Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Telpon dari Rama


__ADS_3

Safia menghentikan langkahnya setelah dia sampai di depan rumahnya. Lampu di rumah Safia masih menyala. Dan pintu depan juga masih sedikit terbuka. Tidak seperti biasanya. Biasanya lampu di rumah Safia sudah mati dan pintu juga sudah terkunci.


"Kenapa rumahnya masih nyala ya lampunya. Dan pintunya juga terbuka. Apa Anna ada di dalam dan belum tidur," ucap Safia.


Safia yang penasaran, buru-buru melangkah masuk ke dalam rumahnya. Safia terkejut saat melihat anaknya belum tidur. Anna saat ini masih bermain hape dan boneka di ruang tamu.


"Anna. Kamu kok belum tidur?" tanya Safia pada anaknya.


Anna terkejut saat melihat Safia. Dia lantas berdiri saat melihat ibunya.


"Bunda. Kenapa bunda langsung masuk aja. Kenapa bunda nggak ketuk pintu dan beri salam dulu?" tanya Anna.


Safia menatap ponsel yang saat ini ada di dalam genggaman tangan Anna.


"Anna. Itu hape siapa?" tanya Safia.


Safia langsung merebut hape yang ada di tangan Anna. Safia menatap lekat dan memperhatikan hape itu.


"Ini hape sepertinya masih baru. Anna, ini hape punya siapa?" tanya Safia penasaran.


"Itu... itu hape baru aku Bunda," jawab Anna.


"Siapa yang udah ngasih kamu hape sebagus ini?" Safia mengapa lekat anaknya.


"Om Rama bunda. Om Rama


tadi datang ke sini. Dia ngasih hape baru dan boneka baru untuk aku," ucap Anna menjelaskan.


"Terus, kamu terima begitu aja boneka dan hape dari orang asing itu."


Anna mengangguk.


"Kenapa Anna. Kenapa kamu terima semua ini dari orang asing. Bunda kan sudah bilang, kamu jangan pernah terima barang apapun dari orang yang nggak kamu kenal. Bunda yakin, dia baik-baikin kamu karena ada maksud tertentu. Dia pasti punya niat jahat sama kamu sayang."


"Nggak. Om Rama orang baik kok. Dia bukan orang asing. Dan aku sudah lama mengenal dia. Dia sengaja membelikan aku hape, untuk telpon. Kata Om Rama, kalau Om Rama kangen sama aku, dia bisa telpon aku kalau aku punya hape sendiri "


Safia menghela nafas dalam. Dia benar-benar bingung sama anaknya. Anna sekarang sama sekali tidak mau nurut dengan ucapan Safia.


Safia sudah melarang Anna untuk bertemu dengan lelaki yang bernama Rama. Tapi Anna masih saja bandel. Dia masih mau bertemu dengan Rama bahkan Anna mau menerima barang-barang pemberian dari Rama.

__ADS_1


"Anna, bunda nggak mau nilai kamu turun kalau kamu sering mainan hape. Mulai sekarang bunda yang akan pegang hape ini."


"Tapi, bagaimana kalau Om Rama nelpon."


"Biar bunda yang angkat telpon dari Om Rama kamu itu."


Anna hanya bisa menundukan kepalanya. Baru saja dia senang sudah dibelikan hape baru. Tapi malah hape barunya di sita sama bundanya.


Safia akan melangkah pergi, namun buru-buru Anna mencekal tangan ibunya.


"Bunda, kalau Om Rama nelpon, nanti bunda jangan marah-marah ya sama Om Rama. Kasihan Om Rama kalau dimarahin. Om Rama orang yang baik kok. Tadi dia ke sini juga nungguin bunda pulang. Dia pengin kenalan sama bunda," ucap Anna.


Safia diam dan tampak berfikir.


Sebenarnya siapa sih Om Rama yang Anna kenal itu. Kenapa dia bisa baik banget sama Anna. Padahal dia baru kenal Anna beberapa hari ini. Aku jadi penasaran dengan orang itu. Seperti apa sih dia.


