
"Kemarin kan dia datang ke rumahnya Mas Rama. Dia bilang ke Vika kalau aku ini mantan istrinya Mas Rama. Eh, sorenya si Vika itu malah mecat aku. Sedih banget tahu nggak sih Saf, cari kerjaan itu sekarang susah. Apalagi orang yang sudah berumur seperti Mbak," ucap Shakira menjelaskan panjang lebar.
Safia menatap kakaknya lekat. Dia merasa iba dengan kakaknya.
"Sabar ya Mbak. Mungkin ini semua bukan rejeki Mbak. Tapi Mbak tenang aja. Aku akan coba bantu Mbak untuk cari kerjaan. Nanti aku akan tanyain sama Bu Ovi. Siapa tahu di tempat Bu Ovi ada lowongan kerjaan," ucap Safia kemudian.
"Siapa Bu Ovi?" tanya Shakira penasaran.
"Dia itu bosku Mbak. Yang punya cafe tempat aku kerja."
"Oh..." Shakira manggut-manggut mengerti.
****
Siang ini Rama masih bersama dengan Ronal sahabatnya. Mereka masih berada di dalam sebuah cafe. Ronal adalah rekan bisnis Rama, yang sekarang sudah menjadi sahabat dekat Rama.
Rama dan Ronal sudah sangat dekat, dan kedekatan mereka, sudah seperti saudara sendiri. Rama dan Ronal sudah lama saling kenal. Mungkin sejak Pak Angga masih hidup. Sepertinya saat ini, mereka sedang membicarakan masalah pekerjaannya.
Rama sejak tadi masih mengurut keningnya. Sepertinya Rama saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Ram, kamu kenapa Ram?" tanya Ronal di sela-sela kunyahannya.
Rama menatap Ronal lekat.
"Aku nggak apa-apa," jawab Rama dengan wajah murung.
"Bohong, kamu seperti sedang menyimpan masalah besar. Apa yang lagi kamu fikirkan Ram?" tanya Ronal. Tidak biasanya Ronal melihat Rama murung.
"Aku lagi bingung sama istri aku."
"Bingung kenapa?" tanya Ronal penasaran.
"Kemarin istri aku udah pecat Art barunya. Padahal Art barunya nggak punya kesalahan apa-apa," jelas Rama.
"Kok gitu? kenapa? mungkin istri kamu nggak cocok kali, sama Art barunya."
"Bukan itu masalahnya Nal."
"Terus masalahnya apa?"
"Dia, pecat Art barunya karena Art barunya itu adalah mantan istri aku."
__ADS_1
Uhuk uhuk uhuk...
Ronal terbatuk-batuk. Dia tersedak makanannya sendiri saat mendengar ucapan Rama. Rama sudah membuat Ronal hampir terkena serangan jantung karena terkejutnya.
Ronal mengambil gelasnya dan langsung menegak minumannya. Setelah itu, Ronal meletakan gelas itu kembali di atas meja.
"Apa! kok bisa mantan istri kamu kerja di rumah kamu?" tanya Ronal yang masih heran dengan cerita Rama.
"Ya, bisa aja. Kan si Vika yang nyari. Aku juga nggak tahu dari mana istri aku bisa kenal dengan mantan istriku itu."
"Mungkin ngambil dari yayasan kali istri kamu. Bisa kebetulan banget begitu ya Ram."
"Yah, aku juga nggak tahu. Kenapa bisa seperti itu."
"Awalnya gimana sih, kok bisa kebetulan seperti itu?" tanya Ronal semakin penasaran dengan cerita sahabatnya itu.
"Awalnya Vika nyari pembantu. Pas kebetulan yang datang itu Shakira, mantan istri aku. Karena aku ingin menjaga perasaan Vika, ya aku nggak membolehkan Shakira untuk cerita dengan Vika tentang masa lalu aku dengan dia dong. Eh, Vika malah tahu dari Mbak Intan."
"Oh... gitu ceritanya? terus setelah istri kamu tahu kalau pembantu baru kamu itu mantan istri kamu, dia pecat tuh pembantu baru?"
"Ya, seperti itu lah."
"Terus, sekarang hubungan kamu dengan istri kamu bagaimana? baik-baik aja kan?" tanya Ronal.
