Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Pindah rumah.


__ADS_3

Sore ini Iren dan Safia sudah sampai di depan rumah kontrakan Safia. Safia turun dari motor Iren dan menatap Iren lekat.


"Ren, jangan pulang dulu ya. Antar aku pindah ke rumah baru sekarang," ucap Safia yang membuat Iren terkejut.


Baru tadi, Safia tanya-tanya sama ibu yang punya rumah kontrakan baru. Ternyata Safia minta Iren untuk mengantarnya pindahan sekarang.


"Kamu mau pindah sekarang? kenapa nggak besok pagi aja? kenapa buru-buru banget?" tanya Iren.


"Ren, aku penginnya pindah sekarang."


"Jadi kamu mau kemasin barang-barang kamu sekarang ya Saf?" tanya Iren.


Safia mengangguk.


"Iya. Aku mau kemasin barang-barang aku sekarang."


"Tapi kita tidak bisa pakai motor dong Saf."


"Kata siapa?"


"Barang-barang kamu yang besar kan harus pakai mobil. Seperti lemari, rak piring atau yang lainnya."


"Aku nggak punya barang di sini. Semua barang di sini milik ibu kontrakan. Aku cuma mau bawa baju-baju aku dan Anna saja."


"Oh... kamu sudah bilang sama anak kamu?" tanya Iren.


"Belum," jawab Safia singkat.


"Kamu nggak bilang dulu sama anak kamu."


"Nggak. Nanti saja aku bilangnya. Yang penting aku mau beresin baju-baju aku dulu."


Iren turun dari motornya dan melangkah ke teras depan rumah kontrakan Safia.


"Ayo Ren. Masuk! tunggu di dalam aja dulu!" Safia mempersilahkan Safia masuk.


"Iya."


Iren kemudian masuk ke dalam rumah kontrakan Safia. Setelah Safia mempersilahkan Iren duduk, Iren kemudian duduk.


"Kamu tunggu di sini dulu ya Ren. Aku akan beresin baju-baju aku dan Anna dulu," ucap Safia menatap Iren lekat.


Iren mengangguk. "Iya."


Safia kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil tas besar untuk memasukkan semua baju-bajunya.


Safia mendekat ke arah lemari dan mengambil semua baju-bajunya dan baju Anna.


Beberapa saat kemudian, Anna masuk ke dalam rumah. Dia menatap Iren yang saat ini masih duduk di ruang tamu.


"Tante Iren. Tante ada di sini?" tanya Anna. Dia lantas mencium punggung tangan Iren.


"Kamu dari mana An?" tanya Iren.


"Main Tan," jawab Anna singkat.


"Kamu udah mandi?"


Anna menggeleng. "Ini aku mau mandi."

__ADS_1


"Oh. Ya udah, sana mandi."


"Iya Tan. Bunda aku ke mana?" tanya Anna.


"Ada di kamar."


"Aku ke kamar dulu ya Tan."


"Iya."


Anna kemudian melangkah masuk ke dalam kamar ibunya. Dia terkejut saat melihat Safia sedang memasukan baju-bajunya ke dalam tas.


"Lho, Bun. Kok baju-baju aku dimasukkan ke tas. Emang kita mau pergi ya?" tanya Anna.


Safia menoleh ke arah Anna.


"Iya. Kita mau pindah rumah Anna."


"Apa! pindah rumah? pindah rumah sekarang Bun?"


"Iya."


"Tapi kita mau pindah ke mana? kenapa buru-buru banget."


"Sudah, jangan banyak tanya. Nanti kamu juga tahu sendiri. Sekarang sana, kamu siap-siap.Sekarang kamu mandi, terus nanti kamu ganti baju. Setelah itu nanti kita pergi dari sini bersama Tante Iren."


"Bunda, bunda belum jawab pertanyaan aku. Kita mau pindah ke mana?" tanya Anna


"Sayang, jangan banyak tanya. Kita nggak punya banyak waktu. Udah sore, kasihan Tante Iren nungguin. Dia mau ngantar kita ke rumah kontrakan baru kita. Setelah itu dia mau pulang ke rumahnya.


Anna benar-benar bingung pada Safia. Safia tidak bilang dulu pada Anna kalau dia mau pindah kontrakan hari ini. Membuat Anna bingung.


Anna sejak tadi masih melamun. Dia masih kefikiran dengan Rama.


"Anna. Kenapa kamu masih berdiri saja di sini! ayo sana, ke kamar mandi dan mandi. Kita nggak punya banyak waktu lama," ucap Safia meninggikan nada suaranya. Membuat Anna terkejut.


