
"Cukup! hentikan Vika. Jangan sekali-kali kamu sakiti istriku," ucap Rama menatap Vika tajam.
Vika kembali terkejut saat mendengar ucapan Rama.
"Apa! istri? jadi..." ucap Vika menggantungkan ucapannya. Dia tidak menyangka dengan apa yang suaminya ucapkan.
"Ya, aku udah menikah dengan Safia. Sekarang dia istriku. Dan jangan pernah kamu bilang kalau kami berzina. Karena kami sudah menjadi suami istri," ucap Rama menjelaskan.
"Nggak mungkin. Ini nggak mungkin Mas. Aku nggak percaya sama kamu." Vika masih tidak percaya dengan ucapan Rama.
"Nggak percaya? Apa kamu perlu bukti kalau aku sudah menikah dengan Safia?"
"Nggak. Aku nggak perlu bukti apapun dari kamu Mas...!"
Air mata Vika luruh seketika itu juga di depan Rama dan Safia. Hatinya begitu sakit saat mendengar pengakuan suaminya kalau suaminya itu telah menikahi Safia.
Vika memukul-mukul dada bidang Rama beberapa kali.
"Jahat kamu Mas! jahat...! kamu sudah menyakiti aku Mas. Aku benci sama kamu. Hiks...hiks ..hiks.." ucap Vika menatap Rama dengan berderaian air mata.
"Sebenarnya aku nggak akan melakukan ini, kalau kamu setia sama aku Vika," ucap Rama.
"Maksud kamu apa Mas?" tanya Vika sembari mengusap air matanya.
"Aku tahu, kalau selama ini kamu selingkuh dengan Bram di belakang aku. Dan kamu nginap di Bali dengan Bram untuk beberapa waktu yang lama. Apa kamu fikir, hati aku nggak sakit waktu aku tahu kamu menginap dengan seorang lelaki di penginapan yang ada di Bali?"
"Tapi itu dulu Mas. Sekarang aku udah nggak lagi."
"Tapi sama aja. Kamu sudah mengkhianati aku. Dan aku paling benci dengan wanita yang pengkhianat. Tidak ada kata maaf untuk seorang pengkhianat seperti kamu Vika."
"Hiks...hiks... jahat kamu Mas. Ini balasan kamu, untuk kebaikan ayah aku selama ini Mas. Kamu sudah janji di depan ayahku, kalau kamu akan selalu menjaga aku dan mencintai aku selamanya. Tapi kenapa kamu melakukan ini Mas. Aku nggak terima Mas dengan semua ini."
"Terus kamu mau apa?" Rama melotot ke arah Vika.
"Aku mau kamu ceraikan dia Mas!" Vika sudah mengarahkan telunjuknya ke wajah Safia.
"Nggak. Aku nggak akan pernah menceraikan Safia," ucap Rama.
"Tapi Mas. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki rumah tangga kita. Ceraikan dia Mas. Aku mohon...!" Vika masih meminta agar Rama mau menceraikan Safia.
"Nggak. Aku nggak akan pernah menceraikan Safia."
__ADS_1
"Mas, aku mohon. Maafkan aku. Kita buka lembaran baru lagi Mas. Aku ingin kita bisa seperti dulu lagi Mas. Mas, ayo kita pulang. Tinggalkan wanita ini. Kamu nggak kasihan sama Liza Mas. Liza darah daging kamu. Dia sangat membutuhkan kamu."
Sejak tadi Vika masih membujuk Rama agar Rama mau pulang bersamanya dan meninggalkan Safia.
Namun Rama lelaki itu masih tetap bersikeras dengan pendiriannya. Dia tidak ingin meninggalkan Safia dan Anna sedikitpun.
Jika harus memilih, Rama pasti akan memilih Safia. Jika harus ada salah satu istri yang pergi dari kehidupan Rama, Rama akan membiarkan Vika yang pergi.
"Aku akan tetap di sini. Aku akan mempertahankan Safia. Jika ada salah satu yang harus pergi, maka kamu yang lebih pantas untuk pergi Vika. Kecuali kalau kamu mau bertahan hidup di madu," ucap Rama.
"Kamu jahat Mas. Kamu jahat...! kamu fikir aku mau Mas, hidup di madu."
