Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Mimpi buruk


__ADS_3

Malam ini, Vika masih bolak-balik di dalam kamarnya. Sejak tadi dia masih menunggu suaminya pulang.


Waktu saat ini, sudah menunjukan jam sepuluh malam. Namun sampai semalam ini Rama belum pulang.


Akhir-akhir ini Rama memang sering pulang malam. Dia juga sering tidak pulang ke rumah. Yang Vika tahu, Rama itu lembur di kantor.


Dari pagi, Vika sudah ngechat Rama berkali-kali. Namun tidak ada satu pun balasan yang Vika dapatkan dari suaminya. Vika juga menghubungi suaminya lewat telpon. Namun dari sore, nomer Rama tidak aktif.


Vika mengambil ponsel yang ada di atas nakas.


"Aku telpon lagi deh Mas Rama. Siapa tahu ini sudah aktif hapenya," ucap Vika.


Vika kemudian menekan nomer suaminya untuk menghubunginya lagi. Dan nomer yang Vika telpon masih tidak aktif.


"Nggak biasanya Mas Rama menonaktifkan ponselnya seperti ini. Apalagi dia ada kantor.Ke mana ya, sebenarnya Mas Rama, dia di kantor atau di mana," ucap Vika


Vika keluar dari kamarnya. Tenggorokannya sudah mulai kering, dahaga sudah mulai menggerogoti tenggorokannya. Vika pergi untuk mengambil minum.


Hiks...hiks...hiks...


Langkah Vika terhenti saat dia mendengar suara tangisan anaknya di dalam kamar. Vika memutar tubuhnya. Dia buru-buru berjalan masuk ke kamar anaknya.


Vika terkejut saat melihat Liza mengiggau sampai menangis. Dia buru-buru mendekati Liza dan duduk di sisi tempat tidur Liza.


"Liza, Liza sayang. Bangun sayang." Vika menepuk-nepuk pipi Liza berusaha untuk membangunkannya.


Liza mengerjapkan matanya . Dia bangkit dari duduknya dan langsung memeluk ibunya dengan erat.


"Mama. Hiks ..hiks .. aku takut Ma," ucap Liza di dalam pelukan ibunya.


Vika melepas pelukan Liza. Dia kemudian menatap Liza lekat dan menangkup wajah cantik Liza.


"Liza sayang, ada apa?" tanya Vika.


"Mama, aku takut," ucap Liza dengan berderaian air mata.


"Takut kenapa? kamu mimpi buruk Nak?"tanya Vika sembari mengusap air mata Liza.


Liza menganggukan kepalanya.


"Kamu mimpi apa sayang?" tanya Vika penasaran.


"Aku mimpi mama jatuh ke jurang. Aku mau nolongin mama waktu mama mau jatuh, tapi papa melarang aku untuk nolongin mama. Dan aku menangis saat melihat mama jatuh ke jurang. Sementara papa diam aja. Papa malah membiarkan mama jatuh," jelas Liza.


Vika menghela nafas dalam. Dia kemudian mengelus rambut panjang anaknya.


"Sayang, itu cuma mimpi. Mimpi itu cuma bunga tidur. Nggak usah terlalu difikirin sayang mimpi itu. Yang penting sekarang mama masih ada bersama kamu."


"Mama, aku takut mimpi aku bisa jadi kenyataan. Bagaimana kalau nanti mama kenapa-kenapa. Aku nggak mau kehilangan mama. Apapun yang terjadi, aku pengin mama dan papa tetap bersama," ucap Liza sembari menatap ibunya lekat.


Vika kembali memeluk anaknya erat. Dia mencoba untuk menenangkan Liza yang masih gelisah.


"Tidak akan terjadi apa-apa di antara mama dan papa. Percayalah, kalau Tuhan akan selalu jagain kita."

__ADS_1


Vika bangkit dari duduknya. Sementara Liza, segera mencekal tangan ibunya.


"Mama mau kemana?" tanya Liza.


"Mama mau ambil minum. Mama haus sayang."


"Papa udah pulang belum?"


Vika menggeleng.


"Mama juga lagi nungguin papa kamu dari tadi."


"Mama, mama mau kan temani Liza tidur di kamar Liza. Liza takut sendirian "


"Iya sayang. Mama mau ambil minum dulu. Terus nanti mama ke sini lagi."


Liza mengangguk. Setelah itu Vika pun pergi meninggalkan Liza.


****


Satu minggu sejak pernikahannya dengan Rama, Safia dilarang keras untuk pergi bekerja oleh suaminya. Sekarang Safia lebih fokus pada Anna dan suaminya.


