Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Mabuk


__ADS_3

Pagi ini, Rama sudah berada di ruang kerjanya. Dia sudah berkutat di depan layar monitornya. Sejak istrinya pergi, tugas Rama jadi dobel. Dia harus bekerja dan antar jemput Liza sekolah.


Rama sama sekali tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya. Beban fikiran sudah membuat Rama tidak fokus dalam bekerja.


"Duh, Shakira mau nggak ya, ke rumah aku. Aku butuh banget dia untuk jagain ibunya Vika dan Liza. Kasihan Bik Ijah nya kalau nggak ada yang bantuin," ucap Rama.


Rama mengambil ponselnya yang ada di atas meja kerjanya. Setelah itu dia menelpon Shakira.


"Halo..."


"Halo Shakira. Kamu bisa nggak ke rumah aku?"


"Untuk apa Mas aku ke rumah kamu? istri kamu kan sudah nggak mempekerjakan aku lagi di rumahnya."


"Vika lagi di luar kota sekarang. Bik Ijah sendirian. Kasihan dia kalau harus ngurus rumah, ngurus lansia dan ngurus Liza anak aku sendiri."


"Emang Bu Vikanya kemana?"


"Dia lagi ke Bali sama teman-temannya."


"Oh. Jadi dia nggak ada di rumah?"


"Nggak ada. Di rumah cuma ada Bik Ijah dan Bu Tari saja. Anak aku juga lagi sekolah."


"Oh. Ya udah deh saya ke sana sekarang."


"Kalau masalah gaji, nanti aku yang akan gaji kamu."


"Iya Mas."


"Sekalian jemput Liza juga ya di sekolahnya."


"Baik Mas."


Setelah menutup saluran telponnya, Rama meletakan kembali ponselnya di atas meja.


Rama kembali lagi untuk bekerja. Tiba-tiba ponsel Rama yang ada di atas meja berdering lagi.


"Siapa sih."


Rama mengambil ponselnya kembali. Dia kemudian mengangkat panggilan dari Ronal.


"Halo..."


"Halo Nal. Ada apa?"


"Ram, istri kamu ada di rumah nggak?"


"Nggak ada. Udah dua hari ini dia pergi."


"Pergi ke mana? ke Bali?"


"Lho, kamu kok bisa tahu? kan aku belum cerita."

__ADS_1


"Aku juga lagi ada di Bali ini. Siang itu, waktu kita ngobrol di cafe, aku lihat istri kamu jalan bareng sama cowok. Nah, di sini aku ketemu lagi sama istri kamu dan dia masih jalan dengan cowok yang sama."


"Apa! kamu serius Nal? kamu nggak salah lihat. Benar kalau itu istri aku?"


"Kayaknya memang benar itu istri kamu. Tapi aku nggak kenal sama cowoknya. Dia cakep. Apa mungkin dia saudaranya Vika."


"Saudara dari mananya. Vika itu nggak punya saudara laki-laki. Ada juga kan jauh di luar negeri."


"Terus cowok yang bareng istri kamu siapa?"


"Aku juga nggak tahu Nal. Istri aku masih ada di situ Nal?"


"Iya. Dia lagi ada di pantai sejak tadi."


"Jadi kamu juga lagi liburan juga Nal, ke Bali."


"Iya. Aku lagi sama istri dan anak."


"Nal, kalau bisa coba kamu foto mereka. Biar aku bisa percaya kalau itu benar-benar Vika."


"Baiklah. Aku akan foto dan akan aku kirimkan ke kamu."


"Iya. Aku tunggu ya."


Rama kemudian memutuskan saluran telponnya. Beberapa saat kemudian, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Rama.


Rama membuka chat di whatsappnya. Dia terkejut saat melihat foto yang dikirimkan Ronal padanya.


"Jadi, selama ini Vika sudah bohongin aku. Katanya dia bilang dia akan pergi rombongan sama teman-teman ceweknya. Nggak tahunya, dia malah pergi sama lelaki. Kurang ajar Vika."


Bruak...


Rama menggebrak meja kerjanya. Dia saat ini sangat emosi. Lelaki mana yang tidak akan emosi saat melihat istrinya bersama lelaki lain.


