Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Tidak nyaman


__ADS_3

Shakira kemudian mengambil tas yang ada di tangan Rama. Setelah itu dia melangkah masuk ke dalam rumah.


Beberapa saat kemudian, deru mobil sudah terdengar dari depan rumah.


Rama menoleh ke belakang dan menatap mobil Vika. Beberapa saat kemudian, Vika dan Liza turun dari mobilnya dan mendekat ke arah Rama.


"Udah pulang Mas," ucap Vika.


"Iya. Kalian berdua, kenapa jam segini baru pulang. Biasanya kan kalian pulang lebih awal."


"Iya Mas. Tadi aku mampir dulu ke rumah teman."


Vika, Rama dan Liza masuk ke dalam rumah. Sejak tadi, Vika masih memegangi lengan Rama dan bermanja-manjaan dengan Rama.


Shakira terkejut saat melihat Vika dan Rama. Walau Shakira saat ini sudah tidak punya rasa pada Rama, tapi dia tetap tidak nyaman saja saat melihat Rama bermesra-mesraan dengan Vika di depannya.


Duh, kenapa aku harus melihat pemandangan seperti ini sih.


"Mbak, kebetulan banget Mbak Shakira ada di sini. Tolong Mbak, ambilkan aku dan Mas Rama minum. Kamu haus Mbak," ucap Vika.


"Mau minum apa Bu?" tanya Shakira.


"Sirup dingin aja."


"Kalau Pak Rama, mau minum apa?"


"Saya tidak usah. Saya mau langsung ke kamar saja. Saya mau mandi,"


Shakira hanya mengangguk. Dia kemudian buru-buru pergi untuk ke dapur. Dia akan membuatkan Vika sirup dingin.


"Sayang, aku mau ke atas dulu ya."


"Iya Mas."


Vika menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Begitu juga dengan Liza anaknya. Dia juga mengikuti ibunya duduk.


"Capek banget ya Ma," ucap Liza.


"Kamu mau makan, biar sekalian mama suruh Mbak Shakira untuk siapin kamu makan. "


"Nggak ah. Aku mau makan bareng mama dan papa aja nanti malam."


"Oh. Oke."


****


Sore ini, Safia dan Iren sudah sampai di gang depan rumah Safia. Safia turun dari motor Iren dan menatap Iren lekat.


"Ren, mampir yuk! mumpung masih sore," ucap Safia.


"Boleh deh," ucap Iren.


"Rumah aku masuk gang ini Ren. "

__ADS_1


"Gangnya kelihatan sempit. Muat nggak ya, untuk motor aku masuk ke dalam."


"Kalau untuk motor mah, masih muat Ren."


"Ya udah deh."


Iren kemudian melajukan motornya dan masuk ke dalam gang itu. Sementara Safia jalan kaki sampai ke rumahnya.


Iren turun dari motornya dan melangkah ke arah teras rumah Safia. Safia membuka pintu rumahnya, setelah itu dia mempersilakan Iren masuk ke dalam rumahnya.


"Masuk Ren! maaf ya Ren, rumahnya sempit banget. Namanya juga rumah kontrakan," ucap Safia.


"Nggak apa-apa. Yang penting bisa untuk berteduh dan nggak bocor kalau hujan," ucap Iren sembari menatap sekeliling ruang tamu.


"Duduk Ren."


"Iya Saf. Makasih."


Iren kemudian duduk setelah Safia mempersilahkannya duduk.


"Aku haus Ren. Kamu mau minum apa Ren? kamu juga pasti haus kan. Apalagi tadi kamu habis nyetir."


"Aku mau minta air putih aja lah Saf."


"Iya. Tunggu di sini ya. Aku ambilkan di belakang."


Safia kemudian melangkah ke dapur untuk mengambil minum untuk temannya.


"Makasih ya Saf."


Iren yang merasa haus langsung mengambil gelas itu dan menegak air putih itu sampai habis setengah gelas.


"Kamu tunggu di sini dulu ya Ren. Aku mau ke kamar dulu. Mau ganti baju."


"Iya Saf."


Setelah ganti baju, Safia kemudian melangkah ke ruang tamu dan duduk di sisi Iren.


"Kamu tinggal di sini cuma sama anak kamu?" tanya Iren.


"Iya lah. Sama siapa lagi?"


"Kalau lebaran kamu nggak pernah pulang kampung?"