Sudah satu minggu sejak pernikahannya dengan Safia, Rama belum sekali pun pulang ke rumah Vika. Dia masih menikmati hari-harinya bersama Safia dan Anna.


"Sayang, aku pergi ke kantor dulu ya," pamit Rama sebelum pergi ke kantor.


Safia tersenyum.


"Iya Mas. Hati-hati ya."


Seperti biasanya, sebelum pergi Rama mencium kening dan ke dua pipi Safia.


Rama memejamkan matanya. Dia mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Safia. Tinggal beberapa centimeter lagi bibir mereka saling bersentuhan.


"Eits. Mau ngapain?" tanya Safia yang membuat Rama terkejut.


"Mau ciumlah."


"Apaan sih Mas, cium cium. Nggak malu apa kamu dilihatin anak kamu," ucap Safia sembari melirik ke sampingnya.


Rama tersenyum dan salah tingkah saat melihat Anna sudah berdiri di sisi Safia.


"Eh, Anna. Udah siap sayang?" tanya Rama mengalihkan fokus Anna.


"Udah dong ayah," jawab Anna singkat.


"Ya udah, kamu pamit dulu sama bunda kamu."


"Iya ayah."


Sebelum pergi, Anna mencium tangan bundanya. Safia pun tidak lupa mencium tangan Rama. Sepertinya itu akan menjadi rutinitas Rama dan Safia setelah pernikahan mereka.


Setelah Rama dan Anna pergi, Safia bergegas masuk ke dalam kamarnya. Dia akan mandi dan bersiap-siap untuk ke cafe tempatnya kerja.

__ADS_1


Hari ini dia akan ke cafe untuk berpamitan pada Iren dan Ovi sekalian dia akan membawa surat pengunduran diri.


Setelah rapi, Safia keluar dari rumahnya. Dia menutup pintu dan bergegas pergi meninggalkan rumahnya.


Safia berjalan sampai ke


cafe tempatnya kerja. Di sana sudah banyak karyawan Ovi yang datang. Namun pagi ini nampaknya belum banyak pengunjung yang datang ke cafe itu.


Safia masuk ke dalam cafe itu. Iren terkejut saat melihat Safia.


"Safia..." ucap Iren.


Safia melebarkan senyumnya. Dia kemudian mendekat ke arah Iren.


"Di mana Bu Ovi?" tanya Safia menatap ke sekeliling.


"Dia belum datanglah Saf. Kamu kemana aja sih? kenapa satu minggu nggak kelihatan. Bu Ovi udah nyariin kamu tahu dari kemarin."


"Aku nggak kemana-mana kok. Aku di rumah aja."


"Terus, kenapa kamu nggak pakai seragam?"


"Sebenarnya aku ke sini, cuma mau mengantarkan ini," ucap Safia sembari menyodorkan berkas surat pengunduran dirinya.


"Apa itu?" Iren sudah menatap map berwarna coklat itu.


"Ini surat pengunduran diri," jawab Safia.


Iren terkejut saat mendengar ucapan Safia.


"Apa! surat pengunduran diri? kamu mau resign? kenapa?"


"Iya. Aku mau fokus ngurus anak aja di rumah."


"Kalau kamu mengundurkan diri, kamu mau kerja apa Saf? atau kamu sudah mendapatkan pekerjaan baru yang gajinya lebih gede dari kerja di tempat ini?"


Safia tersenyum.


"Sekarang aku udah nggak perlu khawatir lagi Ren. Karena sekarang sudah ada yang menjamin kehidupan aku dan Anna."


Iren masih bingung dengan ucapan Safia.


"Maksud kamu?"


"Hehe... nanti kamu juga tahu sendiri." Safia hanya terkekeh.


Deru mobil sudah terdengar dari luar cafe. Sebuah mobil putih berparkir di halaman depan cafe. Ovi dan Vika turun dari mobil. Mereka bersamaan melangkah masuk ke dalam cafe.


Deg.


Safia terkejut saat melihat Vika, dan Ovi memasuki cafe. Setelah sekian lama, Safia baru melihat Vika datang lagi ke cafenya Ovi.


Jantung Safia berdebar kencang saat melihat kedatangan Vika. Rasa gugup sudah mulai menderanya.

__ADS_1


Duh, kenapa istrinya mas Rama pakai acara datang ke sini segala sih. Nggak, aku nggak boleh gugup begini. Aku harus bisa bersikap biasa saja di depan mereka agar mereka semua tidak ada yang mencurigai aku, batin Safia.


Dengan sekejap, Ovi dan Vika sudah berdiri di depan Safia dan Iren.


__ADS_2