
Di sela-sela kunyahannya, Bram masih menatap Vika lekat. Vika sejak tadi masih mengaduk-aduk makanannya. Dia sejak tadi sama sekali tidak mau menyentuh makanan yang ada di depannya.
"Vik, kamu kenapa? kenapa kamu diam aja? dimakan dong? kenapa makanannya cuma di aduk-aduk dan di diamin aja seperti itu?" tanya Bram yang melihat sikap Vika yang sangat aneh. Tidak seperti biasanya Vika murung saat bersama Bram.
Vika menatap Bram lekat.
"Aku lagi malas makan Bram," jawab Vika.
"Kenapa? kenapa kamu malas makan. Kamu nggak boleh seperti ini Vik. Nanti kamu sakit."
"Aku benar-benar lagi sedih banget Bram. Rasanya aku ingin menangis. Aku bingung sama suami aku Bram."
"Bingung kenapa?" tanya Bram.
"Suami aku udah bohongin aku. Dia juga udah berubah sekali Bram. Mas Rama sekarang sudah jarang ada waktu untuk aku. Dia sibuk terus di kantornya. Dia sama sekali nggak pernah ngertiin aku."
"Nggak ngertiin gimana Vik maksud kamu?"
"Mas Rama itu sama sekali nggak ada romantis-romantisnya tahu nggak sekarang. Kalau aku ajak dia jalan atau makan malam, dia selalu nolak. Dia selalu beralasan inilah itulah," keluh Vika.
"Aku kan jenuh Bram. Aku tahu tugas istri memang di rumah, ngurus rumah dan ngurus anak. Tapi aku juga pengin dong traveling kemana gitu. Nggak melulu di rumah. Tapi selama berumah tangga sama Mas Rama, belum pernah Mas Rama sekalipun ngajak aku ke Bali atau ke luar negeri. Padahal uang Mas Rama banyak."
"Jangan sedih lagi Vik. Maklumin aja suami kamu itu kan kampungan. dia juga lelaki dari kampung. Mana mau dia diajak ke luar negri atau ke Bali. Kamu ngajak dia ke sana juga kan malu-maluin Vik. Suami kamu itu terlalu kuper."
Bram meraih tangan Vika dan menggenggamnya erat.
"Kamu jangan sedih gitu. Kalau kamu ingin liburan ke luar negeri, atau ke Bali, aku bisa ajak kamu ke sana. Kita bisa bersenang-senang di sana Vik."
Vika menatap Bram lekat.
"Jalan-jalan sama kamu?"
"Vik, jujur sejak aku bertemu kamu lagi di reunian kita kemarin, aku merasa kalau rasa cinta aku ke kamu itu masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah Vik."
"Masa sih? kamu kan sudah punya istri Bram."
__ADS_1
"Kan aku sudah bilang, kalau aku sudah duda dua tahun. Aku sudah cerai dari istri aku dua tahun yang lalu. Kamu lupa ya, sama cerita aku kemarin."
"Terus anak-anak kamu?"
"Anak aku yang dua, ikut semua sama ibunya. Dan aku sudah seperti bujangan lagi sekarang Vik."
"Oh... gitu ya Bram."
"Vik, kalau kamu kesepian dan jenuh, kamu bisa hubungin aku. Aku akan selalu ada untuk kamu dan aku akan menjadi pendengar yang baik untuk kamu. Kamu mau kemana pun nanti akan aku antar. Aku bisa Vik, memanjakan kamu dan membahagiakan kamu."
Vika terkejut saat tiba-tiba saja Bram mencium tangannya. Bram memang masih sama romantisnya seperti dulu.
Bram adalah mantan pacar Vika waktu SMA. Sejak mereka putus, mereka baru dipertemukan lagi di pesta reunian dua bulan yang lalu.
