Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Pembantu Baru.


__ADS_3

Shakira dan Yuli sudah sampai di depan sebuah rumah mewah dua lantai. Halaman rumah itu tampak luas. Rumah itu juga tampak asri karena banyaknya tanaman-tanaman yang tumbuh di depan rumah itu.


"Ini rumahnya?" tanya Shakira menatap Yuli lekat.


"Iya. Rumah ini, di tempati oleh tiga orang dewasa, dan satu anak kecil. Tugas kamu di sini, sebenarnya nggak berat sih. Karena sudah ada satu ART lagi yang kerja di sini. Kamu cuma bantu-bantu kerjaan dia aja dan jagain Oma," ucap Yuli menjelaskan.


"Oma?"


"Iya. Oma itu lansia yang sudah terkena stroke. Dia hanya bisa duduk di kursi roda. Tapi kamu tenang aja, kata yang punya rumah ini, tugas kamu cuma nyuapin Oma dan jagain Oma aja kalau bos kamu lagi pergi. Kalau mandi, gantiin baju, dan yang lain, itu urusan bos kamu."


Shakira manggut-manggut mengerti.


Yuli dan Shakira berjalan sampai ke teras depan rumah itu. Yuli kemudian mengetuk pintu rumah itu.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum," ucap Shakira dan Yuli bersamaan.


Beberapa saat kemudian, seorang wanita paruh baya membuka pintu "Wa'alakiumsalam. Maaf, cari siapa ya?"


"Saya ke sini mau cari Bu Vika. Bu Vika nya ada?" tanya Yuli pada wanita itu.


"Bu Vika belum pulang Mbak. Dia lagi pergi sama suaminya," jawab Bik Ijah wanita itu.


"Oh. Bu Vika pergi ke mana ya?" tanya Yuli lagi.


"Saya kurang tahu Bu Vika pergi kemana. Ada perlu apa ya sama Bu Vika?"


"Saya kemarin kan janji sama Bu Vika, kalau saya mau ngantar Mbak Shakira ke sini. Katanya Bu Vika itu lagi butuh assisten rumah tangga baru," ucap Yuli.


Bik Ijah menatap Shakira lekat.


"Dia yang mau kerja di sini?" tanya Bik Ijah.


"Iya. Dia teman saya. Dia yang mau kerja di sini."


"Mungkin sebentar lagi Bu Vika pulang. Kalian masuk aja ke dalam. Tunggu aja di dalam."


Shakira dan Yuli saling menatap.


"Di dalam masih ada Bu Tari kok. Kalian bisa ngobrol dengan Bu Tari," ucap Bik Ijah.


Setelah Bik Ijah mempersilahkan Shakira dan Yuli masuk, Yuli dan Shakira kemudian masuk ke dalam rumah itu.


"Silahkan duduk. Nanti saya panggilkan Bu Tari."


Shakira dan Yuli kemudian duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumah Vika.


Beberapa saat kemudian, Bik Ijah mendorong kursi roda Bu Tari sampai ke ruang tamu.


Shakira terkejut saat melihat Bu Tari.


Ya ampun, kenapa harus ada nenek-nenek lumpuh seperti itu. Apa pekerjaan aku di sini sebenernya ngurusin lansia. Malas banget aku kalau harus ngurus lansia. Apalagi kalau dia cerewet. Ih, nggak kebayang deh bagaimana repotnya.


"Siapa mereka bik?" tanya Bu Tari pada Bik Ijah.


"Mereka tamunya Bu Vika," jawab Bik Ijah.


"Tamu? tapi Vika nya lagi nggak ada di rumah."


"Mbak Shakira ini yang mau kerja di sini Bu, mau bantu-bantu saya di sini," ucap Bik Ijah.


"Maksud kamu, Vika mau memperkerjakan pembantu baru di sini?"

__ADS_1


"Iya Bu."


Bu Tari menatap ke arah dua orang tamu itu.


"Siapa yang mau kerja di sini?" tanya Bu Tari menatap Yuli dan Shakira bergantian.


Yuli tersenyum.


"Ini Bu, teman saya yang mau kerja di sini."


"Oh... sudah ketemu sama Vika sebelumnya?" tanya Bu Tari pada Shakira.


Shakira menggeleng. "Belum Bu."


"Bik Ijah, tolong ambilkan saya hape. Saya mau telpon Vika."


"Baik Bu."


