Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Semakin rumit saja


__ADS_3

"Mas, kamu mau ke mana...?" seru Vika setelah Rama menjauh darinya. Vika hanya bisa menatap kepergian suaminya dengan raut wajah sedih.


Vika sangat merindukan keromantisan-keromantisan, Rama seperti dulu. Sekarang Rama sudah berubah 180 derajat. Dan sampai saat ini, Vika sama sekali tidak tahu apa yang sudah membuat Rama berubah.


"Kenapa kamu sih Mas,


apa salah aku sama kamu, sehingga kamu berubah seperti ini. Kamu sama sekali nggak mau bersikap romantis sama aku. Dingin terus," ucap Vika.


Vika kemudian melanjutkan makannya. Di sela-sela Vika makan, ponsel Vika berdering dan mengejutkan Vika.


Vika mengambil ponselnya yang ada di atas meja makan. Dilihatnya nomer Bram sudah terpampang dengan jelas di dalam ponsel Vika.


"Bram, untuk apa sih, dia nelpon aku. Lagi-lagi dia nelpon kalau Mas Rama ada di rumah. Untunglah Mas Rama sudah ke kamarnya," ucap Vika.


Vika masih menatap ponselnya dengan kesal. Dia sama sekali tidak suka Bram menelponnya saat Rama ada di rumah.


Sejak tadi dia hanya mendiamkan panggilan dari Bram. Dia sama sekali tidak mau mengangkat panggilan dari Bram.


Vika biarkan ponsel itu berdering beberapa kali. Sampai pada akhirnya, Vika memilih untuk mematikan panggilan dari Bram begitu saja.


Ring ring ring...


Lagi-lagi ponsel Vika berdering. Bram sama sekali tidak menyerah untuk menelpon Vika. Padahal Vika sengaja tidak mengangkat panggilan dari Bram, agar Bram berhenti menelponnya. Entah sudah berapa kali Bram menelpon Vika.


"Ih... kenapa Bram nelepon terus sih," gerutu Vika.


"Ah aku matikan lagi aja deh, ganggu banget sih." Vika sudah mulai kesal dengan kejahilan Bram.


Sekali lagi, Vika mematikan telepon dari Bram.


Beberapa saat kemudian, ponsel itu kembali berdering. Bram kembali menelpon Vika.


"Ih, Bram. Nyebelin banget sih. Aku kan sudah bilang sama dia. Untuk nggak ganggu aku," gerutu Vika pelan.


Tanpa banyak waktu lama, Vika meninggalkan ruang makan dan melangkah menuju ke halaman belakang untuk mengangkat panggilan dari Bram.


"Halo Bram."


"Halo sayang. Akhirnya kamu angkat juga panggilan dari aku sayang."


"Bram, kamu mau ngapain sih pakai acara nelpon aku segala. Suami aku lagi ada di rumah lho Bram."


"Iya. Aku tahu itu sayang. Tapi aku kangen sama kamu. Aku nggak bisa sayang menahan perasaan ini."


"Bram, sudah cukup Bram. Aku kan sudah bilang aku nggak mau punya hubungan sama kamu lagi. Aku nggak mau terlalu banyak melakukan hal dosa sama kamu. Aku takut kena karma Bram."


"Hei sayang, kenapa kamu bicara seperti itu. Hidup itu cuma satu kali sayang.Untuk apa kamu sia-siakan hidup kamu. Lebih baik, kita habiskan waktu kita untuk bersenang-senang sayang. Tanpa suami kamu tahu."


"Tapi Bram. Aku nggak mau sampai suami aku tahu hubungan kita. Apalagi kita pernah melakukan cinta satu malam.'

__ADS_1


"Nah, itu sayang. Itu yang nggak bisa membuat aku melupakan kamu. Semakin aku melupakan kamu, semakin aku merindukan kamu dan merindukan malam itu. Tapi kamu tenang saja. Aku jamin, suami kamu nggak akan tahu hubungan kita, kecuali kalau salah satu dari kita bicara padanya. Ini kan rahasia kita berdua sayang."


"Tapi Bram. Aku kan sudah bilang, jangan ingat-ingat malam itu lagi. Anggap saja waktu itu kita khilaf. Dan aku ingin melupakannya Bram."


"Tapi aku nggak bisa melupakan kamu Vika. Jangan suruh aku untuk menjauhi kamu dan melupakan kamu. Karena itu nggak akan bisa aku lakukan. Aku itu cinta sama kamu Vik."


"Bram cukup Bram! Hentikan! Aku nggak mau menghancurkan rumah tanggaku dengan suamiku Bram. Aku sayang sama anak aku Bram."


