Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Pertanyaan ibu mertua


__ADS_3

Sore ini di sebuah cafe, Vika, Bram dan Liza masih tampak duduk bersama. Mereka masih menikmati makanan mereka.


"Om, makasih banyak ya Om, karena Om sudah mau ngajakin aku dan mama jalan-jalan. Aku seneng banget tahu Om," ucap Liza sembari menatap Bram lekat.


Bram mengangguk.


"Iya. Kapan-kapan, kalau Liza mau, Om akan ajakin Liza jalan-jalan lagi," ucap Bram di sela-sela kunyahannya.


"Yang benar Om?" Liza membelalakkan matanya.


"Ya benar dong. Apa sih yang nggak buat Liza."


Bram dan Liza sudah tampak akrab sekarang. Sejak tadi, Bram dan Liza ngobrol, namun Vika sama sekali tidak mau bicara dengan Bram. Dia hanya membiarkan Bram ngobrol dengan anaknya.


Dari tadi siang, Vika hanya menuruti keinginan Liza saja. Seandainya tidak ada Liza, mungkin Vika tidak akan mau jalan dengan lelaki itu.


Karena Vika sekarang ada di Jakarta bukan di Bali. Dan Rama bisa saja melihat kedekatan mereka, jika Vika dan Bram sering jalan bareng.


"Liza, setelah ini kita pulang ya," ucap Vika di sela-sela kunyahannya.


Liza menatap ibunya lekat. Dia kemudian menggeleng.


"Mama, aku belum ingin pulang Mama. Aku masih pengin jalan-jalan sama Om Bram," ucap Liza.


Tampaknya dia masih betah berlama-lama dengan Bram.


Vika melotot ke arah anaknya.


"Liza, dari tadi kan kita sudah jalan-jalan. Kita mau jalan-jalan ke mana lagi. Kasihan Om Bram nya, udah capek, dari tadi siang ngajakin kita jalan-jalan," ucap Vika mencoba memberi pengertian pada Liza.


"Pokoknya Liza masih ingin jalan-jalan. Setelah ini kita harus jalan-jalan lagi," ucap Liza yang masih ngotot ingin jalan-jalan lagi dengan Bram.


"Liza..." bentak Vika yang membuat Liza tertunduk sedih.


"Vika, sudahlah. Turuti aja keinginan Liza. Barang kali Liza memang masih pengin jalan-jalan. Lagian, kapan sih ada kesempatan untuk kita jalan bareng sama anak kamu seperti ini. Kan, mumpung suami kamu nggak ada di rumah," ucap Bram santai.


"Bram, aku nggak suka ya, dengan cara kamu seperti ini. Aku nggak mau Bram, suami aku lihat kita jalan bareng. Dia bisa salah paham sama kita."


"Hehe... Vika sudahlah, santai aja lagi. Nggak usah tegang begitu. Suami kamu nggak akan pernah lihat kita. Dia itu sekarang pasti lagi sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Satu minggu nggak pulang, mungkin saja Rama itu sekarang ada di luar kota. Atau mungkin, dia lagi sama selingkuhannya," ucap Bram yang membuat hati Vika semakin kesal dan memanas.


"Bram, jaga mulut kamu Bram. Kamu nggak pantas bicara seperti itu apalagi di depan anak aku. Nggak mungkin Mas Rama sama wanita lain sekarang. Kalau dia punya wanita idaman lain, aku pasti tahu Bram. Karena aku sudah sangat mengenal suamiku luar dalam."

__ADS_1


"Oh ya? bagaimana kalau Rama memang punya wanita lain."


Vika semakin kesal saja dengan Bram. Dia itu sangat susah untuk di ajak bicara. Vika hanya bisa sabar menghadapi lelaki rese itu.


"Bram. Hentikan bicaramu. Aku percaya dengan suami aku. Dia itu nggak mungkin macam-macam sama aku. Selama pernikahan kita, suami aku nggak pernah berani macam-macam sama aku."


"Ya ya ya. Aku percaya deh sama kamu. Tapi, biarkan saja Liza menghabiskan makanannya dulu. Kalau sudah habis, barulah kita pulang atau jalan-jalan lagi," ucap Bram sembari menatap gadis kecil yang ada di sampingnya duduk yang masih melahap makanannya.


