
Bram berjalan untuk melihat Vika di kamar tamu.
"Mbak, kamu udah ganti bajunya Vika?" tanya Bram pada Mbak Asih yang baru keluar dari kamar tamu.
"Sudah Pak Bram," jawab Mbak Asih.
"Bagus, sekarang kamu boleh istirahat di kamarmu."
"Baik Pak."
Bram kemudian masuk ke dalam kamar Vika. Dia tersenyum saat melihat Vika pakai dasternya Mbak Asih. Bram mendekat ke arah Vika. Dia masih menganggumi wajah Vika yang cantik.
"Kamu itu cantik banget Vik. Pakai bajunya pembantu aja, kamu cantik. Apalagi kalau kamu pakai baju bagus," ucap Bram.
Bram kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Dia duduk di sofa sembari sesekali dia menatap Vika.
Bram masih ingin menikmati pemandangan wanita cantik yang ada di depannya.
Semenjak bercerai dari istrinya, Bram memang tidak pernah menyalurkan hasratnya pada wanita. Sudah lama Bram tidak pernah berhubungan dengan wanita lagi, kecuali hubungan satu malamnya dengan Vika di Bali .
Dan hubungan satu malamnya itu, sudah membuat Bram kecanduan akan tubuh molek Vika.
***
Pagi ini, sinar mentari sudah menelusup masuk ke dalam celah-celah kamar Vika.
Vika mengerjapkan matanya. dia menatap ke sekeliling.
"Duh, aku sebenarnya ada di mana ini," ucap Vika sembari beringsut duduk.
Sepertinya kepala Vika masih sakit. Dia sejak tadi masih memegangi kepalanya yang sakit.
Vika saat ini sepertinya bingung, karena dia tidak tahu sekarang dia berada di mana.
Vika mencoba untuk mengingat-ingat kejadian semalam. Ya, dia masih ingat kalau semalam dia kehujanan. Dan di tengah-tengah hujan, dia seperti melihat Bram.
"Jangan-jangan, aku di rumah Bram lagi," ucap Vika.
Vika menatap tubuhnya yang saat ini mengenakan sebuah daster sebawah lutut.
"Apa ini, kenapa aku pakai daster. Dan di mana bajuku. Apa jangan-jangan semalam..." Vika mencoba untuk mengingat-ingat lagi apa yang sudah terjadi semalam. Namun Vika tak ingat apa-apa.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar Vika terbuka. Bram muncul dari balik pintu. Bram saat ini sudah mengenakan setelan baju kantornya.
Vika menatap Bram tajam.
"Bram, apa yang semalam kita lakukan Bram?" Tanya Vika pada Bram.
Bram tersenyum. Dia kemudian duduk di sisi ranjang Vika.
"Emang apa yang kamu ingat semalam?" tanya Bram.
"Aku nggak ingat apa-apa semalam. Karena semalam aku kehujanan."
__ADS_1
"Kamu itu pingsan semalam. Aku bawa kamu ke rumah ku."
"Terus baju aku?"
"Kamu tenang saja. Baju kamu lagi di cuci sama pembantuku. Dan semalam, Mbak Asih yang gantiin baju kamu."
"Oh. Benarkah begitu? Kamu nggak macam-macam kan?"
"Ya. Aku nggak mungkin berani menyentuh kamu, tanpa persetujuan kamu."
Vika tiba-tiba saja memegangi perutnya.
"Kamu kenapa? kamu lapar?" tanya Bram.
"Iya Bram. Aku lapar. Dari kemarin aku belum makan. Aku lagi nggak enak makan Bram."
"Ya udah, sekarang kita makan ya. Aku sudah siapin kamu makanan di meja makan."
Vika bangkit dari duduknya. Begitu juga dengan Bram. Mereka kemudian keluar dari kamar menuju ke ruang makan.
Bram dan Vika kemudian duduk di ruang makan. Setelah itu mereka pun makan bersama.
"Kamu mau ke kantor Bram?" tanya Vika di sela-sela kunyahannya.
"Ya," jawab Bram singkat.
"Makasih ya Bram. Karena semalam kamu udah mau nolongin aku dan bawa aku ke rumah kamu?"
"Kamu mabuk semalam?"
"Kamu lagi punya masalah dengan suamimu?"
Vika hanya mengangguk.
"Kamu mau cerita ke aku tentang masalah kamu. Biar hati kamu lebih tenang. Tapi aku nggak akan maksa sih."
Vika diam. Dia mencoba untuk mengumpulkan kekuatan hatinya agar dia bisa bercerita tentang masalah rumah tangganya pada Bram.
"Suami aku Bram," ucap Vika dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa dengan suami kamu?"
