Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
gadis kecil penjual koran


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian


Seorang anak perempuan berusia sepuluh tahunan, masih berada di tengah-tengah kemacetan lalu lintas. Sejak tadi dia masih menjelajahi jalan raya untuk menjual koran.


"Aku harus bantu bunda. Bunda belum bayar kontrakan, kasihan bunda, kalau ditagih bayar kontrakan terus," ucap Riana ditengah-tengah menjajakan koran-korannya pada pengendara mobil.


Gadis yang akrab di sapa Anna itu, diam-diam bekerja sebagai penjual koran. Kadang dia juga ikut teman-teman jalanannya mencari barang-barang bekas untuk dia kumpulkan dan dia jual lagi. Dan semua itu dia lakukan hanya untuk membantu Safia ibunya.


Namun, selama ini Safia tidak tahu, kalau anaknya itu diam-diam ikut bekerja. Seandainya Safia tahu kalau anaknya jualan koran keliling, pasti dia akan memarahinya habis-habisan. Karena Safia tidak akan pernah membiarkan anaknya ikut mencari nafkah.


"Koran... koran... koran..." ucap Anna.


Anna menghentikan langkahnya saat melihat ada sebuah mobil yang mendekat ke arahnya.


"Dek... sini dek!" seorang lelaki dari dalam mobil sudah melambaikan tangannya ke arah Anna.


Anna tersenyum saat melihat lelaki itu. Anna kemudian melangkah dan mendekati mobil itu.


"Kamu kecil-kecil udah jualan koran? berapaan dek korannya?" tanya lelaki itu pada Anna.


"Om mau beli? aku jualan koran yang masih baru Om. Ada majalah-majalah juga, edisi terbaru," ucap Anna sembari membuka-buka tumpukan kertas yang ada di tangannya.


"Om, beli semuanya deh dek."


Anna tersenyum menunjukan lesung pipinya. Dia terkejut saat lelaki yang ada di depannya mau memborong semua barang jualannya.


"Om yakin mau beli semuanya?" tanya Anna.


"Iya dek."


Anna begitu bahagia saat ada seorang lelaki yang mau membeli semua koran-korannya.


Lelaki itu kemudian memberikan sejumlah uang untuk Anna.


"Om, ini nggak kebanyakan Om?" tanya Anna yang melihat beberapa lembar uang ratusan yang diberikan Om-om tadi.

__ADS_1


"Itu untuk kamu. Om ikhlas kok memberikannya untuk kamu."


"Makasih ya Om. Semoga Om selalu di lancarkan rejekinya."


"Amin. Oh iya. Nama kamu siapa?" tanya lelaki itu pada Anna.


"Anna Om. Kalau nama Om siapa?" Anna balik bertanya.


"Nama Om, Rama. Panggil aja Om dengan sebutan Om Rama."


Anna tersenyum.


"Makasih ya Om Rama untuk uangnya."


Setelah mendapatkan uang, Anna kemudian berlari pergi meninggalkan mobil itu.


"Yah, tuh anak. Kenapa malah lari. Kan aku belum selesai bicara," ucap Rama.


Setelah memborong koran-koran anak itu, Rama kemudian meluncur pergi meninggalkan jalan itu.


"Sebenernya aku kasihan sama anak itu. Aku sudah janji, sama diriku sendiri, kalau aku akan berubah. Aku ingin menjadi Rama yang lebih baik lagi dari Rama yang dulu. Aku ingin selalu membantu anak-anak jalanan seperti Anna," ucap Rama.


Saat ini, Rama tinggal di rumah mewah bersama anak dan istrinya. Sementara Pak Angga sudah meninggal satu tahun yang lalu. Dan Bu Tari ibu Vika, sudah tidak bisa apa-apa karena terkena stroke. Dia hanya bisa duduk di atas kursi roda saja.


Setelah pulang dari kantor, sore ini Rama langsung meluncur untuk pulang ke rumahnya.


Rama menitikan air matanya saat dia teringat dengan anak kecil yang ditemuinya tadi di pinggir jalan.


