Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Pinjaman uang


__ADS_3

Mentari di pagi ini sudah bersinar cerah. Cahayanya sudah memancar sampai ke teras depan rumah Intan.


Pagi ini, Rama sudah berada di teras depan rumah Intan. Dia sudah tampak rapi dengan memakai celana dan kemeja seperti orang kantoran. Sepertinya pagi ini dia sudah siap akan pergi untuk melamar pekerjaan.


"Ram, kamu mau ke mana rapi banget begitu?" tanya Intan mendekat ke arah Rama.


Rama tersenyum.


"Semalam kan aku udah bilang Mbak. Kalau aku ini mau cari kerja. Jadi aku harus pakai kemeja dan celana seperti ini. Biar kelihatan rapi dan menarik."


"Oh. Kamu mau naik apa?" tanya Intan.


"Naik ojek aja Mbak nggak apa-apa."


"Naik ojek? kamu punya ongkos?" Intan menatap Rama lekat.


Rama diam. Sejak dia meninggalkan rumahnya, dia memang tidak pegang banyak uang. Dia hanya pegang uang untuk ongkosnya saja sampai ke Jakarta.


"Ram, kenapa kamu di tanya malah diam? kamu punya duit nggak?" tanya Intan lagi.


Rama menggeleng dan menatap Intan lekat.


"Sebenarnya, aku lagi nggak pegang uang sama sekali Mbak. Apa aku boleh meminjam uang Mbak Intan dulu? Aku janji, nanti kalau aku udah dapat kerjaan, aku akan ganti uangnya Mbak dengan gaji aku, " ucap Rama.


"Oh. Boleh dong. Tunggu di sini ya. Mbak ambil dompet Mbak dulu di dalam."


Intan kemudian masuk ke dalam rumah untuk mengambil uangnya. Beberapa saat kemudian Intan keluar dengan membawa dompetnya.


Dia mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan dan menyerahkan uang itu ke Rama.


"Ini Ram."


Rama menerimanya dan tersenyum. Dia kemudian menghitung jumlah uang ratusan itu.


"Satu juta. Banyak banget Mbak. Duh, aku jadi nggak enak nih sama Mas Hamdan. Udah ngerepotin dia terus," ucap Rama.


"Nggak apa-apa Ram. Ambilah uang itu. Lagian, uang itu juga bukan semua uang Mas Hamdan. Itu ada uang aku juga, yang aku kumpulin waktu aku jualan online."

__ADS_1


"Oh.. makasih ya Mbak. Oh iya. Mas Hamdan udah berangkat ya Mbak?"


"Iya. Sudah berangkat dari tadi. Dia itu kan kerjanya jadi satpam. Jadi berangkatnya harus pagi-pagi sekali."


"Aku mau ambil berkas-berkas aku dulu Mbak di dalam."


"Iya Ram."


Rama buru-buru masuk ke dalam rumah dan melangkah ke kamarnya untuk mengambil berkas-berkas yang akan di bawanya untuk melamar kerja.


"Aku akan mencari kerja, sekalian aku akan mencari Safia. Jujur, aku nggak bisa tenang sebelum bertemu dengan Safia. Bagaimana ya keadaan Safia sekarang," ucap Rama yang sampai saat ini, masih memikirkan gadis yang telah di nodainya satu bulan yang lalu.


Rama kemudian mengambil berkasnya yang sudah dia siapkan di atas meja. Setelah itu dia keluar dari kamarnya dan pergi keluar.


"Aku berangkat dulu ya Mbak," ucap Rama sebelum pergi.


"Iya Ram. Hati-hati ya di jalan."


"Iya Mbak. Aku mau cari ojek di depan."


***


Pagi ini, Shakira masih berada di dalam kamarnya. Sejak Safia pergi dari rumah, hidup Shakira merasa sangat hampa. Karena selama ini, hubungan Shakira dengan Safia itu sangatlah baik.


Safia adalah adik yang sangat baik. Walau selama ini Safia sering dibedakan oleh ibu kandungnya sendiri, namun Safia tidak pernah menaruh dendam pada ibu dan kakaknya.