"Ya udah, kalau kamu nggak mau di madu. Pergi aja kamu dari kehidupan aku."
*
"Mama kenapa lama sekali di dalam. Mama lagi ngapain sih," ucap Liza yang sejak tadi masih menunggu ibunya di dalam mobil.
Liza turun dari mobilnya. Setelah itu dia berjalan untuk menyusul ibunya di dalam rumah itu.
Liza berlari sampai ke teras depan rumah itu.
Iren terkejut saat melihat Liza. Dia kemudian mengejar Liza dan mengajak Liza untuk kembali ke mobil. Iren tidak mau Liza melihat pertengkaran orang tuanya di dalam.
"Eee mendingan kamu tunggu di sini aja deh. Sebentar lagi, mama kamu juga pasti akan keluar."
"Tapi aku mau menyusul mama Tante. Kenapa mama lama sekali. Dan untuk apa Tante menghalangi aku."
"Kamu lupa ya sama Tante? kita kan pernah ketemu di cafenya Bu Ovi."
Liza mencoba untuk mengingat.
"Tante ini pelayan yang ada di cafenya Tante Ovi ya?"
"Iya. Benar. Kamu masih ingat?"
"Iya. Aku udah ingat."
Beberapa saat kemudian, Vika keluar berlarian menuju ke mobilnya. Liza terkejut saat melihat ibunya menangis.
"Mama kenapa? mama kok nangis?" tanya Liza.
__ADS_1
Vika mengusap air matanya.
"Liza, masuk ke mobil. Kita pulang sekarang," ucap Vika.
"Tapi Papa."
"Nggak usah peduliin Papa kamu lagi. Dia udah jahat sama Mama."
Liza sama sekali tidak tahu apa yang sudah membuat ibunya menangis. Namun anak kecil itu, menurut saja untuk masuk ke dalam mobil.
Setelah Liza masuk, Vika pun kemudian masuk ke dalam mobil, Dia pun meluncur pergi meninggalkan rumah Safia.
Iren menatap mobil Vika sampai mobil itu menghilang dari pandangannya.
"Untunglah Safia nggak di apa-apain sama nenek lampir itu," ucap Iren yang sudah tahu sikap Vika.
Iren kemudian mendekat ke arah di mana motornya terparkir. Setelah itu Iren pun meluncur pergi dengan motornya untuk ke cafe.
Di dalam, Safia masih menangis. Akhirnya dugaan Safia selama ini menjadi kenyataan.
"Mas, maafkan aku Mas. Sebenarnya aku nggak mau menjadi orang ke tiga di dalam hubungan rumah tangga kamu dengan Mbak Vika. Aku benar-benar merasa bersalah Mas, sama kamu."
Rama mendekati Safia istrinya. Dia kemudian memeluk erat Safia.
"Sayang, jangan khawatir ya. Apapun yang terjadi aku akan tetap pilih kamu, menjadi istri aku. Biarkanlah wanita itu mau berbuat apa. Terserah dia. Aku juga sudah tidak menginginkan dia lagi. Dia sudah selingkuh sama lelaki lain di belakang aku, dan ini adalah balasan untuknya karena dia berani macam-macam sama aku."
****
Vika sudah mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia sudah tidak mau memperdulikan kiri kanan jalan. Dia tidak memikirkan bagaimana Liza ketakutan saat dia membawa mobil dengan kecepatan penuh.
Liza memegangi tangan ibunya dengan erat.
"Mama hati-hati Ma. Jangan ngebut-ngebut, aku takut. Hiks...hiks..."
"Mama minggir Ma, itu ada mobil Ma. Mama jangan ngebut-ngebut Ma. Aku takut Ma. Aku nggak mau mati dulu Ma. Hiks ..hiks...hiks."
Chiiiiiitttt...
Vika ngerem mendadak saat mendengar teriakan Liza. Liza memejamkan matanya dan memeluk tubuh Vika dengan erat.
Vika menghela nafas dalam dan mencoba untuk mengendalikan emosinya. Dia kemudian menatap anaknya yang masih memeluk tubuhnya dengan erat.
__ADS_1
"Hiks...hiks... mama aku takut..."