
Setelah beberapa saat Rama dan Anna menunggu, akhirnya pelayan pun datang membawa pesanan makanan mereka. Pelayan meletakan makanan itu di atas meja restoran.
"Silahkan Pak," ucap pelayan pada Rama.
"Makasih ya Mbak,"
"Iya Pak. Sama-sama."
Setelah pelayan itu pergi, Rama menatap Anna. Anna sejak tadi masih menatap lekat ke arah makanan itu.
Wah, enak-enak banget makanannya. Banyak banget lagi. Kalau nggak habis, apa boleh aku bawa makanan ini pulang untuk bunda, ucap Anna dalam hati.
Anna langsung menatap Rama.
"Om. Banyak banget Om makanannya. Ini semua untuk kita?" tanya Anna.
"Iya Anna."
"Tapi aku kan makannya sedikit Om. Kalau sebanyak ini mana habis Om."
"Kalau nggak habis, nanti kita bisa bawa pulang."
"Oh iya. Kalau aku yang bawa pulang boleh Om untuk bunda?"
"Boleh dong. Sekarang kita makan yah?"
"Iya Om."
Rama dan Anna kemudian lekas makan.
Kasihan sekali anak ini. Ternyata dia itu sudah yatim. Pantas saja kemarin dia jualan koran di jalan. Mungkin, dia mau membantu ibunya kerja.
Anna yang sudah lapar sejak tadi, makan dengan begitu lahapnya. Rama tersenyum bahagia saat melihat Anna. Rama merasa prihatin dengan nasib Anna dan perekonomiannya.
Andai saja Rama sudah mengenal Anna sejak dulu dan Anna tinggal di dekat rumahnya, pasti Rama akan selalu membantu kesulitan keluarga Anna. Namun, sampai sekarang saja Rama tidak tahu di mana rumah Anna dan siapa ibunya Anna.
"Makan yang banyak An. Biar cepat gendut. Kalau Anna gendut kan Om seneng lihatnya."
"Emang Anna kurus banget ya Om?"
"Tubuh Anna bagus kok, dan nggak kurus-kurus banget. Tapi kalau Anna makan banyak kan, Anna bisa sedikit berisi. Nggak kelihatan kurus banget. Kayak anaknya Om, gemuk."
"Anak Om juga gemuk ya?"
"Iya."
"Om punya anak berapa? cewek apa cowok?"
"Om cuma punya anak satu. Cewek. Sepantaran kamu kayaknya. Kapan-kapan nanti Om kenalin ya sama anak Om."
"Emang, siapa nama anaknya Om?"
"Liza."
__ADS_1
"Oh. Nama yang bagus Om."
"Nama kamu juga cantik. Seperti orangnya. Anaknya aja cantik, bagaimana ibunya, pasti bunda kamu cantik ya?"
Anna hanya tersenyum. Dia kemudian melanjutkan makannya.
****
Langkah Safia terhenti saat dia sampai di depan sekolah Anna. Safia menatap sekeliling. Dia juga menatap gerbang sekolah Anna yang sudah di tutup rapat dan tampak sepi.
"Ternyata benar apa kata Aryo. Kalau sekolah Anna udah sepi. Tapi Anna kemana ya. Apa jangan-jangan, dia jualan koran," ucap Safia.
Seorang lelaki keluar dari dalam gerbang.
"Itu siapa? apa jangan-jangan bapak-bapak itu tahu di mana Anna.
Safia langsung menghampiri bapak-bapak yang baru keluar dari gerbang sekolah Anna.
"Pak permisi. Apa bapak melihat anak saya?" tanya Safia.
"Anak Mbak yang mana?" tanya bapak itu.
"Itu lho Pak. Nama anak saya Anna. Dia kelas empat SD. Rambutnya lurus panjang, dan tingginya segini. Dia juga punya lesung pipi," ucap Safia menjelaskan ciri-ciri anaknya.
Bapak itu tampak mengingat-ingat anak yang Safia maksud.
"Oh. Riana..."
"Iya. Saya kenal. Tapi Riana itu kan sudah pulang dari tadi Mbak."
"Tapi dia belum sampai ke rumahnya Pak. Saya takut, ada apa-apa sama dia."
