Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Bertemu Bram di jalan


__ADS_3

"Jalan Pak," ucap Vika.


"Baik Mbak."


Sopir taksi itu kemudian meluncur pergi meninggalkan cafe itu.


Sejak tadi Vika masih diam. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Sesekali dia menyeka air matanya.


"Kenapa Mbak? lagi galau ya?" tanya sopir taksi memecah kecanggungan di antara mereka.


Vika menghela nafas dalam


"Siapa yang galau. Sok tahu bapak ini."


"Kalau nggak lagi galau, terus kenapa dari tadi nangis?"


"Siapa yang nangis. Orang aku cuma kelilipan kok."


Vika terkejut saat merasakan mobil taksi itu tidak stabil jalannya.


"Pak, pelan-pelan dong jalannya. Gimana sih," gerutu Vika.


Mobil taksi yang ditumpangi Vika tiba-tiba saja berhenti.


"Kok malah berhenti di sini sih Pak?" tanya Vika.


"Duh Mbak. Maaf Mbak. Saya harus periksa dulu kenapa dengan mobilnya. Sepertinya mobil ini mogok."


"Duh, gimana dong Pak. Saya kan harus jemput anak saya di sekolah. Seharusnya kalau mobil sudah rusak dan sudah nggak layak pakai jangan di pakai dong."


"Saya juga nggak tahu Mbak kenapa dengan ini mobil. Emang ini mobil saya. Saya sih, cuma jadi sopir. Narik penumpang untuk ngejar setoran sekaligus cari nafkah."


"Ya udah, sana cepat bapak turun dan cek mobilnya."


Sopir taksi itu pun kemudian turun untuk mengecek mobilnya. Sementara Vika hanya bisa menunggu di dalam mobil.


Beberapa saat kemudian, Vika keluar dari taksi dan menghampiri sopir taksi itu.


"Pak, gimana? udah belum?" tanya Vika.


"Maaf Mbak. Sepertinya Mbak harus cari taksi lain. Ini mobilnya bannya bocor."


"Apa! bocor? kok bisa sih."


"Maaf ya Mbak."


"ya udahlah. Aku nggak mau bayar ongkosnya."


Sopir taksi itu menatap Vika tajam.


"Kok gitu. Tapi kan tadi Mbak udah naik. Ya mbak harus bayar dong."


"Aku memang udah naik. Tapi kan nggak sampai tujuan. Kenapa harus bayar."


"Tapi bagaimana dengan kejar setoran saya dan saya juga butuh uang untuk tambal ban."


"Ya udah, fikir aja sendiri."


Beberapa saat kemudian, sebuah mobil mewah menghampiri taksi itu. Seorang lelaki berkaca mata hitam turun dari dalam mobil itu.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya lelaki itu sembari meletakan kaca mata hitamnya di kepala.


Vika terkejut saat melihat kedatangan Bram.


"Oh, ini Pak. Ban saya bocor. Tapi wanita ini enak banget tidak mau bayar."


Bram menatap Vika lekat dan tersenyum. Dia kemudian mengambil dompetnya dari dalam saku celananya.


"Berapa uang yang bapak butuhkan?" tanya Bram sembari membuka dompetnya


Sopir itu tertegun sejenak saat melihat isi dompet Bram.


Ih, ternyata dia orang kaya. Tebal banget uangnya, batin sopir itu.


Bram kemudian mengambil lima lembar uang ratusan dan dia sodorkan ke depan sopir taksi itu.


"Kebanyakan ini Pak."


"Nggak apa-apa. Ambil aja untuk bapak."


"Alhamdulillah, makasih banyak ya Pak. Semoga bapak di lancarkan rezekinya."


"Amin."


Bram kemudian mendekati Vika yang saat ini masih berdiri di sisi sopir taksi.


Vika terkejut saat tiba-tiba saja, Bram merangkul pinggangnya.


"Ayo sayang, ikut mobil aku aja. Kamu mau kemana, biar aku antar kamu."


Vika yang merasa risih dengan perlakuan Bram, segera menghempaskan tangan Bram dari pinggangnya.


Ih, kenapa sih aku harus ketemu Bram di sini. Risih banget tahu nggak. Aku tahu, dia itu pasti lagi caper sama aku. Dia ngasih uang ke sopir taksi ini, aku yakin karena dia mau caper sama aku.


"Ya udah, aku antar kamu ya."