"Kalau begitu, kenapa kamu mau denganku Vika! Seharusnya kamu tolak aku! Kamu sudah memberikan aku harapan, sekarang kamu hempaskan aku begitu saja. Kamu benar-benar keterlaluan Vik. Aku nggak bisa terima semua ini Vik."


Di sela-sela Vika dan Bram bertelponan, suara Bik Ijah tiba-tiba saja terdengar.


"Bu Vika..."


Vika terkejut saat mendengar suara Bik Ijah. Vika langsung mematikan saluran telponnya begitu saja. Dia kemudian menoleh ke belakang.


"Bibi. Ada apa? ngagetin aku aja," ucap Vika tanpa ekspresi.


"Bu Vika ngapain gelap-gelapan di sini?" tanya Bik Ijah.


"Aku nggak lagi ngapa-ngapain kok Bik."


"Bu Vika, itu di meja makan masih berantakan. Mau bibi bereskan sekarang apa nanti aja?" tanya Bik Ijah.


"Mama belum makan Bik. Biarin aja deh. Bibi panggil mama aja di kamar. Dan bawa mama ke ruang makan."


Bik Ijah kemudian melangkah untuk memanggil Bu Tari di kamarnya.


Tok tok tok...


Bik Ijah mengetuk kamar Bu Tari.


"Siapa...?" seruan Bu Tari sudah terdengar dari dalam kamar.


"Ini Bibik Bu Tari."


"Masuk aja Bik...!"


Bik Ijah kemudian masuk ke dalam kamar Bu Tari. Dia melihat Bu Tari sudah duduk di kursi rodanya.


"Ada apa Bik?"


"Udah ditungguin Bu Vika di ruang makan."


"Oh iya. Tolong antar saya ke ruang makan Bik."


"Baik Bu."


Bik Ijah kemudian mendorong kursi roda Bu Tari sampai ke ruang makan. Di ruang makan, Vika sudah tampak duduk menunggu ibunya.

__ADS_1


"Mama. Mama belum makan kan. Vika temani makan ya," ucap Vika.


Bu Tari mengangguk."Iya."


Bu Tari menatap ke sekeliling


"Di mana anak dan suami kamu?" tanya Bu Tari.


"Mas Rama sudah makan duluan. Dan Liza sudah tidur," jawab Vika.


"Liza udah makan belum?" tanya Bu Tari.


"Belum Ma. Dia udah tidur duluan."


"Coba sana, kamu bangunin dan suruh dia makan dulu."


"Dia udah nyenyak Ma. Nggak akan mau lah di bangunin."


"Sudah sana, bangunin aja. Siapa tahu dia mau bangun dan mau makan. Kasihan kalau dia telat makan. Nanti dia bisa sakit lagi."


"Ya udahlah, tunggu sebentar ya."


Vika kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah untuk ke kamar anaknya. Beberapa saat kemudian, Vika kembali ke ruang makan tanpa Liza.


Vika duduk kembali di kursi ruang makan.


"Aku kan udah bilang, kalau Liza nggak akan mau dibangunin. Sepertinya dia kecapean Ma."


"Ya sudahlah, biarin aja. Kita makan berdua aja."


"Tapi aku udah kenyang Ma. Aku tadi udah makan bareng Mas Rama. Aku cuma mau temani mama aja kok."


"Ya udah."


"Aku ambilin nasi ya Ma."


Bu Tari mengangguk. Vika kemudian mengambilkan nasi untuk ibunya makan. Tidak lupa dia juga menambahkan lauk di atas piring ibunya.


"Makan yang banyak ya Ma. Apa mau Vika suapin?"


"Nggak usah. Mama udah bisa kok, gerakin tangan mama. Walau sedikit-sedikit. Biarin mama makan sendiri. Biar tangan mama nggak kaku terus."


"Iya Ma."


Vika kemudian meletakan piring itu di depan Bu Tari duduk. Bu Tari kemudian lekas menyantap makanannya. Sementara Vika melamun, entah apa yang sedang dia fikirkan saat ini. Pasti sekarang dia lagi mikirin Bram atau mikirin suaminya.


Kenapa hubungan aku dengan Mas Rama jadi rumit begini sih. Ditambah hubungan aku dengan Bram. Ya ampun, kalau Bram deketin aku terus seperti ini, bisa mati kalau sampai Mas Rama tahu dengan kedekatan aku dengan Bram. Dia pasti akan lebih membenci aku, batin Vika.


.

__ADS_1


__ADS_2