Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Sepahit itu kah


__ADS_3

Hiks...hiks...hiks... Safia sejak tadi masih menangis.


Sebenarnya Rama sedih saat melihat kondisi Safia saat ini. Safia seorang ibu tunggal yang membesarkan anaknya sendiri tanpa seorang suami. Dan Rama tidak tahu siapa dan di mana suami Safia.


Setiap kali Safia bertemu dengan Rama, ingatan malam itu, selalu muncul dalam fikirannya. Safia benar-benar tidak bisa melupakan kejadian di malam itu. Sehingga Safia muak jika dia harus dipertemukan lagi dengan Rama.


Rama mendekati Safia dan meraih tangan Safia. Rama kemudian menggenggam tangan Safia dengan erat.


"Safia. Aku menyesal Safia. Aku sudah membuat hidup kamu hancur. Kenapa kamu harus pergi dari rumah. Seandainya kamu nggak pergi dari rumah dan nggak pergi dari kehidupan aku, aku pasti akan bertanggung jawab. Jika kamu mau, aku siap menikahi mu waktu itu," ucap Rama.


Safia sejak tadi hanya bisa menangis. Air matanya masih menetes deras membanjiri pipi mulusnya.


Rama meraih wajah Safia dan mengusap air mata wanita yang selama ini di cari-carinya itu.


Safia terkejut saat tiba-tiba saja Rama memeluknya dengan erat. Safia yang masih menangis, tidak bisa menolak begitu saja pelukan itu.


Anna terkejut saat melihat ibunya berpelukan di depan pintu dengan Om baiknya itu.


"Bunda kenapa pelukan sama Om Rama di situ. Katanya bunda benci sama Om Rama. Kok mereka malah pelukan," gumam Anna yang merasa malu saat melihat Rama pelukan dengan Safia di depan pintu.


Anna buru-buru kembali masuk ke dalam. Dia ingin pura-pura tidak tahu saja dengan apa yang tadi dilihatnya itu.


"Safia maafkan aku. Jangan membenciku terlalu dalam Safia. Karena bisa jadi, rasa benci itu akan berubah menjadi rasa cinta," ucap Rama di dalam pelukan Safia.


Safia melepaskan pelukan Rama dengan paksa.


"Apa maksud kamu bicara seperti itu?" tanya Safia menatap tajam ke arah Rama.


Rama tersenyum. Dia sangat mengerti dengan kondisi hati Safia saat ini. Safia memang masih marah pada Rama dan belum bisa melupakan kejadian malam itu. Namun bukanlah Rama, jika Rama tidak bisa menaklukkan hati seorang wanita.


Rama menangkup wajah Safia dan menatapnya lekat.


"Safia, aku rindu sama kamu. Aku juga rindu sama anak kamu. Walaupun sekarang, kamu nggak memperbolehkan aku untuk ketemu anak kamu lagi, tapi tidak apa-apa. Asalkan aku masih bisa ketemu sama kamu. Itu sudah lebih dari cukup untuk mengobati kerinduan aku sama kalian berdua."


Safia masih bingung dengan maksud kata-kata Rama.


Tidak, aku nggak boleh terpancing oleh rayuan Mas Rama. Aku tahu siapa Mas Rama. Dia itu kan paling jago ngerayu wanita. Aku Safia, bukan Mbak Shakira. Aku nggak akan pernah terpancing oleh rayuannya Mas Rama.


Safia melepaskan tangan Rama dari wajahnya.

__ADS_1


"Anna nggak ada di dalam Mas. Anna lagi main sama temannya," ucap Safia ketus.


Rama tersenyum.


"Nggak apa-apa aku nggak ketemu Anna. Aku ke sini cuma mau ketemu kamu aja kok."


"Apa!"


"Aku lagi bete di rumah. Aku lagi butuh teman curhat."


"Terus, kamu ke sini mau curhat sama aku gitu?"


"Saf, apa kamu nggak kangen sama orang tua kamu dan Kakak kamu? kamu sudah melupakan mereka ya? "


Safia diam saat Rama mengingatkannya kembali pada Shakira dan ke dua orang tuanya.


"Safia, kenapa kamu diam aja. Kamu nggak pengin ketemu mereka?"


Safia kemudian menatap Rama lekat.


