
Beberapa saat kemudian, Bu Maryam masuk ke dalam ruangan Safia. Dia tersenyum saat melihat kedatangan Robi dan Bu Windi.
"Eh, Robi, Bu Windi. Kalian sudah ada di sini," ucap Bu Maryam.
Robi dan Bu Windi menatap ke arah Bu Maryam bersamaan.
"Bu Maryam dari mana aja?" tanya Bu Windi.
"Ini Bu, baru beli sarapan di luar. Sekalian beliin kue untuk Safia," jawab Maryam.
"Oh..." Bu Windi mengerucutkan bibirnya membentuk huruf O.
Bu Maryam kemudian menatap Safia. Sejak tadi Safia masih diam. Tampaknya dia masih sedih dengan ucapan Bu Windi. Dia masih kefikiran dengan pekerjaannya.
"Safia, kamu kenapa?" tanya Bu Maryam mendekat ke arah Safia.
"Tadi aku bilang ke Safia, kalau untuk sementara aku berhentikan dia kerja dulu. Karena dia itu sedang hamil muda. Aku takut kenapa-kenapa dengan kandungannya kalau sampai dia memaksa untuk kerja. Tapi Safia malah sedih," ucap Bu Windi.
"Oh begitu."
Safia menatap Bu Maryam dan Bu Windi bergantian.
"Kalau Bu Windi memberhentikan aku kerja, aku mau dapat uang dari mana untuk makan, mending kalau aku bisa dapat kerjaan baru," ucap Safia. .
Bu Maryam tersenyum.
"Ya udah kalau begitu. Untuk sementara kamu bantu-bantu saya dulu di warung saya Safia. Nanti kalau bayi kamu sudah lahir, kamu boleh cari kerja apa saja," ucap Bu Maryam.
"Iya Safia. Kalau kamu mau kerja sama saya lagi, juga saya akan terima kamu lagi," Bu Windi menimpali.
Safia tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Aku ikut Bu Maryam dulu aja," ucap Safia.
*****
Pak Angga dan Vika saat ini masih berada di dalam perjalanan pulang ke rumahnya setelah semalam mereka menginap di rumah sakit.
Sejak tadi, Pak Angga masih fokus menyetir. Sementara Vika anaknya, masih larut dalam lamunannya.
Duh, kenapa aku masih kefikiran pemuda itu terus ya. Aku merasa bersalah banget udah nabrak dia. Bagaimana kalau dia mati. Duh aku akan jadi pembunuh dong. Tapi aku kan nggak sengaja nabrak dia. Aku hilang kendali waktu itu.
Ring ring ring...
__ADS_1
Ponsel Pak Angga berdering. Pak Angga langsung mengangkat panggilan dari istrinya.
"Halo Ma..."
"Halo... Papa sama Vika ada di mana sekarang? kenapa sudah siang begini kalian belum pulang. Kalian masih ada di rumah sakit?"
"Nggak kok Ma, kami lagi meluncur pulang."
"Oh iya. Bagaimana kondisi lelaki yang ditabrak Vika?"
"Papa lagi nyetir nih Ma, ceritanya nanti saja ya Ma, kalau papa sudah sampai rumah. Sebentar lagi juga papa sampai kok."
"Ya udah. Mama tunggu di rumah ya Pa."
"Iya Ma."
Tut Tut Tut...
Pak Angga memutuskan saluran telponnya.
"Telpon dari mama ya Pa?" tanya Vika.
Pak Angga hanya mengangguk.
Pak Angga memarkirkan mobilnya di garasi. Setelah itu Pak Angga dan Vika turun dari mobilnya. Mereka kemudian melangkah ke teras depan rumahnya.
Sebelum sampai di pintu depan, Bu Tari mama Vika sudah membuka pintu. Dia melangkah menghampiri suami dan anaknya.
"Papa, Vika. Kenapa lama sekali kalian. Terus , ke mana mobil kamu Vik?" tanya Bu Tari menatap sekeliling. Namun tampaknya, Vika pulang tanpa membawa mobilnya.
"Mobil Vika masih ada di kantor polisi Ma. Masih diamankan," jawab Pak Angga.
"Ya ampun... kenapa bisa jadi seperti ini sih. Itu kan mobil baru Vik. Kenapa bisa sampai nabrak orang. Terus, bagaimana kondisi orang itu?" tanya Bu Tari menatap Vika dan suaminya bergantian
Pak Angga merangkul bahu istrinya dan dia mengajak istrinya masuk ke dalam rumah.
"Kita jangan bicara di luar Ma, kita bicara di dalam saja," ucap Pak Angga..
