
Pagi ini di rumah kontrakan kecil Safia, sudah dipenuhi orang-orang yang akan menyaksikan pernikahan Safia dengan Rama.
Kebanyakan dari mereka adalah tetangga dekat rumah kontrakan Safia yang memang sengaja Safia undang untuk menyaksikan pernikahannya dengan Rama. Agar tidak ada kesalahpahaman lagi di antara mereka semua.
Pak Burhan dan Ustadz Zaki juga sudah berada di depan rumah Safia. Mereka semua sedang menunggu Rama dan keluarga Safia datang.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil hitam berpakir dihalaman depan rumah kontrakan kecil itu.
Rama, Bu Astri dan Pak Junedi turun dari mobil. Sementara Shakira tak nampak hadir dalam acara itu. Mereka bertiga kemudian berjalan menuju ke teras depan rumah Safia dimana Pak Burhan dan Ustadz Zaki berdiri.
"Assalamualaikum," ucap Rama, Pak Junedi, dan Bu Astri bersamaan.
"Wa'alakiumsalam," jawab orang-orang itu kompak.
"Di mana Safia?" tanya Bu Astri.
"Safianya masih di kamar," jawab salah seorang wanita yang ada di kerumunan orang-orang itu.
"Kita tunggu di dalam saja ya Pak, Bu," ucap Rama pada Bu Astri dan Pak Junedi.
Mereka mengangguk. Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah kontrakan Safia. Begitu juga dengan Pak Burhan dan Ustadz Zaki. Yang mengikuti ke dua orang tua Safia masuk ke dalam rumah.
Saat ini, Safia masih berada di dalam kamarnya. Dia masih bersama dengan Anna dan seorang perias pengantin.
Sama sekali tidak pernah terbayangkan di dalam fikiran Safia, kalau dia akan menikah dengan mantan kakak iparnya yang sudah menghamilinya beberapa tahun yang lalu.
Masih teringat jelas dalam bayangan Safia, bagaimana Rama telah merenggut semua kesuciannya. Mungkin saat inilah, Rama ingin menebus semua kesalahan-kesalahannya di masa lalu dengan menikahi Safia.
Anna tersenyum saat melihat bundanya sudah di make up dan tampak cantik dengan balutan kebaya putih, dan sanggul di kepalanya. Karena Safia masih keturunan Jawa, jadi Safia masih memakai adat daerahnya walau sekarang dia tinggal di Jakarta.
"Wah, bunda cantik banget deh. Tante Riris pintar banget deh make-up in bunda," puji Anna pada Riris perias pengantin itu.
Riris hanya tersenyum saat mendengar celoteh Anna. Dia masih memoles-moleskan make up ke wajah Safia.
"Bukan Tante Riris yang terlalu pintar make-up in orang. Tapi emang pada dasarnya bundanya kamu itu udah cantik. Sama seperti kamu Anna."
"Iya. Bunda cantik. Ayah juga tampan. Mereka serasi banget ya Tante Riris."
Riris sejak tadi hanya senyam-senyum sendiri saat mendengar ucapan anak kecil yang ada di sampingnya.
"Safia, anak kamu lucu banget sih Safia. Gemes deh aku jadinya. Pengin banget aku culik anak kamu dan aku bawa ke rumah. Anak aku kan tiga laki-laki semua. Pengin banget punya anak perempuan yang menggemaskan seperti ini," ucap Riris sembari mencubit gemes pipi Anna.
__ADS_1
"Ih Tante,sakit tahu..." Anna mengusap-usap pipinya yang sakit karena cubitan Riris.
"Hehe... habisnya kamu bawel banget."
Safia melirik ke arah anaknya.
"Sayang, coba kamu lihat keluar. Ayah sudah datang apa belum?"
"Iya bunda."
Anna kemudian keluar dari kamar bundanya. Anna terkejut saat di luar kamar bundanya sudah banyak orang yang duduk berjejer rapi sampai ke ruang tamu.
Rama tersenyum saat melihat putri kecilnya. Dia kemudian mendekat ke arah anaknya.
"Sayang, mana bunda?" tanya Rama menatap Anna lekat.
"Tunggu sebentar lagi ayah."
"Ayah udah nggak sabar, pengin lihat bunda kamu."
"Tenang aja. Bunda udah di make-up cantik banget ayah. Ayah pasti nanti pangling kalau lihat bunda."