"Aku kangen banget Mas sama Ibu dan bapak aku."


Safia terkejut saat mendengar ucapan Rama.


"Mas Rama tahu dari mana kalau mereka ada di Jakarta?"


"Em... ngomong-ngomong, kamu nggak mau nih, nyuruh aku masuk ke dalam? nanti aku kasih tahu semuanya," ucap Rama.


"Oh. Iya Mas. Ayo masuk Mas. Nggak enak kita bicara di depan pintu begini"


Yes, akhirnya Safia mau mempersilahkan aku masuk. Aku pasti bisa ketemu sama Anna.


Setelah Safia mempersilahkan Rama masuk, Rama kemudian masuk ke dalam rumah Safia.


"Maaf ya Mas. Rumahnya sempit banget," ucap Safia. "Silahkan duduk Mas"


Setelah Safia mempersilahkan Rama duduk, Rama kemudian duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumah Safia.


"Kenapa kamu nggak cari rumah kontrakan yang agak gedean aja Saf? kasihan Anna kalau kamu ajak dia tinggal di sini," tanya Rama setelah dia duduk.

__ADS_1


"Penginnya sih gitu Mas. Tapi mahal Mas. Gaji aku nggak memadai untuk membayar rumah kontrakan yang besar," ucap Safia sembari menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


Anna yang sejak tadi masih ada di dalam ruang tengah hanya bisa mengintip ke ruang tamu di mana bunda dan Om baiknya itu ngobrol.


Sebenarnya Anna kangen dan ingin ketemu sama Rama. Tapi sejak tadi Anna tahan-tahan untuk tidak menghampiri Rama karena dia takut dimarahi lagi sama Safia.


Anna tersenyum.


"Bunda ternyata udah baikan sama Om Rama. Aku seneng deh lihatnya. Bunda sekarang udah baikan sama Om Rama dan mau ngajak Om Rama masuk ke dalam. Mudah-mudahan saja nanti bunda ngizinin aku untuk main lagi sama Om Rama," ucap Anna.


"Lebih baik aku jangan keluar menemui mereka, nanti bunda marah lagi sama aku. Lebih baik aku tunggu aja di sini sampai bunda panggil-panggil aku, dan mempertemukan aku dengan Om Rama," lanjut Anna.


Rama sejak tadi masih menatap Safia lekat.


"Saf, sebenernya aku ke sini mau minta maaf soal kejadian semalam."


"Soal apa? istri kamu?"


Rama mengangguk.


"Iya Saf. Maafin istri aku ya. Karena semalam dia sudah mempermalukan kamu di depan umum."


"Nggak apa-apa Mas. Aku udah biasa di maki-maki orang."


Rama mengernyitkan alisnya bingung.


"Di maki-maki gimana?"


Safia tersenyum kecut saat dia mengingat kejadian yang dulu pernah menimpanya.


"Aku itu kan janda, selama ini aku hidup tanpa seorang suami. Dan sering ada lelaki yang ingin dekati aku. Tapi ternyata dia sudah punya istri. Dan sering ada wanita yang tiba-tiba mendatangi rumah aku, dia tiba-tiba nyerang aku dan ngata-ngatain aku sebagai pelakor. Padahal aku saja nggak pernah punya hubungan apa-apa dengan suaminya. Aneh banget kan."


Sepahit itu kah hidupnya Safia dan Anna. Kasihan sekali mereka. Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu mereka sekarang.


"Dan Anna, juga pernah di kata-katain anak haram juga sama orang-orang yang nggak suka sama aku."


"Sabar ya Saf. Oh ya Saf. Kalau boleh aku tahu, siapa suami kamu? dan siapa ayah kandung anak kamu?" tanya Rama.


Safia terkejut saat mendengar pertanyaan Rama. Tapi Safia tidak mau membocorkan rahasia tentang siapa ayah kandungnya Anna.

__ADS_1


Mas Rama tidak boleh tahu kalau Anna adalah anak kandungnya. Aku harus tetap jaga rahasia ini sampai kapan pun. Seandainya Mas Rama tahu Anna adalah anak kandungnya, aku yakin kalau Mas Rama pasti akan bawa Anna pergi. Aku belum siap kehilangan Anna.


__ADS_2