Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Kebahagiaan bapak dan ibu


__ADS_3

Sore ini Shakira sudah sampai di depan rumahnya. Shakira masuk ke dalam rumahnya dan melihat anaknya sedang menangis.


"Rio, kamu kenapa?" tanya Shakira sembari mendekat ke arah anaknya.


Rio menatap ibunya lekat. Dia kemudian mendekat ke arah ibunya.


"Mama, aku pengin mandi sama mama. Aku nggak mau mandi sama nenek," ucap Rio dengan berderaian air mata.


Shakira tersenyum.


"Kenapa mama lama sekali pulangnya?" tanya Rio sembari sesekali mengusap matanya.


"Sayang, mama kan kerja sekarang. Jadi mama nggak bisa mandiin kamu terus. Mulai sekarang Rio harus nurut sama Nek Astri. Rio harus mandi sama Nek Astri dan harus mau di suapin Nek Astri," ucap Shakira menjelaskan.


Beberapa saat kemudian, Bu Astri melangkah dan mendekat ke arah Shakira.


"Shakira. Dari tadi Rio nungguin kamu pulang. Dia nggak mau mandi sama ibu. Tadi siang aja dia nggak mau makan. Dia minta kamu yang nyuapin," jelas Bu Astri.


"Duh, susah juga ya Rio ini," gumam Shakira.


"Sana Kir. Mandiin Rio dulu. Mumpung masih sore!" Pinta Bu Astri.


"Iya Bu."


Shakira kemudian mengajak Rio mandi.


"Ayo sayang. Kita mandi sekarang!"


Rio hanya mengangguk.


Setelah itu Rio dan Shakira melangkah ke belakang untuk ke kamar mandi. Shakira akan memandikan si kecil Rio. Karena dari tadi pagi, Rio minta mandi dan makan sama ibunya. Dia tidak mau makan dan mandi sama neneknya.


Setelah memandikan Rio, Shakira kemudian bergegas untuk mandi dan ganti baju. Setelah itu semua, Shakira kemudian melangkah ke ruang tengah di mana ayah dan ibunya berada.


Shakira menatap lekat ayahnya.


"Bapak sudah mendingan?" tanya Shakira pada Pak Junedi.


"Sudah Shakira. Dada bapak sudah tidak terlalu sakit setelah kemarin bapak minum obat dari rumah sakit," ucap Pak Junedi menjelaskan.


"Syukurlah kalau bapak sudah mendingan. Nanti kalau aku punya uang, kita kontrol lagi ya Pak ke rumah sakit."


Pak Junedi mengangguk. "Iya Shakira."


"Sebenarnya, ada kabar bahagia untuk kita Pak, Bu," ucap Shakira menatap ibu dan ayahnya bergantian.


Bu Asrti dan Pak Junedi menatap Shakira lekat.


"Kabar bahagia apa Kir?" tanya Pak Junedi.

__ADS_1


"Ini tentang Safia Pak," jawab Shakira.


"Safia? kamu sudah ketemu dengan Safia?" tanya Bu Astri dengan mata berbinar-binar.


"Aku belum ketemu Safia Bu. Tapi aku tahu di mana alamat rumah Safia Pak, Bu," ucap Shakira yang membuat ibu dan ayahnya tersenyum.


"Kamu tahu dari mana alamat rumah Safia?" tanya Bu Astri penasaran.


"Dari Mas Rama," jawab Shakira yang membuat Bu Asrti dan Pak Junedi terkejut.


"Apa! Rama? Rama siapa? Mantan suami kamu?"


Shakira mengangguk. "Iya. Mas Rama mantan suami aku Pak."


"Kamu juga udah ketemu dengan Rama?" Tanya Bu Astri lagi.


"Sebenarnya aku ini sekarang kerja di rumahnya Mas Rama Bu, Pak." Shakira menjelaskan.


Bu Astri dan Pak Junedi kembali terkejut. Mereka kemudian saling menatap.


"Kok bisa kamu kerja di rumah Rama?" tanya Pak Junedi.


"Mas Rama sekarang sudah jadi orang kaya Bu, Pak. Saya juga tidak tahu bagaimana ceritanya Mas Rama itu bisa jadi orang kaya. Istrinya juga sangat cantik, Mas Rama sekarang sudah punya anak satu."


"Yang benar kamu Kir?" Bu Astri tampak tidak percaya mendengar cerita Shakira.