Vika diam. Dia tampak ragu untuk menerima tumpangan dari Bram. Namun tidak ada pilihan lain untuk Vika. Akhirnya, Vika pun menurut juga dengan Bram untuk ikut mobilnya.


Tanpa butuh waktu lama, Bram langsung membukakan pintu mobil untuk Vika.


"Silahkan sayang."


Vika menatap tajam ke arah Bram. Sepertinya dia marah saat Bram memanggilnya sayang.


"Jangan panggil aku sayang Bram. Karena sekarang kita bukan siapa-siapa."


"Oke, Vika. Silahkan masuk Vik."


Vika kemudian masuk ke dalam mobil Bram. Setelah Vika masuk, Bram pun ikut masuk ke dalam mobilnya. Mereka berdua duduk di depan.


Setelah itu, Bram pun melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


"Kita mau ke mana Vik?" tanya Bram di sela-sela menyetirnya.


"Aku mau ke sekolah anak aku Bram. Aku mau jemput dia."


"Oke."


Vika dan Bram sejak tadi hanya saling diam. Sepertinya Vika tidak suka dengan pertemuannya dengan Bram kali ini.

__ADS_1


Vika takut, Rama akan memergokinya jalan bareng dengan Bram. Vika tidak mau hubungan rumah tangganya dengan Rama semakin runyam.


"Kamu kenapa Vik? kenapa dari tadi diam aja? sakit gigi ya? atau sariawan?"


"Aku nggak apa-apa."


"Kamu punya masalah sama suami kamu? kamu cerita aja ke aku. Aku akan dengan senang hati menjadi pendengar yang baik untuk kamu."


Vika tidak mungkin cerita masalahnya dengan Bram. Walau bagaimanapun juga, Bram itu orang asing. Dan dia juga masih terobsesi dengan Vika.


Jika Vika cerita semua masalahnya dengan Bram, pasti Bram akan mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Hubungan aku dan suami aku baik-baik aja kok. Kami nggak punya masalah apa-apa."


"Terus apa yang lagi kamu fikirin? aku udah kenal lama sama kamu Vika. Kamu nggak akan bisa menyembunyikan beban masalah kamu dari aku. Karena aku sudah bisa membaca fikiran kamu."


"Sudahlah Bram. Kamu nggak perlu ikut campur dengan urusan pribadi aku. Karena aku nggak suka ada orang lain yang ikut campur dengan masalah aku."


"Okelah. Aku akan diam dan nggak akan bicara apa-apa lagi. Yang harus kamu tahu, kalau aku itu masih sayang sama kamu. Aku nggak mau melihat kamu sedih," ucap Bram sembari mengelus rambut Vika dengan sayang.


Beberapa saat kemudian, mobil Bram sudah sampai di depan gerbang sekolah Liza.


Vika buru-buru turun dari mobil Bram. Dia kemudian berjalan dan masuk ke dalam sekolah Liza. Bram tidak tinggal diam, dia mengikuti Vika turun dan menunggu Vika di depan gerbang sekolah Liza.


Beberapa saat kemudian, Vika keluar dari gerbang sekolah itu sembari menggandeng Liza.


Bram tersenyum dan langsung mendekati mereka.


"Bram. Kamu masih ada di sini?" tanya Vika.


"Iya. Kenapa? aku mau antar kalian pulang."


Vika dan Liza saling menatap.


"Mama, siapa dia?" tanya Liza.


"Dia temannya Mama sayang."


Bram tersenyum. Dia kemudian mengulurkan tangannya di depan Liza.


"Hai anak cantik, siapa nama kamu?" tanya Bram.


"Namaku, Liza Om," jawab Liza sembari menyambut uluran tangan Bram.


"Oh Liza... nama yang bagus."


"Kalau nama Om siapa?" tanya Liza.


"Panggil aja saya Om Bram."


"Seneng bisa kenalan dengan Om Bram "


"Om Bram juga seneng bisa kenalan dengan Liza."


Vika sejak tadi diam. Dia tampak tidak suka Bram mendekati anaknya.


"Bram. Lebih baik, kamu pulang aja. Bukannya seharusnya kamu itu ada di kantor?"


Bram menghela nafas dalam.

__ADS_1


"Tadi pagi aku udah ke kantor. Dan aku capek, makanya aku memutuskan untuk pulang."


"Kalau capek kenapa nggak pulang aja. Kenapa kamu masih di sini," ucap Vika ketus


__ADS_2