Selama ini, kasih sayang Bu Astri terhadap ke dua anaknya sangatlah berbeda.Dia lebih sayang pada Shakira dan lebih membanggakan Shakira dari pada Safia. Karena Shakira lebih berprestasi di sekolahnya.


Shakira selalu juara satu dan sering menjuarai beberapa lomba. Sementara Safia, dia tidak pernah membuat Bu Astri bangga. Namun setelah Safia pergi, barulah semua orang merasa kehilangan termasuk Bu Astri.


"Shakira. Kamu lagi ngapain di sini?" tanya Bu Astri yang sudah berada di dalam kamar Shakira.


Shakira yang sejak tadi masih berdiri di sisi jendela kamarnya, menoleh ke arah ibunya.


"Aku nggak lagi ngapa-ngapain," jawab Shakira.


"Kalau nggak ngapa-ngapain, ayo bantuin ibu di dapur. Ibu lagi repot banget Shakira."

__ADS_1


Shakira berjalan mendekat ke arah ibunya.


"Bu, maaf. Aku nggak bisa bantuin ibu. Aku lagi nggak enak badan soalnya."


"Nggak enak badan kok setiap hari," celetuk Bu Astri.


"Bu, ibu ini kenapa sih. Ibu kan masih bisa mengerjakan pekerjaan ibu sendiri. Untuk apa minta bantuin aku."


"Shakira. Waktu Safia di rumah, kan Safia terus yang bantuin ibu di dapur. Sekarang Safia nggak ada, giliran kamu dong yang bantuin ibu."


"Tapi aku lagi capek Bu."


Safia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya. Dia diam dan tampak sedih. Bu Astri tahu kalau anaknya saat ini sedang memikirkan sesuatu. Mungkin dia masih memikirkan masalah Rama dan Safia.


Bu Astri ikut menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan duduk di sisi Shakira.


"Apa sih, sebenarnya yang lagi kamu fikirkan. Apa kamu masih memikirkan Rama dan Safia?" tanya Bu Astri menatap lekat Shakira.


Shakira yang ditanya hanya diam.


"Shakira. Kamu itu sudah melayangkan gugatan kamu ke pengadilan. Jadi tunggu saja keputusan dari pengadilan. Kamu kan sudah mantap untuk cerai dari Rama. Jadi jangan fikirin lelaki itu terus. Lelaki itu juga sudah nggak ada di kampung ini lagi. Dia sudah pergi ke Jakarta."


Shakira menatap ibunya dan menghela nafas dalam.


"Aku nggak lagi mikirin Mas Rama. Tapi aku lagi mikirin Safia. Safia sama sekali nggak ada kabar. Dia juga sama sekali nggak telpon ke rumah dan memberi tahu keberadaannya pada kita. Aku takut, kalau Safia itu kenapa-kenapa di luar sana Bu," ucap Shakira.


Bu Astri diam dan mulai berfikir.


Ya Allah, kemana sebenarnya anak bungsuku. Aku sangat mengkhawatirkan dia. Selama ini, aku kurang bersikap baik sama dia. Padahal sebenarnya dia anak yang rajin bantu-bantu orang tua. Tapi setelah dia pergi, aku merasa sangat kehilangan. Safia, di mana kamu Nak.


"Ibu juga sedih banget Safia pergi. Dia sama sekali nggak memberi kabar pada kita. Padahal kita itu tidak pernah mengusir Safia pergi dari rumah ini. Dia sendiri yang mutusin untuk pergi dari rumah ini," ucap Bu Astri.


Shakira memang benci dengan kejadian waktu itu. Tapi semakin ke sini, Shakira jadi merasa iba pada adiknya dan khawatir dengan keberadaannya.


Sebenarnya, bukan Safia yang harus disalahkan. Tapi Mas Rama. Mana mungkin adik aku yang menggoda Mas Rama duluan. Aku tahu adik aku itu pendiam dan tidak mungkin genit sama lelaki. Tidak seharusnya aku membenci Safia. Karena dialah yang menjadi korban nafsu biadab suamiku.


Bu Astri dan Shakira saling diam. Mereka larut dalam fikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2