Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Sarapan bareng


__ADS_3

"Mama, Papa, kalian kenapa malah peluk-pelukan di sini? aku sudah nunggu kalian lama di bawah. Kenapa kalian malah enak-enakan di sini," ucap Liza sembari menyilangkan ke dua tangannya di depan dadanya.


Vika dan Rama terkejut saat mendengar suara Liza. Mereka lantas melepaskan pelukan mereka dan bersamaan menatap Liza.


"Liza, kamu kenapa ke sini Nak?" tanya Vika sembari mendekat ke arah Liza.


"Aku nggak suka dicuekin. Kenapa mama dan papa sering cuekin aku sih," geram Liza.


Rama tersenyum dan mendekat ke arah Liza anaknya.


"Sayang, jangan ngambek dong. Maafin mama dan papa ya udah sering cuekin Liza," ucap Rama sembari mengusap-usap rambut panjang Liza.


Liza diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia langsung keluar dari kamarnya dan turun ke bawah. Sepertinya dia marah sama ayah dan ibunya.


"Ih... Mama dan papa nyebelin banget sih," ucap Liza sembari berjalan ke ruang makan.


Rama dan Vika saling menatap. Mereka sudah tahu bagaimana sifat Liza. Liza gadis kecil mereka itu sering sekali ngambek, dia juga manja, dan belum bisa menjadi anak yang mandiri. Sifatnya mirip sekali dengan Vika ibunya.


"Tuh kan anak kamu ngambek lagi, ini semua gara-gara kamu sayang. Kenapa pagi-pagi kamu sudah peluk-peluk aku," ucap Rama.


Vika hanya diam. Dia kemudian menatap suaminya lekat.


"Nggak boleh aku peluk-peluk kamu. Aku harus jadi istri yang sempurna untuk suamiku. Aku harus selalu tampil cantik, agar kamu nggak berpaling ke lain hati Mas," ucap Vika.


Rama mendekat ke arah Vika dan meraih ke dua tangan Vika.


"Aku itu sayang sama kamu, aku cinta sama kamu Vika. Jadi, kamu jangan ragukan kesetiaan aku ya. Aku pasti akan selalu setia sama kamu sampai kapan pun. Kamu jangan curigaan dan jangan cemburuan terus dong sayang," ucap Rama menatap Vika lekat.


Setelah itu dia mengecup punggung tangan istrinya.


Rama selalu meyakinkan Vika kalau dia itu cinta dan akan selalu setia sama Vika.


Sebenarnya dulu Rama menikahi Vika itu bukan karena cinta. Dia menikahi Vika karena Pak Angga ayah Vika.


Pak Angga yang sudah menjodohkan Vika dengan Rama. Rama tidak mungkin menolak perjodohan itu karena dia merasa sudah banyak berhutang budi pada Pak Angga.


Setelah kaki Rama sembuh dari kecelakaan itu, dan Rama sudah bisa berjalan lagi seperti biasa, ayah Vika mengajak Rama untuk kerja di kantornya.


Pak Angga merasa kagum dengan Rama karena kejujuran dan kerja keras Rama. Dan Pak Angga menginginkan Rama untuk menjadi menantunya. Rama pun tidak menolaknya. Karena waktu itu, dia juga sudah resmi cerai dari istrinya di kampung.

__ADS_1


Setelah Rama dan Vika menikah, Pak Angga sedikit demi sedikit sudah mempercayakan perusahaannya untuk di olah Rama dan sampai sekarang, Rama yang mengolah semua perusahaan milik Pak Angga.


Liza tiba-tiba saja menghempaskan tubuhnya di atas kursi ruang makan.


"Lho, cucu Oma datang-datang udah cemberut gitu? kenapa sayang? mana Mama dan papa kamu?" tanya Bu Tari yang saat ini sudah duduk di ruang makan.


"Mereka masih di kamarnya Oma," jawab Liza yang masih menampakkan wajah kesalnya.


"Terus, kamu sudah suruh mereka turun?" tanya Bu Tari pada cucunya.


"Mereka nggak mau turun. Karena mereka lagi pelukan tadi," ucap Liza.


Bu Tari terkejut saat mendengar ucapan Liza. Namun dia hanya menanggapinya dengan senyum.


