
Rama sudah duduk di sisi ranjang. Samar-samar dia mendengar suara obrolan seseorang di luar kamarnya.
"Kok itu seperti suara Safia dan Anna. Apa jangan-jangan aku sekarang ada di rumah mereka," gumam Rama.
Rama bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah keluar dari kamarnya. Dia menuju ke arah suara itu. Dia tersenyum saat melihat Safia dan Anna di ruang makan.
"Makan sendiri aja. Kenapa nggak ajak aku?" suara Rama membuat Safia dan Anna menghentikan aktifitasnya. Mereka menatap Rama bersamaan.
"Mas Rama," ucap Safia. Dia bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Rama.
"Kamu sudah bangun Mas?"
"Iya."
"Ayo duduk Mas, kalau kamu mau ikut makan." ajak Safia.
"Makasih Safia."
Rama kemudian duduk berbaur di meja makan bersama Anna dan Safia.
Setelah duduk, Rama menatap Anna.
"An, kamu udah mau berangkat sekolah?" tanya Rama.
"Iya Om."
"Udah jam berapa ini An?"
"Udah jam setengah tujuh Om"
"Udah siang ya ternyata."
"Kamu mau makan Mas? kalau mau makan, nanti aku ambilin."
"Nggak usah Safia. Kepala aku lagi pusing banget. Aku lagi nggak pengin apa-apa."
Setelah menghabiskan makanannya, Anna bangkit dari duduknya.
"Bun, aku berangkat sekolah dulu ya." pamit Anna pada Safia.
"Iya sayang."
Anna mendekat ke arah Rama.
"Om, aku berangkat dulu ya.."
"Iya. Hati-hati ya An."
Sebelum pergi, Anna mencium tangan Rama. Dia juga mencium tangan ibunya. Setelah itu Anna keluar dari rumahnya. Dia mengambil sepedanya dan meluncur pergi meninggalkan rumah.
Safia saat ini, masih duduk bersama Rama di ruang makan. Di sela-sela kunyahannya, Safia mantap Rama.
"Mas, kamu nggak lapar?" tanya Safia.
__ADS_1
"Sebenarnya aku pengin yang hangat-hangat Saf."
"Yang hangat-hangat? kamu mau aku buatin minuman hangat?"
"Boleh deh."
"Kamu mau minum apa Mas? kopi atau teh."
"Kalau ada sih aku pengin susu hangat Saf."
"Iya aku buatin ya."
Safia kemudian melangkah ke dapur untuk membuatkan Rama susu hangat. Sesaat kemudian Safia menghampiri Rama dan meletakan secangkir susu hangat di atas meja makan.
"Tadi juga Anna sudah minum susu."
"Makasih ya Saf."
Rama mengambil cangkir itu dan menegak sampai setengah cangkir susu hangat itu.
"Manis banget, seperti yang bikin." lirih Rama.
Safia yang mendengar gumaman Rama lantas melirik ke arah Rama.
"Kamu bicara apa Mas?"
"Nggak. Nggak bicara apa-apa kok," ucap Rama sembari meletakan kembali cangkir itu di atas meja.
"Mas, sebenarnya kamu itu kenapa sih? kenapa kamu mabuk dan bisa sampai sini?"
"Semalam fikiran aku kacau banget Safia. Aku sama sekali tidak konsen menyetir. Pulang kerja, aku langsung nongkrong di bar. Aku minum beberapa botol minuman keras."
"Terus, kenapa kamu bisa sampai di rumah aku?"
"Semalam aku ketemu sama wanita-wanita malam di sana. Mereka menawarkan diri mereka padaku. Tapi aku menolaknya. Dan aku lari dari kerumunan wanita -wanita itu. Aku tinggalkan saja mobil aku di sana. Nggak tahu kenapa, aku bisa sampai di sini. Dan setelah aku sampai di sini, aku lupa semuanya."
"Kenapa kamu mabuk Mas? bukankah kamu sudah berubah nggak jadi tukang mabuk lagi?"
"Fikiran aku lagi kacau banget Safia."
"Kacau kenapa? kalau kamu mau cerita semua masalah kamu, aku mau Mas, jadi pendengar yang baik untuk kamu? kamu punya masalah di kantor? "
Rama menggeleng.
"Istri aku Safia."
