
"Kenapa ya, Safia bisa marah banget sama aku. Padahal waktu di cafe, dia biasa saja. Dan dia juga masih mau menerima bantuan dari aku. Tapi kenapa dia bisa marah banget saat dia tahu kalau aku dekat dengan anaknya," ucap Rama di sela-sela menyetirnya.
Sejak tadi Rama menyetir, namun fikirannya masih tertuju pada Safia dan Anna. Rama masih bingung saja dengan sikap Safia tadi. Kenapa dia bisa sangat marah saat melihat Rama dekat dengan Anna.
"Safia, aku akan kembali lagi untuk menemui Anna. Karena aku sudah terlanjur sayang sama anak kamu itu. Entah kenapa, sejak pertama kali aku bertemu dengan Anna, aku jadi kasihan sama dia. Apa lagi saat aku melihat dia jualan koran. Kenapa bisa sih, Safia mengizinkan anak sekecil itu jualan koran di jalan," ucap Rama lagi.
Rama masih larut dalam fikirannya sendiri. Sampai-sampai dia tidak fokus menyetir dan hampir menabrak motor yang ada di depannya.
Chiiiitttttt...
Rama ngerem mendadak saat dia akan menabrak motor yang ada di depannya. Rama kemudian menghentikan laju mobilnya dan memegang dadanya.
"Huhh, untung saja tadi aku nggak nabrak motor itu," ucap Rama. Setelah itu Rama pun melajukan kembali mobilnya.
****
Di sisi lain, Safia masih menangis di ruang tamu. Setelah Rama pergi meninggalkan rumahnya, Safia mengusap air matanya. Dia kemudian melangkah masuk ke dalam kamar untuk melihat Anna.
Anna masih tampak menangis di atas tempat tidurnya. Sebenarnya Safia tidak tega melihat Anna. Tapi Safia harus melakukan itu, untuk menjauhkan Anna dari Rama.
"Hiks...hiks...hiks... bunda jahat. Kenapa sih bunda jahat. Kenapa aku nggak boleh ketemu sama Om Rama lagi. Kenapa bunda harus mengembalikan barang-barang itu ke Om Rama lagi, kenapa..." ucap Anna di sela-sela tangisannya.
Safia meneteskan air matanya. Dia tidak tega melihat anaknya menangis seperti itu.
Maafkan bunda Anna. Bunda terpaksa melakukan semua ini, karena bunda takut kehilangan kamu. Kamu satu-satunya keluarga yang bunda punya saat ini. Bagaimana nanti kalau Mas Rama tahu kamu anaknya. Dia bisa membawa kamu pergi,' batin Safia.
Safia mengusap air matanya. Setelah itu dia mendekat ke arah tempat tidur Anna dan duduk di sisi tempat tidur Anna.
"Anna. Maafkan bunda, bunda tadi sudah kasar sama kamu. Bunda sudah marah-marah sama kamu. Tapi bunda melakukan semua ini, karena bunda sayang sama Anna. Bunda nggak mau kehilangan Anna," ucap Safia sembari mengusap-usap rambut panjang anaknya.
Anna mengusap air matanya. Setelah itu dia beringsut duduk dan menatap bundanya lekat.
"Bunda, kenapa bunda usir Om Rama dari sini? Om Rama bukan orang jahat. Dia sayang sama Anna. Dia sudah menganggap Anna seperti anak kandungnya sendiri. Tapi kenapa bunda usir dia. Apa salah Om Rama bunda?" tanya Anna menatap lekat ibunya.
Safia diam. Dia bingung untuk bicara apa pada Anna.
Gimana sih cara menjelaskan ke Anna. Bagaimana caranya untuk aku menjauhkan Anna dari Mas Rama. Kenapa mereka harus ketemu dan harus dekat. Aku sama sekali nggak suka itu. Mas Rama sekarang sudah punya istri dan anak. Aku nggak mau menghancurkan kebahagiaan rumah tangga Mas Rama dengan istrinya.
"Sayang, kita itu belum kenal betul siapa lelaki itu. Dia itu lelaki asing. Dia bukan siapa-siapa kita. Kita tidak boleh percaya begitu saja dengan orang yang baru kita kenal. Bisa saja, dia baik-baikin kamu karena ada maksud tertentu," ucap Safia.
__ADS_1
"Maksud tertentu apa bunda?" tanya Anna tidak mengerti.
"Bisa saja, dia itu mau culik kamu. Lama-lama, dia bisa bawa kamu pergi. Dan kalau dia bawa kamu pergi dari kehidupan bunda, bunda bagaimana sayang? bunda nggak bisa hidup tanpa kamu," ucap Safia memberi alasan.
"Kenapa bunda bisa berfikiran seperti itu? Om Rama nggak seperti apa yang bunda fikirkan. Om Rama orang baik kok." Anna sejak tadi masih membela Rama. Dia sama sekali tidak percaya dengan ucapan Safia.