"Benar Bu. Untuk apa aku bohong. Nggak ada untungnya aku bohongin kalian. Mas Rama itu sekarang rumahnya mewah. Mobilnya aja ada tiga. Dan dia sekarang kerja di kantor."


"Iya Bu. Aku juga nggak nyangka kalau ternyata majikan tempat di mana aku kerja itu Mas Rama. Mantan suami aku sendiri."


"Bisa kebetulan banget ya. Terus Rama tahu di mana keberadaan Safia?" tanya Pak Junedi.


"Iya. Dia tahu di mana Safia tinggal sekarang."


"Safia tinggal di mana?" tanya Pak Junedi penasaran.


"Ini, aku juga sudah di kasih alamat rumahnya Safia oleh Mas Rama."


"Oh ya?" Pak Junedi tampak bahagia.


"Iya Pak. Sekarang Safia itu tinggal ngontrak dengan anaknya."


"Anak? adik kamu sudah punya anak?" tanya Bu Astri.


"Iya Bu. Kata Mas Rama, Safia itu sudah punya anak satu. Dan anaknya itu cewek," jelas Shakira.


"Jadi, ibu juga punya cucu cewek.?"


"Iya Bu."

__ADS_1


"Kalau Safia sudah punya anak, terus kapan Safia nikah. Dan dengan siapa Safia nikah. Kenapa dia tidak memberi tahu bapak. Seharusnya Safia kan memberi tahu bapak kalau dia akan nikah. Bapak kan masih hidup. Bapak kan, yang seharusnya jadi wali nikahnya Safia," ucap Pak Junedi.


"Saya juga nggak tahu Pak. Mas Rama juga bingung. Mas Rama juga tidak tahu siapa lelaki yang sudah menikahi Safia."


Shakira akhirnya menceritakan semua cerita yang dia dengar dari Rama tadi pagi pada ke dua orang tuanya.


"Shakira. Kita harus ke sana. Kita harus temui Safia dan bawa Safia menemui bapak," ucap Bu Astri.


"Iya Bu. Tapi jangan sekarang ya. Kalau sekarang aku capek. Besok aja. Dan aku juga harus minta izin dulu sama Bu Vika istrinya Mas Rama. Kalau nggak besok, ya lusa."


"Ya udah, sesempatnya kamu saja Shakira. Yang penting bapak ketemu sama Safia," ucap Pak Junedi.


"Iya Pak. Yang penting kita sudah tahu di mana alamat rumahnya Safia. Aku juga sudah kangen banget sama dia. Kalau soal masa lalu, aku sudah tidak pernah mengingat-ingatnya lagi."


****


Ting.


Sebuah notifikasi sudah terdengar dari ponsel Safia.


Safia yang sejak tadi masih duduk di ruang tengah, segera mengambil ponselnya yang ada di atas meja.


Safia kemudian membaca chat dari Iren temannya.


(Saf, ada rumah kontrakan strategis nih. Letaknya pinggir jalan dan rumahnya juga tidak terlalu kecil seperti rumah kontrakan yang kamu sekarang tempati. Kamu mau nggak?)


Safia tersenyum saat membaca chat dari Iren. Safia kemudian buru-buru menelpon Iren.


"Halo Saf."


"Halo Ren. Itu beneran Ren?"


"Iya beneran."


"Itu di mana? dekat rumah kamu ya?"


"Nggak Ren. Tapi ini malah dekat tempat kerja kita."


"Oh ya? kok kamu bisa tahu rumah kontrakan itu."


"Iya Saf. Aku memang sengaja nyariin buat kamu, yang dekat dengan cafe tempat kerja kamu. Agar kamu bisa berangkat dan pulang jalan kaki."


"Alhamdulillah. Ya udah, emang kapan bisa ditempati?"


"Besok juga udah boleh ditempati kok. Kalau lokasinya, persis seperti apa yang kamu minta. Pinggir jalan, dan nggak masuk-masuk gang."


"Oh ya udah. Kapan kamu mau menunjukkan aku kontrakan itu?"


"Besok ya. Setelah pulang kerja. Kita bisa tanya-tanya ke pemilik kontrakan itu. Tadi sih, aku sudah tanya-tanya sama pemilik kontrakan itu. Harganya nggak jauh beda kok dari rumah kontrakan kamu yang sekarang."

__ADS_1


"Ya udah. Besok ya, antar aku ke sana."


"Iya."


__ADS_2