
Setelah memakai bajunya, Vika kemudian berjalan ke arah lemari. Dia akan mengambil baju-bajunya dan berkemas untuk pulang.
Bram tidak tinggal diam. Dia turun dari tempat tidurnya dan memakai bajunya kembali. Dia kemudian mendekati Vika.
"Vik, kamu serius mau pulang?" tanya Bram pada Vika.
"Iya. Aku mau pulang sekarang," jawab Vika sembari memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.
"Vik, kenapa harus pulang sekarang sih. Pulang nanti aja, bareng aku."
"Aku nggak mau. Pokoknya aku mau pulang sekarang."
"Kalau kamu mau pulang sekarang, aku nggak bisa ngantar kamu Vik.Aku masih punya banyak tugas di sini."
Vika menghentikan aktifitasnya. Setelah itu dia menatap Bram tajam.
"Aku nggak perduli Bram sama kamu. Yang penting aku mau pulang. Titik! "
Bram sudah tidak bisa lagi melarang Vika. Kelihatannya Vika itu sangat marah padanya.
"Vika, kamu marah soal yang semalam? Vik, maafin aku Vik. Semalam itu kan kamu juga nggak nolak dan kita sama-sama menikmati. Kita melakukan hal itu juga karena cinta."
Plak.
Satu tamparan mendarat di pipi Bram. Bram meringis dan memegangi pipinya yang sakit.
"Auh, galak banget sih Vik. Kenapa kamu tampar aku," ucap Bram dengan nada tinggi.
"Nggak seharusnya kita melakukannya Bram. Kita aja baru ketemu dan baru memulai hubungan backstreet kita. Tapi kamu sudah berani macam-macam sama aku."
"Vik, kamu nggak bisa dong cuma nyalahin aku. Semalam kan kamu menikmatinya juga. Kita melakukannya karena kita sama-sama mau Vik, bukan karena terpaksa. Kenapa kamu jadi nyalahin aku."
"Cukup Bram! diam! nggak usah bicara lagi," ucap Vika dengan nada tinggi.
Bram diam. Sementara Vika kembali mengepaki baju-bajunya ke dalam koper.
"Aku mau mandi, dan aku mau siap-siap. Kamu nggak usah halangi aku lagi Bram."
Setelah memasukan semua barang-barangnya ke dalam koper, Vika kemudian mengambil handuk. Dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Vika menyalakan shower. Dia kemudian mengguyur tubuhnya di bawah pancuran air shower. Dia menggosok-gosokan tubuhnya. Menghilangkan bekas sentuhan-sentuhan Bram. Timbul penyesalan yang sangat besar di hati Vika setelah apa yang sudah dia lakukan semalam bersama Bram.
"Hiks...hiks... kenapa aku harus melakukan itu sama Bram. Kenapa...! seharusnya aku nggak lakukan itu. Sekarang aku sudah kotor, gara-gara Bram," ucap Vika dengan berderaian air mata.
****
Rama masih berbaring di sisi Liza anaknya. Sejak kemarin Rama tidak ke kantor karena Liza sakit.
__ADS_1
Tok tok tok ..
Suara ketukan dari luar kamar Liza terdengar.
"Pak Rama..." suara Shakira sudah terdengar dari luar kamar Rama.
Rama bangkit dari duduknya dan berjalan untuk membuka pintu.
"Shakira, ada apa?" tanya Rama.
"Sarapannya udah siap Pak. Pak Rama nggak mau sarapan?"
"Mama sudah ada di ruang makan?" tanya Rama menatap Shakira lekat.
"Iya. Bu Tari lagi nunggu Pak Rama dan Non Liza turun. Tapi dari tadi kalian nggak turun-turun."
"Aku lagi nggak enak makan. Liza belum turun panasnya. Dari kemarin dia masih demam. "
"Terus, Pak Rama nggak mau ke kantor?"
"Kalau panasnya Liza nggak turun-turun juga, kayaknya aku nggak akan berangkat ke kantor lagi. Karena kalau lagi sakit, Liza nggak mau ditinggal."
"Pak Rama kenapa nggak telpon Bu Vika aja? kalau tahu Non Liza sakit, aku yakin Bu Vika pasti mau cepat pulang."
"Untuk apa aku nelpon Vika. Tanpa Vika, aku pun bisa mengurus Liza sendiri," ucap Rama dengan nada tinggi.
