Mahkota Yang Terenggut

Mahkota Yang Terenggut
Istri galak


__ADS_3

Mas Rama kenapa istrinya galak banget begitu sih. Mirip banget dengan Pak Dito. Udah galak, sombong lagi. Kok mau-maunya sih Mas Rama nikah dengan orang seperti itu. Masih mendingan cerewetnya Mbak Shakira dari pada perempuan itu, batin Safia.


Beberapa saat kemudian, Iren mendekat ke arah Safia.


"Saf, dipanggil Bu Ovi tuh," ucap Iren.


"Iya."


Safia kemudian melangkah dan mendekat ke arah Ovi.


"Permisi Bu, ada apa?"


"Safia, kata Iren anak kamu sendirian ya di rumah baru?"


"Iya Bu."


"Ya udah sana, kamu pulang dulu aja dan istirahat. Kasihan anak kamu. Dia pasti lagi nungguin kamu."


"Tapi cafe kan masih ramai Bu."


"Nggak apa-apa. Di sini kan masih banyak karyawan saya. Nanti saya juga akan suruh Iren pulang. Biar pelayan laki-laki saja nanti yang lembur sampai malam."


"Kalau ibu sudah ngizinin saya pulang, iya deh Bu saya mau pulang. Dari tadi saya juga sudah kefikiran anak saya terus."


Setelah kejadian itu, Ovi menyuruh Safia untuk pulang dan istirahat. Ovi sudah tahu dari Iren tentang Safia. Safia adalah ibu tunggal yang tinggal ngontrak dengan anak perempuannya. Safia hidup kekurangan tanpa seorang suami.


Dan pekerjaan ini adalah pekerjaan satu-satunya yang Safia punya. Dan Ovi pemilik cafe itu merasa iba dengan kehidupan Safia. Dia tidak akan mecat Safia begitu saja selama kesalahan Safia itu masih bisa dimaafkan.


***


Sesampai di depan rumahnya, Rama menghentikan laju mobilnya. Dia kemudian turun begitu saja tanpa membukakan pintu mobil untuk istri dan anaknya. Lelaki itu benar-benar lelah menghadapi sikap istrinya.


Liza dan Vika hanya bisa menatap kepergian Rama.


"Kenapa sih dengan papa kamu Liz? kenapa dia ninggalin kita," ucap Vika.

__ADS_1


"Nggak tahu kenapa dengan papa. Aku jadi sedih kalau papa dan mama berantem. Kenapa sih kalian itu suka sekali berantem."


Vika tersenyum dan mengusap-usap rambut panjang anaknya.


"Siapa yang berantem sih sayang. Mama dan papa nggak berantem kok. Dan kalau kita berantem juga nanti baikan lagi kok. Udah biasa kan."


Liza diam. Sebenarnya dia kecewa dengan ke dua orang tuanya. Tanpa berkata apapun, Liza turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumah. Vika yang sejak tadi masih berada di dalam mobilnya, ikut turun dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.


****


Saat ini, Rama sudah berada di dalam kamarnya. Dia masih menatap ke luar jendela kamarnya. Dia masih tampak kecewa dengan sikap istrinya. Menurutnya, Vika sudah membuat Rama malu di depan orang-orang karena sikapnya yang kasar.


Beberapa saat kemudian, Vika masuk ke dalam kamarnya. Dia menutup pintunya kembali dan menghampiri suaminya.


"Mas, kamu marah ya sama aku?" tanya Vika.


Rama yang ditanya hanya diam. Dia sama sekali tidak mau mendengarkan ucapan istrinya.


"Mas, maafin aku ya atas kejadian tadi di cafe," ucap Vika. Dia kemudian memegang bahu suaminya.


"Aku capek. Udah berapa kali aku nasihatin kamu, untuk jaga sikap kamu di depan umum. Tapi kamu nggak pernah mau dengar nasihat aku. Kamu masih saja sama seperti dulu. Nggak pernah berubah. Kamu itu kasar Vik."


Vika menghela nafas dalam.


"Maafkan aku Mas. Aku tadi nggak bisa mengontrol emosiku. Wanita itu sudah menumpahkan jus di gaun aku. Kamu kan tahu, kalau gaun ini warnanya putih. Dan ini gaun mahal pemberian kamu Mas. Aku nggak suka dia merusak baju aku."