"I-iya Bun."


Anna kemudian berjalan ke kamarnya untuk mengambil handuk. Setelah itu Anna melangkah untuk pergi mandi.


Setelah memasukan semua baju-bajunya di dalam tas, Safia kemudian membawa tas itu ke ruang tamu di mana Iren menunggu.


"Tunggu dulu ya Ren. Saya mau siap-siap dulu. Sekalian saya mau ngurusin Anna dulu," ucap Safia sembari meletakan tasnya di atas sofa.


"Iya. Santai aja Saf."


Safia kemudian menyusul anaknya ke kamar mandi. Sementara Iren hanya bisa menatap Safia dan tas-tas bajunya.


"Safia sebenarnya kenapa ya. Dia kenapa buru-buru sekali ingin pindah rumah. Dia seperti orang yang lagi di kejar-kejar rentenir, dia juga mirip buronan. Kayak nggak tenang banget sih hidupnya," gumam Iren.


Setelah lama Iren menunggu, akhirnya Safia dan Anna menghampiri Iren.


"Ren, kita sudah siap Ren," ucap Safia.


Iren bangkit berdiri.


"Ya udah, ayo!" ajak Iren.


Safia menggandeng Anna sampai ke luar rumah. Setelah itu dia mengunci pintu rumah itu.

__ADS_1


"Kamu tunggu di sini dulu ya sama Tante Iren. Bunda mau kembalikan kunci rumah ini pada Mbak Wati."


"Iya Bun."


Safia kemudian melangkah ke teras depan rumah Wati.


Tok tok tok...


Safia mengetuk pintu depan rumah Wati. Beberapa saat kemudian, Wati membuka pintu. Dia menatap Safia tanpa berkedip.


"Safia, kamu rapi amat. Mau ke mana? mau pergi?" tanya Wati.


"Wati, saya mau kembalikan kunci rumah ini," ucap Safia sembari memberikan kunci rumah kontrakan itu pada Wati


Wati tampak bingung.


"Lho, kok dikembalikan? kenapa? emang kamu mau pergi ke mana?" tanya Wati penasaran.


"Uang kontrakan bulan ini kan udah aku lunasi. Dan aku sekarang udah nggak punya hutang apa-apa lagi kan sama kamu."


"Kamu mau pindah kontrakan? tapi kenapa? kamu udah ngga betah ngontrak di sini?"


"Bukan begitu Wat. Tapi aku mau pindah ke rumah kontrakan yang dekat dengan tempat kerjaan aku. Biar aku bisa jalan kaki aja kalau ke tempat kerja. Kalau dari sini kan kejauhan."


"Oh... begitu. Ya udah, emang kamu mau pindah ke mana?" tanya Wati penasaran.


"Aku kan sudah bilang, kalau aku pindah ke kontrakan yang ada di dekat cafe tempat aku kerja."


"Kamu mau ajak Anna juga?"


"Ya iya lah. Aku mau ajak Anna. Masa Anna mau aku tinggal di sini."


"Itu teman kamu, yang mau ngantar kamu ke sana?" tanya Wati sembari menunjuk ke arah Iren.


Safia mengangguk.


"Iya. Aku nggak bawa apa-apa dari rumah kamu. Aku cuma bawa baju-baju aku dan Anna saja."


"Iya iya... aku percaya. Ya udah kalau kamu mau pergi. Hati-hati ya di jalan."


"Iya Wat. Titip salam ya buat Bu Nunung dan Aura."


"Iya."


Setelah berpamitan pada Wati, Safia kemudian mendekat ke arah Iren dan Anna.


"Ayo, sekarang kita pergi," ucap Safia.


"Tapi Bun. Aku juga belum pamitan sama Aura. Aku mau ke rumah Aura dulu ya Bun," ucap Anna.


Anna sedih jika dia harus meninggalkan Aura dan Aryo teman bermainnya. Karena jika dia pindah rumah, dia tidak akan bisa main lagi dengan ke dua anak itu. Kecuali kalau di sekolah.


"Jangan. Nggak usah. Bunda udah buru-buru. Kamu kan nanti bisa ketemu mereka di sekolah," ucap Safia.


"Ya udah deh."


Iren sudah naik ke atas motor dengan tas baju Safia yang dia letakan di depan motor.


"Ayo naik."

__ADS_1


Anna dan Safia kemudian naik ke atas motor Iren, setelah itu mereka bertiga pergi meninggalkan tempat itu. Mereka akan meluncur ke rumah kontrakan baru.


__ADS_2