"Oh ya. Masa sih?"
"Iya Ayah."
Anna kemudian masuk kembali ke dalam kamar bundanya. Tidak lupa dia juga menutup pintunya kembali.
"Tante Riris cepatan dong make up nya. Ayah sudah nungguin bunda di luar."
"Iya An. Sebentar lagi ya. Anna bisa nggak tunggu di luar."
"Anna sayang, kamu tunggu di luar saja sama ayah kamu. Jangan ngerecokin Tante Riris terus sayang. Nanti nggak kelar-kelar sayang"
"Iya bunda."
Safia menatap pantulan dirinya di depan cermin. Safia memegang ke dua dadanya yang sudah berdebar sejak dia tahu kalau Rama dan ke dua orang tuanya sudah datang ke rumahnya.
Safia tiba-tiba saja meneteskan air matanya. Entah apa yang saat ini sedang Safia rasakan. Semua rasa bercampur menjadi satu di dalam hatinya.
Sebenarnya Safia sama sekali tidak menginginkan pernikahan seperti ini. Dulu Safia punya keinginan, dia ingin menikah setelah Anna SMP, dan dia ingin mengundang semua orang yang dikenalnya ke acara pernikahannya. Dan Safia ingin, pernikahannya itu digelar secara terbuka dengan mengundang banyak tamu. Tapi,
__ADS_1
"Lho lho lho... kenapa kamu malah nangis?" tanya Riris yang melihat Safia meneteskan air mata.
"Aku nggak apa-apa. Aku cuma deg degan aja."
Riris tersenyum.
"Safia, semua orang juga pasti akan merasakan hal yang sama seperti apa yang kamu rasakan saat ini. Deg degan, gugup itu memang wajar di alami oleh calon pengantin Safia. Tapi jangan nangis begini dong. Nanti make-up nya luntur lagi."
Maafkan aku Mbak Vika, aku sudah menyakitimu. Tapi aku terpaksa melakukan semua ini, karena aku ingin menjaga nama baikku. Aku mau menikah dengan Mas Rama juga karena Anna. Seandainya nggak ada Anna, aku nggak mungkin mau menerima pernikahan ini. Ya Allah, ampuni aku ya Allah. Lancarkanlah segala urusanku.
Setelah semua orang menunggu agak lama, akhirnya Safia keluar juga dari kamarnya. Dengan bantuan Riris, Safia berjalan dan duduk di dekat Rama.
Rama menatap Safia lekat. Begitu juga dengan orang-orang yang hadir di tempat itu. Mereka tampak pangling dengan Safia.
Walau usia Safia sudah tidak muda lagi, namun dia terlihat sangat cantik.
Setelah Safia duduk di dekat calon pengantin pria, akhirnya ijab kabul pun di mulai.
"Saya terima nikahnya Safia binti Junedi dengan mas kawin tersebut di bayar tunai..."
"Bagaimana saksi sah...!"
"Sah..."
Akhirnya pernikahan itu sah juga. Walau pernikahan itu hanya pernikahan siri dan di gelar secara tertutup, namun Rama sangat bahagia karena dia sudah sah menjadi suami Safia.
Namun tidak dengan Safia, nampaknya dia masih diselimuti rasa bersalah karena sudah menikah dengan lelaki yang statusnya masih suami orang.
Safia benar-benar malu, takut, sedih, rasa itu bercampur menjadi satu dalam hati Safia. Sebenarnya bukan pernikahan seperti ini yang Safia inginkan. Namun Safia akan berusaha untuk menerima takdirnya menjadi istri ke dua Rama.
Rama meraih tangan Safia. Dia kemudian menyematkan cincin di jari manis Safia. Setelah itu, Rama pun mencium kening Safia. Semua orang bertepuk tangan dengan meriah. Mereka ikut merasa bahagia dengan pernikahan Rama dan Safia.
Safia menatap sekeliling. Dia seperti mencari sesuatu.
"Sayang, ada apa?" tanya Rama.
"Mana Mbak Shakira? dia nggak ikut ke sini? dia nggak mau menyaksikan pernikahan aku dan kamu."
"Tadi dia udah mau siap-siap ke sini. Tapi Rionya nangis nggak mau masuk ke mobil."
"Oh. Benar begitu Mas?"
__ADS_1
"Iya. Sudahlah, nggak usah mikirin Shakira. Kita mikirin diri kita sendiri aja sayang."
****