Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Nafkah batin


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Rama membuka pintu kamar mandi. Vika yang sudah berada di bawah selimut, pura-pura saja terlelap. Dia ingin tahu apa yang akan Rama lakukan setelah ini.


Rama sama sekali tidak menatap Vika dan tidak mengucapkan sepatah katapun saat melihat istrinya sudah berada di atas ranjang.


Rama diam seperti biasa dan naik ke atas tempat tidur. Setelah itu Rama menarik selimut dan menutupi semua bagian tubuhnya dengan selimut.


Vika fikir, Rama akan mendekatinya, menciumnya dan memeluknya. Namun kenyataannya tidak seindah apa yang Vika bayangkan. Rama masih dingin sedingin batu es.


Setelah Rama berbaring, Vika mengerjapkan matanya. Dia kemudian menatap Rama yang sejak tadi masih memunggunginya.


Vika memegang bahu Rama .


"Mas, kamu nggak mau lihat aku, kenapa kamu memunggungiku?" tanya Vika.


"Kamu pura-pura tidur tadi? kenapa kamu nggak tidur?" tanya Rama.


Vika beringsut duduk.


"Mas, sudah lama kamu cuekin aku. Kamu nggak mau ngasih nafkah batin ke aku?" tanya Vika yang membuat Rama terkejut.


Rama beringsut duduk dan menghadapkan dirinya ke arah Vika. Ya, semenjak Vika pulang dari Bali, Rama belum pernah lagi menyentuh Vika. Dan Rama sama sekali tidak ingin menyentuh istrinya.


Dia takut, kalau istrinya sudah tersentuh oleh lelaki yang bernama Bram. Dan Rama tidak ingin berhubungan dengan wanita yang sudah tersentuh oleh lelaki lain.


Vika, seandainya kamu tahu apa yang aku rasakan Vik. Aku sakit banget saat tahu kamu menginap di Bali bersama lelaki lain. Aku ingin berprasangka baik sama kamu. Tapi aku nggak bisa Vik. Rasanya hatiku nggak bisa terima kamu berduaan dengan lelaki itu.


"Mas, kenapa kamu diam aja. Katanya kamu ingin punya anak lagi? kamu nggak mau bikin adik untuk Liza. Aku udah siap lho Mas punya anak lagi. Aku nggak akan minum pil pencegah hamil itu lagi. Aku janji Mas."


Vika sudah mulai menggoda Rama. Tangannya sudah mulai merayap di dada bidang Rama. Jari-jarinya dengan lincah, sudah menyusuri setiap inci tubuh Rama. Namun Rama yang sudah mati rasa terhadap istrinya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun.


Di saat-saat berdua bersama istrinya seperti ini, justru Safia yang dia ingat. Vika sudah membuka seluruh kancing baju Rama. Bibir Vika sudah mulai mendekati wajah Rama. Namun buru-buru Rama menyingkirkan tubuh Vika yang sudah mulai menempel ditubuhnya.


"Maaf Vik. Aku capek banget. Aku haus, aku mau ambil minum dulu ya di luar. Aku lupa mau bawa air ke kamar."


Rama akan turun dari ranjangnya. Namun buru-buru Vika mencekal tangannya.


"Mas, biarkan aku aja yang ambilin kamu minum."


Rama menggeleng.


"Nggak usah. Aku bisa kok ambil sendiri. Kalau kamu ngantuk kamu tidur aja Vik. Nggak usah tungguin aku."

__ADS_1


Rama mengancing kembali bajunya. Setelah itu dia buru-buru keluar dari kamar istrinya.


Rama memang sengaja beralasan ingin mengambil minum. Karena dia tidak minat sama sekali untuk berhubungan dengan istrinya.


Tidak mungkin dia menolak dengan kasar keinginan Vika itu. Bisa-bisa Vika marah padanya dan mencurigainya macam-macam.


Bisa saja rahasia Rama dan Safia terbongkar dengan cepat kalau sampai Vika menyelidikinya.


Vika tampak kecewa saat mendapatkan penolakan halus dari suaminya. Dia juga malas untuk menunggu Rama mengambil air minum.


Vika yang sudah ngantuk berat akhirnya terlelap tanpa menunggu Rama datang kembali ke kamarnya.


Rama saat ini sudah berada di ruang tamu yang letaknya di lantai satu. Letak ruang tamu, memang cukup jauh dari kamar-kamar yang ada di rumah Rama.


