Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Pergi makan siang


__ADS_3

"Anna sudah makan belum?" tanya Rama di sela-sela menyetirnya.


Sejak tadi Rama masih sesekali menatap ke arah anak cantik yang ada di sisinya duduk.


Anna tersenyum.


"Belum Om," jawab Anna.


"Sama dong kalau gitu. Om juga belum makan An. Sebelum Om antar Anna pulang, gimana kalau kita makan dulu?" ucap Rama mengusulkan.


"Tapi, Anna kan masih pakai seragam Om."


"Oh, nggak apa-apa. Makan siang kan cuma sebentar sayang."


"Tapi, aku belum minta izin dulu sama bunda. Nanti kalau bunda nungguin aku dan nyariin gimana Om. Kasian bunda," ucap Anna.


Rama tersenyum dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Nggak apa-apa An. Om ngajak makan siang kamu kan cuma sebentar. Nggak akan lama kok. Lagian, bunda kamu di rumah kan nggak sendirian. Dia pasti sama ayah kamu. Jadi Anna nggak perlu khawatir. Nanti Om yang


akan jelasin sama orang tau kamu, kalau Anna pergi sama Om."


Anna diam dan menundukan kepalanya. Tiba-tiba Anna jadi sedih saat mendengar perkataan Rama. Rama bingung dengan sikap Anna yang tiba-tiba berubah menjadi murung. Padahal tadi dia masih ceria.


"Lho, kamu kenapa?" tanya Rama.


Anna menatap Rama dengan mata berkaca-kaca.


"Om, bunda aku tinggal cuma sendiri Om. Karena aku nggak punya ayah," ucap Anna menjelaskan.


Rama terkejut saat mendengar penuturan gadis kecil itu.


"Emang kemana ayah kamu?" tanya Rama.


"Ayah aku, aku nggak tahu siapa ayah aku, dan di mana dia tinggal. Tapi kata bunda, ayah dan bunda sudah bercerai. Dan ayah aku sudah meninggal di kampung." Anna melanjutkan ceritanya.


"Kamu dari kampung? kampung mana?" tanya Rama yang masih penasaran dengan cerita gadis kecil itu.


"Kata bunda, kampung aku itu ada di sekitaran semarang. Tapi aku lupa nama kampungnya apa. Kata guru aku, Semarang itu masih ada di pulau Jawa Om."


Rama tersenyum.


"Iya. Semarang itu masih di Jawa Tengah," ucap Rama.


"Jawa Tengah itu di mana Om?" tanya Anna.


"Jawa Tengah itu masih dekat sayang. Kalau kita mau ke Jawa Tengah, pakai mobil pun sampai. Tidak perlu naik pesawat atau kapal laut."


"Oh...gitu ya Om, tapi kenapa kata bunda, kampung kami jauh Om. Padahal pakai mobil aja sampai."


"Emang bunda kamu nggak pernah ngajak kamu pulang kampung?" Rama menatap lekat Anna.

__ADS_1


Anna menggeleng.


"Nggak Om. Aku belum pernah pergi jauh dari Jakarta. Padahal aku pengin banget Om, pulang kampung dan aku pengin melihat makam ayah aku di kampung," ucap Anna yang masih menunjukkan wajah sedihnya.


Rama diam. Entah kenapa, hatinya merasa tersayat mendengar cerita Anna. Rama semakin penasaran saja dengan anak itu.


Orang tua Anna, dari semarang. Sama kayak aku. Aku juga dari Semarang. Apa jangan-jangan, aku kenal lagi, sama keluarganya Anna. Tapi nggak mungkinlah, Semarang itu kan luas.


"Anna, maafkan Om ya. Om nggak ada maksud untuk mengingatkan kamu lagi sama ayah kamu. Om nggak tahu kalau ayah Anna sudah meninggal," ucap Rama yang tampak menyesal telah menyinggung soal ayah Anna.


"Nggak apa-apa Om. Om kan nggak tahu soal keluarga aku."


"Iya. Makanya biar Om tahu, nanti Om kenalin dong sama bunda kamu."


"Iya Om. Kapan-kapan ya."


"Jangan kapan-kapan sekarang aja."


"Iya deh Om. Nanti ya kalau kita sudah pulang."


Rama mengangguk.


