Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Curiga


__ADS_3

"Nggak An, kamu aja yang bicara dengan Om Rama. Bunda udah kesiangan. Bunda mau ke dapur dulu, mau masak," ucap Safia memberikan alasan. Padahal dia sama sekali tidak mau telpon dengan lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya itu.


Safia kemudian buru-buru keluar dari kamar Anna. Sementara Anna kembali bicara dengan Rama.


"Bunda nggak mau bicara dengan Om."


"Kenapa An?"


"Bunda katanya udah kesiangan. Dia mau masak dan mau berangkat kerja."


"Oh. Ya udah kalau begitu. Om Rama telponan sama Anna aja deh."


"Iya Om. Nggak apa-apa kok. Ini juga masih pagi."


"Anna mau berangkat sekolah?"


"Iya dong Om."


"Yang rajin ya, belajarnya. Biar Anna dapat peringkat pertama."


"Iya Om. Anna juga dapat peringkat satu terus kok Om."


"Iya. Pertahankan ya. Om membelikan hape kamu, bukan untuk mainan. Tapi untuk telpon kalau Om kangen Om bisa telpon Anna. Dan kalau Anna kangen dengan Om, Anna juga bisa telpon Om."


"Iya Om. Makasih banget ya Om."


****


Vika masih menatap tajam ke arah Rama yang saat ini masih bertelponan di ruang tengah.


"Mas Rama telponan sama siapa sih. Dari tadi dia asyik banget telpon-telponannya.


Jangan-jangan, dia lagi telpon-telponan sama cewek lagi," ucap Vika curiga.


Vika yang penasaran, buru-buru mendekat ke arah Rama.


"Mas Rama, kamu lagi ngapain di sini?" tanya Vika sembari menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah.


Rama menghentikan bicaranya dengan Anna.


"Halo, sudah dulu ya An. Nanti Om telpon lagi."

__ADS_1


Rama kemudian memutuskan saluran telponnya. Setelah itu dia menatap Vika.


"Ada apa Vik?"


"Siapa tadi Mas? kamu telponan sama siapa tadi?" tanya Vika dengan sorot mata tajam.


"Tadi... Anna," ucap Rama datar.


Vika mengernyitkan alisnya.


"Anna siapa?" tanya Vika.


"Anna... "Rama menggantungkan ucapannya. Dia bingung untuk menjelaskan pada istrinya siapa Anna.


"Sudahlah, nggak penting Vik. Aku mau ke kamar. Mau mandi," ucap Rama sembari bangkit berdiri.


Vika mengikuti Rama berdiri.


"Mas, katakan sama aku. Siapa Anna?" tanya Vika yang masih penasaran dengan Anna.


"Bukan siapa-siapa. Sudahlah."


Rama akan melangkah pergi. Namun Vika buru-buru mencekal tangan suaminya.


Rama terkejut saat mendengar ucapan Vika


"Apa! kamu bilang apa tadi? selingkuhan aku? aku nggak pernah selingkuhin kamu Vik. Anna itu cuma anak kecil perempuan sepantaran anak kita. Aku cuma prihatin aja dengan kondisinya saat ini. Makanya aku sering bantu dia. Dan tadi aku telponan sama Anna. Kok kamu bilang aku selingkuh," ucap Rama menjelaskan.


Namun tampaknya, Vika tidak percaya dengan ucapan Rama.


"Halah, itu sih cuma alasan kamu aja Mas. Aku nggak akan percaya sama kamu, kalau kamu nggak bisa membuktikan kalau yang kamu telepon tadi anak kecil. Bisa saja kamu cuma ngarang cerita. Kamu fikir aku mau percaya sama kamu."


"Vik, kenapa sih. Kamu itu curigaan terus sama aku. Aku itu setia sama kamu. Dan aku nggak pernah mengkhianati kamu. Kamu jangan nuduh aku selingkuh dong. Kalau kamu seperti ini terus, bisa-bisa aku selingkuh beneran. Kamu mau aku selingkuh beneran?"


"Ya nggak dong. Wanita mana sih, yang mau suaminya selingkuh. Aku nggak mau kamu selingkuhin aku."