Safia menggeleng.


"Aku nggak punya uang untuk ongkos ke kampung. Karena kamu kan tahu, kalau kebutuhan aku banyak banget di sini. Menyekolahkan anak, bayar kontrakan, dan uang aku juga cuma pas aja untuk makan dan bayar kontrakan."


"Makanya deh, ikuti saran aku. Anak kamu itu kan udah gede. Udah bisa main sendiri dan dia juga sudah berani ditinggal sendirian. Kenapa kamu nggak nikah lagi aja sama lelaki yang mampu untuk menafkahi kamu dan anak kamu."


"Aku belum punya fikiran ke arah situ."


"Saf, aku yakin kalau kamu punya suami, beban kamu untuk menghidupi diri kamu dan anak kamu pasti akan berkurang. Karena suami kamu pasti akan bantuin kamu kerja," ucap Iren.

__ADS_1


"Bahkan mungkin, kalau suami kamu mampu menafkahi kamu dan anak kamu, dia tidak akan membolehkan kamu kerja lagi. Bisa jadi dia menyuruh kamu untuk jadi ibu rumah tangga aja di rumah. Kan enak, kamu bisa santai-santai nemenin anak kamu dan ngurus anak-anak aja di rumah."


"Aku tahu itu Ren. Tapi aku belum punya niatan untuk menikah lagi."


Iren tersenyum.


"Aku tahu kamu nggak punya niat, karena belum ada lelaki yang mau ngajakin kamu untuk seriusan kan . Bagaimana kalau aku carikan kamu jodoh. Kamu mau yang seperti apa? mau yang duda apa perjaka."


Safia terkekeh. Dia hanya menanggapi ucapan Iren dengan santai.


"Sudahlah, jangan aneh-aneh kamu Ren. Aku nggak mau di carikan jodoh, tapi aku pengin dicarikan rumah kontrakan aja yang lebih strategis. Yang letaknya di pinggir jalan. Jadi aku nggak perlu sempit-sempitan masuk gang seperti ini."


Iren manggut-manggut.


"Oke. Nanti aku carikan. Rumah kontrakan mah, banyak. Tinggal pilih. Kalau kamu mau aku carikan jodoh, aku pun bisa mencarikannya untuk kamu."


"Jodoh mah, gampang lah kapan-kapan saja. Rumah kontrakan aja itu yang penting. Soalnya yang punya kontrakan ini orangnya galak dan nggak sabaran. Kalau telat sedikit aja, udah di tagih."


"Ya udah, pindah aja. Rumah kontrakan juga nggak cuma ini. Di luar sini juga banyak kok rumah kontrakan."


"Benarkah Ren?"


"Iya benar. Makanya kamu jadi orang jangan terlalu kuper. Kalau ibu kontrakan galak, ya cari kontrakan lagi aja. Banyak kok rumah kontrakan yang lebih murah dari rumah ini dan ibu kontrakannya baik-baik."


Di tengah-tengah Safia dan Iren ngobrol, tiba-tiba saja Anna masuk ke dalam rumah.


Anna menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Iren dan Safia.


"Bunda, tumben bunda pulang cepat?" tanya Anna.


"Iya. Masa bunda mau pulang malam terus. Kan capek Anna," ucap Safia.


Anna menatap ke arah wanita yang saat ini sedang duduk di sisi Safia.


"Dia teman bunda?" tanya Anna lagi.


Safia mengangguk.


"Iya. Ini namanya Tante Iren. Dia teman bunda sayang. Ayo salim An."


Anna mendekat ke arah Iren dan mencium punggung tangan Iren.


"Siapa nama kamu anak cantik?" tanya Iren.


"Anna Tante."


"Sini duduk sayang.Temani Tante Iren dan mama," pinta Iren pada Anna.


Anna tersenyum. Dia kemudian duduk di tengah-tengah Iren dan bundanya.


Iren diam dan tampak mengingat-ingat sesuatu.


Wajah anaknya Safia, seperti tidak asing untuk aku. Aku seperti sering lihat. Anna ini mirip siapa ya. Dia kok mirip orang yang waktu itu ngobrol dengan Safia di cafe. Kalau nggak salah, nama orang itu Rama. Lelaki yang sudah ngasih Pak Dito uang untuk mengganti kerugian gelas yang sudah di pecahkan Safia.

__ADS_1


__ADS_2