Beberapa saat kemudian, mobil Rama sudah sampai di depan sebuah restoran yang cukup besar. Restoran itu tempat favorit keluarga kecil Rama. Rama sering sekali mengajak Vika dan Liza makan di restoran itu. Rama ingin, Anna juga merasakan makanan enak yang ada di restoran itu.


"Om, kok kita berhenti di sini?" tanya Anna.


"Ini restoran tempat favorit Om Anna. Makanan di sini enak-enak. Dan kamu pasti suka."


Rama hanya tersenyum gemes dengan Anna.


"Kamu nggak pernah makan di sini?" tanya Rama.


"Nggak pernah. Bunda nggak pernah ngajak aku ke sini. Kan ini tempat orang-orang kaya."


"Ya udah, sekali-kali Anna makan di sini ya sama Om. Nanti kapan-kapan, Om akan ajakin bunda Anna makan juga di sini. Om nanti yang akan bayarin."


Anna melebarkan senyumnya.


"Om yakin, mau ajakin bunda makan di sini juga?"


"Iya. Insya Allah. Kapan-kapan ya sayang. Sekarang kita turun yuk!"


"Iya Om."


Anna dan Rama kemudian turun dari mobilnya. Mereka kemudian masuk ke dalam restoran itu.


Rama mengajak Anna duduk di salah satu kursi yang ada di restoran itu. Setelah itu, Rama pun memesan makanan untuk makan siang mereka.


****


"Akhirnya, selesai juga," ucap Safia setelah meletakkan satu mangkuk capcay ke atas meja makan.

__ADS_1


Setelah selesai memasak menu makan siang, Safia menyiapkan makanan itu di atas meja. Dia menatap makanan itu lekat. Sesekali dia menatap ke arah jam dinding.


"Sudah jam setengah dua. Tapi anak aku belum nyampe rumah. Kemana ya dia," Safia sudah merasa khawatir dengan anaknya. Karena tidak biasanya anaknya pulang terlambat. Biasanya Anna selalu pulang tepat waktu. Dan jika dia mau main, dia juga selalu izin dulu sama Safia.


"Apa aku susulin aja ya Anna ke sekolahnya. Atau mungkin, ada pelajaran tambahan di sekolah Anna. Sehingga membuat Anna telat pulang," ucap Safia.


Safia bangkit berdiri. Dia kemudian keluar dari rumahnya untuk melihat Anna.


"Kenapa sih Anna belum pulang juga. Ada pelajaran tambahan di sekolah, atau dia mampir main ke rumah temannya. Kalau Anna mau main ke rumah temannya, dia pasti pulang dulu dan izin dulu sama aku. Duh... Anna. Kenapa kamu sering banget membuat Bunda khawatir Nak."


Tatapan Safia tertuju pada seorang anak kecil lelaki yang berada di jalan depan rumahnya.


"Itu kan Aryo teman sekelas Anna. Aryo juga udah pulang. Tapi kenapa Anna belum pulang ya. Aku tanya aja deh sama Aryo."


Safia kemudian buru-buru melangkah mendekat ke arah Aryo.


"Aryo..."


Aryo yang sedang memegang bola menoleh ke arah Safia.


"Ada apa Tante?" tanya Aryo pada Safia.


"Kamu sekelas sama anak saya kan?"


"Iya. Bukannya Tante sudah tahu, kalau saya sekelas dengan Anna. Kenapa tanya lagi?"


"Aryo, Tante mau tanya sama kamu. Kamu lihat Anna nggak?" tanya Safia.


"Lah,Tante gimana? Anna kan sudah pulang dari tadi. Emang Anna nggak ada di rumah?"


Safia menggeleng..


"Anna belum pulang Aryo. Kamu tahu nggak kemana Anna?"


"Aku nggak tahu di mana Anna. Tapi tadi di sekolah aku lihat Anna pulang duluan. Aku fikir, dia udah nyampe rumah."


"Kamu yakin, kalau anak saya sudah pulang."


"Yakin Tan. Anna memang sudah pulang tadi."


"Kamu lihat nggak dia pulang sama siapa?"


"Yang aku lihat, tadi Anna jalan sendirian. Nggak sama teman-temannya kok. Dan sekolah juga sudah sepi Tan."


"Ya udahlah, makasih ya Aryo."


Aryo mengangguk.


"Iya Tan."


Aryo kemudian melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumahnya. Sementara Safia pergi untuk mencari Anna.

__ADS_1


__ADS_2