"Kenapa dengan istri kamu?"
"Dia udah selingkuh di belakang aku. Dia sudah khianati cinta aku."
Safia terkejut saat mendengar ucapan Rama.
"Kamu yakin Mas?"
__ADS_1
"Aku yakin banget Safia. Dia sering pergi ninggalin rumah dan anaknya. Bahkan, terkadang sampai seharian dia nggak pulang."
"Terus, dari mana kamu tahu kalau istri kamu selingkuh?"
"Sudah dua hari Vika nginap di Bali bersama seorang lelaki. Kemarin pagi, teman aku bilang dia sudah memergoki istriku lagi di pantai sama lelaki. Dia juga sudah berhasil mengambil foto-foto istriku bersama lelaki itu.
"Apa yang seorang wanita dan laki-laki lakukan jika mereka sampai menginap dan liburan berdua di Bali. Aku benar-benar nggak sanggup Safia dan nggak bisa membayangkan dengan apa yang istriku lakukan bersama lelaki itu," ucap Rama menjelaskan panjang lebar.
Safia menghela nafas dalam. Dia merasa iba dengan cerita Rama. Safia tahu, kalau Rama itu sebenarnya lelaki yang setia. Sejak sama Shakira dulu, dia juga tidak pernah macam-macam apalagi sampai bermain wanita. Rama memang suka mabuk, namun dia tidak suka bermain wanita.
Safia mengusap-usap bahu Rama, mencoba untuk menenangkan kegundahan hati Rama.
"Sabar ya Mas. Mungkin istri kamu itu lagi khilaf. Kamu doain saja agar istri kamu bisa kembali ke jalan yang benar. Coba nanti kamu pelan-pelan nasihati dia. Agar dia mau berubah."
"Cobaan rumah tangga orang itu berbeda-beda Mas, mungkin semua ini cobaan buat kamu. Kamu harus sabar Mas," lanjut Safia.
Rama meraih tangan Safia dan menggenggamnya erat.
"Makasih ya Safia kamu sudah mau menghibur aku. Aku tahu, kamu itu memang wanita yang baik. Kamu wanita yang mandiri dan pekerja keras. Kamu bisa hidup tanpa seorang lelaki. Andai ada lelaki yang bisa mendapatkan kamu, lelaki itu akan menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini."
Safia tersenyum. Dia terkejut saat melihat leher Rama penuh noda merah. Lipstik siapa lagi kalau bukan lipstik Safia
Duh, kenapa leher Mas Rama merah- merah gitu. Malu banget aku kalau sampai Mas Rama tahu, lipstik aku nempel di lehernya. Jangan-jangan, di kemejanya juga ada lagi.
Rama bingung saat melihat sikap Safia tampak aneh.
"Ada apa Safia? kenapa kamu ngelihatin aku seperti itu?"
"Em, itu Mas. Em... itu..."
Rama mengernyitkan alisnya .
"Itu apa?"
Safia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tampak salah tingkah.
"Maafin aku Mas, semalam waktu kamu mabuk, kamu peluk aku. Dan aku nggak sengaja cium leher kamu. Jadi, itu ada merah-merah bekas lipstik aku," Safia menunjuk noda merah di leher Rama.
Rama tersenyum sembari mengusap lehernya.
"Aku bersihin ya Mas."
"Nggak usah Safia. Aku juga kan mau mandi. Nanti aku bersihin sendiri aja."
"Maaf ya Mas."
"Nggak apa-apa Safia. Kan kita nggak sengaja pelukan."
"Baju kamu kotor semua Mas. Nanti aku cuci dulu baju kamu."
"Iya. Makasih ya Safia. Andai Vika bisa bersikap manis seperti kamu. Pasti aku akan seneng banget. Di masakin tiap hari, dicuciin bajunya, dibuatin minuman hangat tiap pagi. Nggak ada sesuatu yang membahagiakan di dunia ini, kecuali istri yang saleha."
"Semoga istri kamu bisa berubah menjadi istri seperti apa yang kamu inginkan Mas."
__ADS_1
"Andai aku boleh memilih, aku lebih pilih hidup sederhana bersama istri yang penurut dari pada aku punya banyak harta namun punya istri pembangkang seperti Vika."
"Namanya jodoh Mas, nggak ada yang tahu."