Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Pertanyaan Anna


__ADS_3

"Kenapa bunda nangis?" tanya Anna.


Safia mengusap air matanya.


"Bunda nggak apa-apa Anna," jawab Safia.


Jika Safia teringat masa lalu, masa sebelas tahun yang lalu, saat dia mengandung Anna. Betapa beratnya dia hidup sendiri di dalam rumah kontrakan kecil. Tanpa suami dan ke dua orang tua. Dan Safia tidak bisa bicara, saat banyak orang yang mempertanyakan siapa ayah kandung Anna.


Anna adalah darah daging Rama. Lelaki yang sudah menodai Safia saat dia masih menjadi suami Shakira. Dan semua orang tidak ada yang tahu tentang Anna.


Begitu juga dengan Rama dan orang-orang yang ada di kampung


Safia. Mereka semua tidak tahu kalau Safia hamil anak Rama dan anak itu sekarang sudah menjadi gadis kecil cantik yang usianya sudah menginjak sepuluh tahun. Dan selama itu, mereka tidak pernah tahu dimana keberadaan Safia.


"Bunda jangan nangis ya. Bunda nggak boleh nangis. Anna janji sama bunda, Anna akan rajin belajar agar nilai Anna bagus-bagus biar bisa membuat bunda bangga. Tapi..."


Safia menatap anaknya lekat. Mendadak Anna menampakkan wajah sedihnya.


"Tapi apa Anna?" tanya Safia


"Sepatu Anna sudah ada yang bolong bun. Anna pengin beli sepatu lagi," ucap Anna.


Safia tersenyum.


"Iya sayang, nanti kalau bunda sudah gajian, Anna pasti bunda belikan sepatu."


Safia meraih tubuh Anna dan membawa Anna ke dalam pelukannya.


"Ayah..." ucap Anna tiba-tiba yang membuat Safia terkejut.


"Ayah?" Safia melepaskan pelukannya dan menatap Anna lekat.


"Aku kangen sama ayah bunda. Di mana ayah bunda? Anna pengin lihat wajah ayah. Satu kali aja bunda," ucap Anna.


Dari dulu Safia memang selalu menutupi rahasianya dari orang-orang. Sampai saat ini, belum ada satu pun orang yang tahu siapa ayah kandung Anna.


Di Jakarta, Safia sudah berbohong kalau suaminya ada di kampung dan sudah menceraikannya. Namun Anna gadis cerdas itu, setiap saat selalu mempertanyakan siapa ayahnya dan seperti apa wajahnya.


Karena sampai sebasar itu, Anna belum pernah melihat foto ayahnya. Dan Anna sebenernya sangat membutuhkan sosok seorang ayah dalam hidupnya. Sementara Safia tidak mau membuka hatinya untuk lelaki lain. Sampai saat ini, dia belum mau menikah dan mencarikan ayah baru untuk Anna.


Safia kembali meneteskan air matanya.


"Bunda kan sudah bilang. Kalau ayah kamu itu sudah meninggal. Bunda dan ayah sudah lama bercerai," ucap Fatia.

__ADS_1


"Nggak. Bunda pasti bohong kan. Kalau ayah Anna sudah meninggal, terus di mana makamnya? apakah bunda bisa tunjukan di mana makam ayah?"


"Makam ayah kamu ada di kampung Nak. Jauh."


"Ya udah. Kalau begitu, kita ke kampung. Biar aku tahu di mana makam ayah."


"Nak, kampung kita itu jauh Nak. Bunda nggak punya uang untuk ongkos ke sana. Untuk makan aja, hidup kita pas-pasan."


"Terus, kapan dong bunda kita bisa ke kampung? Anna pengin lihat makam ayah."


"Ya nunggu kita punya uang banyak Anna."


"Ya udah kalau begitu. Aku mau bantu bunda kerja. Biar kita bisa pulang kampung dan aku bisa lihat makam ayah."


"Kamu jangan ikut-ikutan kerja. Biar bunda saja yang kerja. Kamu sekolah aja yang benar. Biar kamu jadi orang kantoran. Jangan seperti bunda."