Sejak bertemu dengan Bram, Vika dan Bram kembali dekat. Bram sering mengajak Vika jalan. Mesti status mereka saat ini, hanya sebatas teman dekat, namun mereka tampak sangat mesra, jika jalan berdua di depan umum.
Sepertinya cinta yang sudah terkubur lama di hati Vika, sudah mulai kembali saat Bram datang dan memberikan kenyamanan untuknya.
Vika tersenyum saat menatap Bram.
"Vik, apa sih yang nggak bisa aku lakuin untuk kamu. Apa kamu pengin jalan-jalan ke Bali. Sekalian aku juga mau ada tugas di Bali minggu ini. Apa kamu mau ikut? masalah biaya penginapan atau apapun itu, biar aku yang urus semuanya. Kamu tidak perlu minta sama suami kamu."
Vika membelalakkan matanya. Dia terkejut saat mendengar ucapan Bram.
"Bram. Kamu yakin mau ngajakin aku ke Bali?"
"Ya, sebenarnya aku mau ada tugas untuk beberapa hari di sana. Tapi kalau kamu mau ikut aku boleh aja. Kamu bisa sekalian jalan-jalan kan di sana. Biasanya sih aku selalu ajak istri aku. Sekarang aku kan udah cerai, jadi aku ajak kamu aja deh."
"Wah, so sweet banget kamu Bram. Aku seneng banget tahu nggak. Terakhir aku ke Bali, sejak aku kuliah. Semenjak sama Mas Rama, boro-boro ke luar negeri. Ke Bali aja nggak pernah."
"Ya udah, nanti hari minggu kita terbang ke sana pakai pesawat."
"Iya Bram. Aku mau banget."
"Ya udah, sekarang habiskan makanannya. Nggak usah sedih, dan nggak usah cemberut lagi ya."
__ADS_1
Vika mengangguk. Dia kemudian kembali menyantap makanannya. Dia bahagia karena dia sudah bisa bertemu kembali dengan Bram lelaki yang royal dan selalu bisa memanjakannya.
Dia juga tidak kalah tampannya dari Rama. Bagi Vika, sekarang adalah kebahagiaannya. Dia sudah jenuh berada di rumah terus hanya ngurus anak, ngurus rumah dan ngurus suami.
****
Pagi ini, Liza, Rama dan Bu Tari sudah berada di ruang makan. Mereka sejak tadi masih menunggu Vika turun.
"Ram, istri kamu kemana? dia kenapa nggak turun-turun. Ditungguin juga," ucap Bu Tari.
"Tadi sih dia masih ada di kamar mandi. Mungkin sebentar lagi dia turun."
Beberapa saat kemudian, Vika menuruni anak tangga sembari membawa koper kecil yang berisi baju-bajunya.
Rama terkejut saat melihat istrinya membawa koper.
"Vik, kamu mau kemana pakai bawa-bawa koper segala?" tanya Rama menatap tajam istrinya.
"Aku mau pergi ke Bali Mas sama teman aku."
"Ke Bali? mau ngapain?"
"Ya mau jalan-jalan lah. Aku jenuh di rumah terus."
"Kamu mau ajak Liza juga?"
"Ya nggaklah. Untuk apa aku ajak Liza. Aku kan ke sana mau sama teman-teman aku. Aku ke sana juga kan mau rombongan."
"Terus, Liza sama ibu kamu bagaimana? kamu tega mau meninggalkan mereka."
"Aku juga nggak akan lama kok Mas. Paling lama juga seminggu. Lagian Bali kan dekat. Kalau ibuku sama Liza kan ada kamu dan Bik Ijah. Nggak apa-apa lah kalau aku tinggal mereka. Cuma seminggu doang."
"Vik, kenapa buru-buru sekali sih?"
"Ya kan teman-teman aku ngajakin dadakan Ma. Aku ke sana juga rombongan kok sama teman-teman perempuan aku," bohong Vika.
__ADS_1
Dia tidak mau mengatakan kalau dia akan pergi dengan seorang lelaki.