
"Bun, kenapa diam aja. Bunda udah baikan sama Om Rama kan . Kalau bunda udah baikan sama Om Rama, seharusnya bunda udah bolehin aku dong ketemu sama Om Rama."
Safia bingung mau bicara apa pada anaknya.
"Bunda nggak pernah pelukan sama Om Rama. Kapan bunda pelukan sama Om Rama. Bunda aja nggak kenal sama Om Rama. Kamu aja yang bicaranya ngelantur, dan mungkin kamu juga salah lihat."
"Bunda bohong. Tadi aku lihat sendiri kok kalau Om Rama peluk bunda. Dan bunda diam aja. Itu tandanya kalian udah baikan kan? dan tadi kalian juga ngobrol lama di ruang tamu."
Safia menghela nafas dalam. Safia sudah tidak mau membahas Rama lagi sekarang.
"Kenapa kita jadi bahas Om Rama ya? bunda kan lagi masak. Bunda juga udah lapar pengin makan. Sebentar lagi bunda kan mau berangkat kerja."
"Ya udah kalau gitu. Anna bantuin bunda ya."
"Iya."
*****
Setelah menemui Safia, Rama kemudian meluncur untuk pulang ke rumahnya. Sesampainya di depan rumah, Rama menghentikan mobilnya. Rama kemudian turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Papa..." seru Liza sembari mendekat ke arah ayahnya.
"Papa, aku pengin pergi ke pantai Papa. Lama aku nggak pernah jalan-jalan ke pantai. Papa mau kan antar aku dan mama jalan-jalan ke pantai?" tanya Liza.
"Emang kalian udah siap-siap?"
"Kalau aku udah Papa. Tinggal mama yang masih dandan di kamar."
"Ya udah, kamu tunggu di sini ya. Papa mau ke kamar dulu."
"Iya papa."
Rama kemudian berjalan ke kamarnya untuk menemui Vika.
Vika saat ini masih duduk di depan cermin. Dia masih memoles wajahnya dengan bedak.
"Vika," ucap Rama setelah dia sampai di dekat Vika.
Vika yang sejak tadi masih berdandan memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Rama.
__ADS_1
"Mas Rama. Kamu udah pulang?"
"Kata Liza, Liza ingin kita pergi ke pantai. Kenapa mendadak banget begini sih kalau minta jalan-jalan. Ini itu udah siang. Di pantai itu panas kalau udah jam segini."
"Mas, tapi ini kan keinginan Liza. Sebenarnya Liza juga pengin pergi jalan-jalan sudah dari semalam. Tapi tadi pagi, kamu pergi gitu aja. Sebenarnya ada urusan apa sih kamu di luar?"
"Udahlah, nggak usah kepo sama urusan orang."
"Aku kan tanya baik-baik Mas. Kenapa jawabannya ketus gitu sih. Kamu masih marah ya sama aku."
Rama diam. Sebenarnya dia memang masih kesal dengan Vika, gara-gara ucapan Vika kemarin. Tapi sejak kemarin, Rama tahan kekesalan itu. Karena dia tidak mau berantem
. Sementara Vika, sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang sudah dia ucapkan itu.
Vika tidak pernah tahu, kalau kata-kata yang keluar dari mulutnya kemarin sudah membuat Rama tersinggung. Tanpa Vika sadari, dia sudah merendahkan suaminya sendiri. Dan Rama benar-benar muak saat Vika menyuruhnya untuk angkat kaki dari rumahnya.
Vika bangkit dari duduknya. Setelah itu dia mendekat ke arah Rama. Vika meraih tangan Rama dan menggenggamnya erat. Dia kemudian menatap Rama lekat.
"Aku mau minta maaf ya, soal kejadian di cafe. Aku janji Mas, kejadian itu tidak akan terulang lagi."
"Iya. Aku udah maafin," ucap Rama sembari melepaskan genggaman tangan Vika.
"Mama... papa... cepat dikit dong. " seru Liza dari luar kamar Vika dan Rama.
Vika tersenyum. "Iya Mas."