"Iya Bunda. Setelah Anna sukses, Anna pengin pergi ke kampung bunda. Anna pengin lihat makam ayah."


Safia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan ke gadis kecilnya itu tentang ayahnya. Anna masih terlalu kecil untuk mengetahui semua kebenaran kalau sebenarnya ayah kandungnya itu masih hidup.


****


Pagi ini, Anna sudah siap dengan baju seragamnya. Dia akan pergi ke sekolah. Sementara Safia akan pergi ke laundry tempat kerjanya.


Ya, sejak dulu Safia memang masih betah kerja di laundry. Karena Bu Windi sudah sangat baik padanya. Sementara Bu Maryam orang yang selama ini sudah menolong Safia, sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.


Safia dan anaknya masih berada di ruang makan. Mereka sejak tadi masih menyantap sarapannya.


"Anna, makan yang banyak. Biar kamu kenyang dan cepat gendut, nanti kalau bunda sudah dapat gaji, Anna akan bunda masakin ayam kesukaan Anna," ucap Safia di sela-sela kunyahannya.


Anna tersenyum.


"Iya Bunda."


Anna adalah anak yang baik. Walau dari kecil dia sudah hidup susah, tapi dia tidak pernah menyalahkan keadaan.


Dia memaklumi kondisi ibunya saat ini, karena Anna tahu kalau sudah dari kecil dia tidak punya ayah. Di sekolah, dia juga sering di bully teman-temannya karena dia miskin dan tidak punya ayah.


Bahkan tidak sedikit dari mereka, mengatakan Anna itu anak haram. Karena Anna tidak bisa membuktikan kalau dia punya ayah. Karena sampai saat ini, Safia tidak pernah menyimpan foto Rama.


"Bunda, emang kita nggak punya saudara di kampung? seperti nenek, kakek, Tante, budhe?"


"Kamu masih punya nenek, kakek, dan budhe. Mama punya kakak perempuan di kampung," jawab Safia.

__ADS_1


Anna tersenyum menunjukan gigi putihnya.


"Bunda, seperti apa budhe Anna?"


"Ya, seperti bunda."


"Mirip bunda ya? kalau kakek dan nenek, seperti apa?"


"Yah, seperti..." Safia menggantungkan ucapannya..


Susah juga ya jelasin sama Anna, seperti apa wajah kakek dan neneknya.


"Bun. Aku pengin kumpulin uang, biar kita bisa ke kampung habis lebaran ini."


"Iya sayang. Nanti aja ya, kalau kamu sudah besar, nanti bunda ajak kamu ke kampung bunda."


Setelah selesai sarapan, Anna bangkit dari duduknya.


"Bunda, Anna berangkat sekolah dulu ya," ucap Anna.


"Iya sayang. Kamu mau berangkat sendiri? nggak perlu bunda antar kan?"


"Nggak usah dianter Bun. Kan sekolah Anna dekat."


"Iya sayang. Setelah ini, bunda juga harus pergi kerja."


Anna mencium punggung tangan ibunya. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan rumahnya. Sementara Safia bangkit dari duduknya. Dia kemudian membereskan piring-piring kotor yang ada di atas meja makan.


Safia membawa piring-piring kotor itu ke dapur. Setelah itu dia mencucinya. Setelah pekerjaan rumahnya selesai, Safia mengambil tasnya dan pergi meninggalkan rumah untuk ke rumah Bu Windi.


Sesampainya di rumah Bu Windi, Safia masuk ke dalam. Namun, Safia terkejut saat melihat rumah Bu Windi tampak sepi.


"Ke mana orang-orang. Kenapa sepi banget rumahnya," ucap Safia.


Beberapa saat kemudian, Bu Windi menghampiri Safia.


"Safia."


"Bu, laundry libur ya Bu. Kok sepi banget."


"Sini Safia. Ibu mau bicara sama kamu."


"Iya Bu."

__ADS_1


"Kita bicara di ruang tamu aja ya."


.


__ADS_2