"Ya udah, kalau begitu percaya dong sama aku. Kalau kamu nggak percaya sama aku, nanti aku kenalin kamu sama Anna. Bila perlu, aku akan ajak Anna ke sini."


"Untuk apa kamu ngajak Anna ke sini," ucap Vika.


Rama sudah tidak mau menghiraukan lagi ucapan istrinya. Rama tidak mau, bertengkar lagi dengan Vika hanya karena soal sepele seperti ini.

__ADS_1


Vika memang wanita yang pencemburu. Dia juga selalu curiga pada Rama. Rama sebenarnya lelah punya istri seperti Vika. Namun dia tidak mungkin meninggalkan Vika, karena dia sudah punya anak dari Vika. Dia tidak mau meninggalkan Vika dan mengorbankan Liza.


Dari pada meladeni istrinya, Rama lebih memilih untuk kembali ke kamarnya. Sementara Vika sejak tadi sudah mulai resah. Vika takut kalau Rama akan menduakan dia. Karena yang Vika lihat tadi, Rama telpon begitu sangat mesra dengan Anna.


"Aku nggak akan pernah maafin Mas Rama, kalau sampai dia selingkuhin aku. Aku harus selidiki siapa wanita yang sedang dekat dengan suamiku. Jangan-jangan, suami aku selingkuh dengan anak ABG lagi. Makanya tadi dia panggil Om."


****


Pagi ini, Safia dan Anna sudah duduk di ruang makan. Mereka masih menikmati sarapannya di pagi ini.


"Anna, Om Rama bicara apa saja tadi?" tanya Safia di sela-sela kunyahannya.


"Oh. Om Rama tadi bilang, kalau aku nggak boleh mainan hape terus Ma. Om Rama nyuruh aku belajar, agar aku bisa dapat peringkat satu lagi. Dan Om Rama juga bilang, kalau hape itu cuma untuk telpon aja," jawab Anna.


"Oh... gitu? dia nggak pernah nanyain bunda?"


"Dia sering kok nanya bunda. Dia malah penasaran pengin lihat wajahnya bunda."


"Om Rama kamu itu seperti apa sih?"


Anna tersenyum.


"Ya, dia cakep Bun. Bunda kenapa? tumben nanyain Om Rama. Bunda penasaran ya sama Om Rama.


"Nggak juga. Dia sudah punya istri?" tanya Safia lagi. Sebenarnya sudah lama Safia itu penasaran dengan lelaki itu.


"Udah. Dan dia juga udah punya anak. Dan anaknya itu cewek sepantaran aku," jawab Anna


"Kamu sudah kenal sama istri dan anaknya Om Rama?" Safia menatap Anna lekat.


"Belum Bun. Aku juga penasaran sama mereka. Katanya Om Rama pengin kenal sama bunda dulu. Kalau sudah kenal sama bunda, baru Om Rama nanti akan mengenalkan aku dan bunda ke istri dan anaknya Om Rama."


"Oh ya? bunda jadi penasaran sama Om baik kamu itu."


"Tuh kan, bunda udah mulai penasaran. Om Rama itu emang orang yang baik kok Bun. Kapan-kapan nanti aku kenalin bunda sama Om Rama ya."


Safia mengangguk.


Iya. Sekalian aku mau kembalikan uang, hape, dan boneka yang sudah dia berikan untuk anak aku, batin Safia.


"Kamu kenal dimana sih sama Om Rama itu?" tanya Safia. Dia ingin tahu, sebenarnya kenal di mana Anna itu sama Om Rama.

__ADS_1


"Kenal di jalan, waktu aku jualan koran. Om Rama sudah memborong semua koran-koran aku. Dan dia ngasih aku uang banyak. Dan aku ketemu lagi sama dia, waktu pulang sekolah. Dan Om Rama ngajakin aku makan di restoran dan ngasih aku uang lagi. Dan yang terakhir, tadi malam dia datang ke sini, ngasih aku hape dan boneka," ucap Anna menjelaskan panjang lebar pada ibunya.


"Oh..." Safia hanya manggut-manggut mendengar cerita Anna. Sekarang Safia sudah tahu, awal mula anaknya mengenal lelaki yang bernama Rama itu.


__ADS_2