Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Kedatangan Pak RT


__ADS_3

"Bunda, bunda nggak boleh gitu dong sama ayah. Kasihan kan ayah. Bunda pokoknya nggak boleh marah-marah sama ayah lagi," ucap Anna membela ayahnya.


Rama tersenyum.


"Kamu nggak mau ambilin aku nasi Safia?" Rama menaik turun kan alisnya menggoda Safia yang sejak tadi masih tampak kesal.


"Kamu kan punya tangan sendiri Mas. Kenapa kamu nggak ambil sendiri. Lagian, aku kan bukan istri kamu. Kenapa aku harus layani kamu segala."


"Sekarang sih, iya bukan istri aku. Tapi kan besok nggak tahu Safia. Siapa tahu, kita memang berjodoh dan besok kita bisa nikah. Yah, hitung-hitung kamu latihan gitu melayani aku. Jadi kalau kamu sudah jadi istri aku kan kamu sudah pandai melayani aku."


"Bun, ayo dong Bun. Ambilin ayah nasi. Kasihan lho ayah. Dia udah jauh-jauh datang ke sini, ingin sarapan bareng kita. Kenapa bunda cuekin."


"Ya udah deh, aku ambilin. Sini, mana piring kamu." Jika Anna yang minta, Safia tidak akan bisa menolaknya.


Rama menyodorkan piringnya di depan Safia.


Tanpa butuh banyak waktu lama, Safia pun mencedokan nasi ke atas piring itu. Setelah itu dia mengambil lauk untuk Rama.


"Makasih ya Safia."


"Iya."


"Aku juga dong Bun..." Anna sudah menyodorkan piringnya di depan ibunya.


"Iya."


Safia kemudian mencedokan nasi dan mengambilkan lauk untuk anaknya. Selesai itu semua, mereka bertiga makan bersama di meja makan.


Setelah menghabiskan makanannya, Anna menatap Safia dan Rama bergantian.


"Bunda, ayah, aku mau ke sekolah pakai sepeda aja deh," ucap Anna tiba-tiba.


"Kamu nggak mau bareng ayah? ayah juga mau ke kantor lho."


"Nggak usah ayah. Aku pengin naik sepeda. Udah beberapa hari ini aku naik mobil. Aku pengin naik sepeda aja."


"Baiklah kalau gitu. Kamu mau berangkat sekarang?"


"Iya ayah."


Setelah berpamitan pada Rama dan Safia, Anna kemudian melangkah pergi meninggalkan rumahnya.


Setelah Anna pergi, Rama menatap Safia lekat.


"Safia..."


"Iya."


"Kamu bisa nggak pejamin mata kamu."


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Aku punya kejutan kecil untuk kamu."


"Kejutan kecil apa?"


"Ya adalah. Kalau aku kasih tahu sekarang, bukan kejutan lagi dong namanya."


"Baiklah."


Safia kemudian memejamkan matanya. Sementara Rama mendekat ke arah Safia. Dengan sekejap, sebuah liontin sudah terpasang di leher Safia. Rama sudah memakaikan liontin ke leher Safia.


"Sekarang kamu sudah boleh buka mata," bisik Rama


Safia membuka matanya. Dia terkejut saat melihat sebuah liontin sudah melingkar di lehernya.


Rama kemudian duduk kembali di kursinya. Sementara Safia sejak tadi masih menatap kagum liontin pemberian Rama.


"Mas, ini untuk aku?" tanya Safia sembari memegang liontin itu.


"Iya. Untuk siapa lagi."


"Tapi, ini pasti harganya mahal. Kenapa kamu harus memberikan aku liontin ini Mas. Untuk apa?"


"Safia, pakai aja. Kamu cantik pakai liontin itu."


"Tapi Mas. Aku nggak mau menerimanya Mas. Menurutku, ini terlalu berlebihan. Aku nggak pantas Mas, memakainya," ucap Safia.


Safia akan melepas liontin itu. Namun Rama segera mencegahnya.


"Jangan dilepas Safia. Pakai aja. Aku ikhlas memberikannya untuk kamu."


"Jangan dilepas Safia. Aku mohon!"


Safia menatap lekat Rama.


"Kamu yakin? mau ngasih liontin ini untuk aku?"


"Iya."


Beberapa saat kemudian, ketukan pintu sudah terdengar dari luar rumah Safia.


Tok tok tok...


"Sepertinya ada tamu Mas. Tunggu sebentar ya Mas. Aku buka pintu depan dulu."


