Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Kagum


__ADS_3

Rama masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu dia mengambil handuk dan bergegas pergi ke kamar mandi. Selesai mandi, Rama keluar dari kamar mandi.


Dia kemudian mengambil baju untuk dia pakai ke kantor lagi ini.


Setelah Ammar sudah rapi dengan setelan celana dan kemeja, Ammar mengambil dasinya.


Beberapa saat kemudian, Vika mendekat ke arah Ammar.


"Mas, aku bantu pakaikan kamu dasi ya."


"Nggak usah. Aku bisa sendiri," ucap Ammar dengan ketus.


"Mas, kamu kenapa sih? kenapa kamu jadi berubah gini. Apa salah aku sama kamu Mas."


"Kamu tanya salah kamu apa sama aku? seharusnya kamu yang tanya itu sama diri kamu sendiri. Apa saja kesalahan kamu. Kesalahan kamu itu banyak Vika. Kamu yang sekarang sudah berubah. Bukan aku."


Vika diam. Dia bingung dengan sikap Rama. Sebelum dia ke Bali, Rama tidak bersikap sedingin ini. Tapi entah kenapa setelah kepulangan Vika, Rama jadi berubah.


Apa ya yang membuat Mas Rama seperti ini. Mudah-mudahan dia nggak tahu kalau aku telah melakukan hubungan satu malam dengan mantan pacar aku, batin Vika.


Vika tampak resah. Sampai detik ini, kejadian malam itu bersama Bram, belum bisa dia lupakan dari fikirannya.


Vika masih saja kefikiran dengan malam itu. Mungkin kejadian malam itu akan terus menghantuinya dan akan menjadikan penyesalan di sepanjang hidupnya.


Setelah rapi dengan dasi dan jasnya, Rama mengambil tas kantornya. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan kamar.


Rama buru-buru menuruni anak tangga. Dia melangkah ke dapur untuk menemui Bik Ijah.


"Bik Ijah, aku mau ke kantor. Aku titip Liza dan mama ya. Takutnya, Shakira nggak akan datang ke sini. Soalnya kan Vika sudah pulang "


"Iya Pak Rama. Pak Rama tenang aja. Bibik pasti akan jagain mereka. Pak Rama tumben banget pagi-pagi gini udah rapi? pak Rama nggak mau sarapan dulu?"


"Nggak Bik. Aku makan di kantin aja nanti."


"Iya. Hati-hati ya Pak Rama."


Rama mengangguk. Tanpa butuh waktu lama, dia kemudian pergi meninggalkan rumah. Vika sejak tadi hanya bisa diam di depan meja makan.


Rama sama sekali tidak pamit padanya. Biasanya Rama setiap akan berangkat ke kantor, dia pamit dulu sama istrinya. Kadang Rama juga meninggalkan satu ciuman untuk Vika.


Rama masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dia pun meluncur pergi meninggalkan rumah. Pagi ini, dia ingin ke rumah Safia sekalian ingin ketemu sama Anna. Rama yakin, kalau jam segini Anna masih di rumah.


Sesampainya di depan rumah Safia, Rama menghentikan laju mobilnya. Dia kemudian turun dari mobilnya dan melangkah ke teras depan rumah Safia.


Tok tok tok...


Rama mengetuk pintu rumah itu. Beberapa saat kemudian, Safia membuka pintu. Dia terkejut saat melihat Rama pagi-pagi sekali Rama sudah sampai rumahnya..


"Mas Rama, kamu pagi-pagi banget sudah ke sini. Sudah rapi lagi."

__ADS_1


"Anna mana?"


"Anna nya aja masih tidur Mas. Ini masih jam setengah enam lho Mas. Semangat banget kamu Mas."


"Ya harus semangat dong, kan aku kangen sama Anna. Kemarin aku cuma sebentar ketemu sama dia."


"Masuk yuk Mas. Aku lagi masak Mas. Kamu udah makan belum?"


Rama menggeleng.


"Ya udah, biar sekalian makan di sini aja. Sarapan bareng kita."


"Iya. Makasih ya."


Setelah Safia mempersilahkan Rama masuk, Rama kemudian masuk ke dalam rumah Safia.


"Aku tunggu di sini ya Saf. Kalau kamu mau masak, lanjutin aja," ucap Rama setelah duduk di sofa ruang tamu.


"Iya Mas. Aku tinggal dulu ya."


Safia kemudian melangkah untuk kembali ke dapur. Sementara Rama mengambil ponselnya untuk ngecek chat masuk dalam ponsel itu.