Bik Ijah kemudian masuk ke dalam untuk mengambil ponselnya Bu Tari. Beberapa saat kemudian, Bik Ijah ke ruang tamu dan membawa hape Bu Tari.


"Ini Bu, hapenya." Bik Ijah menyodorkan hape itu pada Bu Tadi.


"Makasih."


"Iya Bu. Sama-sama."


Bu Tari kemudian menelpon Vika.


"Halo Vik, kamu ada di mana sekarang?"


"Aku masih di taman dekat rumah Bu."


"Cepat pulang Vik. Ini ada tamu."


"Kamu mau mempekerjakan pembantu baru di sini?"


"Iya Bu."


"Lah, dia udah ada di sini."


"Ya udah Bu. Aku pulang sekarang ya."


"Iya. Cepat ya."


"Iya Bu."


Bu Tari mematikan saluran telponnya. Setelah itu dia meletakan ponselnya di atas meja.


"Bik Ijah, tolong buatkan mereka minum."


"Baik Bu."


Bik Ijah kemudian melangkah masuk ke dalam untuk membuatkan Shakira dan Yuli minum.


"Duh, Bu. Repot-repot banget Bu. Harusnya nggak usah repot-repot. Kami ke sini juga sebenernya cuma mau sebentar. Kami mau ketemu sama Bu Vika saja," ucap Yuli.


"Nggak apa-apa. Sama sekali nggak ngerepotin kok, tunggu saja sebentar. Vika pasti sebentar lagi pulang."


"Iya Bu."


****


Di taman, Vika dan Rama masih duduk bersisian. Sementara Liza sejak tadi masih tampak bermain-main dengan teman-temannya.

__ADS_1


"Mas, aku harus pulang," ucap Vika pada Rama.


"Pulang. Kenapa pulang? Liza masih ingin main. Dia belum mau kan di ajak pulang."


"Mas, ada tamu penting."


"Siapa?"


"Pembantu baru."


Rama mengernyitkan alisnya.


"Pembantu baru? kamu mau mempekerjakan orang baru di rumah kita? kenapa kamu nggak bilang dulu sama aku."


"Maaf mas. Aku fikir, untuk apa aku bilang sama kamu. Aku yakin, kamu pasti setuju kok dengan rencana aku. Aku memang ingin mempekerjakan pembantu baru untuk bantu-bantu Bik Ijah dan jagain mama. Aku nggak tega kalau aku pergi, harus meninggalkan mama sendiri. Kamu kan tahu, kalau Bik Ijah kerjaannya banyak."


"Ya terserah kamu sih. Kalau kamu butuh pembantu baru, ya silahkan aja."


"Ayo Mas, kita pulang."


"Tapi kamu udah bilang sama Liza."


"Iya. Aku mau ajak Liza pulang."


Vika bangkit berdiri. Setelah itu dia mendekat ke arah Liza.


"Liz, udah sore, ayo kita pulang. Mama mau pulang Liz. Di rumah ada tamu."


Liza yang sejak tadi masih main dengan teman-temannya tidak menghiraukan ucapan Vika. Dia masih asyik bermain-main dengan temannya.


"Liza... Mama lagi bicara sama kamu."


Liza menoleh ke Vika.


"Mama pulang sendiri aja. Aku masih pengin main di sini," ucap Liza.


Vika menghela nafas dalam.


"Liza, udah sore sayang. Kasihan Oma kamu sendirian di rumah."


"Aku nggak mau pulang. Aku masih pengin di sini."


Vika sudah membujuk Liza berkali-kali. Namun Liza masih enggan untuk pulang. Setelah Vika lelah membujuk Liza, Vika kemudian menghampiri Rama


"Mas, Liza nggak mau di ajak pulang."


"Kenapa?"


"Dia masih betah di sini."


"Ya udah, kamu pulang sendirian aja. Biar Liza pulang bareng aku."


"Terus, aku harus jalan kaki gitu. Kan jauh Mas, kalau aku harus jalan kaki."


"Siapa yang nyuruh kamu jalan kaki. Bawa aja mobil aku."


"Terus, kamu dan Liza gimana pulangnya?"


"Kami bisa jalan kaki, atau kamu jemput kami nanti kalau kami sudah mau pulang."


"Ya udah deh. Mana kuncinya. Sini, aku bawa mobilnya."


Rama kemudian memberikan kunci mobilnya pada Vika. Setelah itu Vika pun pergi meninggalkan taman untuk pulang ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2