"Suami aku udah nikah lagi dengan wanita lain."
Uhuk...uhuk...uhuk...
Bram tersedak makanannya sendiri saat dia mendengar ucapan Vika. Bram mengambil gelas dan langsung minum. Setelah itu dia kembali menatap Vika.
"Kamu serius Vik?" Tanya Bram.
"Ya Bram. Aku serius. Dan ternyata Mas Rama itu sudah punya anak dengan wanita itu. Dan anak itu, sudah sebesar Liza."
"Rama sudah punya anak dari wanita lain? mungkin kah itu istrinya? dia balikan lagi sama istrinya?"
__ADS_1
"Bukan begitu Bram ceritanya. Mas Rama dengan mantan istrinya itu tidak punya anak. Wanita yang dinikahi Mas Rama sekarang itu, adik kandung dari mantan istrinya Mas Rama."
"Oh, mantan adik ipar maksud kamu?"
"Iya. Mereka pernah melakukan hubungan satu malam seperti kita. Dan wanita itu hamil. Dan Mas Rama sekarang sudah menikahinya karena dia tahu kalau dia punya anak dari wanita itu."
"Oh. Ya, sekarang aku tahu masalah kamu."
"Dan ada satu lagi yang membuat aku gila Bram."
"Apa?"
"Mas Rama, dia sudah mengambil alih semua harta Papa."
Bram melotot ke arah Vika .
"Maksud kamu apa?"
"Bram, mas Rama sudah memindah nama kan rumah dan perusahaan papa aku atas nama nya "
"Benarkah?"
"Iya Bram. Kesal tahu nggak sih Bram. Dan dia nggak mau menceraikan aku Bram. Dia juga nggak mau menceraikan wanita itu. Aku nggak sanggup Bram, kalau aku hidup di madu."
Hiks ..hiks...hiks...
Bram terkejut saat melihat Vika menangis. Vika yang saat ini fikirannya sudah kacau menceritakan semuanya pada Bram.
Jadi sekarang Vika itu udah jatuh miskin. Tapi kasihan juga dia. Mungkin saatnya aku sekarang untuk mengambil hati Vika.
Bram meraih tangan Vika.
"Kamu nggak usah sedih Vik. Kan masih ada aku. Aku akan selalu ada buat kamu."
"Aku harus bagaimana Bram. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku udah nggak sanggup. Jika aku menggugat cerai Mas Rama, aku nggak akan mendapatkan harta gono-gini. Dan hak asuh Liza pasti akan jatuh ke tangan Mas Rama, secara Mas Rama punya segalanya sekarang. Sementara aku udah nggak punya apa-apa. Untuk membayar pengacara pun aku nggak punya uang."
"Kamu tenang saja. Aku akan membantu kamu. Jika kamu mau bercerai dengan Rama, gugat cerai saja dia. Nggak usah mikirin harta gono-gini. Ikhlaskan saja harta itu untuk Rama. Yang penting, hak asuh Liza jatuh ke tangan kamu."
"Tapi Bram. Aku nggak ikhlas Bram harta itu jatuh ke tangan Mas Rama. Pasti di balik penderitaan aku, dia akan berbahagia dengan Safia istri barunya itu "
"Kita bisa kan pakai strategi untuk mengambil alih perusahaan dan rumah kamu dari tangan Rama."
"Caranya?"
"Kamu nikah dulu sama aku. Nanti aku kasih tahu caranya."
"Nikah? kamu yakin mau nikahin aku, walau sekarang aku miskin."
"Ya, emang kenapa kalau kamu miskin. Aku cuma butuh wanita untuk jadi istri. Nggak butuh harta karena aku sudah punya banyak harta. Kamu tahu kan sudah lama aku jadi duda. Dan aku memang lagi cari istri yang bisa ngurus aku dan bisa memenuhi kebutuhan biologisku."
Vika tersenyum.
Aku nggak nyangka, Bram ternyata mau nikahin aku. Aku aja yang terlalu bucin sama Mas Rama sehingga aku tidak bisa melihat ketulusan Bram. Kalau aku nikah sama Bram, aku pasti masih bisa menikmati kekayaan Bram, Bram juga nggak jelek-jelek amat. Yang penting dia kaya dan bisa memanjakan aku.
__ADS_1
"Apa kamu mau, jadi istri aku Vik?" tanya Bram.
Vika tersenyum. Awalnya dia menolak Bram, tapi saat ini sudah tidak ada penolakan lagi. Karena saat ini Vika juga butuh lelaki yang mau mengerti dia, yang mau memberikannya nafkah lahir batin. Nafkah yang selama ini jarang Rama berikan padanya.