
"Iya deh. Tapi kira-kira kapan ya, Res," ucap Safia.
"Kalau Mbak udah positif, besok pagi aku akan antar Mbak ke sana. Sekalian aku berangkat kerja. Gimana Mbak?" tanya Resti menatap Safia lekat.
"Iya deh."
"Tapi, bagaimana dengan Anna Mbak kalau dia di tinggal kerja sampai sore, kadang kalau lagi rame bisa sampai malam lho."
"Kalau soal Anna, nggak usah khawatir. Aku bisa titipkan dia ke tetangga kok. Karena biasanya juga begitu."
"Oh."
Setelah lama Resti ngobrol dengan Safia, Resti pun kemudian berpamitan untuk pulang.
"Udah malam Mbak. Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya Mbak," ucap Resti.
"Iya Res."
Resti bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pergi ke luar dari rumah kontrakan Safia. Begitu juga dengan Safia yang mengantar Resti sampai ke depan rumahnya.
"Hati-hati Res."
"Iya Mbak. Assalamualaikum"
"Wa'alakiumsalam."
Resti kemudian pergi meninggalkan rumah Safia. Setelah Resti menghilang dari pandangan Safia, Safia kemudian masuk ke dalam rumahnya dan mengunci pintu rumahnya.
Safia kemudian melangkah ke ruang makan. Safia terkejut saat melihat anaknya sudah tidur di ruang makan.
"Lho, Anna kok malah tidur di sini, dia udah makan apa belum sih, ditinggal ngobrol sebentar udah tidur," ucap Safia.
Safia kemudian membangunkan Anna.
"An... Anna... kenapa kamu tidur di sini?" ucap Safia.
Anna mengerjapkan matanya dan mengucek matanya. Setelah itu dia menatap Safia.
"Bunda,"
"Kamu sudah makan belum?" tanya Safia.
Anna hanya menggeleng
"Kenapa kamu nggak makan?"
"Aku nungguin bunda dari tadi. Tapi bunda ngobrol terus sama Tante Resti."
"Sekarang Tante Restinya udah pulang. Ayo sekarang kita makan."
"Iya Bun."
Safia duduk di dekat anaknya duduk. Setelah itu dia mengambil piring dan mencedokan nasi dan lauk ke piring Anna. Setelah itu Safia mengambil nasi dan lauk untuk dirinya sendiri.
"Ayo makan sayang."
"Iya Bun."
__ADS_1
Anna dan Safia lekas makan dengan lauk seadanya. Karena uang yang Safia punya sudah menipis, jadi Safia harus bisa menghemat pengeluarannya.
"Tadi Tante Resti ke sini mau ngapain Bun? tumben malam-malam dia ke sini?" tanya Anna di sela-sela kunyahannya.
"Tante Resti ke sini mau nawarin bunda kerja," jawab Safia.
"Kerja apa? dan di mana?"
"Bunda nggak tahu di mana. Tapi katanya kerja jadi pelayan di cafe."
"Oh. Terus bunda mau?"
"Ya maulah. Kalau bunda nganggur, uang kita pasti akan habis. Dan kalau uang kita habis, kita mau bayar kontrakan dan beli kebutuhan untuk makan dari mana?"
"Kapan bunda kerjanya?"
"Rencananya besok pagi Anna, bunda mau daftar ke sana."
Anna manggut-manggut mengerti.
"Tapi pekerjaan ini beda An dari waktu bunda kerja di laundry."
"Bedanya?" Anna menatap bundanya lekat.
"Kalau kerja di cafe, biasanya bunda pulangnya sampai malam. Kamu nggak apa-apa kalau bunda tinggal sampai malam?" tanya Safia.
"Nggak apa-apa. Nanti aku nungguin bundanya seperti biasa di rumahnya Aura."
"Iya."
Selesai makan malam, Safia membereskan semua piring-piring kotor yang ada di atas meja dan membawanya ke dapur. Begitu juga dengan Anna yang selalu setia membantu bundanya membereskan meja makan.
Safia dan Anna menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan duduk di sisi ranjang.
"Anna, udah malam. Kamu langsung tidur aja ya. Bunda juga mau tidur di kamar bunda."
Anna mengangguk.
"Iya Bun."
Anna naik ke tempat tidurnya dan berbaring di atas tempat tidurnya.
"Sayang, bunda ke kamar dulu ya. Tidur yang nyenyak ya," ucap Safia.
