampung halamannya."
"Iya. Saya sudah tahu kalau itu. Katanya Safia pergi setelah dia cekcok dengan suaminya di kampung. Safia tidak mau kembali ke kampung karena suami Safia itu sudah menjahatinya. Tapi sekarang kan Safia dan suaminya sudah bercerai. Dan katanya di kampung, suami Safia sudah meninggal."
Shakira terkejut saat mendengar ucapan Bu Nunung.
"Apa! ibu tahu dari mana cerita seperti itu?" tanya Shakira yang masih tampak bingung.
"Dari Safia nya sendiri lah. Kasihan Anna ya, tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. Karena ayahnya jahat. Mungkin itu ya, yang membuat Safia trauma untuk menikah lagi dan pulang kampung."
Duh, kenapa aku jadi bingung ya dengan cerita ibu ini. Benar nggak sih yang diceritakan itu, cerita adik aku. Emang adik aku pergi karena masalah itu. Safia aja belum punya suami. Dia pergi kan karena ada masalah dengan Mas Rama. Bukan kabur dari suaminya. Ini ibu bicaranya kok ngelantur.
"Anna? siapa Anna Bu? ibu sudah tahu banyak ya, tentang adik saya?" tanya Shakira yang semakin penasaran.
"Anna itu anaknya Safia. Waktu Safia kabur itu kan dia lagi hamil Anna usia satu bulan. Dan suaminya tidak tahu kalau Safia itu lagi hamil."
__ADS_1