
Anna dan Aura menunggu Rama di teras depan rumah Anna. Beberapa saat kemudian, Rama kembali dengan membawa boneka beruang dan hape baru yang sudah dia beli di toko pinggir jalan tadi.
Anna dan Aura tersenyum saat melihat boneka beruang yang dipegang Rama itu.
"Wah, Om. Itu boneka buat aku?" tanya Anna pada Rama.
Rama tersenyum dan mengangguk.
"Iya. Ini boneka buat kamu. Kamu suka kan sama boneka?" tanya Rama.
"Suka banget Om," ucap Anna sembari mengambil boneka itu dari tangan Rama.
Anna kemudian memeluk boneka itu dan menciumnya.
"Cantik banget bonekanya Om," ucap Anna sembari menatap lekat boneka beruang itu.
"Wah, Anna sekarang sudah punya boneka baru ya," ucap Aura teman Anna yang saat ini masih berdiri di sisi Anna.
"Iya. Bunda nggak pernah beliin aku boneka. Soalnya bunda jarang punya uang," ucap Anna.
"Gimana? Anna senang Om belikan boneka baru?" tanya Rama lagi.
"Seneng banget dong Om. Makasih ya Om," ucap Anna.
"Iya. Sama-sama Anna."
"Oh iya Om. Ayo masuk Om. Kita duduk di dalam." Anna mempersilahkan Rama masuk ke dalam rumahnya.
"Iya Anna. Makasih ya."
Rama, Anna dan Aura kemudian masuk ke dalam rumah kontrakan kecil itu.
"Duduk Om!" pinta Anna.
Rama kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu rumah kontrakan itu.
Begitu juga dengan Anna dan Aura yang mengikuti Rama duduk. Mereka duduk bersisian di dekat Rama duduk.
"Oh iya. Om juga punya hadiah lagi buat Anna," ucap Rama. Dia kemudian memberikan kantong plastik yang berisi hape baru pada Anna.
"Apa ini Om?" tanya Anna.
"Coba, buka aja," pinta Rama.
"Iya Om."
Anna kemudian membuka kantong plastik itu. Dia terkejut saat melihat kotak ponsel yang ada di dalam kantong plastik itu.
"Wah, ini hape ya Om," ucap Anna.
"Iya. Itu hape baru buat kamu."
"Om membelikan aku hape baru? tapi untuk apa Om? kan aku nggak minta dibeliin hape."
"Iya. Itu hape baru buat kamu. Katanya kamu nggak punya hape. Makanya Om beliin kamu hape baru. Biar Om bisa sering telpon kamu kalau Om lagi kangen."
Anna tersenyum sembari menunjukkan gigi putihnya. "Makasih banyak ya Om."
__ADS_1
"Iya An."
"Coba An, di buka. Aku pengin lihat hape baru kamu," ucap Aura yang penasaran dengan hape baru Anna.
"Om, boleh di buka sekarang nggak hapenya?" tanya Anna menatap Rama lekat.
"Boleh dong. Silahkan aja kalau mau di buka sekarang," ucap Rama.
Anna kemudian membuka bungkus hape itu. Sementara Aura masih menunggu Anna membuka kotak hape itu. Dia ingin melihat hape baru Anna.
Anna terkejut saat melihat hape baru itu.
"Wah, Om. Hapenya bagus banget. Layarnya juga gede banget lagi. Pasti ini harganya mahal deh," ucap Anna.
"Iya. Untuk saat ini Om cuma bisa beli satu untuk kamu. Kapan-kapan kalau Om punya rezeki Om akan belikan hape juga untuk bunda kamu."
"Nggak apa-apa Om. Satu aja udah lebih dari cukup untuk aku. Sebenarnya sih Anna nggak terlalu butuh hape. Karena Anna masih kecil dan kata bunda, Anna harus fokus dengan belajar. Nggak boleh mainan hape terus," ucap Anna.
Rama tersenyum.
"Iya. Benar apa kata bunda kamu. Kalau kamu nggak boleh mainan hape terus. Dan Om belikan kamu hape itu, supaya kita bisa telponan. Jadi kalau Om kangen sama kamu, Om bisa telpon kamu An."
"Iya Om."
****
Setelah cafe tutup, semua karyawan cafe itu pulang. Begitu juga dengan Safia. Safia saat ini masih berada di depan cafe.
"Aku pulang naik apa ya, udah malam banget begini, apa masih ada ojek atau taksi,"ucap Safia memutar bola matanya dan menatap sekeliling.
Semua teman-teman Safia sudah pulang. Tinggal Safia dan Iren yang masih berada di cafe itu.
"Safia, kamu mau pulang naik apa?" tanya Iren yang sudah berada di atas motornya.