"Coba saja tanya sama teman-temannya Mbak. Mungkin dia lagi main sama teman-temannya."
Safia menghela nafas dalam.
"Anak saya anak yang nurut Pak Dia belum pernah seperti ini. Bisanya dia pulang dulu ke rumah dan izin dulu sama saya. Tapi, saya tidak tahu kemana sebenarnya anak saya itu. Saya takut dia kenapa-kenapa."
"Mbak coba telpon teman-temannya. Siapa tahu, mereka tahu keberadaan anak Mbak."
"Tapi saya nggak tahu Pak nomernya teman-teman Anna. Karena saya juga nggak punya hape."
"Mbak, hape itu penting Mbak. Jaman sekarang itu orang sudah pegang hape semua. Saya juga pegang hape, walaupun hape jadul. Yang penting bisa untuk nelpon."
"Saya juga punya hape Pak di rumah. Tapi hape saya kan udah rusak, dan belum punya uang untuk beli lagi."
"Oh gitu. Ya udah Mbak, saya mau pulang dulu."
"Oh. Iya Pak. Makasih banyak ya Pak."
"Iya."
Bapak-bapak itu kemudian pergi meninggalkan Safia. Sementara Safia melanjutkan untuk mencari Anna.
__ADS_1
****
Setelah menghabiskan makanannya, Anna menatap Rama lekat.
"Om. Kita pulang yuk! Anna takut bunda nungguin dan nyariin."
Rama tersenyum.
"Kamu telpon aja bunda kamu. Ini, pakai hape Om,"ucap Rama sembari menyodorkan ponsel pada Anna.
"Nggak usah Om. Bunda aku nggak pegang hape."
"Nggak pegang hape? jaman sekarang hape itu penting lho untuk komunikasi."
"Iya Om. Tapi hape bunda kan rusak. Dan bunda belum punya uang untuk beli yang baru."
"Oh gitu. Ya udah, kita pulang yuk! tapi kamu tunggu di sini dulu ya. Om mau panggil pelayan biar dia bungkus makanan ini untuk kamu bawa pulang. Katanya kamu pengin ngasih bunda kamu makanan."
Anna tersenyum.
"Iya Om. Makasih banyak ya Om."
"Iya Anna."
Setelah makan siang, Rama kemudian mengajak Anna untuk pulang. Setelah sampai di tempat parkir, Rama membuka pintu mobilnya.
"Silahkan masuk Anna."
"Makasih Om."
Anna kemudian masuk ke dalam mobil. Seperti biasa dia duduk di jok depan di samping Rama. Begitu juga dengan Rama yang ikut masuk ke dalam mobil itu. Setelah itu Rama pun meluncur pergi meninggalkan Anna.
Rama yang masih penasaran dengan Anna, masih bertanya-tanya tentang bundanya Anna.
"Bunda Anna kerja apa sekarang?" tanya Rama di sela-sela menyetirnya.
"Kerja di laundry Om."
"Oh, sudah lama ya bunda kamu kerja di laundry?"
"Udah lama banget Om. Kata bunda sih, bunda kerja di laundry sudah sejak aku ada di dalam kandungan."
"Oh. Lama banget ya. Terus ayah Anna? dulunya kerja apa?"
Anna kembali diam saat dia diingatkan kembali tentang ayahnya. Anna bingung jika ada seseorang yang menanyakan tentang ayah kandungnya. Anna tidak bisa menjawab karena Anna juga belum tahu siapa sosok ayah kandungnya.
Dari bayi sampai dia besar, Anna belum tahu seperti apa sosok ayahnya.Karena Anna belum pernah sekali pun melihat seperti apa wajah ayah kandungnya. Walaupun itu cuma lewat foto. Karena Safia memang sengaja tidak pernah mau memberi tahu siapa ayah kandung Anna yang sebenarnya.
Setetes air mata Anna tiba-tiba saja terjatuh dari pelupuk matanya dan menetes membasahi pipi mulusnya. Rama terkejut saat tiba-tiba saja Anna menangis.
Ya ampun, kenapa Anna nangis. Duh, kenapa aku harus menanyakan soal ayahnya lagi. Kenapa ini mulut nggak bisa di jaga bicaranya.
"Hiks...hiks...hiks..."
__ADS_1