"Ya ampun, pagi-pagi gini mereka peluk-pelukan," gumam Bu Tari lirih.


Beberapa saat kemudian, Vika dan Rama menuruni anak tangga. Mereka kemudian melangkah bersamaan sampai ke ruang makan.


"Vika, Rama, lama sekali kalian, dari tadi anak kalian nungguin kalian turun," ucap Bu Tari menatap Vika dan Rama bergantian.


"Maaf ya Ma, tadi aku lagi pakein Mas Rama dasi. Jadi lama," ucap Vika sembari menghempaskan tubuhnya di atas kursi ruang makan.


Rama menarik kursi ruang makan, dan ikut duduk di samping istrinya duduk.


"Nggak apa-apa Rama," Bu Tari tersenyum. Dia hanya bisa memaklumi Rama dan Vika.


Aku seneng lihatnya, rumah tangga Rama dan Vika, semakin hari semakin harmonis saja. Walaupun Rama seorang duda dan sudah pernah punya istri, namun dia ternyata bisa membahagiakan anak dan cucuku. Dia lelaki yang sangat romantis dan perhatian. Dia juga sangat dewasa dan selalu bisa mengimbangi sikap Vika dan Liza. Dia juga sayang keluarga,batin Bu Tari.


Vika mengambil piring dan lekas mencedokan nasi dan lauk ke atas piring itu. Setelah itu dia memberikannya pada suaminya.


"Ini buat Mas Rama," ucap Vika.


"Makasih sayang,"


Vika kemudian kembali mengambil piring dan mencedokan nasi dan lauk untuk ibunya. Setelah itu dia menyodorkannya pada ibunya.


"Dan ini, buat ibu," ucap Vika.


Bu Tari tersenyum.

__ADS_1


"Makasih ya Vik."


"Aku mana Ma?" tanya Liza yang sejak tadi masih menampakkan wajah murungnya.


Vika tersenyum.


"Ini buat Liza, lagi mama ambilin juga. Liza mau lauk apa? ayam goreng atau telor dadar?" tanya Vika pada anaknya.


"Aku mau ayam goreng aja Ma."


"Oke."


Setelah mengambilkan nasi untuk Liza, Vika kemudian mengambil ayam goreng dan dia meletakan piring itu dia depan Liza duduk. Setelah itu mereka berempat sarapan bareng pagi ini.


Di sela-sela kunyahannya, Rama menatap istrinya.


"Sayang, kayaknya hari ini aku agak telat sedikit pulangnya," ucap Rama.


"Emang kenapa Mas?" tanya Vika.


"Nanti sore, aku mau ada pertemuan penting dengan klien di luar kantor. Kami mau membahas masalah proyek baru."


"Oh, ya udah nggak apa-apa Mas."


"Nanti kamu ya sayang, yang jemput Liza ke sekolah."


"Oke, kamu tenang aja. Kalau masalah Liza, biar aku aja yang ngurus. Kamu kerja aja yang giat untuk masa depan kita dan anak-anak," ucap Vika.


"Vika, Rama, Liza kan udah gede, kapan rencana kalian untuk punya anak lagi?" tanya Bu Tari tiba-tiba.


Pertanyaan Bu Tari membuat Liza yang sejak tadi masih mengunyah makanan tersenyum.


"Iya Ma, Pa, kapan kalian buatin aku adek," ucap Liza menimpali.


Vika dan Rama saling menatap.


"Em, sayang. Kamu bicara apa sih? kamu emang pengin punya adik ya?" tanya Vika sembari mengusap-usap rambut Liza.


"Iya. Aku pengin banget punya adik. Kalau boleh sih, adik cewek untuk teman aku main boneka," ucap Liza.

__ADS_1


Rama sejak tadi hanya senyam-senyum sendiri. Sebenarnya Rama juga sudah ingin punya anak lelaki. Namun Vika masih belum siap untuk punya anak lagi, karena dia masih tidak ingin repot.


Padahal jika saja Liza punya adik lagi, Liza juga sudah besar karena usianya sekarang sudah menginjak sembilan tahun. Dan Liza saat ini sangat mengharapkan seorang adik. Begitu juga dengan Bu Tari yang sudah menginginkan cucu lagi.


__ADS_2