"Iya Safia."


Safia bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pergi ke ruang tamu untuk membuka pintu.


Safia terkejut saat melihat Pak Burhan dan Ustadz Zaki sudah berada di depan rumahnya.


"Eh, Pak RT, Pak Ustadz. Ada apa ya Pak?" tanya Safia.

__ADS_1


Pak Burhan dan Ustadz Zaki saling menatap.


"Kami ke sini, sebenarnya mau bicara penting dengan Mbak Safia," ucap Pak Burhan.


"Bicara penting apa ya Pak RT?"


"Boleh kami masuk ke dalam?" tanya Pak Burhan.


"Oh iya. Silahkan!"


Setelah Safia mempersilahkan mereka masuk, Ustadz Zaki dan Pak Burhan pun masuk ke dalam rumah Safia.


"Silahkan duduk Pak RT, Pak Ustadz!" ucap Safia.


Pak Burhan dan ustadz Zaki kemudian duduk. Beberapa saat kemudian, Rama menghampiri Safia di ruang tamu.


"Siapa dia Mbak Safia?" tanya Pak Burhan menunjuk ke arah Rama.


Safia diam. Dia bingung untuk menjawab apa. Safia juga tidak tahu, apa maksud kedatangan Pak ustadz dan Pak RT.


Rama melangkah dan duduk di sisi Safia. Dia kemudian memperkenalkan diri pada Pak Burhan dan ustadz Zaki.


"Saya Rama. Teman dekatnya Safia," ucap Rama memperkenalkan diri.


"Anda, lelaki yang sering datang ke sini bukan?" tanya Pak Burhan.


Rama mengangguk. "Iya Pak."


"Kebetulan kalau begitu. Kami juga ingin bicara dengan anda," ucap ustadz Zaki tampak serius.


Safia dan Rama saling menatap.


"Sebelumnya saya sebagai ketua RT di sini, mau minta maaf kepada kalian. Ini soal warga sini. Mereka sudah banyak membicarakan kalian," ucap Pak Burhan menatap Rama dan Safia bergantian.


"Kenapa dengan warga sini?" tanya Rama bingung.


"Sebenarnya kalian berdua itu, sudah menjadi buah bibir warga di komplek sini. Semua orang sudah menanyakan ke saya, tentang hubungan kalian berdua." Pak Burhan mulai memperjelas maksud kedatangannya.


"Hubungan apa Pak RT?" tanya Safia yang masih belum mengerti maksud Pak RT.


"Maaf sebelumnya Mbak Safia. Saya ingin meluruskan masalah ini. Alangkah baiknya kalian resmikan saja hubungan kalian. Ini semua untuk menghindari fitnah masyarakat," ucap Ustadz Zaki.


Safia dan Rama terkejut saat mendengar ucapan ustadz Zaki.


"Dan tidak baik, seorang wanita memasukan seorang lelaki yang bukan mahramnya ke dalam rumah apalagi sampai menginap. Dan saya dengar dari warga, katanya anda sering nginap di sini. Benarkah begitu?" tanya ustadz Zaki pada Rama.


Ustadz Zaki sudah menatap Rama lekat, ingin tahu apa jawaban Rama. Karena selama ini, Ustadz Zaki dan Pak RT sudah di desak warga agar bertanya pada Safia tentang siapa lelaki yang sering nginap di rumah Safia.


"Iya. Saya memang sering ke sini dan pernah beberapa kali nginap di sini. Tapi kita tidak melakukan apapun," jelas Rama.


"Iya. Dan kita juga nggak pernah punya hubungan apa-apa Pak Ustadz," Safia mencoba menjelaskan pada ustadz Zaki.

__ADS_1


"Tapi tetap saja Mbak Safia. Yang namanya warga nggak akan percaya. Yang mereka tahu selama ini kalian itu punya hubungan. Dan sekarang Mbak Safia itu rumahnya dekat dengan mesjid. Jadi tolong, Mbak Safia bisa lebih menghormati lagi lingkungan kami," ucap Pak Burhan.


" Tolong Mbak Safia dan Mas Rama bisa jaga jarak. Janganlah, ada lagi acara nginap dan pulang malam. Main boleh, tapi tidak boleh sampai malam, jika pun itu harus menginap, tolong lapor dulu pada RT setempat. Agar tidak ada kesalahpahaman lagi," lanjut Pak Burhan


__ADS_2