
Safia masih menunggu anaknya di ruang makan. Namun sejak tadi Anna tidak keluar juga dari kamar.
"Kemana sih Anna. Ganti baju aja lama banget," gerutu Safia.
Safia bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah masuk ke dalam kamar anaknya. Safia terkejut saat melihat Anna masih berdiri di dekat jendela kamarnya.
Safia mendekat ke arah anaknya. Dia kemudian memegang ke dua bahu Anna.
"Kenapa kamu malah berdiri di sini? ayo sayang, kita makan," ucap Safia.
Anna segera mengusap air matanya. Dia kemudian memutar tubuhnya dan menghadap ke ibunya.
"Kamu nangis An?" tanya Safia.
"Aku nggak apa-apa Bun," jawab Anna sembari mengusap sisa-sisa air matanya yang ada di sudut matanya.
"Kenapa kamu nangis? bunda tahu, pasti kamu masih mikirin Om Rama ya?" terka Safia.
Anna tersenyum dan menggeleng.
"Nggak kok Bun. Aku udah nggak mikirin Om Rama lagi. Mulai sekarang aku mau nurut sama bunda. Aku nggak akan ketemu sama Om Rama lagi dan aku nggak mau berhubungan lagi sama dia."
Safia tersenyum dan mengecup kening anaknya.
"Anna memang anak kesayangan Bunda Safia yang paling pintar dan paling nurut. Ayo sayang, kita makan."
Anna mengangguk. Safia kemudian merangkul bahu Anna dan mengajak Anna ke ruang makan.
"Ayo kita makan sayang. Ini , bunda udah ambilin kamu nasi," ucap Safia.
Anna menghempaskan tubuhnya di atas kursi ruang makan. Begitu juga dengan Safia. Mereka duduk bersisian di ruang makan.
Anna dan Safia kemudian lekas makan. Anna makan tanpa sendok dengan lahap. Sejenak dia menikmati makannya tanpa mengingat Rama.
"Bun, tadi katanya ada yang mau bunda bicarakan. Bunda mau bicara soal apa?" tanya Anna di sela-sela kunyahannya.
"Anna, bunda pengin pindah kontrakan," ucap Safia yang membuat Anna terkejut.
"Apa! pindah kontrakan? kok pindah Bun? kenapa?" tanya Anna.
"Bunda udah nggak betah ngontrak lama-lama di rumahnya Mbak Wati. Kamu tahu kan Mbak Wati itu galak banget kalau nagih kontrakan," jelas Safia.
Anna tampak berfikir. Ya, memang selama ini Anna tahu kalau Wati itu galak. Dia pasti akan marah-marah kalau sampai Safia telat bayar kontrakan.
Kalau bunda pindah rumah, gimana dengan Om Rama. Kalau Om Rama main ke sini lagi, dia nggak akan bisa ketemu aku lagi dong.
Safia memang sengaja ingin pindah kontrakan. Karena dia tidak mau Rama datang lagi dan menemui Anna lagi. Dia sengaja ingin menjauhkan Anna dari Rama.
"Bun, kalau kita pindah, aku nggak akan bisa main lagi dengan Aryo dan Aura dong," ucap Anna tampak sedih.
Safia tersenyum.
"Kan kalian masih bisa ketemu dan main di sekolah."
"Tapi kalau nanti kita pindah kontrakan baru, aku nggak akan punya teman main di sana. Kalau di sini kan, kalau bunda kerja, aku masih bisa di rumahnya Aura."
Iya juga sih. Kalau aku memaksakan untuk pindah kontrakan, bagaimana kalau Anna aku tinggal kerja. Biasanya aku titipkan dia ke Bu Nunung. Kalau pindah kontrakan, Anna mau aku titipkan ke siapa, batin Safia.
Safia bingung. Sebenarnya dia ingin menjauhkan Rama dengan Anna. Makanya dia ingin pindah kontrakan agar Rama tidak bisa lagi menemui Anna. Namun jika Safia pindah kontrakan, lalu bagaimana dengan Anna.
__ADS_1
Mendingan aku fikirkan lagi ini nanti. Aku mau tanya-tanya dulu sama Iren. Barang kali di dekat rumah Iren, ada rumah yang mau di kontrakan. Aku mau cari rumah kontrakan yang strategis, yang letaknya di pinggir jalan, batin Safia.
Setelah makan siang, Safia kemudian membereskan meja makan. Dia membawa piring-piring kotor itu dan meletakannya di dapur.
"Bunda, aku ngantuk. Aku pengin tidur Bun."
"Ya udah tidur aja sayang kalau ngantuk. Kamu juga pasti capek kan baru pulang sekolah."
"Maaf ya Bun, kalau Anna nggak bisa bantuin bunda cuci piring."
"Nggak apa-apa. Bunda bisa kok, mengerjakan pekerjaan rumah bunda sendiri."
Anna tersenyum. Setelah itu dia melangkah ke kamarnya dan meninggalkan bundanya di dapur.
