
Sesampainya di halaman depan kantor, Rama melajukan mobilnya sampai di tempat parkir. Setelah Rama memarkirkan mobilnya di tempat parkir, dia turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam kantor.
Rama berjalan sampai ke ruangannya. Setelah itu dia masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya.
"Akhirnya aku sudah bisa kembali kerja lagi. Sekarang masalah aku dan Safia sudah kelar. Tinggal satu masalah lagi yang masih mengganjal hatiku. Lelaki yang bersama Vika di Bali. Aku harus selidiki lelaki itu," ucap Rama.
Rama menatap laptopnya. Setelah itu dia membuka layar monitornya. Rama akan memulai pekerjaannya kembali setelah dari kemarin pekerjaannya terbengkalai.
Tok tok tok...
Suara ketukan dari luar ruangan Rama terdengar.
"Masuk..."
Beberapa saat kemudian, Yogi masuk ke dalam ruangan Rama.
"Selamat pagi Pak Rama."
"Eh, Yog. Pagi Yog. Silahkan duduk Yog!" pinta Rama.
"Iya Pak." Yogi kemudian duduk di depan Rama.
"Ada apa Yog?" Rama menatap Yogi lekat.
"Saya mau bahas masalah kemarin Pak."
"Lelaki itu?" Rama sudah langsung bisa menebak apa yang akan Yogi katakan.
"Iya. Betul Pak Rama."
Rama tersenyum.
"Kamu sudah dapat info tentangnya?" tanya Rama.
"Sudah Pak," jawab Yogi singkat.
"Terus, apa yang kamu tahu dari lelaki itu?"
"Ternyata dia itu, mantan pacarnya Bu Vika. Namanya Bram."
Rama terkejut saat mendengar ucapan Yogi.
"Bram?"
"Iya Pak. Nama lelaki itu Bram. Dari informasi yang saya dengar, dia itu mantan pacarnya Bu Vika waktu Bu Vika SMA. Dia seorang pengusaha juga Pak. Dan dia juga punya cabang bisnis di Bali."
"Oh..." Rama manggut-manggut mengerti.
"Dia juga sudah lama menduda Pak. Dia sudah cerai dari istrinya. Dan ke dua anaknya ikut dengan istrinya."
__ADS_1
"Oh ya. Jadi benar dugaan saya Yog, kalau istri saya itu sudah selingkuh dibelakang saya. Apalagi dia itu mantan pacar. Saya benar-benar nggak bisa memaafkan Vika dan nggak bisa terima semua ini Yog."
Rama sudah mengepalkan tangannya geram. Rahangnya juga sudah mulai mengeras. Yogi tahu kalau saat ini Rama sedang kesal dan marah sama istrinya.
"Sabar Pak. Bapak harus sabar. Bapak jangan sampai ke bawah emosi. Menurut saya, bapak harus tanyakan langsung sama Bu Vikanya dan selesaikan masalah ini baik-baik," ucap Yogi mencoba menenangkan amarah Rama.
Yogi sudah tahu siapa Rama. Karena Yogi sudah lama kerja di kantor Rama. Rama memang terlihat pendiam. Tapi jangan ditanya jika dia marah. Semua barang bisa hancur dibuatnya.
Rama mencoba untuk mengendalikan emosinya. Dia kemudian menatap Yogi lekat.
"Terimakasih Yog, untuk semua informasinya."
"Iya Pak."
Yogi bangkit berdiri. Dia akan beranjak pergi meninggalkan ruangan Rama. Namun Rama langsung mencegahnya.
"Tunggu dulu Yog. Duduk dulu. Saya ingin memberikan kamu sesuatu," pinta Rama.
Yogi tersenyum. Yogi tahu apa yang akan Rama berikan padanya. Rama pasti akan memberikan uang karena Yogi sudah memberikan informasi tentang Bram padanya.
Yogi duduk kembali. Sementara Rama mengambil sesuatu dari laci mejanya.
Sebuah amplop berisi uang Rama sodorkan ke Yogi.
"Ini, uang buat kamu, seperti yang sudah saya janjikan ke kamu kemarin."
"Wah, makasih banyak ya Pak. Kalau bapak butuh bantuan, bilang saja sama saya. Saya pasti akan bantu bapak selagi saya mampu."
"Terus selidiki lelaki yang bernama Bram. Sudah berapa lama dia dekat dengan istriku dan sudah berapa jauh hubungannya dengan istriku."
"Baik Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu Pak. Masih banyak kerjaan yang harus saya kerjakan."
"Iya. Silahkan. Kamu bisa kembali ke ruangan kamu Yog."
Setelah berpamitan pada Rama, Yogi pun keluar dari ruangan Rama.
***
Setelah Rama tahu hubungan Vika dengan Bram, hubungan Rama dengan Vika, sekarang sudah tidak lagi harmonis seperti dulu.