"Iya sayang, tapi bisa saja kan dia cuma pura-pura baik. Padahal sebenarnya dia punya niat jahat ke Anna. Bunda nggak mau sampai terjadi apa-apa sama Anna. Bunda nggak mau kehilangan Anna."
Anna diam. Entah apa yang sedang dia fikirkan saat ini.
"Anna kamu kenapa sayang?" tanya Safia.
Anna kembali menatap Safia.
"Bunda, aku ingin punya ayah. Aku ingin punya orang tua yang lengkap seperti teman-teman aku," ucap Anna tiba-tiba, yang membuat Safia terkejut.
"Apa! kamu pengin punya ayah?" pekik Safia.
Anna mengangguk." Iya. Aku pengin bunda nikah lagi.
Safia menghela nafas dalam dan sejenak memejamkan matanya. Dia kemudian menatap anaknya.
"Iya Bunda. Kenapa bunda nggak nikah lagi aja biar aku punya ayah baru. Kalau aku punya ayah baru, aku pasti bisa melupakan Om Rama. Karena aku cuma butuh seorang ayah bunda."
Kenapa anak aku semakin ngelantur aja bicaranya. Dia fikir, mencari suami itu semudah membalikkan telapak tangan. Aku juga harus bisa memilih lelaki yang baik, yang mau nerima aku apa adanya dan mau menerima Anna. Anna masih kecil, tapi kenapa fikirannya sudah kayak orang dewasa. Aku sama sekali belum punya fikiran ke arah situ. Aku semakin bingung saja untuk menjelaskannya sama Anna.
Safia menangkup wajah anaknya.
"Nggak semudah itu sayang untuk bunda cari ayah baru untuk Anna. Bunda juga harus milih orang yang baik dan sayang sama Anna. Bunda nggak mau salah pilih. kalau seandainya bunda nikah lagi, bunda takut kamu akan terlantar. Apalagi kalau sampai bunda punya anak lagi. Bunda nggak bisa ngurusin kamu. Karena bunda harus ngurusin adek bayi."
Anna tersenyum.
"Nggak apa-apa bunda. Kalau bunda nikah lagi, kan nanti aku bisa punya adik bayi. Aku bisa punya teman. Dan rumah ini, nggak akan sepi karena ada adik bayi. Dan aku ingin bunda nikah lagi sama lelaki baik seperti Om Rama."
Memang susah ya menjelaskan sama Anna. Sudahlah, malas aku bicara sama dia. Mendingan aku tinggal Anna masak aja.
Safia bangkit berdiri. Dia tidak mau memperdulikan lagi ucapan anaknya dan keinginan konyol Anna. Dia tampak kesal dengan Anna saat ini.
"Bunda mau ke mana?" tanya Anna.
__ADS_1
"Bunda mau masak. Udah siang," Jawan Safia.
Safia kemudian melangkah keluar rumah untuk mengambil barang-barang belanjaannya yang dia tinggal di luar.
****
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari rumah Anna sampai ke rumahnya, akhirnya Rama sampai juga di depan rumahnya.
Rama turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumahnya. Di ruang tengah, sudah tampak Vika dan Liza duduk bersama.
"Mas, cepat banget kamu pulangnya? kamu udah ketemu sama Anna?" tanya Vika.
Vika bangkit berdiri dan melangkah menghampiri suaminya.
"Anna? Anna siapa?" tanya Liza. Dia pun ikut mendekat ke arah ayahnya.
Vika dan Liza tampaknya penasaran dengan Anna.
"Aku fikir, kamu mau bawa Anna main ke rumah ini. Ternyata kamu pulang sendiri," ucap Vika.
"Anna? siapa sih Anna Ma?"
"Itu, temannya ayah kamu. Katanya dia masih sepantaran kamu," jawab Vika.
Rama diam saat mendengar ucapan istri dan anakku. Tanpa banyak bicara, Rama pun buru-buru pergi meninggalkan ruang tengah.
Vika dan Liza saling menatap.
"Kenapa sih Papa kamu? pulang-pulang kok, wajahnya di tekuk gitu?"
Liza mengedikan bahunya.
"Aku juga nggak tahu Ma. Mungkin, papa lagi punya masalah Ma"
"Iya. Mungkin. Biarkan saja dia.
Sesampainya di dalam kamar, Rama menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi ranjang.
"Kenapa Safia harus memisahkan aku dengan Anna. Kenapa aku nggak boleh berhubungan lagi dengan Anna. Kenapa aku nggak boleh dekat lagi dengan Anna. Safia kenapa harus mengembalikan barang-barang yang sudah aku berikan ke Anna. Kasihan Anna kalau seperti ini," ucap Rama.
__ADS_1