"Hubungan aku dengan istri aku jadi kurang baik. Dan sekarang si Vika itu juga sulit banget untuk di atur. Beda dari kemarin-kemarin. Kalau sekarang, dia juga udah semakin berani melawan aku."
"Sudahlah, sabarin aja. Namanya juga perempuan, dia itu makhluk yang paling egois."
"Seandainya aku nggak sayang sama anak aku, mungkin aku udah tinggalin dia sejak dulu."
"Kenapa kamu punya fikiran seperti itu Ram? katanya kamu udah mulai cinta sama istri kamu."
"Aku memang udah cinta sama dia. Tapi cinta aku ke dia, terasa hambar sejak sikap istri aku berubah. Jujur aku sudah nggak nyaman sama Vika."
"Sabarlah. Setiap rumah tangga itu pasti ada ujiannya sendiri-sendiri. Tapi ujian setiap orang kan berbeda-beda."
"Iya sih. Tapi malas juga kalau kita punya istri tapi nggak pernah nurut sama kita. Andai saja Tuhan mentakdirkan aku untuk punya dua istri. Kalau yang satu membangkang, kan masih ada yang satunya lagi. Nggak mungkin kan, membangkang semua."
"Hehe... ada-ada aja kamu Ram."
Setelah Ronal dan Rama menghabiskan makanannya, mereka kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan cafe itu.
__ADS_1
Mereka akan pergi lagi untuk ke kantornya masing-masing. Mereka makan siang di cafe, hanya untuk membicarakan sesuatu yang penting saja.
Rama dan Ronal, kemudian keluar dari cafe. Mereka menuju ke tempat parkir. Sesampainya di tempat parkir, Rama dan Ronal menghentikan langkahnya. Sebelum berpisah, mereka saling menatap.
"Aku duluan ya Nal," ucap Rama sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Iya. Hati-hati ya Ram."
"Iya Nal."
Rama kemudian masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dia pun meluncur pergi meninggalkan cafe. Sementara Ronal mengambil ponselnya yang ada di saku celananya yang sejak tadi berdering.
"Ah, siapa lagi yang nelpon."
Ronal kemudian mengangkat panggilan dari seseorang.
"Halo Pak Ronal. Tamu penting kita sudah datang Pak Ronal. Meeting sebentar lagi akan dimulai."
"Oh, iya. Saya lagi di perjalanan nih, mau meluncur ke kantor."
"Iya Pak Ronal. Kami tunggu ya Pak Ronal."
"Iya."
Ronal kemudian memutuskan saluran telponnya. Dia memasukkan telponnya kembali ke dalam saku celananya. Tiba-tiba, pandangan Ronal tertuju pada seorang wanita yang sedang berjalan bersama seorang lelaki masuk dalam cafe.
Ronal sejak tadi masih memperhatikan wanita itu.
"Aku seperti pernah melihat wanita itu," gumam Ronal sembari mengingat-ingat di mana dia pernah bertemu dengan wanita itu.
Tiba-tiba saja, Ronal teringat dengan Vika istri Rama.
Ya ampun, bukannya itu istrinya Rama ya si Vika. Kok dia bisa jalan mesra banget gitu sama lelaki. Siapa ya lelaki itu. Apa jangan-jangan selama ini Vika selingkuh dibelakang Rama, batin Ronal.
"Ya ampun, mikir apa aku ini. Mana mungkin sih si Vika itu selingkuh. Dia itu kan sudah punya suami super perfect seperti Rama. Kalau benar-benar si Vika selingkuh, berarti hubungan Rama dan Vika itu memang sudah tidak sehat."
Ronal tidak mau berlama-lama berada di tempat itu. Karena dia sudah di tunggu meeting di kantornya. Ronal buru-buru masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan cafe.
Ronal masih menatap ke depan. Dia masih fokus menyetir. Namun sejak tadi fikirannya masih buruk terhadap Vika.
"Aku nggak boleh kasih tahu Rama dulu soal ini. Aku harus bisa pastikan dulu kalau itu Vika atau bukan, dan aku harus pastikan siapa lelaki yang jalan dengan Vika tadi. Selingkuhannya Vika atau saudaranya."
__ADS_1