Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Sinis


__ADS_3

Liza kemudian mendekat ke arah Safia.


"Safia, ini Liza anak aku." Rama memperkenalkan Liza pada Safia.


"Liza, ini Tante Safia. Mamanya Anna. Dan itu Anna sama Rio. Sekarang mereka akan jadi teman-temannya Liza," Anna menunjuk ke arah Anna dan Rio.


Liza tersenyum bahagia saat dia diperkenalkan dengan keluarga Mbak Shakira pembantu barunya itu. Liza tidak tahu saja, kalau keluarga Mbak Shakira masih punya hubungan dengan masa lalu ayahnya.


"Saya mau ngajak Anna, Liza, dan Rio keluar untuk makan Bu, Pak," ucap Rama pada Bu Astri dan Pak Junedi.


"Kalau nggak keberatan, sekalian aja ajak Shakira dan Safia juga. Untuk jagain anak-anak. Rio itu kan bandel, nanti Nak Rama kerepotan kalau ajak Rio juga," ucap Bu Astri.


"Aku nggak mau ikut Mas Rama Bu. Aku capek dari kemarin aku udah kurang tidur." Shakira tampak lelah, sehingga dia tidak mau di ajak keluar bersama Rama dan anak-anak.


"Lho, kok aku sih Mbak." Safia merasa keberatan dengan permintaan Shakira. Karena sebenarnya Safia sama sekali tidak ingin jalan dengan Rama.


"Sudahlah Safia, ikut aja. Sekalian aku titip anak aku yang bandel. Kalau sama kamu kan dia nurut. Dia kan baru kenal sama kamu. Kalau sama aku dan ibu, dia suka rewel dan bandel."


"Ya udah Safia, ikut aja. Kamu kelihatannya juga khawatir kan kalau aku ajak anak kamu pergi. Ikut aja, agar kamu nggak was-was," ucap Rama menimpali.


"Ya udah deh. Aku ikut."


Tanpa berfikir panjang, akhirnya Safia mengiyakan saja ucapan Rama dan Shakira


Setelah pamit pada Shakira, Bu Astri dan Pak Junedi, Safia, Rama dan anak-anak kemudian keluar dari ruangan Pak Junedi. Mereka semua menuju ke luar rumah sakit.


Sesampainya di parkiran, Rama membuka pintu mobilnya.


"Anak-anak duduk di belakang ya. Biar Tante Safia yang duduk di depan sama Om."


"Iya Om, nggak apa-apa aku duduk di belakang sama Rio," ucap Anna.


"Aku juga nggak keberatan kok kalau Tante Safia duduk di depan." Liza menimpali.


Ih, kenapa aku harus duduk di dekat Mas Rama. Nyebelin banget sih ini anak-anak. Harusnya kan Liza yang duduk sama ayahnya.


"Liza aja yang duduk di depan," pinta Safia.


"Nggak mau Tan. Aku pengin sama Anna duduk di belakang."


"Safia, sudahlah. Mengalah ajalah sama anak-anak. Biarkan mereka duduk di belakang."


"Iya deh aku duduk di depan."


Safia kemudian membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil Rama. Setelah semua masuk, Rama pun ikut masuk ke dalam mobil.


****

__ADS_1


Setelah kondisi Pak Junedi mulai membaik, akhirnya Pak Junedi sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Setengah bulan Pak Junedi berada di rumah sakit.


Bu Astri dan Shakira sudah menunggu Pak Junedi di rumah. Sementara, sejak tadi pagi Safia yang menunggui ayahnya di rumah sakit. Dan sore ini Pak Junedi akan pulang ke rumah kontrakan Shakira.


"Sebentar lagi, Mas Rama akan datang ke sini Pak. Dia akan jemput kita," ucap Safia.


Pak Junedi hanya mengangguk.


"Mudah-mudahan, setelah ini bapak bisa cepat-cepat sembuh ya Pak."


Pak Junedi tersenyum.


"Sebelum bapak meninggal, bapak ingin melihat anak-anak bapak menikah lagi. Biar bapak bisa tenang meninggalkan kalian nanti."


"Bapak, bapak nggak akan meninggalkan kami sekarang. Aku yakin bapak pasti akan kuat. Bapak pasti akan diberikan umur panjang. Jangan lagi bapak membicarakan soal kematian ya Pak. Bapak harus semangat untuk sembuh. Kasihan ibu dan cucu-cucu bapak."


"Iya Safia."


Di sela-sela Safia dan Pak Junedi ngobrol, Rama datang menghampiri mereka.


"Mas Rama, kamu sudah datang," ucap Safia.


"Aku udah bayar semua administrasi rumah sakit ini. Sekarang kalian siap-siaplah. Aku akan antar kalian sampai ke rumah Shakira."