Rama kemudian keluar dari kamarnya untuk menghampiri Liza.
Shakira masih menatap dari kejauhan Rama dan Liza yang saat ini sedang bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan.
Kelihatannya, Mas Rama bahagia sekali saat ini. Dia beruntung banget bisa mendapatkan Bu Vika. Wanita cantik dan kaya raya. Sementara aku, kapan aku bisa merasakan kebahagiaan seperti Mas Rama . Punya suami kaya raya, yang sayang sama aku dan anak aku.
Beberapa saat kemudian, Vika menghampiri Rama dan Liza.
"Ayo Mas. Kita berangkat," ajak Vika.
"Kamu udah pamit sama mama kalau kita mau pergi?" tanya Rama." Nanti dia nyariin."
"Udah Mas. Mama udah tahu kok kalau kita mau pergi. Kan sekarang ada Mbak Shakira. Mulai sekarang dia yang akan jagain mama di rumah kalau aku pergi."
__ADS_1
"Iya aku tahu."
"Oh iya. Tunggu di sini ya Mas. Aku mau panggil Mbak Shakira dulu."
Vika kemudian melangkah pergi untuk memanggil Shakira.
"Mbak...! Mbak Shakira ..." seru Vika.
Beberapa saat kemudian, Shakira menghampiri Vika.
"Iya Bu. Ada apa?"
"Saya mau pergi dulu ya Mbak. Nanti jangan lupa untuk siapin Bu Tari makan siang. Suapin dia. Soalnya dia belum bisa makan sendiri."
"Iya Bu. Bu Vika tenang saja. Saya sudah tahu apa tugas saya di sini."
"Makasih ya Mbak. Saya pergi dulu Mbak"
"Iya. Hati-hati di jalan ya Bu."
Setelah berpamitan pada Shakira, Vika kemudian berjalan menghampiri suaminya. Sementara Shakira hatinya merasa tidak nyaman. Dia tampak iri melihat kemesraan pasangan Rama dan Vika.
Enak banget Bu Vika hidupnya. Andai saja dulu aku nggak gugat cerai Mas Rama, mungkin aku dan Mas Rama masih bersama dan mungkin sekarang kita sudah punya anak. Mungkin aku dan Mas Rama memang nggak berjodoh. Tapi aku berharap, Mas Rama dan aku masih berjodoh. Semoga saja suatu hari nanti, Mas Rama bercerai dari Bu Vika, dan dia mau kembali lagi sama aku.
Setelah Rama dan Vika pergi, Shakira tersadar dari lamunannya.
Dia kemudian menepuk kepalanya sendiri.
"Ih. Mikir apa aku ini. Nggak mungkin lah Mas Rama cerai sama Bu Vika. Mas Rama sepertinya sayang banget sama Bu Vika dan anaknya. Aku nggak akan pernah gangguin rumah tangga mereka. Aku seneng kok lihat Mas Rama sukses dan bahagia seperti sekarang," ucap Shakira.
Setelah itu Shakira melangkah pergi untuk kembali ke dapur.
Rama, Liza dan Vika sudah sampai di garasi rumahnya. Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu mereka meluncur pergi meninggalkan rumah.
Rama masih fokus dengan menyetirnya. Dia masih menatap ke depan dan masih diam. Dia sama sekali tidak mengajak istrinya bicara sejak tadi. Ternyata dari tadi Rama masih memikirkan Safia.
Kalau Safia nggak membolehkan aku untuk dekat dan ketemu lagi dengan Anna, aku dekatin aja ibunya. Kalau aku dekatin Safia kan, lama-lama Anna akan dekat lagi dengan aku. Nggak apa-apa juga lah kalau aku dekatin wanita lain, dari pada di rumah aku stres menghadapi sikap Vika.
Vika sejak tadi masih sesekali menatap ke arah suaminya.
__ADS_1
"Mas, kamu kenapa sih? kenapa kamu diam aja? kamu nggak ikhlas ya ngajakin kita jalan?"
Rama yang ditanya hanya diam. Dia sepertinya tidak mendengarkan istrinya bicara.