
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu dari luar rumah Safia terdengar. Safia yang sejak tadi masih duduk bersama anaknya di ruang tengah saling menatap.
"Siapa ya Ma, yang sore-sore gini bertamu," ucap Anna.
Safia mengedikan bahunya.
"Mama juga nggak tahu sayang."
"Jangan-jangan, itu Om Rama lagi." Anna berharap kalau yang datang itu Rama. Karena dari kemarin dia sudah sangat merindukan Rama.
Safia terkejut saat mendengar ucapan Anna.
"Apa! Om Rama?"
"Iya Ma. Bisa aja Om Rama, mau ketemu Anna."
Mau ngapain Mas Rama ke sini, batin Safia.
Safia bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pergi ke ruang tamu untuk membuka pintu. Dia terkejut saat melihat Evan sudah berdiri di depan pintu.
"Pak Evan," ucap Safia.
Evan tersenyum menunjukan gigi putihnya.
"Pak Evan ada apa ya Pak? mau cari Anna ya?"
"Iya. Kemarin kan sepada Anna aku taruh di bengkel. Tapi Anna nggak mempertanyakan lagi sepedanya. Apa Anna lupa dengan sepedanya?" tanya Rama.
"Oh... Anna nya sudah punya sepeda baru Pak."
"Oh. Jadi Anna beli sepeda baru lagi?"
"Iya. Pak Evan mau masuk! silahkan masuk Pak."
"Iya. Makasih Mbak Safia."
Setelah Safia mempersilahkan Evan masuk, Evan kemudian masuk ke dalam rumah Safia.
"An... Anna... ini ada Pak guru kamu An...!" seru Safia memanggil Anna.
Beberapa saat kemudian, Anna datang menghampiri Safia.
"Bunda, siapa yang datang Bun?" tanya Anna.
"Tuh, Pak Evan." Safia menunjuk ke arah Evan.
Anna menatap Evan. Dia tampak kecewa karena yang datang bukan Om Rama.
"Jadi Pak Evan yang datang ke sini. Aku fikir Om Rama."
Safia menatap anaknya tajam.
"Anna, jadi kamu masih berharap kalau Om Rama akan datang ke sini. Bunda kan udah bilang sama kamu, bunda nggak suka kalau kamu dekat sama dia."
Anna diam dan cemberut. Sepertinya dia tidak suka dengan ucapan bundanya. Anna kemudian masuk kembali ke dalam.
"Kenapa Anna?" tanya Evan.
"Nggak tahu Pak Evan, udah biasa dia kayak gitu."
Safia kemudian duduk di dekat Pak Evan.
"Pak Evan mau minum apa?" tanya Safia.
__ADS_1
"Oh, tidak usah repot-repot Mbak Safia. Saya ke sini cuma mau mengembalikan sepeda Anna saja."
Di tengah-tengah Safia dan Evan ngobrol, suara salam dari luar rumah terdengar.
"Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam" ucap Safia dan Evan bersamaan.
Safia dan Evan menatap bersamaan ke arah Shakira.
Safia tersenyum saat melihat kehadiran kakaknya.
"Mbak Shakira. Ayo masuk Mbak." Safia mempersilahkan Shakira masuk ke dalam.
"Silahkan duduk Mbak." Setelah Shakira masuk ke dalam, Safia kemudian mempersilahkan Shakira untuk duduk.
Shakira menatap lelaki yang saat ini sedang bertamu di dalam rumah Safia.
Siapa lelaki ini, cakep banget. Jangan-jangan dia, punya hubungan spesial lagi sama Safia. Mungkinkah, lelaki ini pacarnya Safia.
Shakira sejak tadi diam dan masih menatap Evan. Begitu juga dengan Evan. Dia juga sejak tadi tidak berkedip saat menatap Shakira.
Ehem...
Safia berdehem.
"Kalian mau saling tatap terus seperti ini, ya udah aku masuk aja ke dalam," ucap Safia yang membuat Evan dan Shakira terkejut.
Evan tersenyum. "Oh. Maaf Mbak Safia."
"Oh ya Pak Evan, ini Mbak Shakira budhenya Nafisa. Kakak kandung saya Pak." Safia memperkenalkan Evan pada Shakira.
"Oh..." Evan manggut-manggut mengerti.
"Dan Mbak Shakira, ini Pak Evan pak gurunya Anna Mbak."
"Mbak Shakira ini bisa aja bercandanya," ucap Safia yang merasa malu dengan ucapan Shakira.
Evan bangkit dari duduknya.
"Mbak Safia, saya pulang dulu ya Mbak. Udah sore." pamit Evan pada Safia.
"Oh, buru-buru amat Pak."
"Saya cuma mau mengantarkan sepedanya Anna saja kok."