Walau cinta Rama ke Vika sudah tidak sebesar dulu, namun Vika tetaplah istri Rama. Dan sudah sembilan tahun lebih mereka menjalani rumah tangga.


Suami mana yang tidak akan cemburu saat melihat istrinya sama lelaki lain di Bali dan yang pasti, mereka sudah dua hari menginap di sana.


"Jadi Vika mau macam-macam sama aku. Kamu belum tahu Vik, siapa aku. Selama ini aku sudah sabarin kamu, aku sudah sayangi kamu, tapi ini balasan mu padaku. Pengkhianatan....!" geram Rama.


"Dan aku paling tidak suka dengan yang namanya pengkhianatan. Baiklah. Jika itu mau kamu, aku pun bisa melakukan hal yang sama seperti apa yang kamu lakukan. Bahkan aku pun bisa membalas kamu dengan yang lebih pedih dari ini," lanjut Rama.


****


Malam ini, Safia sudah keluar dari cafe. Dia berjalan meninggalkan cafe untuk pulang ke rumahnya.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Safia sampai ke rumah kontrakannya. Setelah sampai di depan rumah kontrakan, Safia masuk ke dalam rumah itu.


"Anna, kamu udah tidur sayang. Ini bunda bawain kamu makanan..." seru Safia dari luar kamar Anna.


Tidak ada sahutan dari dalam kamar Anna. Nampaknya malam ini, Anna sudah terlelap.


Safia membuka pintu kamar Anna. Dia tersenyum saat melihat anaknya sudah nyenyak tidur.

__ADS_1


Safia pergi kembali ke ruang tamu untuk menutup pintu. Dia kemudian melenggang pergi untuk ke kamarnya. Sebelum dia sampai ke pintu kamar, suara ketukan keras sudah terdengar dari luar rumahnya.


Tok tok tok...


"Siapa ya itu," ucap Safia takut. Karena tidak biasanya ada orang malam-malam mengetuk pintu rumahnya dengan keras.


Tok tok tok...


"Duh siapa sih itu. Kenapa malam-malam begini bertamu. Udah tahu ini udah jam sepuluh," gerutu Safia.


Dengan kesal, Safia pun berjalan ke ruang tamu untuk membuka pintu.


Safia terkejut saat melihat Rama sudah berdiri di teras depan rumahnya.


"Safia..." ucap Rama.


"Mas Rama."


Hoek... Hoek...


"Mas, kamu kenapa?" tanya Safia saat melihat Rama mual-mual.


Dengan sempoyongan Rama mendekati Safia. Bau alkohol sudah menusuk indra penciuman Safia.


"Kamu mabuk Mas?"


"Safia... akhhh..."


Tiba-tiba tubuh Rama ambruk dalam pelukan Safia.


"Mas, jangan seperti ini Mas. Bangun Mas. Nggak enak kalau ada tetangga yang lihat."


Safia yang sudah tidak bisa menahan berat tubuh Rama, akhirnya merobohkan Rama di lantai. Dia kemudian buru-buru menutup pintu rumahnya. Takut ada orang melihat Rama masuk ke dalam rumahnya.


Safia menatap Rama. Dia kemudian menepuk-nepuk pipi Rama.


"Mas, jangan pingsan di sini Mas. Kenapa kamu nggak pulang aja sih ke rumah istri kamu. Kenapa kamu mabuk harus di sini. Benar-benar lelaki menyebalkan. Dari dulu nggak pernah berubah," gerutu Safia.


Safia mencoba mengangkat tubuh Rama. Namun Safia merasa sangat berat.


"An... Anna... bangun An...!" seru Safia dari ruang tamu.


"Anna... bantuin bunda sayang...!"


Beberapa saat kemudian, Anna mengerjapkan matanya. Dia kemudian keluar dari kamar untuk melihat Safia di ruang tamu.


Anna terkejut saat melihat ada lelaki yang tergeletak di atas lantai di ruang tamu.


"Bunda, itu siapa Bun?" tanya Anna.


"Anna, ayo bantu angkatin Om Rama. Berat banget An."


"Om Rama? Om Rama kenapa? dia pingsan Bun?" Anna buru-buru mendekati ibunya.

__ADS_1


"Ayo bantu bunda angkat tubuhnya Om Rama. Bunda mau bawa dia ke kamar bunda."


"Baik bun."


__ADS_2