Rama sekarang sudah berubah sangat dingin pada istrinya. Sekarang dia tidak banyak bicara dan bercanda dengan Vika. Bicara pun hanya seperlunya saja.
Jika di rumah, Rama lebih banyak diam. Dia lebih memilih untuk menyibukkan dirinya dengan aktifitasnya di luar rumah.
Pagi ini, Rama masih berada di halaman depan rumahnya. Seperti hobinya setiap hari, sebelum ke kantor dia habiskan waktunya dulu untuk bermain basket di halaman depan rumahnya.
Vika berdiri di teras depan rumahnya. Sejak tadi dia masih menatap suaminya lekat.
Setelah Rama menghentikan aktifitasnya, Vika mendekati Rama dan menyodorkan botol air minum ke Rama.
__ADS_1
"Mas, kamu pasti haus ya. Ini aku udah ambilin kamu minum."
"Nggak usah Vik. Aku bisa ambil sendiri."
Rama mengusap peluh di keningnya dengan handuknya. Setelah itu dia pergi masuk ke dalam dan meninggalkan istrinya.
"Kenapa sih Mas Rama jadi cuek banget begitu sama aku. Apa yang sudah membuatnya berubah. Apa dia punya wanita simpanan di luar sana. Kenapa ya, firasat aku jadi nggak enak gini," ucap Vika.
"Jika bukan Mbak Shakira, lalu siapa ya, wanita yang sedang dekat dengan Mas Rama. Nggak mungkin Mas Rama berubah begini sama aku, kalau nggak ada sesuatu di luar sana. Aku harus selidiki masalah ini," gumam Vika.
Vika menatap keluar gerbang, dilihatnya sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah Vika.
"Siapa itu." Vika yang penasaran buru-buru menghampiri mobil itu. Vika terkejut saat melihat mobil yang sangat dikenalnya itu.
Bram. Ya ampun. Itu kan Bram. Nekat banget dia ke sini. Mas Rama kan ada di rumah sekarang. Gimana kalau dia lihat Bram datang ke sini, batin Vika.
Vika tampak panik saat melihat Bram menghampiri rumahnya. Vika buru-buru mendekati mobil Bram.
Bram membuka kaca mobilnya. Dia tersenyum saat melihat Vika.
"Hai sayang..." ucap Bram dengan senyum ramahnya.
"Bram. Ngapain kamu ke sini." Vika sudah tampak kesal dengan Bram. Wajahnya terlihat pucat. Sepertinya dia takut karena saat ini Rama masih ada di rumah.
"Aku kangen sama kamu sayang," ucap Bram datar.
"Bram. Suami aku ada di dalam. Jangan nekat kamu Bram." Vika sudah meninggikan nada suaranya.
"Vika, aku benar-benar kangen sama kamu. Aku ke sini, karena pengin melihat kamu. Kamu kenapa sih, sekarang susah banget untuk dihubungi. Di telpon nggak pernah di angkat. Di chat nggak pernah dibalas. Makanya aku datangi aja rumah kamu."
"Bram. Kamu udah gila ya. Bagaimana kalau suami aku tahu hubungan kita Bram."
"Ya bagus dong. Biar sekalian kamu dicerai sama dia, dan aku bisa nikahin kamu. Kalau aku nikahin kamu sekarang kan nggak bisa. Karena kamu masih punya suami. Kalau kamu sudah janda kan bebas."
"Tapi aku nggak mau Bram, pisah sama suamiku. Aku nggak tega sama anak aku. Jika aku cerai, itu sama saja akan menghancurkan kebahagiaan anak aku."
"Sayang..." Bram sudah mengulurkan tangannya. Dia akan memegang pipi Vika, namun Vika buru-buru menyingkirkan tangan Bram.
"Jangan pegang-pegang Bram. Jangan macam-macam ya Bram kamu di sini."
"Vika, sudahlah, nggak usah jual mahal kamu Vika. Jadi wanita itu nggak usah munafik. Kamu akui saja, kalau kamu menikmati malam itu. Jangan hanya menyalahkan aku dong. Kita kan sama-sama mau."
"Diam brengsek. Jangan ungkit masalah itu lagi. Aku sudah nggak mau Bram punya hubungan sama kamu lagi."
"Oh, semudah itu kamu permainkan aku Vika. Aku sudah memberikan semuanya untuk kamu, sekarang kamu berani bicara begitu sama aku. Kamu bilang aku brengsek. Apa mau, video malam itu aku kirim ke suami kamu sekarang juga."
Vika terkejut saat mendengar ucapan Bram.
"Apa! kamu merekam semuanya Bram. Jahat banget kamu Bram. Jadi selama ini kamu jebak aku heh...!"
__ADS_1