Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Curhat


__ADS_3

"Selamat pagi Bu Ovi," ucap Iren dan Safia bersamaan.


Ovi menatap Safia lekat.


"Safia, kamu baru kelihatan dari kemarin? dari mana aja kamu Saf?" tanya Ovi.


"Saya ke sini cuma mau memberikan surat pengunduran diri saya Bu Ovi," ucap Safia sembari menyodorkan berkas surat pengunduran dirinya pada Ovi bosnya.


Ovi menerima map coklat itu dari tangan Safia.


"Mengundurkan diri? kamu mau resign? kenapa? apa kamu sudah mendapatkan pekerjaan baru? sayang banget ya, kalau saya harus kehilangan karyawan serajin kamu."


"Sebenarnya saya juga berat untuk meninggalkan pekerjaan saya. Tapi saya cuma ingin fokus aja ngurus anak saya di rumah."


"Oh. Terus, setelah ini kamu mau ke mana?" tanya Ovi.


"Nggak kemana-mana. Aku cuma mau nyoba usaha di rumah aja. Seperti jualan atau apa gitu Bu."


Ovi manggut-manggut."Oh, begitu."


Vika menatap Ovi.


"Vi, kamu urusin dulu karyawan kamu. Aku mau ke sana dulu ya."


"Iya Vik. Silahkan pilih tempat duduk yang kamu mau."


"Iya."


Vika kemudian pergi meninggalkan Ovi.


"Bu, saya juga mau kerja Bu," ucap Iren.


"Oh iya. Silahkan Ren."


Iren kemudian melanjutkan untuk bekerja. Setelah Vika dan Iren pergi meninggalkan Ovi dan Safia, Ovi pun kemudian mengajak Safia untuk duduk.


"Safia, saya bingung kalau kamu berhenti kerja. Soalnya saya sudah percaya sama kamu. Jarang sekali karyawan seperti kamu. Jaman sekarang susah nyari karyawan yang jujur," ucap Ovi yang merasa sedih dengan pengunduran dirinya Safia.


"Bu Ovi, sebenarnya kalau Bu Ovi butuh orang untuk gantiin saya, saya punya kakak perempuan yang masih nganggur. kalau Bu Ovi mau, Bu Ovi bisa pakai tenaga kakak saya untuk menggantikan saya di sini."


"Oh ya? tapi kinerjanya bagaimana?"


"Dia malah lebih pengalaman dari saya Bu. Dia juga pernah kerja di garmen, atau sejenisnya. Cuma kalau jadi pelayan cafe, sepertinya dia belum pernah," jelas Safia


Ovi manggut-manggut mendengar penjelasan Safia.

__ADS_1


"Baiklah kalau memang kakak kamu lagi butuh kerjaan, dan dia mau kerja di cafe, silahkan saja besok suruh kakak kamu datang ke sini."


Safia melebarkan senyumnya.


"Oh ya. Bu Ovi mau menerima kakak saya?" tanya Safia.


"Kalau kakak kamu rajin kerjanya, dan kinerjanya bagus, ya saya akan dengan senang hati menerimanya."


"Baik Bu Ovi. Saya besok akan suruh kakak saya menemui Bu Ovi di sini."


"Iya Safia."


****


Ovi dan Vika saat ini masih duduk sembari menyantap makanannya. Vika sengaja janjian dengan Ovi untuk bertemu di cafe Ovi pagi ini.


Sudah banyak hal yang ingin Vika ceritakan ke sahabatnya itu tentang semua masalahnya.


"Vik, kamu kenapa diam aja? katanya kamu mau curhat sama aku? mau curhat apa?" tanya Ovi sembari mengunyah makanannya.


"Aku lagi galau banget akhir-akhir ini."


Ovi mengerutkan keningnya.


"Galau kenapa?"


Ovi tampak berfikir.


"Kenapa dengan suami kamu?"


"Aku juga nggak tahu. Sepulang aku dari Bali, dia mendadak berubah jadi aneh. Dia jadi dingin banget sama aku. Aku takutnya, dia punya wanita lain di luar sana. Dia pun sekarang nggak pernah menyentuh aku Vi."