"Ya udah, hati-hati ya Pak."
"Iya Mbak."
"Maaf ya Pak Evan, Annanya nggak mau nemuin bapak."
"Nggak apa-apa. Orang kita biasa ketemu di sekolah kok."
Setelah berpamitan pada Safia, Evan pun pergi meninggalkan rumah kontrakan Safia. Setelah Evan pergi, Shakira menatap Safia.
"Safia, tadi gurunya Anna ya?" tanya Shakira.
Safia mengangguk. "Iya Mbak. Emang kenapa?"
"Gurunya Anna cakep banget ya. Aku fikir tadi calon suami kamu Safia."
Safia terkekeh.
" Hehe...ada-ada aja Mbak ini. Aku belum punya calon Mbak."
__ADS_1
"Safia, kenapa kamu nggak nikah lagi aja Safia? biar Anna punya ayah baru."
"Saya juga mau tanya, kenapa Mbak Shakira nggak nikah lagi aja? biar Rio punya ayah baru."
"Lho, kok malah dibalik pertanyaan aku. Aku kan lagi nanya sama kamu."
"Aku juga lagi nanya sama Mbak."
Shakira menghela nafas dalam.
"Susah ya, bicara sama kamu Safia."
"Mbak, aku itu nggak ada niatan untuk nikah lagi. Anna itu masih SD. Kalau aku sampai nikah lagi, aku nggak mau membuat Anna terlantar. Dan aku mau nikah sama siapa Mbak, nggak ada lelaki yang mau dekat sama aku. Karena aku ini miskin."
"Jangan bicara seperti itu Safia. Kamu masih muda, kamu juga cantik. Pasti kamu banyak yang suka kalau kamu mau membuka hati kamu untuk lelaki."
"Sudahlah Mbak. Jangan bahas itu kalau sama aku. Kalau aku punya niatan nikah lagi, sudah dari dulu aku lakukan Mbak. Tapi aku itu cuma mau fokus sama Anna."
"Eh, ngomong-ngomong gurunya Anna tadi ganteng ya Saf. Kenapa kamu nggak dekati dia aja."
"Hush! sembarangan kalau ngomong."
"Eh, aku serius Saf. Dia itu terlihat seperti orang baik-baik dan orang kaya. Dia sudah punya istri belum sih?" tanya Shakira penasaran.
"Dia masih sendiri Mbak," jawab Safia singkat.
"Duda?"
"Perjaka"
"Serius Saf, kalau lelaki tadi masih perjaka."
"Iya. Kenapa sih nanya nya gitu banget. Mbak naksir?"
"Nggak. Cuma penasaran aja."
"Oh iya. Ngomong-ngomong, ngapain Mbak ke sini?"
"Sebenarnya aku ke sini, mau nanya soal kerjaan Saf."
"Kerjaan? bukannya Mbak sudah kerja di rumahnya Mas Rama? kenapa nanyain soal kerjaan lagi?"
"Safia, aku udah dipecat Saf dari rumahnya Mas Rama. Aku sudah nggak kerja di situ lagi."
Safia terkejut saat mendengar penuturan kakaknya.
"Apa! dipecat? Mbak yakin?" Safia menatap lekat manik mata Safia.
"Iya Saf. Istri Mas Rama sudah mecat Mbak. Mbak udah nggak diperbolehkan kerja di sana lagi."
"Kok gitu sih Mbak? emang Mbak pernah melakukan kesalahan?"
"Aku nggak pernah melakukan kesalahan apapun. Bu Vika mecat aku karena dia sudah tahu kalau aku ini mantan istrinya Mas Rama."
"Apa! emang dia baru tahu kalau Mbak Shakira itu mantan istrinya Mas Rama. Apa dari awal Mbak nggak jujur sama dia?"
"Iya Saf. Dari awal Mbak nggak pernah cerita apa-apa sama Bu Vika tentang masa lalu Mbak dengan Mas Rama. Saat Bu Vika tahu kalau aku ini mantan istrinya Mas Rama, dia langsung mecat aku gitu aja. Padahal kan aku kerja juga profesional. Nggak pernah godain Mas Rama."
"Mungkin dia syok kali Mbak. Atau bisa jadi, wanita itu cemburu sama Mbak. Dia takut suaminya akan jatuh cinta lagi sama mantan istrinya. Makanya dia pecat Mbak."
"Aku juga bingung. Ini semua itu gara-gara Mbak Intan tahu nggak."
Safia mengernyitkan alisnya.
"Mbak Intan siapa?" tanya Safia.
__ADS_1
"Itu lho, kamu masih ingat kan sama kakak sepupunya Mas Rama yang sudah lama tinggal di Jakarta?"
"Oh... iya. Aku juga kenal kok sama Mbak Intan."