Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Telpon dari istri


__ADS_3

"Mas, kamu tahu alamat rumahnya bapak dan ibu aku nggak? kalau iya mereka ada di kota ini, aku ingin pergi ke rumah mereka untuk menemui mereka," ucap Safia.


"Kamu pengin menemui orang tua kamu sekarang? mumpung aku libur. Aku antar kamu ke sana sekarang ya."


Safia menggeleng.


"Nggak. Aku bisa ke sana sendiri. Kamu kasih tahu aja alamatnya sama aku."


"Duh, aku juga belum banyak tanya-tanya pada Shakira. Aku nggak pernah ada waktu untuk ngobrol sama dia. Aku memang jarang ngobrol lama dengan Mbak mu. Aku takut istri aku cemburu."


"Kalau aku jadi Vika, aku juga pasti cemburu lah Mas, kalau mantan istri suamiku kerja di rumah aku."


Ring ring ring...


Deringan ponsel Rama mengejutkan Rama dan Safia. Rama mengambil ponselnya yang ada di dalam saku bajunya.


"Siapa Mas yang nelpon? istri kamu?" tanya Safia.


"Iya Saf. Ini Vika istri aku yang nelpon. Aku angkat telpon dulu ya Saf."


Rama bangkit dari duduknya. Setelah itu dia menjauh dari Safia dan mengangkat panggilan dari istrinya.


"Halo..."


"Halo Mas Rama. Kamu ada di mana sekarang?"


"Ngapain kamu nelpon Vik?"


"Mas, kenapa kamu pergi nggak bilang-bilang dulu sih sama aku?"


"Untuk apa aku bilang-bilang dulu sama kamu."


"Mas, aku khawatir kalau kamu pergi tanpa pamitan dulu sama aku."


"Ya maaf deh, kalau tadi pagi aku nggak pamit dulu sama kamu. Sekarang aku lagi ada di rumah teman. Lagi ada urusan sebentar sama teman."


"Mas, Liza nungguin kamu dari tadi. Liza nangis Mas."


"Kenapa emang Liza?"


"Hari ini dia minta jalan-jalan lagi. Kamu kan minggu kemarin nggak ngajak kita jalan."


"Duh Vik. Kenapa sih, yang ada di dalam fikiran kamu itu jalan-jalan... terus. Kamu kan bisa jalan-jalan sendiri. Semalam aja aku sudah ngajak kalian makan malam."


"Tapi itu kan beda Mas. Liza itu penginnya jalan-jalan yang jauh. Dan dia maunya jalan-jalan bertiga sama dia, aku dan kamu."


"Sebenarnya Liza apa kamu sih yang pengin jalan-jalan. "

__ADS_1


"Ya Liza dong Mas."


"Tapi tadi pagi aku udah bilang sama Liza, kalau aku nggak bisa ngajak dia jalan-jalan. Aku sudah bilang sama dia kalau aku lagi ada urusan sama teman. Dan dia juga diam aja kok. Nggak komentar sedikit pun."


"Mas, kamu punya urusan apa sih di luar? penting mana urusan kamu dengan teman kamu itu, atau urusan anak dan istri kamu. Sekarang aku minta kamu pulang sekarang dan temani kami jalan-jalan."


Rama terkejut saat tiba-tiba saja Vika menutup saluran telponnya.


Safia sejak tadi masih memperhatikan Rama dari kejauhan.


Sebenarnya Mas Rama itu telponan sama istrinya atau bukan sih. Kenapa telponan ngotot-ngotot gitu, batin Safia.


"Hah, sial. Ganggu orang aja," gerutu Rama.


Rama memutar tubuhnya dan dia terkejut saat melihat Safia sudah berdiri di depannya.


"Safia."


Safia mendekat ke arah Rama.


"Kamu telponan sama siapa? kamu kok seperti orang marah gitu?" tanya Safia.


"Istri aku. Biasa, dia itu nggak bisa lihat orang bebas. Kalau aku lagi keluar, dia pasti akan telpon aku dan nyuruh aku pulang."


"Gitu amat istri kamu."


"Oh. Ya udah, pulang aja. Pasti sekarang istri kamu lagi nungguin kamu di rumah. Kasihan istri kamu kalau kamu tinggal kelamaan."