"Aku akan telpon Yogi, aku punya pekerjaan untuk dia."


Rama kemudian menelpon Yogi salah satu karyawan kepercayaannya di kantor


"Halo Pak Rama. Ada apa Pak?"


"Yog, kamu masih di rumah?"


"Iya Pak. Saya masih di rumah. Ada apa Pak? tumben bapak pagi-pagi nelpon?"


"Saya ada tugas buat kamu Yog."


"Tugas apa Pak?"


"Istri saya sedang dekat dengan seorang lelaki. Saya mau tugaskan kamu untuk mencari tahu siapa lelaki yang saat ini sedang dekat dengan istri saya. "


"Oh, saya fikir bapak mau ngasih tugas kantor."


"Nggak. Saya punya foto-foto lelaki itu. Nanti saya kirim ya, ke whats app kamu."


"Iya Pak. Siap!"


Setelah menelpon Yogi, Rama memutuskan saluran telponnya.


"Hemm... wangi banget." Indra penciuman Rama sudah mencium aroma masakan Safia yang harum.


"Masakan Safia wangi banget. Safia masak apa sih."

__ADS_1


Rama bangkit dari duduknya, dia yang penasaran kemudian buru-buru melangkah ke dapur untuk melihat Safia.


Rama menatap Safia dari kejauhan. Dia bersandar di dinding dengan menyilangkan ke dua tangannya di dada. Sejak tadi Rama tidak berhenti menatap Safia.


Benar-benar wanita idaman. Dia bisa mengerjakan semua tugas rumah sendiri , di kesibukannya bekerja. Selama ini, Safia sudah menjadi wanita yang kuat. Dia bisa menghidupi seorang anak sendiri tanpa suami. Aku benar-benar salut sama dia.


Aku berfikir, betapa beratnya hidup Safia saat dia mengandung dan melahirkan Anna tanpa keluarga di sisinya. Dan aku ingin menebus semua kesalahan aku dan dosa masa lalu aku dengan membahagiakan Safia dan Anna. Aku tidak ingin mereka menderita lagi.


Setelah masakan matang, Safia mematikan kompornya. Dia kemudian menoleh ke belakang. Dilihatnya Rama yang sejak tadi masih berdiri di belakangnya.


"Mas Rama. Kamu kok malah bengong di sini," ucap Safia.


Rama tersenyum dan mendekati Safia. Dia kemudian meraih tangan Safia dan menggenggamnya erat.


"Kamu masak apa?" tanya Rama menatap manik mata Safia lekat.


"Aku..." Safia tampak gugup.


Safia merasa tidak enak, di tatap sampai segitunya oleh Rama.


"Ka-kamu... kenapa kamu ngelihatin aku seperti itu sih Mas. Aku kan jadi nggak enak."


"Safia, betapa beratnya hidup kamu, tanpa seorang suami. Membesarkan seorang anak sendiri tanpa seorang lelaki di samping kamu. Kamu harus jadi ibu sekaligus ayah untuk Anna. Apa kamu nggak capek Safia?"


"Itu sih udah biasa Mas. Aku menikmati hidup aku yang sekarang. Asal aku sama Anna, aku bisa menjadi wanita yang tahan banting."


Rama tersenyum. Dia kemudian meraih rambut Safia yang menutupi mata. Dia kemudian meletakkan rambut itu dibelakang telinga Safia.


"Safia, kamu nggak ingin nikah lagi?" tanya Rama


Safia terkejut saat mendengar ucapan Rama. Dia kemudian tersenyum.


"Kenapa sih, semua orang yang dekat dengan aku, pasti bilangnya seperti itu. Mereka pasti menyuruh aku nikah lagi. Lagian aku mau nikah lagi sama siapa Mas? nggak ada laki-laki yang mau sama aku. Apalagi mereka tahu kalau aku ini cuma janda miskin."


Ssstttt.


Rama menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir Safia. Membuat Safia diam dan tidak bicara lagi.


"Kata siapa nggak ada lelaki yang mau sama kamu. Buktinya, aku mau nikah sama kamu."


Deg.


Safia terkejut saat mendengar ucapan Rama. Safia dengan sigap langsung melepaskan tangan Rama.


"Nggak lucu Mas bercandanya."


"Siapa yang bercanda, aku serius Safia."


"Kalau kamu nikah sama aku, istri kamu mau di kemanain?"

__ADS_1


__ADS_2