*****
Sepulang kerja, Rama tidak langsung pulang ke rumahnya. Setelah kejadian kemarin saat dia di usir Safia dari rumah Anna, tidak membuat Rama jera untuk menemui Anna.
Rama menghentikan laju mobilnya setelah dia berada di depan gang kecil itu.
Rama melambaikan tangannya saat melihat anak kecil laki-laki sepantaran Anna sedang bermain-main di tepian jalan.
"Dek, sini dek sini..." ucap Rama.
"Ada apa Om?" tanya Aryo.
"Nama kamu siapa?"
"Aryo Om."
"Kamu kenal dengan Anna?"
"Kenal banget Om. Anna kan teman sekolah aku, sekaligus tetangga dekat aku."
"Kayaknya Tante Safia ada di rumah. Dia nggak berangkat kerja."
"Oh... kamu mau nggak bantuin Om, untuk ketemu Anna."
"Bisa Om."
"Tapi jangan sampai bundanya Anna tahu ,kalau Anna ketemu sama Om."
"Caranya?"
"Kamu mau nggak, sekarang kamu samperin Anna. Kamu pura-pura mau main sama Anna. Terus kamu bawa Anna ke sini."
Aryo mengangguk. Dia kemudian melangkah masuk ke dalam gang kecil itu untuk menemui Anna.
Aryo menatap sekeliling. Namun tak dilihatnya Anna ada di luar rumah.
"Anna pasti ada di dalam," ucap Aryo.
Aryo kemudian melangkah ke teras depan rumah Anna. Dia mengetuk pintu rumah Anna.
Tok tok tok...
"Anna... Anna..."
Beberapa saat kemudian, Aura membuka pintu.
__ADS_1
"Aryo, ada apa? kamu mau nyari Anna juga?" tanya Aura.
"Iya. Aku mau ajak dia main "
"Anna nya baru selesai mandi dan dia lagi ganti baju di kamar," jelas Aura.
"Kalau bundanya Anna ke mana?" tanya Aryo.
"Dia juga ada di dalam."
Beberapa saat kemudian, Anna sudah cantik dengan rambut di kuncir dua. Dia keluar dari kamarnya dan menghampiri Aura yang ada di ruang tamu.
Anna tersenyum saat melihat Aryo.
"Aryo. Kamu mau main juga sama kami?" ucap Anna.
Aryo mendekat ke arah Anna. Dia kemudian berbisik di dekat telinga Anna.
"Anna, Om Rama lagi nunggu Anna di gang depan," bisik Aryo yang membuat Anna tersenyum senang.
Anna lantas menatap wajah Aryo lekat.
"Kamu yakin?" tanya Anna.
Aryo mengangguk.
"Iya. Tapi kamu jangan bilang-bilang bunda kamu," bisik Aryo lagi.
Ih, mereka lagi bisik-bisik apa sih, batin Aura yang tidak suka dicuekin.
Anna mengacungkan jempolnya. Setelah itu dia menyeret tangan Aura untuk ikut bersamanya.
"Aura temani aku untuk ketemu Om Rama. Kata Aryo, dia lagi nungguin aku di gang depan," ucap Anna sembari buru-buru melangkah ke gang depan.
Aura hanya menurut saja dengan Anna.
"Jadi Om Rama ke sini."
"Iya. Kata Aryo dia lagi nungguin aku. Ayo cepat...! keburu bunda tahu."
Anna dan Aura menghentikan langkahnya setelah mereka sampai di dekat mobil Rama. Rama sudah tampak bersandar di mobilnya.
"Om Rama..." ucap Anna yang langsung memeluk tubuh Rama dengan erat.
Rama yang sudah kangen berat dengan Anna, langsung mengangkat tubuh kecil Anna dan membawa Anna dalam gendongannya.
"Om, turunin Om, Anna malu. Kenapa Om gendong Anna. Kan Anna udah besar, " ucap Anna merengek minta diturunin saat Rama menggendongnya.
"Om kangen banget sama Anna. Om takut nggak akan bisa ketemu Anna lagi," ucap Rama. Setelah itu dia mencium kening dan ke dua pipi Anna.
"Kamu wangi. Udah mandi ya."
Anna hanya mengangguk. Setelah itu Rama pun menurunkan Anna dari gendongannya.
"Kenapa Om masih berani datang ke sini. Bagaimana kalau bunda tahu Om di sini. Bunda bisa marah lagi sama Om dan Anna," ucap Anna menatap lekat Rama
"Bunda kamu nggak akan tahu kok. Om kangen banget sama Anna. Sehari Om nggak ketemu Anna, rasanya seperti setahun Om nggak ketemu Anna. Rasanya, Om sudah mulai jatuh cinta sama Anna."
"Hehe... " Aura dan Anna terkekeh saat mendengar gombalan Rama.
__ADS_1
"Ih...Om Rama lebay deh," ucap Aura.
"Om kan tahu sekolah aku. Kalau Om mau ketemu aku, kenapa Om nggak nemuin aku di sekolah aja. Kalau kita ketemu di sini kan aku jadi takut ketahuan bunda," ucap Anna.