"Iya Mas. Kami sudah siap kok Mas. Aku sudah masukan semua baju-bajunya bapak ke dalam tas. Kita sudah bisa langsung pergi."


Rama keluar dari rumah sakit. Beberapa saat kemudian, Rama kembali dengan membawa kursi roda.


"Ayo Pak, saya bantu untuk duduk."


"Iya Nak Rama. Makasih."


Rama dan Safia membantu Pak Junedi untuk duduk di atas kursi roda. Setelah itu Rama membawa Pak Junedi keluar dari rumah sakit.


Rama membantu Pak Junedi masuk ke dalam mobil.


"Safia, ayo masuk!"


"Iya Mas. Aku duduk di belakang saja sama bapak."


"Iya."


Setelah Safia dan Pak Junedi masuk ke dalam mobil, Rama pun ikut masuk ke dalam mobil. Setelah itu dia pun meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.


Rama sejak tadi masih fokus menyetir sembari sesekali dia melirik ke arah Safia.


Entah apa yang ada di dalam fikiran Rama saat ini setelah dia tahu, kalau Anna adalah anak kandungnya.

__ADS_1


Kasihan anak aku, selama ini dia terlantar hidupnya bersama Safia. Andai aku tahu dari dulu kalau aku punya anak dari Safia, pasti aku akan perlakuan Anna sama seperti aku memperlakukan Liza anaknya Vika.


Beberapa saat kemudian, mobil Rama sudah sampai di depan rumah Shakira. Rama turun dari mobilnya. Setelah itu dia membukakan pintu untuk Safia dan Pak Junedi.


Safia turun dari mobilnya. Setelah itu Safia pun membantu ayahnya turun.


Setelah Pak Junedi duduk kembali di kursi roda, Safia pun mendorong Pak Junedi untuk masuk ke dalam rumah kontrakan Shakira. Sementara Rama membawakan tas baju milik Pak Junedi.


Sebelum sampai teras, Anna dan Rio sudah menghadang Safia dan Pak Junedi.


"Kakek... akhirnya kakek sampai juga," ucap Anna tampak bahagia.


Pak Junedi tersenyum saat melihat Anna.


Kenapa aku melihat Anna ini mirip Rama ya. Apa mata aku saja yang salah karena sudah rabun, batin Pak Junedi.


"Kakek udah sembuh?" tanya Rio mendekat ke arah kakeknya.


"Sudah, kakek sudah sembuh."


"Jadi kakek bisa dong nanti temani Rio main?"


"Iya bisa dong. Kalau kakek udah kuat jalan."


"Asyik. Nanti kita main sama Anna juga ya Kek."


"Iya nanti kita main sama Anna."


"Sayang, kalian berdua bisa minggir dulu nggak. Kakek mau masuk nih..." ucap Safia mengusir ke dua anak kecil itu yang sejak tadi masih menghadang jalannya


"Oke."


Anna dan Rio kemudian masuk kembali ke dalam rumah. Begitu juga dengan Rama. Dia juga ikut masuk ke dalam rumah kontrakan Shakira.


Shakira dan Bu Astri menghampiri Pak Junedi dan menyambut kepulangannya. Bu Astri kemudian mendekat ke arah Rama.


"Makasih banyak ya Nak Rama. Sudah membantu keluarga ibu selama ini."


"Iya Bu. Sama-sama. Kalau masalah pinjaman uang ke saya, nggak usah terlalu difikirin. Kalau kalian nggak punya uang, nggak usah di bayar juga nggak apa-apa. "


"Saya nanti yang akan nyicil pakai uang gaji saya dengan cara, potong gaji ya Pak Rama," ucap Shakira.


"Terserah apa mau kamu Shakira, kalau saya sih, sudah ikhlas membantu keluarga kamu. Ngga usah dikembalikan juga nggak apa-apa."


"Saya juga akan menyisihkan gaji saya untuk membayar hutang ibu ke Mas Rama," ucap Safia.


Rama menatap Safia lekat. Wajah Safia yang terlihat sinis, membuat Rama tidak nyaman dibuatnya. Rama jadi merasa bersalah terus kalau sikap Safia saja seperti itu.

__ADS_1


Kenapa sih ini Safia. Sinis terus sama aku. Sejak pertama kali ketemu dia, nggak pernah sekali pun dia bersikap ramah padaku. Beda banget dari Shakira. Shakira seperti tidak punya dendam apa-apa padaku. Sepertinya Shakira sudah tidak pernah mengingat kejadian yang sudah terjadi pada kita dulu. Sementara Safia, Sepertinya dia masih membenciku.


__ADS_2