Rama mengambil ponselnya yang ada di saku bajunya. Dia kemudian membuka chat-chat yang ada di dalam ponselnya.


"Safia kok nggak ngechat aku sih dari kemarin. Kemana sebenarnya ini orang. Apa aku telpon dia aja ya," ucap Rama.


Sebelum menelpon Safia, Rama menatap ke sekeliling. Berharap kalau malam ini sudah aman. Istri dan ibu mertuanya sudah nyenyak di kamar.


Rama juga menatap jam dinding. Waktu saat ini sudah menunjukkan jam sebelas malam.


"Jam segini Safia sudah tidur apa belum ya. Coba aku telpon deh," ucap Rama.


Sudah tiga hari lebih dia tidak mendengar suara manis itu. Rama seakan merindukan suara itu. Rama telponan dengan Safia dengan berbisik. Dia tidak mau anggota keluarganya mendengar suaranya.


"Halo sayang..."


"Halo Mas. Ada apa? kenapa kamu nelpon malam-malam gini?"


"Aku kangen sama kamu, calon istri."


"Apaan sih mas. Kamu lagi di mana sekarang?"


"Lagi di rumah. "


"Nekat banget kamu telpon aku. Bagaimana kalau istri kamu tahu Mas."


"Dia nggak bakalan tahu. dia sudah tidur kok. Kamu belum tidur sayang."


"Mas, jangan panggil aku sayang. Panggil aku Safia. Aku nggak suka kamu panggil aku sayang."

__ADS_1


"Iya Safia. Maaf, aku kan kangen banget sama kamu. Aku pengin main lagi ke rumah kamu. Tapi aku takut sama Pak RT dan Pak Ustadz. Nanti mereka mendatangi kita lagi."


"Iya Mas. Mendingan kamu nggak usah ke sini. Dari pada buat orang-orang curiga."


"Safia, kamu udah bilang sama ibu dan bapak soal hubungan kita?"


"Sudah Mas."


"Terus apa kata mereka? mereka setuju nggak kita nikah?"


"Kalau bapak dan ibu sih setuju-setuju aja. Tapi kalau Mbak Shakira, dia nggak setuju aku nikah sama kamu."


"Kenapa dia nggak setuju?"


"Yah, kamu tahu lah alasannya. Kata Mbak Shakira, kamu itu sudah punya istri. Dan kamu pasti akan lebih sayang sama istri pertama kamu itu. Dan nanti Mbak Shakira takut kamu akan buat aku kecewa dan meninggalkan aku."


"Halah sok tahu kakak kamu itu Safia. Alasan aja dia mah. Kenapa kamu harus minta restu segala sih sama Shakira. Dia itu kan mantan istri aku Safia. Jelas saja dia nggak akan pernah merestui hubungan kita. Aku dan Shakira kan pernah sehati dan pernah saling cinta."


"Tapi Mbak Shakira katanya udah nggak punya rasa sama kamu Mas."


"Tapi aku nggak percaya. Ya udahlah Safia, yang penting bapak dan ibu kamu merestui kita. Terus kapan kita mau nikah?"


"Em, nggak tahu Mas. Nanti aku tanya dulu sama bapak. Biar dia nanti yang menentukan tanggalnya."


"Oke sayang. Anna sudah tahu belum kalau kita mau nikah?"


"Belum Mas."


"Kenapa belum. Kasih tahu dong Saf. Biar dia bahagia."


"Biarin aja lah Mas. Kita nggak usah kasih tahu dia dulu."


"Mau buat surprise ya."


"Yah begitulah Mas."


"Oh ya Safia, setelah kita nikah, kamu mau ya, berhenti kerja."


"Kenapa Mas?"


"Kamu harus fokus ngurus aku dan Anna. Kalau kamu mau kerja, kerja aja di kantor aku. Biar kita bisa dekat terus setiap hari."

__ADS_1


"Ya udahlah, Mas. kalau kamu sudah jadi suami aku, aku akan nurut sama kamu. Karena seorang istri itu harus berbakti sama suaminya. Tapi, aku nggak mau sampai istri kamu tahu tentang pernikahan kita mas. Aku takut dia ngamuk-ngamuk ke aku. Aku tahu bagaimana sikap istri kamu."


"Iya sayang. Aku pastikan istri aku ngga akan tahu. Kalau dia sampai tahu ya kebetulan dong. Aku bisa langsung ceraikan dia. Dan aku akan jadikan kamu istri satu-satunya. Aku punya banyak alasan dan bukti untuk menceraikan istri aku itu"


__ADS_2