Safia menatap Iren.
"Aku mau naik ojek Ren," jawab Safia.
"Emang malam-malam gini masih ada ojek atau taksi."
"Mungkin saja masih."
"Tapi jarang ada sih kalau sudah jam segini. Rumah kamu di mana sih? dari pada nungguin kendaraan lama, mending pulang bareng aku aja," ucap Iren.
"Nggak usah Ren. Aku nggak mau ngerepotin kamu. Aku bisa kok pulang sendiri."
"Jangan pulang sendiri. Bahaya di sini mah kalau pulang sendiri. Mending kalau kamu langsung naik ojek atau taksi. Bagaimana kalau nggak ada kendaraan. Ayo ikut aku aja."'
"Duh, aku nggak mau ngerepotin kamu Ren."
"Aku sama sekali nggak merasa direpotin kok. Ayo naik! nanti aku antar kamu sampai rumah kamu,"
"Nggak apa-apa nih?" Safia menatap lekat Iren.
"Iya. Nggak apa-apa. Sekarang kan kita teman. Jadi kita harus saling membantu dong. Ayo naik aja, jangan sungkan-sungkan. Nanti aku antar kamu sampai rumah kamu. Sekalian aku pengin lihat rumah kamu dan pengin kenal sama anak kamu."
"Ya udah deh."
__ADS_1
Safia akhirnya mau juga membonceng motor Iren. Safia kemudian naik ke atas motor Iren dan mereka berdua kemudian meluncur pergi meninggalkan cafe.
"Kamu berani ya Ren, naik motor sendiri dan pulang malam-malam begini," ucap Safia di tengah-tengah perjalanan pulang.
"Iya dong. Udah biasa. Demi anak dan keluarga aku rela capek dan pulang malam. Aku pengin bantu suami nyari uang," ucap Iren di sela-sela menyetirnya.
"Iya Ren. Kamu memang wanita yang kuat," puji Safia.
"Kamu juga wanita yang kuat Saf. Kamu bisa membesarkan anak kamu sendiri tanpa seorang suami."
"Yah, mau bagaimana lagi Ren. Mungkin itu sudah menjadi takdir aku. Menjadi orang tua tunggal untuk anak aku."
"Kamu harusnya cari suami lagi Safia. biar ada yang bantuin kamu cari nafkah. Syukur-syukur kamu punya suami pengusaha. Jadi kamu nggak perlu susah-susah kerja karena kebutuhan kamu dan anak kamu sudah terpenuhi."
"Hehe... aku nggak mau mimpi terlalu tinggi Ren. Kalau aku niat cari suami, mungkin sudah dari dulu. Tapi aku malas punya suami lagi. Untuk sekarang, aku mau fokus membesarkan anak aku dulu. Soalnya anak aku juga belum terlalu mandiri. Dia masih SD. Kalau dia sudah SMP, barulah mungkin aku akan memikirkan cari suami lagi."
"Iya Saf. Aku doain semoga kamu suatu saat nanti, akan mendapatkan jodoh yang baik dan bertanggung jawab."
"Amin."
Beberapa saat kemudian, motor Iren sudah sampai di jalan dekat rumah Safia.
Safia terkejut saat melihat sebuah mobil meluncur pergi dari gang rumahnya.
"Ren, kita berhenti di situ aja ya," ucap Safia.
"Iya Saf."
Iren menghentikan motornya. Setelah itu Safia pun turun dari motor Iren.
Safia masih berdiri menatap mobil yang sudah meluncur pergi.
Mobil siapa itu ya, mobilnya bagus banget, jarang ada mobil bagus masuk ke gang seperti ini, tamunya siapa ya tadi, batin Safia.
"Saf, kamu lagi ngelihatin apa?" tanya Iren.
"Nggak ngelihat apa-apa kok," jawab Safia.
"Rumah kamu mana Saf?" Iren menatap sekeliling.
"Rumah aku masuk ke dalam gang kecil ini. Aku belum punya rumah sendiri. Jadi aku masih ngontrak. Dan kontrakan aku juga kecil."
"Oh."
"Kalau mau mampir, ayo Ren. Mampir aja."
"Duh, udah malam Saf. Lain kali aja ya. Aku mau langsung pulang aja."
"Ya udah. Makasih banyak ya untuk tumpangannya."
"Iya. Sama-sama."
"Aku pergi dulu ya Saf."
Safia tersenyum dan mengangguk.
"Iya. Hati-hati ya."
__ADS_1
Iren kemudian meluncur pergi meninggalkan Safia. Setelah motor Iren menghilang dari hadapan Safia, Safia berjalan menuju ke rumahnya.