"Iya. Bunda nggak akan marahin Om Rama kamu itu. Asal kamu harus nurut sama bunda. Besok kamu mau sekolah kan. Sekarang juga kamu ke kamar dan tidur. Besok lagi mainan hapenya ya."


Anna mengangguk. Setelah itu Anna melangkah masuk ke dalam kamar. Setelah Anna masuk ke kamarnya, Anna kemudian berbaring di atas tempat tidurnya.


Setelah Anna masuk kamar, Safia menutup dan mengunci pintu depan. Safia menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Dia kemudian menatap boneka yang ada di ruang tamu itu.


"Siapa sebenarnya Rama itu. Apa jangan-jangan mobil yang ada di depan tadi, mobilnya Rama. Lelaki yang sering ngasih uang ke anak aku. Tapi untuk apa dia baik banget sama Anna. Aku jadi curiga, sama dia. Bagaimana nanti kalau lama-lama dia bawa anak aku kabur. Duh... aku nggak akan biarin hal ini terjadi. Aku harus temui dia dan kembalikan semua yang sudah pernah dia kasih ke Anna," ucap Safia.


Safia kemudian meletakan boneka itu kembali dan dia pun bangkit berdiri. Safia membawa hape Anna masuk ke dalam kamarnya.


Sebelum tidur, Safia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selesai itu, Safia keluar dari kamar mandi dan masuk kembali ke dalam kamarnya.


Safia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya. Dia kembali menatap hape yang dia letakan di atas kasurnya.


"Hape itu pasti harganya mahal. Lelaki itu pasti orang kaya. Mobilnya aja bagus banget. Tapi dari mana anak aku kenal dengan lelaki seperti itu," ucap Safia.


Safia tidak mau terlalu banyak memikirkan orang kaya itu. Safia kemudian naik ke atas ranjangnya dan berbaring untuk tidur.


****


Ring ring ring...


Suara ponsel yang ada di samping Safia tidur berdering. Safia mengerjapkan matanya. Dia kemudian mengambil ponsel itu dan menatapnya.

__ADS_1


Safia terkejut saat melihat nama Rama ada di layar ponsel itu.


"Pasti ini Om Ramanya Anna yang telpon. Aku angkat nggak ya. Atau aku berikan aja hape ini sama Anna."


Safia tampak bingung untuk mengangkat panggilan dari Rama.


Safia bangkit berdiri. Setelah itu dia melangkah untuk ke kamarnya Anna. Safia membangunkan Anna yang masih lelap di atas tempat tidurnya.


"Anna, ini Om Rama kamu telpon," ucap Safia.


Anna mengerjapkan matanya. Dia kemudian mengucek matanya dan beringsut duduk.


"Ada apa Bun?" tanya Anna.


"Ini, Om Rama kamu telpon."


Anna tersenyum. Dia lantas mengambil hape yang ada di tangan ibunya dan langsung mengangkat panggilan dari Rama.


"Halo Om...


"Halo Anna. Kamu udah bangun?"


"Udah Om. Om juga udah bangun ya."


"Iya. Om kangen sama Anna. Anna lagi ngapain sekarang?"


"Aku masih di kamar Om. Aku baru bangun. Tadi pas Om telpon, Anna masih tidur. Dan Bunda yang udah bangunin Anna."


"Bunda kamu ada di situ?"


"Ada Om."


"Apa boleh Om bicara dengan bunda kamu?"


Anna menatap Safia lekat.


"Om Rama mau bicara dengan bunda," ucap Anna.


Apa, lelaki itu mau bicara dengan aku. Duh, nggak lah. Aku nggak mau bicara dengan lelaki itu. Aku saja belum pernah ketemu sama dia dan nggak kenal sama dia.

__ADS_1


"Bun, kok bunda diam aja. Ini, Om Rama mau bicara sama bunda," ucap Anna sembari menyodorkan ponsel itu ke arah ibunya.


__ADS_2