"Shakira, bilang sama bu Tari, nggak usah nungguin Liza. Makan sendiri aja. Liza nya masih sakit."
"Iya Pak Rama."
Shakira kemudian berjalan pergi meninggalkan kamar Liza. Dia berjalan menuju ke ruang makan.
"Bu Tari, maaf. Pak Rama dan Non Liza nggak bisa menemani Bu Tari sarapan."
"Kenapa?" Bu Tari menatap Vika lekat.
"Non Lizanya masih demam. Tadi dia masih tidur. Jadi Pak Rama tadi masih menemani Non Liza di kamarnya Non Liza. Pak Rama juga nggak mau ikut makan."
Bu Tari tampak sedih.
"Jadi, saya makan sendirian? kalau begitu, kamu saja Shakira yang temani saya makan."
"Duh Bu, tapi saya sudah kenyang. Saya sudah makan tadi di rumah."
"Jadi kamu sudah sarapan ?"
"Iya. Sebelum berangkat ke sini kan saya sarapan dulu."
__ADS_1
"Ya sudahlah, saya bisa makan sendiri. Kamu boleh kalau mau lanjutin pekerjaan kamu."
Shakira mengangguk. "Iya Bu.
Shakira kemudian pergi meninggalkan ruang makan dan menuju ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.
****
Tok tok tok ...
Suara ketukan dari luar rumah sudah terdengar. Shakira yang mendengar suara itu, langsung menuju ke ruang tamu untuk membuka pintu.
Dia terkejut saat melihat Vika sudah berdiri di depan pintu. Begitu juga dengan Vika yang sama terkejutnya saat melihat Shakira.
"Kamu, kamu masih berani datang ke sini selama tidak ada aku?" Vika sudah menatap tajam ke arah Shakira.
"Bu Vika, maaf. Aku nggak bermaksud lancang datang ke sini lagi. Tapi aku datang ke sini, karena dipanggil Pak
Rama."
"Halah, alasan saja. Aku tahu, kamu itu sengaja kan ingin dekatin Mas Rama selama aku nggak ada. Apalagi kamu tahu, Mas Rama sekarang sudah jadi orang kaya. Aku tahu apa yang ada di dalam fikiran kamu Shakira. Jujur aja, apa yang sudah kamu lakukan selama aku nggak ada dengan suamiku."
"Astaghfirullah, kenapa Bu Vika bisa bicara begitu. Jangan su'udzon gitu Bu. Saya datang ke sini cuma mau bantuin Bik Ijah. Dia kerepotan waktu Bu Vika pergi. Jadi Pak Rama mengundang saya lagi untuk kerja di sini," jelas Shakira panjang lebar.
"Bu Tari juga kasihan nggak ada yang ngurus keperluannya selama Bu Vika pergi. Non Liza juga nggak ada yang ngantar jemput sekolah, makanya Pak Rama nyuruh saya ke sini," lanjut Shakira.
Namun rupanya penjelasan Shakira tidak berarti apa-apa untuk Vika. Vika sama sekali tidak mau percaya dengan Shakira.
"Sekarang aku udah kembali. Kamu bisa pergi dari sini dan besok, nggak usah kamu datang ke rumahku lagi," ucap Vika menegaskan.
Vika masuk dengan menyeret kopernya dan melewati Shakira begitu saja. Setelah sampai di ruang tengah, dia menatap sekeliling.
"Bik Ijah...! Bik Ijah...!" seru Vika.
Beberapa saat kemudian, Bik Ijah mendekat ke arah Vika.
"Iya Bu Vika."
"Tolong, bawakan koper saya ke kamar. Mas Rama lagi di kantor kan?"
"Pak Rama ada di kamarnya Non Liza. Non Liza dari kemarin sakit, dan dia tidak mau ditinggal. Jadi, Pak Rama nggak masuk kantor dari kemarin."
"Liza sakit? kok nggak ada yang ngabarin aku sih."
"Sebenarnya bibi mau ngabari Bu Vika, tapi bibi dilarang Pak Rama."
"Kenapa sih dengan Mas Rama."
__ADS_1
Aku tahu, ini semua pasti karena Shakira. Mas Rama pasti seneng aku nggak ada. Dia bisa bebas dekat-dekat dengan Shakira lagi.