Ovi melongo saat mendengar curhatan Vika.


"Yang benar?" Ovi sudah menampakkan wajah seriusnya.


Vika mengangguk.


"Dan aku nggak tahu suami aku ada di mana sekarang."


"Kamu udah cari ke kantornya?"


"Udah kemarin. Dan nggak ada satu pun dari karyawannya Mas Rama yang tahu kemana Mas Rama pergi. Begitu juga sekretarisnya. Apa mungkin ya, Mas Rama itu punya perempuan lain."


"Nggak tahu kalau itu. Tapi kalau menurut aku, suami kamu itu tipe cowok yang setia dan romantis deh. Kayaknya nggak mungkin dia selingkuh. Dan rumah tangga kamu kan sudah lumayan lama sama dia. Kamu dan Rama selama ini baik-baik aja kan. Nggak pernah ada masalah, apalagi masalah orang ke tiga, seperti pelakor gitu."

__ADS_1


Vika menggeleng.


"Iya. Mas Rama itu suami yang sangat baik. Dia bisa membahagiakan aku dan Liza. Tapi sekarang dia berubah. Aku seperti udah nggak kenal dengan Mas Rama yang sekarang. Dia beda banget dari suamiku yang selama ini aku kenal."


"Kamu jangan su'udzon dulu begitu. Barang kali suami kamu lagi punya masalah lain. Kamu harus selidiki dulu. Masalah apa yang sedang menimpa suami kamu. Barang kali dia punya masalah besar, tapi dia menyembunyikannya dari kamu. Bisa jadi, dia nggak ingin membuat kamu sedih "


Vika menghela nafas dalam.


"Bagaimana cara menyelidikinya. Mas Rama aja nggak pernah pulang ke rumah."


"Kamu udah telpon dia?"


"Udah berkali-kali. Chat juga udah ratusan kali. Tapi dia nggak mau balas dan nggak mau angkat telpon dari aku. Bahkan kalau malam, hapenya itu dia non aktifkan."


"Duh, kenapa ya dengan suami kamu. Susah juga ya kita menyelidiki Rama. Menurut aku, suami kamu itu misterius banget. Pendiam dan nggak terbuka juga. Jadi susah untuk menebaknya."


"Iya suami aku itu memang susah untuk ditebak. Makanya aku juga lagi bingung banget sekarang. Apa yang harus aku lakukan dong Vi. Nggak mungkin kan hubungan aku akan seperti ini terus dengan Mas Rama. Aku ingin hubungan rumah tangga kami itu sepeti dulu lagi "


"Sabar ya. Kamu harus pelan-pelan selidiki apa yang sudah membuat suami kamu berubah."


"Iya."


Setelah lama Vika dan Ovi ngobrol, Vika akhirnya pamit untuk pulang.


"Vi. Aku pulang dulu ya. Aku mau jemput anak aku ke sekolah," ucap Vika.


Ovi menatap jam tangannya.


"Masih jam segini."


"Iya nggak apa-apa. Udah biasa kok aku jemput Liza jam segini. Malah kalau telat Lizanya suka ngambek sama aku."


"Ya udah, tapi kamu mau pulang naik apa? apa mau aku antar kamu pulang?" tanya Ovi.


"Nggak usah. Kamu juga cafenya lagi ramai banget begini. Aku pulang naik taksi aja deh."


"Ya udah kalau begitu."


"Makasih banyak ya Vi, untuk makan gratisnya." Vika tersenyum menatap Ovi.


"Sekali-kali Vik, ajak anak dan suami kamu makan di sini. Lama sekali kamu nggak ke sini."


"Aku juga penginnya gitu. Makan malam atau makan siang di luar. Tapi suami aku, nggak mau kalau di ajak makan di luar."


Vika bangkit dari duduknya. Setelah berpamitan pada Ovi, dia pun melangkah keluar dari cafe milik Ovi.

__ADS_1


Vika menunggu taksi di depan cafe. Beberapa saat kemudian, sebuah taksi melaju ke arahnya.


Vika kemudian masuk ke dalam taksi itu. Setelah itu ,Vika pun meluncur pergi meninggalkan cafe Ovi.


__ADS_2