Sebelum pergi meninggalkan Anna, Safia menutupi tubuh Anna dengan selimut. Setelah itu dia pergi meninggalkan kamar Anna.
****
Siang ini Rama masih berada di dalam kantornya. Dia seperti sedang mencari sesuatu.
"Kemana ya pulpen aku," ucap Rama.
Rama mencari pulpennya ke laci-laci yang ada di meja kerjanya. Rama membuka salah satu laci yang ada di meja kerjanya. Dia menatap lekat, foto Shakira dan Safia. Foto satu-satunya yang masih dia simpan sampai saat ini.
"Shakira, Safia," ucap Rama sembari mengambil foto itu dari dalam lacinya.
Rama menatap lekat foto itu dan mengusap-usapnya. Entah kenapa setiap Rama melihat foto itu, dia jadi teringat dengan masa lalunya.
__ADS_1
"Apa kabar kamu Shakira. Pasti sekarang kamu sudah bahagia dengan suami baru kamu. Dan Safia, bagaimana dengan dia. Apakah dia sudah kembali ke kampungnya. Lama sekali aku nggak pulang kampung. Aku jadi kangen sama kampung aku," ucap Rama.
Yah, setelah jadi orang sibuk, Rama memang jarang pulang kampung. Terakhir dia pulang kampung, waktu dia akan menikah dengan Vika.
Sekarang Rama dan Vika sudah tidak bisa pergi jauh-jauh. Karena bu Tari saat ini sudah tidak bisa di tinggal kemana-mana lagi. Dia sudah lumpuh dan dia juga tidak pernah membiarkan Vika pergi jauh-jauh.
Namun selama itu, Rama masih menjalin komunikasi dengan baik dengan ke dua orang tuanya dan adiknya di kampung. Dia juga masih berhubungan baik dengan Hamdan dan Intan kakak sepupunya.
Ring ring ring ring .
Suara deringan ponsel Rama mengejutkan Rama dari lamunannya. Rama kemudian mengangkat panggilan telponnya.
"Halo Pak Rama, meeting akan segera di mulai. Bisakah bapak ke ruang meeting sekarang. Kami semua sudah menunggu di sini Pak,"
"Oh. Baiklah. Saya akan segera ke sana. Tunggu sebentar ya."
"Iya Pak."
Rama memutuskan saluran telponnya. Setelah itu dia memasukkan foto Shakira ke dalam lacinya kembali.
Rama kemudian mengumpulkan semua berkas-berkasnya yang akan dia bawa ke ruang meeting.
Rama bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pergi meninggalkan ruangannya untuk ke ruang meeting.
****
Setelah beberapa lama Rama berada di ruang meeting, Rama kemudian melangkah kembali ke ruangannya, setelah meeting itu selesai. Dia terkejut saat masuk ke dalam ruangannya. Istri dan anaknya ternyata sudah berada di dalam ruangannya.
"Papa..." Liza merentangkan tangannya dan langsung memeluk ayahnya.
Rama langsung menggendong Liza dan mendekat ke arah Vika.
Vika tersenyum.
"Kalian mau datang ke sini, kenapa nggak bilang-bilang," ucap Rama.
"Kan buat kejutan papa," ucap Liza.
Rama tersenyum dan menatap Liza lekat.
"Papa tahu nih, kalau kalian tiba-tiba datang ke sini, pasti ada sesuatu yang kalian inginkan dari papa. Iya kan?"
"Papa tahu aja," ucap Liza.
"Hayo Liza mau apa?" tanya Rama sembari mencubit pipi Liza gemas.
"Aku dan mama mau ngajak Papa makan di luar," ucap Lisa menjelaskan.
"Makan di luar? sekarang?" Rama menatap Vika lekat.
"Nanti aja Mas. Kalau kamu sudah pulang kerja."
"Tumben Vik kamu ngajak makan malam di luar. Biasanya kamu selalu setia nungguin aku di rumah. Dan kita biasa makan malam di rumah."
"Iya Mas. Sebenarnya aku pengin lihat cafe baru teman aku. Teman aku kan ada yang buka cabang cafe baru. Dan aku pengin makan di sana, sekalian lihat cafe baru teman aku."
"Oh begitu."
__ADS_1
"Iya Mas. Kamu hari ini nggak lembur kan?"
"Nggak. Aku mau pulang cepat kok hari ini."