"Iya Pa."
Setelah Mama dan Papa Vika masuk ke dalam rumah, Vika pun mengikuti ke dua orang tuanya itu masuk ke dalam rumah. Mereka bertiga melangkah sampai ke ruang tengah. Setelah itu, mereka pun duduk di ruang tengah.
"Sebenarnya apa yang terjadi sih Vik. Kenapa kamu bisa nabrak orang. Dan kenapa mobil kamu bisa ada di kantor polisi?" tanya Bu Tari menatap Vika lekat.
__ADS_1
"Kata orang yang menyaksikan kejadian itu, Vika naik mobil ngebut Ma. Vika itu kebut-kebutan di jalan sampai dia hilang kendali dan menabrak orang yang sedang nyebrang jalan," ucap Pak Angga menjelaskan kronologi kejadiannya.
Bu Tari menatap Vika lekat.
"Vika. Bagaimana kalau seandainya yang celaka itu kamu Vik. Kamu itu selalu saja seperti ini. Kejadian ini bukan hanya sekali dua kali lho. Tapi sering banget. Dulu aja mobil sampai hancur karena nabrak pohon. Sekarang nabrak orang. Ya ampun Vika. Bagaimana kalau kamu yang celaka Nak, mama nggak bisa membayangkannya," ucap Bu Tari.
Bu Tari tampaknya sangat geram pada anak semata wayangnya itu. Vika itu memang susah sekali di atur. Mungkin karena sudah sejak kecil dia dimanjakan oleh ke dua orang tuanya. Sehingga Vika tumbuh menjadi anak yang sedikit pembangkang.
"Pa, terus bagaimana Pa, orang yang ditabrak Vika itu?" tanya Bu Tari menatap Pak Angga lekat.
Pak Angga menghela nafas dalam.
"Dia masih kritis di rumah sakit Ma. Dan kata dokter, sekarang lelaki itu koma, dan dia masih berada di ruang ICU," jawab Pak Angga.
Bu Tari menatap tajam ke arah Vika. "Vika, bagaimana kalau nyawa lelaki itu tidak bisa diselamatkan Vika? kamu sama saja seperti pembunuh. Sudah menghilangkan nyawa orang."
"Ma, tapi aku kan nggak sengaja Ma. Aku tadi siang lagi ngejar Novan. Dia itu naik mobil jalan sama cewek lain."
Bu Tari dan Pak Angga saling menatap
"Novan?" ucap Pak Angga.
"Iya Pa, Ma. Novan itu pacar baru aku. Sudah satu bulan kita jadian. Dan kemarin aku lihat dia jalan sama cewek lain," jelas Vika.
"Pacar baru lagi? terus pacar yang kemarin mana Vika. Kamu itu udah dewasa. Usia kamu juga sudah 24 tahun. Mana lelaki yang mau kamu ajak seriusan. Perasaan pacar kamu baru terus," ucap Bu Tari..
Vika tersenyum.
"Ma, aku itu belum nemuin lelaki yang cocok untuk aku. Aku akan ajak lelaki itu seriusan kalau aku sudah cocok sama dia," ucap Vika.
"Vika, benar apa kata Mama kamu. Kamu itu udah dewasa. Sudah saatnya kamu memilih lelaki yang mau kamu ajak seriusan. Supaya kamu cepat tunangan dan nikah," ucap Pak Angga.
"Tapi aku belum siap nikah Ma, Pa, aku ingin menikmati masa mudaku dulu. Aku itu belum ada fikiran ke arah sana. Lagian, belum ada lelaki yang mau ngajakin aku untuk seriusan."
"Ya udah kalau gitu, biar mama Carikan kamu jodoh ya Vik."
Vika menatap ibunya tajam..
"Apa! Mama mau jodohin aku? dengan siapa Ma? aku nggak mau. Aku nggak mau mama dan papa harus turun tangan untuk mencarikan aku jodoh. Aku bukan Siti Nurbaya. Aku itu cantik, aku itu kaya, aku bisa mendapatkan lelaki manapun yang aku suka tanpa kalian harus ikut campur.
"Ya udah, kenalin dong lelaki itu ke kita Vik," ucap Bu Tari.
"Aku kan udah bilang. Kalau aku belum siap nikah dan belum ada lelaki yang cocok untuk aku. Mama dan papa tenang aja. Pasti aku akan nikah kok, kalau aku udah siap dan udah ada lelaki yang cocok sama aku."
__ADS_1
Vika bangkit dari duduknya. Dia kemudian melangkah pergi meninggalkan orang tuanya yang ada di ruang tengah.