"Ya udah, aku pulang dulu ya Saf. Titip salam untuk anak kamu Anna. Bilang kamu kalau Om Rama kangen sama Anna."


Safia tersenyum dan mengangguk.


"Iya mas. Hati-hati di jalan ya Mas."


"Iya Safia. Kapan-kapan aku ke sini lagi."


"Mana mobil kamu Mas?"tanya Safia menatap sekeliling.


"Itu. Aku taruh di depan masjid."


Setelah berpamitan pada Safia, Rama pun berjalan untuk ke arah mobilnya yang dia parkir


kan di depan parkiran masjid. Sementara Safia masuk kembali ke dalam rumahnya.


Rama masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dia pun meluncur pergi meninggalkan rumah kontrakan Safia.


Di sela-sela menyetirnya, Rama tersenyum.

__ADS_1


"Aku yakin Anna pasti ada di dalam tadi. Safia pasti bohong bilang Anna nggak ada. Tapi nggak apa-apa lah kalau aku nggak boleh dekat dengan Anna. Kalau aku dekatin dan pepet Safia terus, aku yakin lama-lama Safia akan membolehkan aku untuk dekat juga dengan Anna," ucap Rama.


Setelah Rama pergi, Safia melangkah untuk ke kamar Anna. Dia tersenyum saat melihat Anna tidur.


"Ya ampun, anak aku jadi dari tadi tidur. Masih pagi, udah tidur lagi. Kenapa nggak nunggu habis dzuhur aja sih tidurnya," ucap Safia.


Setelah melihat Anna, Safia kemudian kembali ke dapur untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya yang tertunda.


Waktu saat ini sudah menunjukkan jam sepuluh pagi. Safia akan bersiap-siap memasak untuk makan siang.


Beberapa saat Safia berkutat di dapur memasak untuk menu makan siang dia dan anaknya.. Safia sejak tadi masih berdiri di dapur mengaduk-aduk tumis kangkung buatannya.


Aroma masakan Safia sudah menembus penciuman Anna.


Anna yang sejak tadi masih terlelap tiba-tiba saja, mengerjapkan matanya saat dia mencium aroma masakan ibunya yang begitu harum.


"Bunda lagi masak. Apa jangan-jangan, bunda lagi sama Om Rama ya di dapur," ucap Anna sembari beringsut duduk.


Anna mengira kalau Rama masih berada di rumahnya. Karena sejak Rama pergi, Anna tidur dan tidak melihat Rama pergi.


Anna buru-buru menghampiri dapur untuk melihat ibunya. Anna kemudian mendekat ke arah ibunya.


"Bunda, harum banget masakan bunda. Harumnya sampai membuat aku terbangun. Masak apa sih Bunda?" tanya Anna.


Safia menoleh ke arah Anna.


"Eh sayang, kamu udah bangun. Bunda lagi masak tumis kangkung. Sudah lama ya kamu tidur?"


"Nggak juga kok Bun."


"Kamu udah lapar Nak?"


"Bunda tahu aja. Aku dari tadi pagi kan memang belum sarapan."


Safia tersenyum. Dia kemudian kembali menatap masakannya yang sudah hampir matang.


"Bunda, perasaan tadi ada Om Rama deh di ruang tamu. Ke mana sekarang dia?" tanya Anna.


"Om Rama sudah pulang. Untuk apa kamu tanyain dia," ucap Safia ketus.


"Bunda kenapa sih. Kalau aku sebut nama Om Rama, wajah bunda seperti nggak suka begitu. Padahal yang aku lihat tadi bunda akrab banget sama Om Rama. Kalian juga nggak malu kok, peluk di depan pintu."


Safia terkejut saat mendengar ucapan Anna. Sepertinya dia malu pada anaknya.


Duh, jadi Anna lihat aku pelukan sama Mas Rama tadi. Duh, apa yang harus aku katakan sama Anna. Malu banget aku. Pasti Anna fikir, aku dan Mas Rama ada hubungan apa-apa. Bodohnya kamu Safia..." batin Safia.


"

__ADS_1


__ADS_2