"Kasihan sekali anak tadi. Dia harus mencari nafkah sendiri dengan menjual koran. Kemana orang tuanya sebenarnya. Apakah dia sudah tidak punya orang tua, sehingga anak sekecil itu harus jualan koran," ucap Rama di sela-sela menyetirnya.


Rama mengusap air matanya kasar. Setelah itu dia kembali fokus ke depan.


Beberapa saat kemudian, mobil Rama sudah sampai di halaman depan rumahnya yang luas. Rama turun dari mobilnya. Dia kemudian membawa koran-koran itu masuk ke dalam rumahnya.


Beberapa saat kemudian, Vika istri Rama mendekat ke arah Rama dan menyambut kepulangannya.

__ADS_1


"Mas, kamu ngapain bawa-bawa koran banyak banget begini? " tanya Vika saat melihat Rama membawa setumpuk koran.


"Ini sayang, aku baru beli tadi di jalan. Dan ini juga koran edisi baru."


"Tapi nggak sebanyak ini juga kali Mas. Kan kita setiap hari sudah ada langganan penjual koran. Ngapain kamu beli-beli koran di jalan."


Rama memborong koran-koran itu, sebenarnya hanya untuk membantu anak jalanan itu. Rama iba melihat anak itu, yang tampak dekil, lusuh dan korannya juga masih banyak karena belum ada yang beli.


Dan Rama tergerak hatinya untuk memberikan anak itu uang. Namun, tidak mungkin kan kalau Rama memberikan uang itu secara cuma-cuma pada anak kecil itu.


Rama melangkah masuk ke dalam. Sesampainya di ruang tengah, dia meletakkan koran-koran itu di atas meja. Rama kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah.


"Sayang, aku lelah banget. Sebenarnya aku tadi nggak ingin beli koran. Tapi aku kasihan sama anak kecil penjual koran itu. Aku jadi ke ingat Liza anak kita kalau melihat dia," ucap Rama sembari membuka dasinya.


"Apa hubungannya anak penjual koran sama anak kita?" tanya Vika yang sudah duduk di sisi suaminya.


"Karena yang jualan tadi anak kecil sepantaran anak kita sayang. Dan aku merasa iba padanya. Jadi aku borong semua koran-korannya."


"Hah, kamu ini kebiasaan banget sih Mas. Jangan terlalu baik sama orang. Kamu ini persis banget kayak papa. Kalau kamu kayak gini terus, nanti kamu bisa dimanfaatkan orang-orang itu sayang."


Rama tersenyum.


"Sayang, aku bisa seperti ini, karena almarhum ayah kamu. Dia yang mengajarkan aku, untuk selalu berbuat baik. Dan aku bangga, aku bisa menjadi orang yang lebih baik lagi setelah kecelakaan itu."


"Iya iya. Aku mau ke kamarnya Liza. Tadi Liza lagi ngerjain PR. Aku mau bantuin dia."


Vika tampak kesal dengan suaminya. Lagi-lagi, suaminya memberikan uang secara cuma-cuma pada anak jalanan. Tidak sekali dua kali Rama begitu, tapi sering sekali Rama itu membantu orang-orang yang menurutnya kurang mampu.


Dan Vika tidak menyukai hal itu. Karena menurut Vika, kebutuhan mereka juga masih banyak yang belum terpenuhi. Jadi, untuk apa kalau uang-uang itu mereka hambur-hambur kan untuk memberi ke orang yang tidak mampu.


Sesampainya di dalam kamar Liza, Vika menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur Liza. Liza yang sejak tadi tampak masih berkutat di meja belajarnya menatap ibunya.


"Mama kenapa?" tanya Liza yang melihat raut kesal di wajah ibunya.


"Mama nggak apa-apa. Mama cuma masih kesal aja sama papa kamu."

__ADS_1


"Papa udah pulang? emang kenapa dengan papa Ma?" tanya Liza mendekati ibunya dan duduk di sisi ibunya.


"Papa kamu beli koran banyak banget. Padahal setiap hari, kita sudah punya langganan penjual koran."


__ADS_2