"Liza, habiskan Liz. Kalau kurang, nanti kamu boleh nambah lagi."


Di sela-sela kunyahannya, Liza hanya mengangguk. Sementara Vika sejak tadi masih menahan geram di dada.


****


Waktu saat ini sudah menunjukkan jam tujuh malam. Malam ini Rama sudah sampai di halaman depan rumahnya. Rama memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya.


Di dalam garasi, mobil Vika tampak masih terparkir dengan cantik. Rama yakin kalau Vika ada di dalam dan dia tidak kemana-mana malam ini.


Rama turun dari mobilnya. Dia mengambil tasnya dan melangkah ke teras depan rumahnya.


Rama menatap rumah yang sudah satu minggu ini dia tinggalkan. Karena selama satu minggu ini, Rama harus tinggal di rumah Safia wanita yang baru dia nikahi.


"Ma, sendirian aja. Di mana istri dan anak aku?" tanya Rama sembari menghampiri ibu mertuanya.


Rama langsung mencium punggung tangan ibu mertuanya. Setelah itu dia pun duduk di sisi ibu mertuanya.


Bu Tari menatap Rama tajam.


"Kamu baru pulang? dari mana aja kamu seminggu ini?" tanya Bu Tari sudah menunjukkan tampang serius.


Rama bingung akan menjawab apa. Tidak mungkin kan, dia jujur kalau dia habis nikahan dan bermalam sampai seminggu di rumah istri barunya. Sebisa mungkin Rama akan mencari alasan yang tepat untuk membuat ibu mertuanya percaya.


"Aku baru pulang dari luar kota Ma, ada urusan mendadak kemarin."


"Oh. Kenapa kamu nggak menghubungi Vika?"


"Seminggu ini aku lagi meninjau proyek aku yang ada di pelosok desa Ma. Jadi jarang ada sinyal di sana."


"Oh. Begitu."


"Mama udah makan?"

__ADS_1


"Belum. Mama lagi nungguin Vika dan Liza pulang. Mama nggak biasa makan tanpa mereka."


"Lho, Vika dan Liza ke mana Ma?"


"Mama juga nggak tahu Ram mereka kemana. Vika belum menghubungi ke rumah. Sudah sejak tadi pagi Vika pergi."


"Kalau Liza. Dia ikut Vika juga?"


"Tadi pagi sih, ada yang jemput Vika dan Liza ke rumah."


Rama terkejut saat mendengar ucapan ibu mertuanya. Rama berfikir, kalau yang jemput Vika tadi pagi adalah Bram.


"Mama tahu siapa yang jemput Vika?"


"Dia temannya Vika sepertinya."


"Lelaki?"


"Bukan. Dia wanita. Vika pergi pagi-pagi sekali sekalian ngantar Liza ke sekolah. Tapi sampai sekarang mereka berdua belum pulang."


"Oh." Rama masih bisa bernafas lega dengan keterangan yang dibebankan ibu mertuanya.


"Ya udah Ma. Rama tinggal dulu ya. Rama mau ke kamar sekalian mau mandi."


"Iya."


Rama kemudian pergi meninggalkan ibu mertuanya di ruang tengah. Dia menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas.


Sesampainya di dalam kamar, Rama meletakan tasnya di atas meja. Setelah itu dia melepas dasinya dan melepaskan jasnya.


Rama mengambil handuk. Dia kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.


Beberapa saat kemudian, Rama keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuknya saja di pinggangnya. Rama berjalan ke lemari bajunya untuk mengambil baju gantinya. Selesai ganti baju, Rama menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


Deru mobil dari depan sudah terdengar sampai ke kamar Rama. Rama bangkit dari duduknya untuk melihat mobil siapa yang datang.


"Itu pasti Vika," ucap Rama.


Rama yang penasaran, kemudian melangkah ke jendela untuk melihat siapa yang datang.


"Vika sama siapa sih itu." ucap Rama sembari membuka korden jendelanya.

__ADS_1


__ADS_2