"Gaun kamu kan ada banyak Vik. Bukan cuma gaun yang itu. Kamu bisa cuci gaun itu dan pakai gaun yang lain."


"Tapi ini kan gaun kesayangan aku Mas. Hadiah dari kamu waktu ulang tahun aku. Dan aku nggak terima dong kalau ada yang mengotori gaun ini. Apalagi seorang pelayan seperti perempuan tadi yang tidak akan sanggup membeli gaun semahal ini."


Rama hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Kamu itu sangat berbeda dengan ayah kamu. Ayah kamu itu baik dan rendah hati. Dia tidak sombong dan tidak pernah merendahkan orang lain. Tapi kamu, kamu malah kebalikan dari sikap ayah kamu. Kapan sih Vik kamu berubah," ucap Rama.


Vika yang ditanya hanya diam.

__ADS_1


"Vik, ayah kamu sudah menjodohkan kita. Dan apa kamu tahu tujuan ayah kamu menjodohkan kita itu untuk apa?" tanya Rama


Vika masih diam. Entah dia mendengar atau tidak ucapan Rama.


"Dia percaya kalau aku bisa membuat kamu berubah. Dia sudah mempercayakan kamu padaku. Agar aku bisa menasihati kamu, membimbing kamu dan menjadi imam kamu. Tapi, sudah sepuluh tahun kita berumah tangga, kamu masih tetap saja sama seperti ini," ucap Rama melanjutkan.


Vika menatap Rama tajam.


"Karakter aku memang sudah seperti ini Mas. Aku nggak bisa berubah. Kalau kamu sudah tidak suka dengan aku, kamu bisa kok angkat kaki dari rumah ini."


Rama terkejut saat mendengar ucapan Vika.


"Apa! kamu bilang apa?"


"Kenapa Mas? dulu kamu bukan siapa-siapa. Dan kamu menjadi pengusaha seperti ini juga karena ayah aku. Ingat itu Mas. Kalau nggak ada aku dan ayah aku, kamu nggak akan bisa sampai seperti ini."


Vika kesal dan emosi dengan Rama. Dia tidak bisa mengontrol lagi ucapannya. Vika sama sekali tidak pernah merasakan perasaan Rama.


Rama manusia yang juga punya perasaan. Jika setiap emosi Vika selalu mengatakan hal itu, pasti lama-lama cinta Rama ke Vika juga akan berubah.Bisa-bisa Rama berpaling lagi ke lain hati.


Padahal sudah susah payah Rama mencoba melupakan Shakira dari hatinya dan mencoba untuk belajar mencintai istrinya. Tapi Vika tidak pernah mau mengerti bagaimana pengorbanan Rama selama ini untuk bisa mencintainya.


Dulu cinta Rama pada Shakira terlalu besar, sehingga sulit untuk Rama melupakan Shakira begitu saja. Rama selalu mencoba belajar untuk melupakan Shakira dari hatinya dan mencoba membuka hatinya untuk Vika dan mencoba untuk mencintai Vika. Tapi Vika tidak pernah mengerti akan hal itu.


Kenapa sih, Vika bisa bicara seperti itu sama aku. Dia menyuruh aku angkat kaki dari rumah ini. Apa maksudnya coba. Dia mau ngusir aku dari sini. Bagaimana kalau dia dan ibunya aku tinggal beneran. Siapa yang akan mengurus perusahaannya. Vika kan tidak becus mengurus perusahaan. Dia hanya bisa berfoya-foya dan menghambur-hambur kan uang saja, batin Rama.


Tanpa banyak kata, Vika pun pergi meninggalkan Rama sendiri di kamarnya.


Rama menghela nafas dalam dan mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah itu Rama mendekat ke arah tempat tidurnya dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


Rama duduk di sisi ranjangnya dan berucap.


"Vika, Vika, susah sekali kamu untuk dinasihati. Aku merasa sudah gagal menjadi seorang suami. Andai saja aku nggak sayang sama Liza, sudah aku tinggalkan kamu sejak dulu Vin Aku yakin, kalau kamu aku tinggalkan, kamu tidak akan bisa apa-apa tanpa aku," gumam Rama di sela-sela kesendiriannya.


***

__ADS_1


__ADS_2